A Favor at Macy's

0 dibaca

A

Seminggu berlalu.

Ethan tidak segera menghubungi Shamila. Bukan karena ia tidak ingin berbicara dengannya. Justru sebaliknya. Ia harus menahan keinginan untuk sekadar mengirim pesan, hanya agar bisa melihat satu sapaan singkat dari wanita itu di layar ponselnya. Tapi Ethan tahu Shamila membutuhkan ruang

Setelah enam bulan tanpa kabar, Ethan tidak ingin kemunculannya kembali terasa seperti sesuatu yang harus dihadapi Shamila.

Jadi ia menunggu.

Baru pada hari kesembilan, ia akhirnya mengambil ponselnya.

Jarinya mengetik perlahan.

*”Sham. Kalau kau tidak keberatan, bisakah membantuku?”***

Ethan mengirim pesan itu sebelum sempat mengubah pikirannya. Kemudian ia meletakkan ponsel di meja ruang tamu dan mencoba kembali membaca email di laptop.

Tidak berhasil.

Beberapa menit kemudian, suara notifikasi membuat tangannya langsung meraih ponsel.

“Tentu. Apa yang bisa kubantu?”

Ethan mengembuskan napas yang sejak tadi tidak sadar ia tahan.

Ia mengetik kembali.

”Bantu aku memilih hadiah untuk ibuku. Dia akan berulang tahun.”

Balasan Shamila datang tidak lama kemudian.

”Dengan senang hati. Katakan di mana dan kapan kita bertemu?”

Ethan menyandarkan kepala ke sofa.

Sederhana.

Shamila langsung bersedia membantunya. Tidak ada alasan, tidak ada keraguan yang perlu ia baca di antara kata-katanya.

Ethan seharusnya merasa lega. Namun membaca balasan itu membuatnya justru tersenyum gugup.

”Minggu. Aku tunggu di Macy’s.”

”Oke.”

”Thank you, Sham. See you on Sunday.”

Ethan meletakkan ponselnya. Ia menatap langit-langit beberapa saat.

Ulang tahun ibunya sebenarnya masih beberapa minggu lagi. Ia masih punya banyak waktu untuk memikirkan hadiah.

Selama ini Ethan memang tidak pernah terlalu memusingkan soal hadiah. Buku masak, peralatan dapur, atau apa pun yang menurutnya berguna. Dan ibunya selalu menerimanya dengan senang hati.

Tapi kali ini, ia menjadikan kepraktisannya sebagai alasan untuk meminta bantuan seseorang.

Ethan tersenyum tipis.

”You screwed up, Eth.”


Minggu pagi, Ethan tiba di Macy’s lima belas menit lebih awal. Ia bisa saja datang tepat waktu. Tetapi hari itu ia tidak ingin mengambil risiko terlambat.

Ethan berdiri di depan gedung sambil sesekali melihat jam tangannya. Lalu, di antara orang-orang yang berlalu-lalang, ia melihat seseorang yang langsung dikenalnya.

Shamila.

Ethan menatapnya beberapa detik.

Rambut panjang wanita itu dibiarkan tergerai, berbeda dari penampilannya di kantor yang hampir selalu sederhana dan rapi. Ia mengenakan coat cokelat dengan celana krem. Tidak berlebihan. Tidak mencolok.

Tetap Shamila.

Hanya saja hari ini, Ethan melihatnya sebagai seorang wanita yang datang menemuinya. Bukan rekan kerja. Bukan perempuan yang duduk di meja sebelahnya.

Shamila berhenti beberapa langkah di depannya.

“Hai,” sapa Shamila ringan.

“Hai.”

Shamila tersenyum. “Apa aku terlambat?”

“Tidak. Aku yang datang terlalu cepat.”

“Kenapa?”

“Aku takut terjebak macet.”

Shamila tertawa kecil. Ethan ikut tersenyum. Kecanggungan yang sempat muncul di antara mereka perlahan mencair.

“Jadi,” kata Shamila, “hadiah apa yang ingin kau berikan kepada ibumu?”

Ethan mengangkat bahu. “Itu masalahnya. Aku tidak tahu.”

Shamila menatapnya. “Ethan.” Nada suaranya terdengar sedikit meninggi tidak percaya. “Kau benar-benar tidak tahu apa yang disukai ibumu?”

Ethan tersenyum malu.

“Dia tidak sulit. Selama ini aku membeli apa saja yang kupikir dia butuhkan.”

“Itu bukan hadiah.”

“Menurutku itu hadiah.”

Shamila menggeleng sambil tersenyum. “Memangnya apa yang kau berikan tahun lalu?”

Ethan berpikir sejenak.

“Buku resep.”

Mata Shamila membulat menatapnya. “Buku resep?”

“Ibuku suka memasak. Dia juga suka membaca. Jadi menurutku itu masuk akal.”

“Ya Allah, Ethan.” Tawa kecil Shamila lolos begitu saja. Ia segera menutup mulut dengan telapak tangannya. “Kau benar-benar payah.”

Ethan hanya menatapnya. Sudah lama ia tidak mendengar Shamila tertawa seperti itu. Suara lembut yang biasanya tertahan kini terdengar lebih lepas, dan Ethan tidak ingin melewatkan satu detik pun. Ia bahkan tidak menyadari dirinya masih tersenyum meski Shamila telah berhenti tertawa.

“Ethan?”

Ia tersadar. “Yeah.”

“Kita masuk?”

”Sure.”

Mereka berjalan berdampingan memasuki gedung Macy’s, menyusuri beberapa lantai sambil berbicara tentang ibu Ethan.

“Dia suka bunga?” tanya Shamila.

“Ya.”

“Parfum?”

“Kadang.”

“Perhiasan?”

“Dia tidak terlalu suka.”

“Kalau begitu, kita cari sesuatu yang memang akan dia gunakan.”

Mereka melewati beberapa toko sampai langkah Shamila tiba-tiba terhenti. Tangannya refleks meraih lengan Ethan.

“Ethan.”

Ethan ikut berhenti. Pandangannya turun pada tangan Shamila yang masih menggenggam lengannya.

Hanya sesaat.

Shamila seperti baru menyadari apa yang dilakukannya. Tangannya segera terlepas, lalu untuk menutupi rasa canggung, menunjuk sebuah gaun yang dikenakan mannequin di balik etalase.

“Dress itu bagaimana?”

Ethan baru mengalihkan pandangan pada gaun yang ditunjuknya. Dress bermotif bunga dengan warna-warna pastel yang lembut.

“Elegan,” katanya.

Shamila mengangguk. “Ibumu mungkin suka.”

Mereka masuk ke toko.

Tidak lama kemudian, mereka keluar dengan paper bag di tangan Ethan. Ia menatap Shamila sambil tersenyum kecil.

“Kurasa ini hadiah terbaik yang pernah kuberikan padanya.”

Shamila ikut tersenyum. “Semoga dia menyukainya.”

“Dia akan menyukainya.”

Tatapan Ethan tidak beralih dari wajah Shamila.

“Terima kasih, Sham.”

“Sama-sama.”

Mereka berjalan kembali menuju lift.

Ethan kemudian bertanya, “Sham, kau mau makan siang apa?”

Shamila menoleh kepadanya. “Makan... apa?”

“Apa yang ingin kau makan?” ulang Ethan.

Selama beberapa detik Shamila hanya menatapnya, seolah pertanyaan itu benar-benar membuatnya berpikir.

“Aku tidak tahu.”

Ethan kembali tersenyum kecil. “Kalau begitu pikirkan sebentar.”

Shamila menunduk, lalu memandang ke sekeliling. “Kau saja yang pilih.”

“Kenapa aku?”

“Karena aku tidak tahu.”

Ethan tertawa kecil. “Tapi kau sudah membantuku. Sekarang aku ingin kau yang memilih.”

Shamila kembali terdiam. Pertanyaan sederhana itu ternyata membutuhkan waktu lebih lama untuk dijawab daripada yang Ethan bayangkan.

“Pizza,” katanya akhirnya.

Kening Ethan berkerut. “Pizza?”

Shamila mengangguk kecil. “Aku ingin mencoba pizza.”

Ethan tersenyum. “Then pizza it is.”

Mereka meninggalkan Macy’s dan berjalan beberapa menit menuju sebuah restoran kecil. Tidak mewah. Hanya tempat sederhana dengan beberapa meja di dalam dan di dekat jendela.

Begitu masuk, Shamila memperhatikan menu yang diberikan pelayan.

Ethan melihat matanya bergerak dari satu pilihan ke pilihan lain.

“Ada yang kau suka?”

Shamila menggeleng. “Mana yang enak?”

Ethan menunjuk salah satu menu. ”Buffalo chicken.”

Shamila menatapnya. “Pedas?”

“Sedikit.”

Ia masih tampak ragu.

“Kita coba. Kalau kau tidak suka, pesan yang lain, “ kata Ethan.

Shamila akhirnya mengangguk.

Ketika makanan datang, Shamila mengambil satu potong kecil. Ia menggigitnya perlahan. Kemudian matanya melebar.

”This is good.”

Ethan tersenyum. ”I told you.”

Shamila mengambil satu gigitan lagi. Baru kemudian pandangannya jatuh pada sebuah tanda kecil di dekat kasir.

Logo halal.

Ia menatap Ethan. Ethan hanya menunjuk logo itu dengan dagunya.

“Makanya aku bawa kau ke sini.”

Shamila terdiam sesaat. Kemudian senyum kecil muncul di wajahnya.

”Thank you.”

Ethan mengangkat bahu seolah tidak ada yang istimewa.

”You’re welcome.”

Ia memandang pizza di tangannya, lalu Shamila yang masih tersenyum kecil di sampingnya.

Hadiah untuk ibunya sudah ditemukan. Makan siang mereka juga sederhana saja.

Namun Ethan tahu, bukan dua hal itu yang akan ia ingat dari hari ini.

Setelah enam bulan, akhirnya ia bisa duduk bersama Shamila lagi tanpa harus berpura-pura bahwa wanita itu tidak berarti apa-apa baginya.

Dan ia menyadari sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui sejak lama.

Ia tidak pernah benar-benar berhenti mencintainya.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk