Bab 01

Namaku Sakura (1)

7 dibaca

A

Disclaimer: Nama tokoh dan tempat dalam cerita ini adalah fiksi semata. Bila ada kemiripan dengan cerita lain, hal itu adalah murni ketidaksengajaan. Tidak ada niat dari penulis untuk menjiplak karya siapapun.

Cerita ini bukan buatan AI.

━━━━━━━━━━

Kutukan Keluarga Kamiyama bukan sebuah rahasia lagi bagi warga wilayah Kamigyo-ku. Kisah mereka menyebar layaknya menanti kuncup bunga sakura mekar, mendebarkan hati di penghujung musim dingin.

Karena setiap pergantian musim, akan ada berita baru yang dibawa bersama angin. Seringkali, berita yang muncul dari keluarga terkutuk itu dapat memanaskan meja pertemuan di bar-bar dan rumah-rumah. Di antara gelas-gelas bir, sake, dan kudapan kering. Di teras rumah para ibu yang menyapu halaman saat matahari terbit.

Kali ini, tentang pembantu muda baru yang akan mulai bekerja untuk Keluarga Kamiyama, sebagai pengganti si Tome.

Kabarnya, Tome telah kabur dari rumah. Tanpa jejak, tanpa catatan. Di pagi hari, Nyonya Hisako selaku kepala pelayan, menemukan kamar Tome telah kosong. Yang tersisa hanya kasur di lantai, bahkan tak sempat dilipat masuk ke lemari.

“Sungguh memalukan. Jika memang sudah tidak mau bekerja untuk Keluarga Kamiyama, mintalah yang sopan. Tuan kami bukanlah pria bengis yang akan menggorok lehermu hanya karena kamu mau berhenti kerja. Kamu jangan meniru tingkah seperti itu, ya, Chie,” keluhnya di antara riuhnya suara mesin kereta api.

“I, iya, Nyonya–” sahut gadis remaja di samping Nyonya Hisako.

Tubuh Chie yang mungil, hanya setinggi bahu si kepala pelayan, menyeret koper dengan dua tangan. Ia kepayahan mengejar kecepatan jalan Nyonya Hisako, sementara sisi koper beradu dengan lututnya setiap kali ia melangkah.

Di ujung pintu stasiun kereta, Nyonya Hisako berhenti mendadak. Chie yang tak sempat melambat, menabrak punggungnya. Tubuh Nyonya Hisako bergoyang, tapi tetap tegap. Gadis remaja itu masih mengatur napas, tapi Nyonya Hisako tak peduli. Ia berbalik, menarik lengan Chie, lalu menyeretnya ke satu sisi dinding.

Mereka berdiri dekat papan pengumuman yang ditempeli oleh poster-poster sisa masa peperangan. Beberapa di antaranya telah robek. Yang masih utuh, Chie dapat membaca beberapa seruannya:

’ANAK MUDA! WAKTUNYA TERJUN KE MEDAN PERANG DI LANGIT DAN LAUTAN! PENDAFTARAN SUKARELAWAN TELAH DIBUKA!’

’BAWA PULANG CERITA ARUS KUROSHIO SEBAGAI OLEH-OLEH KELUARGA!’

’ANGKAT CANGKULMU SEPERTI TENTARA. BELA NEGARA DARI LADANG!’

“Chie, dengarkan aku,” panggil Nyonya Hisako, mengalihkan pandangan si gadis mungil dari poster-poster propaganda.

“Sebelum lupa, aku harus memberitahumu sesuatu. Dalam perjalanan ke rumah Keluarga Kamiyama, ingatlah satu hal: Jangan. Angkat. Kepalamu,” Nyonya Hisako menekankan tiga kata terakhir.

Chie tak bertanya kenapa. Maklum, ia kurang cerdas. Ia hanya mengangguk, seperti anak anjing yang patuh. Lebih mudah baginya untuk menurut, daripada mempertanyakan alasan.

Sama seperti setiap kali ibunya menyuruh Chie untuk mencuci pakaian sebelum berangkat sekolah. Jika ia berani membantah, satu pukulan akan mendarat di betis. Karenanya Chie harus rela berangkat ke sekolah dengan pakaian basah, dari paha hingga ujung kaki.

“Apapun yang terjadi, jangan bertukar pandang dengan siapapun. Jangan mendengar apapun. Jangan menyapa siapapun. Sampai di teras rumah Keluarga Kamiyama, kamu harus diam seperti batu. Paham?” Nyonya Hisako mengingatkan, sambil mengacungkan jarinya di depan hidung Chie.

“Paham, Nyonya,” ucap si pembantu muda.

Nyonya Hisako menarik lengan Chie, lanjut meninggalkan stasiun. Ia berjalan di depan, bersama Chie mengikuti di belakang. Sepanjang jalan, kepala Chie mengulang-ulang perintah Nyonya Hisako.

Jangan angkat kepalamu.

Ia mengamati langkah geta sang kepala pembantu, mengikuti kecepatannya.

Jangan angkat kepalamu.

Seorang bocah kecil mendadak muncul, menerobos di antara Chie dan Nyonya Hisako. Genggaman si wanita melonggar. Langkah geta si nyonya menjauh.

Jangan angkat kepalamu.

Segerombolan turis menyusul di belakang si bocah, memperlebar jarak antara Chie dengan Nyonya Hisako. Seseorang menabrak koper Chie, membuatnya terhuyung.

Chie jatuh berlutut di tanah.

“Aduh!” jeritnya, di antara lautan manusia.

Jangan angkat kepalamu.

Tapi, kalau Chie tidak mengangkat kepala, bagaimana bisa ia menemukan Nyonya Hisako? Padahal hari ini harusnya ia mulai bekerja di rumah Keluarga Kamiyama.

Jika ia menengadah, Nyonya Hisako akan dapat menemukannya, tapi Chie bakal dipecat.

“Chie!” jerit suara wanita, memanggil namanya. Itu suara Nyonya Hisako, melengking seperti burung bercicit.

Dengan bertumpu pada berat kopernya, Chie bangkit berdiri. Ia menepuk kain kimono yang menutupi lutut, ada jejak tanah dan debu di sana. Tak bisa hilang.

“Chie? Kamu di mana?!” teriak Nyonya Hisako lagi, menjulurkan leher di antara lautan manusia. Ia tak akan bisa pulang ke rumah Keluarga Kamiyama tanpa Chie. Bagaimanapun juga, mereka membutuhkan seorang pembantu baru hari ini.

Jika gadis yang mengikutinya tiba-tiba menghilang, bisa-bisa Tuan Muda Tatsuya akan merundungnya seharian. Atau hingga Nyonya Hisako mendapatkan pengganti baru.

Chie melompat-lompat, mengenali puncak kepala Nyonya Hisako. Sanggulnya yang kencang berhiaskan jepitan ornamen bunga sakura di kejauhan.

Chie melambaikan tangan sekuat tenaga. Namun, tubuhnya yang mungil tenggelam di antara para warga lokal yang mulai tumpah ruah di jalan.

Apalagi, hari ini adalah hari pertama hanami.

“Ny, nyonya–” panggil Chie.

Suaranya kalah oleh gemuruh kerumunan. Ada tabuhan gendang di kejauhan. Chie seperti anak tikus yang bersembunyi di kebun kubis. Ia melompat-lompat, tapi sanggul Nyonya Hisako malah bergerak menjauh.

“Nyonya!”

Badannya terasa lengket oleh keringat. Chie meletakkan koper di tanah, lalu naik ke atasnya. Ia melambai-lambaikan tangan, berharap Nyonya Hisako dapat menemukannya.

“Aduh!” keluh seorang ibu yang melintas, ketika tangan Chie tak sengaja menghantam kepalanya.

“Maaf!” balas Chie, menarik diri.

Ia turun dari atas koper, menentengnya kembali. Kali ini, sikunya menyinggung pinggang seseorang di balik punggung.

“Hei! Siapa yang menyikut?” teriak pria paruh baya dengan kumis tebal.

“Maaf!” seru Chie lagi.

“Lihat-lihat kalau jalan!” umpat pria lain dalam balutan jas necis, saat Chie bertumbukan dengannya.

“Maaf!”

Chie berhenti sejenak, menyeka keringat di dahi. Ia harus menemukan Nyonya Hisako, bagaimanapun caranya. Bila ia harus menerima hukuman karena melanggar perintah Nyonya Hisako, itu urusan nanti.

Karena pulang ke rumah bukanlah pilihan. Chie sudah memutuskan untuk mempercayai Nyonya Hisako Lagipula, terlalu jauh untuk kembali ke Tokyo sekarang.

Chie menarik napas dalam-dalam. Ia mengangkat koper tinggi-tinggi, menyelami kerumunan orang-orang yang berlalu lalang dari segala penjuru. Jika ia bisa menemukan tempat yang lebih lapang, mungkin Nyonya Hisako akan dapat menemukannya. Chie berjalan lurus, ke arah sebuah tiang lampu di ujung jalan.

Separuh jalan sampai tujuan, seseorang menyentak lengannya sekuat tenaga. Tubuh Chie berayun. Rasanya otaknya seperti dikocok dalam satu hentakan kuat. Tubuhnya dipaksa berbalik, menatap wajah Nyonya Hisako yang mengerut.

“Ketemu juga! Kamu dari mana saja?!” pekik Nyonya Hisako geram.

Bibir Chie rapat, menahan diri untuk tidak menangis.

“Aku sampai lari ke sana kemari! Bisa jadi masalah besar kalau kamu sampai hilang! Mencari anak seumurmu untuk bekerja di rumah Kamiyama saja susahnya bukan main!” keluh Nyonya Hisako, memijat dahi. Bulir-bulir keringat berukuran besar mengalir sepanjang lehernya, lalu menghilang di balik lipatan kerah kimono. Nyonya Hisako menyapunya dengan sapu tangan.

Chie merasa bersalah.

“Maaf,” gumam Chie, menatap tanah.

Di sudut matanya, ia menyadari ujung kaos kaki Nyonya Hisako berwarna tanah, sama seperti lutut Chie.

“Ya sudahlah. Berpeganglah padaku, agar kamu tidak hilang lagi. Jalanan di sekitar sini sulit diingat oleh orang baru. Kamu bisa tersesat,” wanita paruh baya itu mengingatkan.

Chie mengangguk.

Nyonya Hisako menawarkan ujung lengan kimononya. Chie menangkap sinyal itu. Ia menggenggamnya. Cukup kuat agar langkahnya tak tertinggal, cukup longgar agar ia tak merusak kainnya.

“Kita harus bergegas. Tuan Besar sudah menunggu,” Nyonya Hisako mengingatkan.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk