Bab 01

1. Raja Veyloria

3 dibaca

A

Gabriel Constantine menggeser cangkir tehnya yang sudah dingin, lalu mengetukkan jari ke atas peta di hadapannya. Lembaran perkamen itu menunjukkan wilayah pertanian utara Veyloria.

Beberapa bulatan merah tebal menandai lokasi serangan wyvern selama dua pekan terakhir. Bagi Gabriel peta ini adalah masalah yang harus segera diselesaikan. Kestabilan kerajaan tidak dijaga dengan retorika, tetapi dengan keputusan yang cepat.

Gabriel mengangkat pandangan dan menatap menteri yang berdiri di ujung meja. “Berapa banyak ladang yang rusak?”

Menteri Pertanian segera membuka catatannya. “Empat puluh tiga hektare, Yang Mulia. Sebagian besar ladang padi dan gandum yang siap panen. Beberapa lumbung di pinggir desa juga diserang karena kelompok wyvern ini mulai turun mendekati pemukiman warga untuk mencari makanan.”

Gabriel mendengarkan tanpa memotong. Pikirannya langsung menghitung risiko. Kebijaksanaan seorang raja diuji dari seberapa cepat ia memutus ancaman sebelum berubah menjadi kelaparan massal. “Korban jiwa?”

“Belum ada.”

“Pastikan tetap begitu.” Ujaran itu tak menerima kompromi. Gabriel lantas mengambil laporan dari pemburu kerajaan di dekatnya dan membalik halaman. Secara alami, wyvern berburu hewan besar di pegunungan. Namun, perubahan jalur migrasi membuat beberapa kelompok turun ke wilayah pertanian. Mereka memakan ternak, merusak ladang, dan semakin sering terlihat di dekat desa.

Gabriel menunjuk sebuah bagian pada peta. “Berapa jumlahnya?”

“Menurut pelacak, ada tujuh ekor yang berpindah di wilayah utara. Kemungkinan masih ada beberapa yang bersarang di celah pegunungan.”

“Kalau begitu kita tidak membuang waktu memburu satu per satu.” Gabriel menggunakan ujung pena bulu untuk menggarisbawahi wilayah pegunungan. “Kirim tiga peleton pasukan pemburu kerajaan ke sini. Tutup seluruh akses jalur menuju desa selama operasi berlangsung. Siapkan pengawal untuk mengevakuasi penduduk jika wyvern turun terlalu dekat. Aku ingin sarangnya ditemukan dan dihancurkan terlebih dahulu. Setelah itu, bunuh wyvern yang berada di sekitar pemukiman dan usir sisanya kembali ke pegunungan.”

Seorang bangsawan dari wilayah barat mengangkat tangan. “Yang Mulia, bukankah lebih baik kita menunggu sampai musim migrasi berakhir dalam dua bulan? Membasmi mereka sekarang akan membutuhkan banyak prajurit dan biaya yang besar.”

Gabriel menoleh perlahan ke arah bangsawan itu. “Dan membiarkan mereka memakan hasil panen rakyat?”

Bangsawan itu langsung terdiam dan menundukkan kepala.

Gabriel tidak memperpanjang perdebatan. Ia sudah terbiasa menghadapi orang-orang yang menghitung koin emas sebelum memikirkan dampak nyata pada rakyat. Baginya, logika pemerintahan sangat sederhana, kelaparan rakyat adalah kegagalan raja.

“Gunakan anggaran pertahanan untuk operasi ini. Jika tidak mencukupi, laporkan langsung kepadaku sebelum mengambil dana dari kas pertanian.”

“Baik, Yang Mulia,” jawab bendahara kerajaan sambil mencatat perintah tersebut.

Gabriel menutup laporan wyvern. Namun, rapat belum berakhir. Ia mengambil dokumen bersampul tebal di samping kanannya. “Ada satu hal lagi.”

Para bangsawan kembali memusatkan perhatian pada sang raja.

“Bulan depan adalah hari kelahiran Dewi terkutuk Selene. Persiapan ritual tahunan harus mulai diperiksa dari sekarang. Aku tidak ingin ada wilayah yang mengirimkan persembahan terlambat atau mengabaikan kewajiban mereka.”

Menteri Agama mengangguk. “Perwakilan kuil sudah mengirimkan daftar kebutuhan ritual. Kami hanya menunggu konfirmasi dari wilayah timur dan selatan.”

“Percepat itu.” Gabriel menyerahkan dokumen yang baru ia tanda tangani kepada ajudannya. “Pastikan jalan menuju kuil utama diperiksa. Para tamu dari wilayah luar kerajaan akan tiba beberapa hari sebelum ritual. Aku tidak ingin mereka menemukan persiapan yang berantakan.”

“Dimengerti, Yang Mulia.”

Gabriel menyandarkan tubuhnya setelah semua keputusan dicatat. Rapat dua jam itu berakhir dengan efisiensi yang ia inginkan. Tidak ada keputusan yang tertunda, tidak ada perselisihan antarfaksi, dan setiap pejabat telah menerima tugas masing-masing. Gabriel menghela napas panjang. Ya ... seperti inilah cara pemerintahan seharusnya berjalan. Masalah muncul, lalu diselesaikan secara rasional.

Para bangsawan mulai meninggalkan ruang dewan dengan teratur. Fidio, ajudan pribadi sekaligus sahabat masa kecil Gabriel, tetap berdiri di dekat meja. Ia menunggu sampai pintu besar itu tertutup rapat, mengurung kesunyian di antara mereka. Fidio membuka catatan kecil yang dibawanya. “Yang Mulia.”

Gabriel mengangkat kepala dari tumpukan berkas. “Apa lagi?”

Fidio ragu sejenak, menggeser posisi berdirinya, memilih kata yang tepat untuk urusan pribadi. “Hari ini ulang tahun Anda.”

Gabriel terdiam. Ulang tahun yang ketiga puluh. Angka itu bergaung sebentar di kepalanya. Tiga dekade hidup di dunia ini, dan sebagian besar waktunya dihabiskan untuk memastikan Veyloria tetap aman. Ia tidak merasakan kebahagiaan khusus, bertambahnya usia hanyalah pengingat bahwa tanggung jawabnya bertambah berat.

Fidio melanjutkan, “Saya hanya ingin memastikan. Tidak ada perayaan yang perlu disiapkan?”

Gabriel menggeleng tegas. “Tidak ada.”

“Jamuan makan malam? Setidaknya makan malam bersama keluarga kerajaan?”

Gabriel menatap ajudannya sebentar sebelum kembali merapikan dokumen di hadapannya. Ia memastikan setiap sudut kertas sejajar sempurna. “Tidak perlu, Fidio.”

Fidio menghela napas kecil dan mengangguk patuh. “Saya sudah menduga jawabannya akan begitu.”

Gabriel tidak tersenyum. Ia mengambil laporan kerusakan ladang di utara dan membukanya kembali. “Rakyat di wilayah utara kehilangan ternak dan sebagian hasil panen mereka. Beberapa keluarga mungkin bahkan tidak memiliki cukup gandum untuk melewati musim ini.” Gabriel menatap Fidio lurus-lurus. “Aku tidak akan mengadakan pesta hanya karena hari ini aku dilahirkan.”

Fidio mengangguk. “Baik, Yang Mulia.”

“Gunakan anggaran yang sudah disiapkan untuk perayaan jika memang ada. Tambahkan ke bantuan pangan bagi desa-desa yang terdampak wyvern.”

Fidio terdiam sesaat, lalu menundukkan kepala. “Perintah diterima.”

Ajudannya tersebut berjalan mundur dan meninggalkan ruangan. Setelah pintu tertutup, Gabriel kembali bersandar pada kursinya. Ia menatap relief sejarah Veyloria di langit-langit ruangan. Pikirannya terasa jernih, tajam, dan sepenuhnya dikendalikan oleh akal sehat. Gabriel Constantine adalah definisi dari keteraturan dan kesempurnaan. Seorang raja yang menaruh negerinya di atas ego sendiri.

Gabriel bangkit dari kursi kebesarannya, lalu mengumpulkan beberapa tumpukan dokumen yang masih membutuhkan tanda tangan dan pemeriksaan akhir.

Begitu keluar ruangan, Langkah kakinya segera diikuti oleh Thomas, kepala urusan rumah tangga istana yang berjalan satu langkah di belakangnya. Sementara itu, Bran, panglima armada pengawal dalam, menyusul dan menyamakan langkah di sisi kiri sang raja.

Mereka bertiga berjalan beriringan melewati koridor utama istana. Area itu mulai ramai oleh kesibukan siang hari, para pelayan hilir mudik membawa kain-kain bersih dan ornamen dinding. Cahaya matahari siang pun menembus jendela-jendela lengkung yang tinggi.

Gabriel berjalan dengan pandangan lurus ke depan, menghirup udara koridor yang terasa lebih segar dibandingkan ruang rapat yang pengap oleh ego para bangsawan tadi.

“Yang Mulia,” ujar Bran setelah mereka berjalan beberapa saat.

Gabriel menoleh sedikit tanpa menghentikan ayunan langkahnya. “Ya, Bran?”

“Saya ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi atas bantuan Anda untuk Bram.” Bran menundukkan kepala sekilas, suaranya terdengar tulus tanpa dibuat-buat.

Gabriel mengingat nama itu dengan mudah. Bram adalah adik kandung Bran, seorang pemuda nekat yang beberapa bulan lalu terluka saat membersihkan sarang monster di pembatasan. “Ah ... saudara kembarmu? Bagaimana keadaannya sekarang?”

“Sudah jauh lebih baik, Yang Mulia. Tabib mengatakan sisa racun salamander tidak lagi membahayakan nyawanya. Jika bukan karena ramuan penawar khusus yang Anda kirim langsung dari persediaan ibu kota, mungkin pemulihannya akan memakan waktu berbulan-bulan. Atau lebih buruk.” Bran tersenyum kecil, gurat kecemasan yang biasa menghiasi wajahnya kini tampak memudar. “Sekarang dia bahkan sudah mulai mengeluh karena bosan terlalu lama berbaring di tempat tidur.”

“Itu pertanda baik,” balas Gabriel seraya mengangguk. Ada secercah rasa lega yang lewat di benaknya. Memastikan keselamatan keluarga para prajurit setia adalah bagian dari investasi moral. Kerajaan yang kuat dibangun oleh orang-orang yang tahu bahwa pemimpin mereka tidak akan membiarkan mereka mati sia-sia.

“Benar.” Bran mengeluarkan sebuah tawa lepas yang menggema di koridor istana. “Mendengar keluhannya setiap pagi, saya hampir berharap racunnya belum sepenuhnya hilang supaya dia mau diam sedikit lebih lama di kasur.”

Thomas yang berjalan di baris belakang mereka tampak menahan senyum, menjaga kesopanan di depan raja, tetapi tetap menikmati kelakar tersebut.

Gabriel tidak ikut tertawa, tetapi sorot matanya melembut. “Setelah dia bisa berjalan dengan tegak dan pulih sepenuhnya, suruh dia datang menemuiku di ruang kerja.”

Bran mengernyitkan dahi, langkah kakinya agak tertahan akibat rasa terkejut. “Untuk apa, Yang Mulia?”

“Aku membutuhkan beberapa pengawal tambahan untuk memperketat pos penjagaan dalam istana. Jika kemampuan bertarung dan ketangkasan adikmu memang sebaik yang sering kau ceritakan di sesi latihan, aku bisa memberinya satu posisi resmi di bawah komandomu.”

Senyum Bran kembali melebar, rasa bangga seorang kakak seketika membuncah di dadanya. “Saya akan menyampaikan tawaran emas itu kepadanya nanti malam.” Namun, hanya dalam hitungan beberapa langkah berikutnya, ekspresi panglima itu berubah menjadi geli, baru mengingat sesuatu yang konyol tentang adiknya. “Walaupun, sejujurnya, saya sudah bisa menebak apa jawabannya.”

Gabriel menghentikan pandangannya pada Bran, kali ini dengan perhatian penuh. “Apa dia akan menolak?”

“Bukan hanya menolak, Yang Mulia. Bram membenci seragam ksatria. Dia tidak tahan dengan baju zirah yang kaku.” Bran menggelengkan kepala, tangannya bergerak memberikan gestur pasrah. “Dia lebih suka bekerja sebagai buruh kasar. Sejak kecil, dia selalu mengatakan bahwa pekerjaan yang membuat tangan kotor oleh tanah dan peluh jauh lebih menyenangkan daripada berdiri tegak seharian sambil membawa pedang mengilat.”

Thomas tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak terkekeh. “Setelah diselamatkan oleh tabib tertinggi kerajaan atas perintah langsung sang raja, dia malah ingin kembali mengangkut karung-karung gandum?”

“Begitulah Bram. Kepalanya sekeras batu meteor,” sahut Bran. Senyumnya tetap bertahan meski ia mengeluhkan kelakuan adiknya. “Saya sudah mencoba membujuknya berulang kali. Tapi dia malah berkata, ‘Kalau Yang Mulia menawarkan pekerjaan sebagai buruh kasar di gudang bawah tanah istana, aku akan menerimanya dengan senang hati’.”

Gabriel terdiam sebentar. Ia menimbang kata-kata itu secara logis. Di dalam sistem pemerintahannya, ia tidak suka menempatkan orang pada posisi yang tidak mereka sukai; efektivitas kerja hanya muncul dari kesadaran dan minat penuh. Jika Bram dipaksa menjadi ksatria, ia hanya akan menjadi penjaga yang buruk. “Kalau begitu, berikan dia pilihan itu.”

Bran menghentikan langkahnya sepenuhnya, menatap punggung Gabriel dengan mata membelalak terkejut. “Yang Mulia? Anda serius?”

Gabriel ikut berhenti dan berbalik setengah badan. “Aku membutuhkan orang yang jujur dan kuat untuk mengawasi arus masuk persediaan logistik di gudang kerajaan, terutama menjelang ritual Selene. Jika dia merasa lebih berguna dan bahagia bekerja di sana, tidak ada alasan rasional bagi kita untuk memaksanya mengenakan baju besi dan memegang tombak.”

Wajah Bran seketika melunak. Rasa hormat yang mendalam terpancar dari bagaimana ia memandang rajanya. “Saya ... saya akan menyampaikan keputusan Anda. Terima kasih, Yang Mulia.”

Gabriel mengangguk pendek, lalu berbalik untuk kembali melanjutkan berjalan. Bagi Gabriel, percakapan itu adalah hal taktis yang sederhana. Namun, bagi Bran perhatian kecil itu menegaskan mengapa Gabriel Constantine disebut sebagai raja yang sempurna. Sang raja tidak sekadar menyelamatkan nyawa adiknya dengan obat mahal beberapa bulan lalu, ia bahkan masih mengingat nama pemuda biasa itu dan peduli pada ruang lingkup hidupnya di tengah kesibukan mengurus negara.

Di ujung koridor, Gabriel menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah halaman dalam istana. Di bawah sana, para pekerja sedang sibuk menata batu-batu jalan dan memeriksa kereta kuda.

Gabriel menatap pemandangan itu dalam diam, membiarkan keheningan siang menyelimuti pikirannya. Hari masih panjang, dan tugasnya sebagai pelindung Veyloria masih menuntut konsentrasi penuh.

Thomas yang sejak tadi membawa beberapa catatan akhirnya membuka salah satu berkas di tangannya. Wajahnya tampak sedikit canggung, seolah-olah laporan berikutnya tidak sepenting urusan wyvern atau militer, tetapi tetap harus ia sampaikan kepada sang raja. Ia berdeham kecil sebelum melangkah mendekat.

“Yang Mulia, ada beberapa hal dari dapur istana yang perlu saya laporkan,” ujar Thomas.

Gabriel mengalihkan perhatiannya dari jendela besar di hadapannya. “Katakan.”

“Persediaan bahan makanan untuk bulan depan sudah diperiksa secara menyeluruh. Daging, tepung, beras, dan rempah-rempah telah dipesan sesuai kebutuhan wilayah ibu kota. Namun, kepala dapur meminta izin tertulis untuk menambah persediaan khusus demi jamuan ritual kelahiran Dewi Selene.”

“Setujui selama jumlahnya masuk akal dan tidak berlebihan,” jawab Gabriel sambil masih menatap pada jendela.

“Baik, Yang Mulia.” Thomas membalik halaman dokumen berikutnya, kali ini dengan gerakan yang lebih lambat dan hati-hati. “Selain itu ... ada daftar undangan masuk yang perlu Anda periksa.”

Gabriel langsung menatapnya dengan sebelah alis terangkat. “Undangan?”

“Beberapa keluarga bangsawan tinggi telah menyatakan keinginan untuk mengirim putri mereka sebagai pendamping kehormatan selama rangkaian ritual Dewi Selene berlangsung.” Thomas menjeda kalimatnya sejenak, mengamati ekspresi rajanya. “Sebagian dari mereka ... bahkan secara khusus meminta kesempatan untuk mendampingi Yang Mulia secara pribadi selama ritual di kuil utama.”

“Tolak.”

Jawaban Gabriel keluar terlalu cepat, tanpa keraguan sedikit pun.

Thomas berkedip, tertegun melihat respons instan tersebut. “Yang Mulia bahkan belum melihat daftar nama atau lukisan mereka.”

“Aku tidak perlu melihatnya.”

“Ta-tapi, Yang Mulia ....” Thomas menghela napas panjang, mengabaikan tatapan lurus sang raja demi menjalankan tugas informalnya sebagai pengurus keluarga kerajaan. “Usia Anda hari ini sudah genap tiga puluh tahun. Anda sudah sangat cukup umur untuk mulai memikirkan pernikahan. Dewan bangsawan juga sudah mulai membicarakan masalah pewaris takhta Veyloria.”

“Aku belum memikirkan pernikahan,” balas Gabriel menggeleng.

“Itulah masalahnya, Yang Mulia.” Thomas tetap melanjutkan bicaranya, penolakan dingin Gabriel tidak cukup kuat untuk menghentikannya. Ia sudah mengabdi sejak Gabriel masih kecil, menjadikannya satu-satunya orang yang berani bersikap sedikit keras kepala di depan raja. “Anda selalu mengatakan bahwa kerajaan ini membutuhkan perhatian penuh Anda. Saya sangat mengerti itu. Tetapi menjadi seorang penguasa bukan berarti Anda harus menghabiskan seluruh sisa hidup Anda sendirian di kamar ini. Setidaknya, Anda bisa bertemu dengan beberapa putri bangsawan dan melihat apakah ada yang cocok.”

Gabriel menatap Thomas dalam diam, ia tetap pada pendiriannya. “Thomas.”

“Yang Mulia, saya hanya ingin yang terbaik untuk—“

“Jadwalku. Sekarang.”

Thomas langsung berhenti berbicara, mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Gabriel mengambil berkas undangan pendamping ritual tersebut, lalu menyerahkannya kembali ke tangan Thomas tanpa membacanya satu baris pun. “Katakan jadwalku berikutnya. Jangan terus menceramahiku tentang pernikahan atau urusan ranjang.”

Di sisi lain Gabriel, Bran terpaksa menundukkan kepala dalam-dalam. Bahunya sedikit terguncang karena menahan senyum agar tidak menyinggung perasaan Thomas yang sedang berusaha keras.

Thomas menghela napas pasrah, lalu merapikan kembali kertas-kertasnya. “Baik. Setelah ini Anda memiliki pertemuan dengan kepala pengawal kerajaan untuk membahas taktik operasi pembasmian wyvern di utara. Setelah makan siang, Anda harus menerima laporan langsung dari bendahara mengenai alokasi anggaran pembangunan lumbung baru.”

Gabriel mengangguk, menyetujui runtutan agenda tersebut.

“Menjelang sore,” lanjut Thomas, “ada pertemuan formal dengan perwakilan kuil agung mengenai persiapan teknis ritual Dewi Selene.”

“Batalkan jamuan makan malam nanti,” potong Gabriel saat Thomas hendak melanjutkan.

Thomas langsung mengangkat wajahnya dengan kening berkerut. “Kenapa harus dibatalkan?”

“Aku akan melanjutkan pemeriksaan laporan pertanian yang tertunda setelah pertemuan dengan bendahara selesai.”

“Yang Mulia, hari ini adalah hari ulang tahun Anda,” cetus Thomas, nadanya terdengar frustrasi.

“Aku tahu dengan sangat. Fidio telah mengatakannya berulang kali sampai aku mau muntah. jadi cukup.”

“Setidaknya luangkan waktu untuk makan malam dengan layak.”

Gabriel berbalik dan mulai berjalan kembali menyusuri koridor istana dengan langkah tegap. “Kalau begitu, pastikan saja dapur menyiapkan sesuatu yang sederhana untuk diantarkan ke ruang kerjaku.”

Thomas akhirnya menyerah, dan sebuah senyuman tipis muncul di wajah tuanya. “Itu baru terdengar seperti sebuah perayaan.”

“Itu bukan perayaan, Thomas. Itu hanya makan malam biasa agar aku tidak kelaparan,” tegas Gabriel tanpa menoleh ke belakang.

“Baik, Yang Mulia. Terserah apa sebutan yang Anda inginkan,” sahut Thomas patuh.

Bran tidak bisa menahan tawanya lagi ketika melihat Thomas akhirnya melangkah mundur. Bahkan pada hari ulang tahunnya yang ketiga puluh, di saat semua orang mengharapkan pesta dan pembicaraan tentang calon ratu, Gabriel Constantine masih berhasil mengubah percakapan tentang pernikahan menjadi pembahasan efisiensi anggaran kerajaan.


Pertemuan dengan Santos berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan semula. Ketika kepala pengawal kerajaan itu akhirnya menutup laporan terakhir mengenai persiapan pembasmian wyvern di wilayah utara, kegelapan malam telah sepenuhnya turun membungkus area luar istana.

Gabriel menaruh pena bulunya kembali ke tempat tinta, menatap Santos dengan pandangan yang masih fokus meski matanya mulai terasa lelah setelah seharian penuh memeriksa dokumen kenegaraan.

“Pastikan para prajurit tidak memasuki wilayah pemukiman warga tanpa alasan logistik yang jelas,” kata Gabriel sambil menggeser dan menandatangani lembar dokumen terakhir untuk mengesahkan pergerakan pasukan. “Dan prioritaskan keselamatan para petani setempat selama operasi pembersihan berlangsung. Jangan sampai ada tindakan ceroboh yang justru merugikan orang-orang yang seharusnya kita lindungi.”

Santos menerima tumpukan dokumen yang telah dilegalisasi tersebut dengan kedua tangannya, lalu segera menegakkan tubuh untuk memberi hormat militer kepada sang raja. “Perintah diterima dengan jelas dan akan dilaksanakan sepenuhnya, Yang Mulia.”

Gabriel mengangguk pelan, memberikan isyarat bahwa tugas pria itu di ruangan ini telah selesai. “Kita selesai untuk malam ini. Kau boleh pergi.”

Santos segera melangkah mundur, meninggalkan ruang kerja kerajaan bersama beberapa pengawal pribadinya yang sejak tadi berjaga di dekat pilar dalam. Begitu pintu kayu besar itu tertutup rapat, ruangan luas tersebut mendadak terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya.

Gabriel menyandarkan punggungnya yang kaku pada kursi kebesaran, lalu tanpa sadar mengangkat pandangan ke arah jendela kaca di sisi kirinya. Di luar sana, halaman istana hanya diterangi oleh kepulan cahaya dari beberapa lentera dinding. Tidak ada lagi sisa cahaya matahari atau warna langit sore; hanya ada kegelapan pekat yang membentang luas.

Detik itu juga, Gabriel baru menyadari betapa berat dan berdenyut kepalanya sejak beberapa jam terakhir selama memimpin jalannya rapat beruntun. Rasa kaku menjalar dari tengkuk hingga ke dahinya, konsekuensi fisik yang wajar setelah memaksakan otak bekerja tanpa henti sejak fajar menyingsing.

Gabriel mengangkat tangan kanan, menggunakan ibu jari dan telunjuknya untuk memijat pelipis secara perlahan guna meredakan ketegangan yang mulai mengganggu konsentrasinya.

“Aku akan segera tidur,” tutur Gabriel pada dirinya sendiri, tetapi suaranya cukup terdengar oleh satu-satunya orang yang tersisa di ruangan itu.

Fidio yang sejak tadi menunggu dengan sabar di dekat pintu masuk segera melangkah mendekat tanpa menimbulkan suara bising. Ia mengumpulkan beberapa dokumen penting yang berserakan di atas meja kerja Gabriel, menumpuknya dengan rapi, sebelum berjalan beriringan bersama sang raja yang mulai melangkah menuju koridor arah kamar pribadi.

“Yang Mulia, saya akan mengantar Anda sampai ke depan kamar.”

Gabriel tidak membalas dengan kata-kata, hanya memberikan anggukan pendek sebagai tanda persetujuan. Langkah kakinya tetap teratur, meski setiap ketukan tumitnya di atas lantai kini terasa memicu rasa sakit yang semakin menusuk di dalam kepalanya.

Ia menolak untuk memperlihatkan kelemahan fisik tersebut di depan siapa pun, bahkan di hadapan Fidio yang sudah mengenalnya sejak mereka masih kanak-kanak.

Sesampainya di depan pintu kamar utama yang dilapisi ukiran khas Veyloria, Fidio mendorong daun pintu hingga terbuka lebar, lalu melangkah masuk terlebih dahulu untuk menyalakan beberapa lampu minyak di sudut ruangan agar kamar tidak terlalu gelap. Setelah memastikan pencahayaan cukup, ajudan itu berbalik dan menatap wajah Gabriel yang tampak sedikit lebih pucat dari biasanya di bawah pendar cahaya lampu. “Haruskah saya memanggil tabib istana sekarang untuk memeriksa kondisi Anda?”

Gabriel menggelengkan kepala dengan tegas tanpa ragu. “Tidak perlu.”

“Tetapi Yang Mulia, Anda sudah mengeluh tentang sakit kepala ini sejak pertemuan sore dengan perwakilan kuil tadi,” desak Fidio, nadanya menyiratkan rasa cemas seorang sahabat.

“Aku hanya lelah karena kurang tidur beberapa hari ini, Fidio. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” jawab Gabriel menenangkan sang ajudan.

Fidio masih tampak tidak yakin dengan bantahan tersebut, matanya memperhatikan bagaimana jemari sang raja sempat mengetat saat memegang pinggiran meja kecil di dekat tempat tidur. “Jika rasa sakitnya bertambah parah di tengah malam nanti, berjanjilah Anda akan segera membunyikan lonceng agar saya bisa memanggil bantuan medis.”

“Aku akan memanggilnya jika memang diperlukan,” potong Gabriel untuk mengakhiri perdebatan yang tidak ia sukai. Ia mulai melepas mantel luar kerajaannya yang berat, lalu menyerahkan kain beludru tebal tersebut kepada Fidio untuk dirapikan. “Pergilah ke kamarmu sekarang. Kau juga sudah ikut bekerja bersamaku seharian penuh tanpa istirahat.”

Fidio menerima mantel tersebut dengan kedua tangan, melipatnya dengan rapi di atas lengan, kakinya belum langsung bergerak untuk melangkah pergi meninggalkan ruangan. Ia menatap Gabriel yang kini berdiri di dekat jendela kamar, memunggungi lampu minyak yang menyala. “Selamat ulang tahun yang ketiga puluh, Yang Mulia. Semoga kedamaian selalu menyertai kepemimpinan Anda.”

Gabriel terdiam sebentar mendengar ucapan tersebut, membiarkan kata ‘ulang tahun’ itu mengendap sekali lagi di benaknya sebelum ia menoleh sedikit ke arah Fidio. Kemudian, ia mengangguk kecil sebagai bentuk apresiasi yang tulus atas kesetiaan pria di hadapannya. “Terima kasih, Fidio. Sekarang, istirahatlah.”

Fidio membungkuk hormat untuk terakhir kalinya malam itu, lalu melangkah keluar dan menutup pintu kamar dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara yang mengejutkan.

Gabriel kini berdiri sendirian di tengah keheningan kamarnya yang luas. Begitu kesunyian malam total mengambil alih, rasa sakit di kepalanya justru kembali berdenyut dengan intensitas yang jauh lebih kuat, seolah-olah ada sesuatu yang sedang mendobrak dinding kesadarannya dari dalam.

Ia melangkah mendekati meja kecil, lalu meniup padam sumbu lampu minyak hingga ruangan itu tenggelam dalam kegelapan. Gabriel merebahkan tubuh di atas tempat tidur besar, memejamkan mata dengan harapan rasa sakit itu akan menguap saat ia terlelap.

Malam itu, tanpa pernah disadari, menjadi malam terakhir di mana Gabriel Constantine tidur sebagai dirinya sendiri yang sempurna, sebelum takdir merenggut seluruh dunianya.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk