”Siang tak pernah marah kepada malam saat ia datang bersama kegelapan. Dan matahari percaya pada bulan untuk jadi pengganti saat ia pergi.”
Langit di atas Tanah Lot, berwarna jingga, merah marun, dan emas beradu, lalu perlahan sirna, ditelan bayangan biru kehitaman yang perlahan merayap naik dari horizon laut. Angin asin menerpa wajah Noval dan Novi yang berdiri di tepi karang, menanti matahari tenggelam.
Noval mengajak Novi merayakan hari ulang mereka yang jatuh pada tanggal yang sama. Janji lama yang akhirnya ditepati setelah bertahun-tahun penuh drama dan kesibukan karir. Keringat dingin membasahi leher Noval di balik kemeja linennya. Tangannya masuk ke dalam saku celana, mencari benda yang sudah ia siapkan satu bulan lalu.
Tepat saat matahari menghilang. Suara desing kembang api melesat dari belakang mereka, tepat dari balik tebing. Kembang api meletup menjadi warna-warni memukau. Hijau zamrud, merah rubi, dan emas menyala. Orang-orang di sekitar mereka mulai bersorak, ikut menikmati pertunjukan dadakan itu. Di tengah ledakan terakhir, yang paling besar dan terang, sebuah tulisan besar terbentuk di udara, menggunakan susunan cahaya yang dirancang khusus, WILL YOU MARRY ME?
Mata Novi membulat, memantulkan pijar cahaya warna-warni dari langit. Tangannya menutup mulut, tubuhnya mematung saat ledakan emas membentuk formasi yang menerangi seluruh bibir pantai
Noval bersiap berlutut di atas karang yang kasar, kotak cincin beludru merah marun terbuka di tangannya, tersenyum lebar.
“So sweet,” desah Novi, suaranya pelan diiringi senyum lebar. “Val, liat tuh... ada yang lagi dilamar. Romantis banget.” Ia menunjuk ke arah kembang api.
Novi menoleh ke arah Noval yang tidak bereaksi. Senyumnya memudar melihat Noval tanpa ekspresi. “Ko bete gitu sih mukanya? Nggak mau ngelamar gue kek gitu? Yaudah sih nggak usah!” Ia memalingkan wajahnya.
“Ini otak dipake! Jangan buat pajangan doang!” Noval menoyor kepala Novi berkali-kali, pelan tapi tegas.
“Apaan sih! Lagi enak-enak malah bikin bad mood!” protes Novi, mengusap kepalanya.
“Eh bego, tulisan tadi itu buat lu, blo’on!”
“Eh... buat gue?!” Pandangan Novi beralih dari langit ke kotak cincin di tangan Noval. Matanya berkaca-kaca. “Lo... lo ngelamar gue?!”
“Nggak jadi. Udah males. Udah gue buang aja nih cincin ke laut,” ancam Noval memalingkan tubuhnya ke arah laut.
“Ya jangan gitu dong! Jadi ya ganteng, jadi ya.” Novi menarik kerah kemeja Noval, memeluknya erat-erat, air matanya tumpah.
“Iya, gue mau.” bisik Novi, lalu mengecup bibir Noval.
Noval memeluk Novi erat. “Kalau si bogel sama Rizal ada di sini...” gumam Noval lirih.
Novi ikut tersenyum. “Pasti lamaran lo udah dihina habis-habisan.”
Jauh dari hangatnya suasana Bali. Malam di Bandung lebih dingin dan sunyi. Riki keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan celana pendek hitam. Uap panas masih mengepul dari bahu Riki yang lebar, sisa tetesan air mengalir di dadanya.
Riki merebahkan diri di kasur king size yang empuk, mencoba memaksa dirinya untuk tidur. Bola matanya bergerak di balik kelopak matanya tertutup.
Beberapa menit berlalu, matanya terbuka menatap langit kamar berwarna putih bersih. Tubuhnya bangkit dari kasur lalu berjalan ke mini bar yang tersembunyi di balik lemari, mengambil botol whiskey kecil.
Beberapa Jam Sebelumnya - Grand Opening Kedai Kopi Nusantara #6
Papan bunga dari Gilang dan Noval berdiri paling tegak di antara barisan karangan bunga lainnya. Di dalam, aroma kopi yang baru digiling beradu dengan parfum mahal para tamu. Riki, dalam kemeja batik tulisnya, mengangguk sopan pada Richard yang terus memegang gelas sampanye. Di samping mereka, Pak Robert sedang asyik memberikan wejangan bisnis pada Richard dan Riki.
Riki baru saja meletakkan cangkir espresso kosong saat MC melompat ke tengah lobi yang bising.
“Karena ini cabang keenam, nggak sah kalau kita nggak dengar suara owner-nya sendiri!” seru MC sembari menarik lengan Riki. “Mas Riki, ayolah! Satu lagu sebelum kita potong tumpeng.”
Tepuk tangan para tamu bergema. Richard ikut bersiul, memberi kode dengan jempolnya. Riki sempat menggeleng, tapi gitar akustik sudah disodorkan ke depan dadanya. Ia naik ke panggung dengan enggan. Kursi kayu di panggung kecil berderit saat ia duduk.
Ia memetik senar G, menyanyikan lagi Sally Sendiri.
Pintu kaca di depan bergeser saat Riki masuk bait kedua. Udara panas Bandung masuk sekilas sebelum mesin pendingin kembali menguasai ruangan. Seorang wanita melangkah masuk, berhenti tepat di depan jajaran karangan bunga.
Jari manis Riki tertahan di senar. Bunyi fals pendek muncul dari lubang gitar. Riki berdeham, matanya menatap cara wanita itu merapikan syal di lehernya, lalu menunduk menatap fretboard. Suaranya pecah di satu nada rendah, tenggorokannya mendadak kering.
Riki mengembalikan gitar ke staf setelah menyelesaikan lagu itu dengan tempo yang lebih cepat. Ia turun dari panggung, mengelap telapak tangannya ke kemeja batik sebelum Richard mencegatnya di dekat meja bar.
“Gila, suaramu boleh juga, Ki.” Richard tertawa, lalu menarik wanita yang tadi masuk ke dalam lingkaran obrolan mereka. Tangan Richard mendarat di pinggang wanita itu. “Kenalin, ini Sisilia. Istri Saya.”
Riki dan Sisilia saling menatap. Bau parfum Sisilia menusuk indra penciumannya.
“Bie, ini Mas Riki yang aku ceritain. Owner dari kedai kopi yang kita investasikan ini,” lanjut Richard.
Sisilia menarik napas pendek, jemarinya meremas tali tas kulit di bahunya sampai buku jarinya memutih.
“Ko jadi canggung gini?” Alis Richard terangkat melihat ekspresi Sisilia. “Kalian udah saling kenal?”
“Teman.” Suara Sisilia keluar sebelum Riki sempat membuka mulut.
“Iya,” jawab Riki pendek. “Teman waktu Sisil kuliah di Jakarta.”
“Satu kampus?” Richard mengejar, matanya menatap Riki dan Sisilia bergantian. “Ko kamu nggak excited sih waktu aku cerita soal Mas Riki?”
Sisilia tertawa kecil. “Yang punya nama Riki kan nggak cuma satu bee, mana aku tau kalo ternyata Riki yang kamu ceritain itu Riki temen waktu aku kuliah di Jakarta.”
“Bukannya Mas Riki nggak kuliah ya?” cecar Richard.
“Temen waktu aku kuliah bee, bukan temen kuliah,” elak Sisilia.
“Iya, Mas. Saya kenal Sisil waktu masih kuliah di UMJ,” tambah Riki mengusap hidungnya.
Richard kembali tertawa, menepuk bahu Riki sampai sedikit terhuyung. “Wah, dunia sempit banget ya! Berarti kamu harus kasih diskon khusus buat istri saya kalau dia mampir ke sini.”
Obrolan berlanjut ke target ekspansi dan nilai investasi di beberapa titik kota Bandung. Riki mengangguk pada waktu yang tepat, sesekali melempar tawa pendek, tapi matanya tidak pernah benar-benar lepas menatap Sisilia terus memelintir cincin di jari manisnya tiap kali Richard menyebut kata “investasi”.
Riki hampir tertidur, terbuai oleh efek alkohol, saat ponselnya berdering nyaring. Riki meraih ponselnya menatap nomor tidak dikenal di layar.
“Halo?”
Suara napas halus terdengar dari ujung sana selama dua detik sebelum panggilan terputus.
Ting.
Sebuah pesan masuk.
Temuin aku besok di Cafe Jordin jam 2. Jl. Citarum Bandung, deket SMP 44. Sisil.
Riki menatap layar beberapa menit, lalu berbaring. Ia meletakkan ponsel di atas dadanya, membiarkan panasnya menjalar. Ia menenggak sisa whiskey dari botolnya, kembali menatap langit-langit putih hingga kelopak matanya tertutup.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!