KEBEBASAN YANG HILANG

0 dibaca

A

Aspal jalanan menuju Lapas Salemba masih menyimpan sisa panas matahari yang memantul ke kabin mobil, menciptakan fatamorgana di ujung cakrawala beton. Di jok belakang, tumpukan kotak makanan tertata. Nasi padang dengan rendang ekstra, minyaknya mulai merembes ke kertas pembungkus, martabak manis yang aroma wisman-nya masih samar tercium, dan beberapa bungkus rokok kretek yang dulu sering Rizal hisap.

Noval duduk di kursi depan, jemarinya mengetuk map kulit berisi berkas-berkas magangnya. Ia baru menyelesaikan enam bulan pertama yang brutal di kantor advokat kenalan Om Bewok. Kemeja kerjanya licin, dasinya tersimpul dengan simpul windsor yang sempurna.

“Woy Bogel, pelan dikit bawanya, bisa berantakan nih makanan, Rizal nggak bakal mau makan,” gumam Noval tanpa menoleh.

Riki, yang kini terlihat lebih berisi tersenyum tipis sambil tetap fokus pada kemudi. Di pergelangan tangan kirinya melingkar jam tangan analog pemberian Sisila.

Di kursi kemudi sebelah Riki, Gilang duduk tegak, menyatu dengan sandaran kursi. Di pundak kemeja sipilnya, aura Inspektur Polisi Satu (IPTU) tetap memancar meski ia sedang tidak bertugas.

Mereka tiba di depan gerbang Lapas yang kelabu dan penuh coretan kusam. Langkah kaki mereka bergaung di lorong pendaftaran yang pengap, berbau karbol yang tajam bercampur dengan uap tubuh manusia. Gilang memimpin jalan. Ia meletakkan kartu identitasnya di atas meja loket dengan bunyi tok yang kering.

“Kunjungan untuk Rizal Biantara,” ucap Gilang, suaranya rendah.

Petugas di balik kaca tebal mengetik nama Rizal di atas keyboard. Matanya menatap layar monitor tabung yang berkedip-kedip, menampilkan barisan data digital. Ia mengetikkan lagi dengan gerakan yang lebih lambat.

Noval merapatkan tas makanannya ke dada. Riki melihat jam tangannya untuk ketiga kali dalam satu menit.

Petugas itu mengangkat kepala, menatap Gilang lewat celah kecil di bawah kaca. “Yang bersangkutan sudah bebas, Pak. Dapat remisi total karena kelakuan baik dan beberapa potongan hari besar. Keluarnya tiga bulan lalu.”

“Kapan?” tanya Gilang. Suaranya kini lebih mirip bisikan yang tertahan di tenggorokan. “Kapan tepatnya dia keluar?”

Petugas itu kembali melihat layar. Ia menyebutkan sebuah tanggal. Tanggal di mana Gilang sedang sibuk dengan laporan operasi dinasnya, tanggal di mana Noval sedang beradu argumen habis-habisan di pengadilan negeri, dan tanggal di mana Riki sedang merayakan ulang tahun Sisila dengan makan malam sederhana.

Mereka berjalan keluar dari gedung Lapas. Matahari sudah mulai tenggelam di balik gedung-gedung tinggi. Di parkiran, mereka berdiri mematung di samping mobil yang masih penuh dengan makanan.

Noval mengambil kotak-kotak makanan dari jok belakang. Ia berjalan ke arah warung pinggir jalan yang biasanya dipenuhi pengemis di dekat gerbang Lapas. Ia meletakkan tumpukan nasi padang dan martabak manis itu di sana diam-diam, lalu berbalik masuk ke mobil tanpa menoleh lagi.

Di perjalanan pulang, Riki mengemudi dengan sangat lambat di jalur kiri, matanya menatap kosong aspal di depannya. Gilang menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang bergetar, melihat lampu-lampu Jakarta yang mulai menyala satu per satu.

Malam itu, di dalam kamarnya yang sunyi, Gilang duduk di tepi tempat tidur yang tertata kaku. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka kontak nama Rizal.

Tangannya gemetar mengetik pesan di kolom SMS.

Zal, lo di mana? Kita tadi ke Salemba, dan kata petugas lo udah keluar. Kenapa nggak ngabarin? Kita semua nyariin lo-

Jemarinya berhenti. Jempolnya menggantung di atas tombol. Ia menatap kalimat itu beberapa menit, lalu menghapusnya. Ia mengetik lagi.

Gue nggak tahu harus bilang apa, tapi kenapa lo nggak-

Hapus lagi.

Layar ponsel yang terang menerangi wajah Gilang yang tampak jauh lebih tua dari usia dua puluh enam tahunnya.

Gilang menutup ponselnya, membiarkannya tergeletak gelap di atas kasur. Ia merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar.

Di salah satu kantor advokat, Noval duduk di kursi kerjanya. Satu ruangan yang masih terang, meja kecil di ujung lorong tempat ia duduk dengan kemeja yang lengannya digulung sampai siku.

Tumpukan berkas perkara memenuhi meja. Ia membaca satu dokumen, memberi garis stabilo kuning pada satu kalimat, lalu menutup map itu. Di layar komputer, jam digital menunjukkan pukul 22.47. Noval bersandar di kursinya. Tangannya bergerak mengambil ponsel dari saku celana. Ia membuka percakapan lama, mengetik satu kalimat pendek.

Dia udah keluar.

Noval menatap tulisan itu beberapa detik, lalu menghapusnya. Ia meletakkan ponselnya kembali ke meja. Di luar jendela kantor, gedung-gedung Jakarta berdiri seperti bayangan gelap yang saling bertumpuk.

Di sisi lain kota, Riki masih berada di kedai kopinya yang pertama. Lampu gantung kuning menggantung rendah di atas meja bar yang terbuat dari kayu bekas peti ekspor. Aroma kopi yang baru digiling masih tertinggal di udara, bercampur dengan wangi susu panas yang mengering di ujung steam wand mesin espresso.

Jam dinding menunjukkan hampir pukul sebelas. Dua barista yang bekerja shift malam sudah selesai merapikan kursi-kursi kayu di dekat jendela. Salah satu dari mereka mengangkat papan kecil bertuliskan OPEN lalu membaliknya menjadi CLOSED.

“Mas, kasirnya udah gue tutup,” kata barista itu sambil menyerahkan laci uang.

Riki mengangguk pelan. Ia menghitung uang di dalam laci sebentar, lalu menutupnya kembali. “Besok cabang Ciputat buka jam delapan. Jangan telat.”

“Siap, Mas.”

Riki berjalan ke belakang bar, membersihkan portafilter mesin espresso dengan kain kecil, lalu menggantungnya kembali ke tempatnya.

Di pergelangan tangan kirinya, jarum jam analog bergerak melewati angka sebelas. Ia menatap ruang kedai yang kini kosong. Beberapa tahun lalu, ia masih berdiri di belakang gerobak angkringan dengan tangan bau arang dan jahe bakar.

Riki mematikan mesin espresso. Suara desis terakhir uap keluar dari pipa logam. Ia mengambil jaketnya dari sandaran kursi. Sebelum keluar, ia berhenti sebentar di depan papan tulis menu. Kapur putih masih menuliskan daftar minuman hari ini. Ia berdiri beberapa detik lebih lama dari biasanya. Ia mematikan lampu utama kedai, lalu eluar ke trotoar yang mulai sepi.

Di antara jutaan lampu Jakarta yang berkedip. Klakson bus kota terdengar jauh dari arah jalan raya, bercampur dengan suara knalpot motor yang melintas.

Gilang masih terjaga. Ia bangun dari posisi rebahnya. Ia meraih ponselnya lagi, membuka kontak yang sama, lalu menatap nama itu cukup lama. Jempolnya bergerak sebentar di layar, lalu berhenti lagi.

Di luar jendela, suara motor patroli melintas sebentar, lalu hilang. Ia menarik napas panjang, berdiri, lalu berjalan keluar kamar.

Dari dapur terdengar bunyi kulkas yang berdengung pelan. Langkah kaki ringan mendekat dari lorong. Chacha muncul dengan dua gelas teh hangat di tangannya. Rambutnya masih terikat asal.

“Kak.” Chacha meletakkan salah satu gelas di meja depan Gilang. “Belum tidur juga?”

Gilang menggeleng. Ia mengambil gelas itu, menghembuskan uapnya sebentar sebelum menyesap sedikit. “Kamu juga belum.”

“Ngoding tadi,” jawab Caca singkat, lalu duduk di kursi seberangnya. “Kebiasaan.”

Suara jangkrik dari taman kecil di depan rumah masuk melalui jendela yang terbuka.

Chacha melirik ponsel di meja. “Jadi ke Salemba tadi?”

Gilang mengangguk pelan.

“Terus?”

“Dia udah keluar.” Tangan Gilang memutar gelas teh perlahan di atas meja.

Chacha berhenti bergerak. “Keluar?”

“Tiga bulan lalu.”

Chacha menatap Gilang beberapa detik. “Kak Rizal nggak hubungin kalian?”

Gilang menggeleng.

Chacha menarik napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Ya masuk akal sih.”

“Maksud kamu?” Gilang menoleh.

“Kalau aku jadi dia, aku juga mungkin nggak langsung muncul,” Chacha mengangkat bahu. “Kalian semua udah punya hidup masing-masing sekarang.”

Gilang tidak menjawab.

Chacha menatap Gilang sebentar, lalu tersenyum tipis. “Tapi dia nggak mungkin jauh-jauh.”

“Kenapa kamu yakin?”

Chacha menunjuk jendela dengan dagunya. “Karena ini Tangsel.”

Gilang mengikuti arah pandangnya. Lampu-lampu jalan memanjang sampai ke ujung gang.

“Orang kayak kak Rizal cocok hidup di kota kecil,” Chacha mengambil gelas tehnya, meniup permukaannya pelan. “Terlalu sepi.”

Gilang menghembuskan napas pendek. “Kamu santai banget ngomongnya.”

“Terus harus gimana?” Chacha mengangkat alis. Ia meneguk tehnya sekali lagi, lalu berdiri dari kursinya. “Kalau dia mau ketemu, dia bakal muncul sendiri.”

Chacha berjalan kembali ke arah dapur, lalu berhenti sebentar di ambang lorong. “Oh iya, Kak.” Ia menyeringai. “Kalau dia nongol tiba-tiba, jangan langsung ceramah polisi keluar semua. Kasihan orang baru bebas.”

Gilang mendengus pelan. “Tidur sana.”

Chacha mengangkat dua jarinya diiringi cengir kuda, lalu menghilang ke dalam lorong.

Ruang tamu kembali sunyi. Gilang mengambil ponselnya lagi. Layar hitamnya memantulkan bayangan wajahnya sendiri. Ia menatap nama itu beberapa detik lagi, lalu berjalan ke jendela ruang tamu, membuka sedikit tirainya.

Di luar, lampu-lampu kompleks perumahan menyala pucat. Seorang satpam ronda melintas pelan dengan sepeda motor tuanya, lampu senter menggantung di stang.

Gilang menyalakan sebatang rokok. Asapnya naik perlahan ke udara malam yang hangat. Beberapa mobil lewat di jalan depan rumah, lampunya menyapu dinding ruang tamu sebentar lalu hilang.

Lampu kamar Nadia masih menyala. Di atas meja kecilnya, beberapa brosur motor berserakan di samping buku catatan penjualan. Ia menghitung sesuatu dengan kalkulator kecil. Angka-angka di layar berkedip cepat. Ia menuliskan satu jumlah di buku. Lalu berhenti.

Ponselnya tergeletak di sebelah buku. Nadia menatap layar hitamnya beberapa detik.

Kota Jakarta tetap menyala seperti biasa. Jalan-jalan tetap dipenuhi kendaraan, lampu merah tetap berganti warna, kereta terakhir tetap melintas di atas relnya.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk