PERANG TERBUKA

2 dibaca

A

Kabut subuh menggantung rendah di atas aspal basah Pamulang. Dari balik tirai toko kelontong yang baru dibuka setengah jalan, aroma diesel bercampur uap sachet kopi menyengat udara dingin. Roda-roda angkot mulai mencengkeram jalanan yang licin, merayap perlahan melintasi deretan ruko yang masih gelap.

Di sebuah gudang semen tak terpakai di pinggiran Pamulang, tiga anak buah Wild Liar duduk mengelilingi meja lipat yang rapuh. Bunyi kertak kartu domino beradu dengan denting koin di atas seng.

Seorang pria bertato kartu remi memudar di lehernya mencengkeram sejumput uang kertas lusuh. Ia menghitungnya tiga kali, rahangnya mengeras.

“Cuma dapat tiga ratus ribu?” Si ketua wilayah meludah ke lantai. “Jatah hari ini mana lagi?”

Anak buahnya yang berkulit legam menggeleng pelan, matanya menghindari tatapan si ketua. “Tukang parkir di pertigaan ruko nggak mau setoran ke kita lagi, Bang.”

“Nolak?”

“Enggak nolak,” jawabnya pelan, memutar-mutar korek api gas. “Udah ada anak-anak Black Ribal berdiri di samping lapak mereka dari jam empat subuh tadi.”

Keheningan melingkupi ruangan. Kartu-kartu di meja dibiarkan tak tersentuh.

Jalanan Ciputat mulai padat oleh asap knalpot. Di area SPBU tua dekat terminal, Aban berdiri bersandar di tiang papan harga bahan bakar. Jaket jinsnya menyatu dengan keremangan pagi. Matanya mengamati lalu lalang angkot dan deretan calo tiket yang berkumpul di pinggir jalan. Dua anggota Red Viper berdiri di belakangnya.

“Bang, di gang sebelah ada delapan anak Wild Liar lagi nongkrong,” bisik salah satunya, jari tangannya meremas gagang besi di dalam saku. “Kita ratain sekarang?”

Aban menyalakan rokok, menghembuskan asapnya ke arah deretan kios rokok di depannya. “Duitnya di mana?”

“Ha?”

“Gue nggak nyari anak-anaknya.” Aban menunjuk seorang pria berbadan tambun yang sedang memegang kantong plastik berisi koin dan lembaran uang dua ribuan dari para sopir angkot. “Gue cuma butuh mutus keran airnya. Kalau tangkinya kering, orang-orangnya bakal merayap sendiri cari minum ke tempat kita.”

Raungan mesin motor sport membelah kesunyian gang pemukiman di Pamulang. Aurell memutar gas tipis-tipis, deru knalpotnya bergema menembus dinding-dinding bata rumah warga. Di belakangnya, empat motor anggota Black Ribal mengekor rapat.

Seorang anggota Red Viper di sebelah Aurell menyejajarkan posisi saat mereka berhenti di persimpangan jalan pasar.

“Rell, markas kecil mereka di balik pasar,” kata pemuda itu, mengencangkan cengkeraman di balok kayu di paha. “Langsung gempur dari depan?”

Aurell menatap ke arah keramaian pasar dari balik visor helmnya yang tebal. Ia mematikan mesin motornya. “Goblok.” Ia melepas helm, rambutnya terurai tertiup angin pagi. “Kalau bisa bikin mereka ngasih kunci tanpa perlu ngerusak pintunya, ngapain lu buang tenaga buat mukul?”

Di pelataran pasar Pamulang, seorang pria bertubuh kekar dengan jaket kulit tanpa lengan berdiri memegang kayu, mengawasi para pedagang yang sibuk memindahkan keranjang. Langkah kaki Aurell menghampiri pria itu. Sepatu botnya menapak di atas tanah becek.

Pria itu berbalik, menatap Aurell dari ujung kaki hingga kepala sebelum akhirnya terkekeh geli. “Anak kecil nyasar ke mana pagi-pagi gini?”

Aurell berhenti tiga langkah di depannya. Matanya tenang, tanpa ketegangan. “Mulai jam ini, semua karcis parkir dan setoran lapak pasar lewat gue,” kata Aurell pendek. Tangannya tetap tenggelam di saku jaket.

Pria itu tertawa kencang, menoleh ke arah dua temannya yang bersandar di tiang listrik. “Kalau gua nolak?”

“Ya jangan,” jawab Aurell pelan.

Pria itu menyeringai, mengayunkan kayu di tangannya ke arah bahu Aurell.

Tanpa menggeser kakinya lebih dari sepuluh sentimeter, tubuh Aurell miring ke kiri. Kayu merobek udara kosong. Sebelum pria itu sempat menarik kembali tangannya, tumit sepatu bot Aurell menghantam lutut bagian dalam lawan.

KRAK.

Pria itu mengerang, tubuhnya ambruk berlutut di tanah becek. Aurell melangkah maju, menyiku rahang pria itu dari atas. Kepala pria itu tersentak ke belakang, jatuh telentang di atas genangan air pasar.

Dua pria di dekat tiang listrik terhenyak. Mereka menatap pria kekar yang kini mengerang kesakitan sambil memegang rahangnya, lalu menatap Aurell yang masih berdiri tenang tanpa napas yang memburu.

Aurell merapikan kerah jaketnya. “Masih mau nolak?”

Pria yang terkapar itu memuntahkan ludah bercampur darah ke tanah. Tangannya gemetar terangkat perlahan, memberi isyarat menyerah. “Nggak... nggak, Mbak. Mulai hari ini... kita ikut Black Ribal.”

Dari belakang, anggota Red Viper yang menyaksikan adegan itu saling menatap.

Lampu-lampu merkuri menerangi asap sate dan debu jalanan di Terminal Ciputat. Aban duduk di bangku kayu warung kopi. Di depannya, duduk koordinator lapangan Wild Liar wilayah terminal, seorang pria paruh baya dengan mata merah dan wajah penuh kelelahan.

Aban melempar dua bendel uang kertas yang diikat karet tebal ke atas meja kayu. “Ini jatah tiga bulan.” Aban menyedot kopi sachet dari gelas plastiknya. “Tugas lo cuma satu. Suruh anak-anak lo libur seminggu. Jangan ada yang jaga pos.”

Pria itu menatap tumpukan uang di depannya. Tangannya gemetar menyentuh ikatan karet itu. “Tapi... Olay bakal nyari gua kalau tahu terminal lepas.”

“Olay nggak bakal ngasih makan anak istri lo pas lo masuk rumah sakit gara-gara nahan anak buah gue,” sahut Aban tanpa nada ancaman. “Kerja buat siapa aja sama. Yang penting dapur di rumah tetap ngebul.”

Pria itu menelan ludah, lalu perlahan menarik tumpukan uang itu ke dalam tas selempangnya.

Kabar terlepasnya terminal sampai ke telinga ketua wilayah Wild Liar Ciputat. Di tempat pencucian mobil yang sepi, pria itu mengamuk. Ia menghantamkan rantai motor ke paha anak buahnya sendiri hingga berdarah.

“Bangsat! Lo pada dijual cuma gara-gara duit segitu?!” teriaknya histeris.

“Mereka nggak dijual,” suara Aban terdengar dari arah pintu besi pendorong yang setengah terbuka.

Aban berjalan masuk seorang diri. Tangannya memegang pipa besi tebal sepanjang setengah meter. Ketua wilayah itu berbalik, melayangkan rantai motornya ke arah kepala Aban.

Aban membiarkan rantai itu melingkari lengan jaket tebalnya. Ia memotong jarak cepat, menghantamkan pipa besi tepat ke tempurung lutut si ketua. Suara remukan tulang terdengar nyaring di ruangan. Ketua wilayah itu menjerit histeris, jatuh memegangi kakinya yang menekuk.

Aban berdiri di atasnya, menatap tanpa emosi. “Pulang. Besok kalau muka lo masih kelihatan di Ciputat... baru gue patahin leher lo.”

Ia membuang pipa besinya ke lantai, lalu berbalik, berjalan keluar tanpa menoleh ke belakang.

Di bawah remang lampu jalanan Pamulang, lima anak buah Black Ribal duduk di atas jok motor masing-masing, meminum teh kemasan. Mereka menatap Aurell yang duduk menyendiri di atas kap mobil tua tak terpakai, menyedot kopi panas dari gelas plastik kecil.

“Gua kira tadinya kita bakal kerepotan disuruh ngikutin dia sama si bos,” bisik salah satu pemuda berkulit gelap pada temannya.

“Sama,” timpal yang lain, menelan ludah. “Ternyata dia paling gila kalau di depan. Nggak banyak bacot, langsung ngegas.”

Seorang anggota Red Viper mendekati Aurell, membawa lembaran catatan. “Rell,” panggilnya pelan. “Wilayah utara... dari batas ruko sampai perbatasan gang raya, udah bersih. Anak-anak Wild Liar udah pada angkat kaki.”

Aurell menatap catatan itu sejenak, lalu mengangguk. “Bagus.”

Salah satu pedagang pasar tua datang pelan membawa kantong plastik. “Teh...”

Aurell menoleh.

Pedagang itu mengeluarkan dua botol teh dingin. “Ini... buat anak-anak.”

Anak buah Black Ribal saling melirik. Aurell mengernyit.

“Kami biasanya dipalak dua kali.” Pedagang itu tersenyum canggung. “Sekarang cuma sekali.” Ia tertawa kecil. “Seenggaknya nggak ada yang mukul.”

Aurell menerima botol itu. “...Makasih.”

Pedagang itu pergi. Anak buah Black Ribal saling pandang.

“Bos...”

“Apa?”

“Orang pasar malah ngasih minum.”

Aurell membuka tutup botol. “Ya diminum.”

“Kirain Bos bakal nolak.”

“Goblok.” Ia meminum teh itu sambil memasang helm. “Bukan karena kita gangster berarti semua orang harus takut.”

Kabut pagi berganti panas siang, lalu tenggelam menjadi malam yang dipenuhi lampu-lampu jalan. Terminal yang biasanya memasang bendera Wild Liar kini dijaga anggota Black Ribal. Beberapa pos parkir menyerahkan setoran tanpa perlawanan. Wilayah yang dulu membayar dua kali kini hanya mengenal satu nama.

PRANG!

Botol bir kaca hancur berkeping-keping menghantam dinding batu bata. Pecahannya melayang melukai pipi salah satu anak buah Wild Liar yang berdiri menunduk di dekat pintu. Olay berdiri di tengah ruangan, dadanya naik turun dengan napas memburu, matanya memerah. Kertas laporan retribusi mingguan tergeletak hancur di tangannya.

“Pamulang hilang sebagian... Ciputat habis?!” Suara Olay melengking tinggi menggetarkan ruangan. “Gimana bisa dua wilayah lepas dalam waktu sehari tanpa ada berita tawuran besar?!”

Semua anak buahnya menunduk, mencengkeram jemari mereka sendiri dalam ketakutan.

“Mana ketua wilayahnya?! Suruh panggil ke sini sekarang!” Olay menendang kursi kayu hingga patah dua.

“Ketua Ciputat... patah kaki, Bang. Ketua Pamulang... udah nyerah dari tadi pagi,” suara anak buahnya bergetar.

Olay mencengkeram rambutnya, meraung menahan amarah yang membakar dadanya. Suara pecahan kaca dan makiannya masih menggema di markas Wild Liar ketika malam terus merambat menuju Serpong. Satu markas dipenuhi kepanikan karena wilayah yang terus menyusut, markas lain bersiap menyusun langkah berikutnya.

Asap rokok tipis melayang di bawah sinar lampu neon. Aban dan Aurell berdiri di sisi meja besar, menatap Renggo yang masih berdiri membisu.

“Ciputat lima titik utama udah ganti bendera.” Aban meletakkan seikat kunci gembok terminal di atas meja.

“Pamulang tiga titik retribusi pasar dan ruko aman,” tambah Aurell pendek.

Renggo mengamati kunci gembok itu. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi berlebihan. “Bagus,” kata Renggo pelan. “Lanjut.”

Ia melangkah ke depan peta besar Tangerang Selatan yang terbentang di meja. Ia mencabut dua pin merah penanda wilayah Wild Liar di daerah Pamulang dan Ciputat, lalu menggantinya dengan dua pin hitam pekat.

Sebagian besar warna merah di peta perlahan pudar, tertutup bayangan hitam yang makin meluas.

“Wilayah itu bukan soal siapa yang paling kuat,” ujar Renggo pelan. “Wilayah itu milik orang yang bisa bikin orang lain lupa siapa penguasa sebelumnya.” Renggo menatap perubahan warna di kertas peta beberapa detik. “Dan kita baru mulai.”


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk