Aku sudah lama tinggal di rumah ini, bahkan jauh sebelum keluarga yang tinggal di sini sekarang. Mereka tidak tahu aku ada. Yah, karena aku bukan makhluk yang kasat mata. Dulu, rumah ini milik seorang pedagang kaya yang sering mengadakan pesta-pesta meriah. Aku mati di sini, dalam salah satu pestanya. Sejak saat itu, aku terjebak di rumah ini, menghantui, menyaksikan semua yang terjadi.
Hari ini adalah ulang tahun si anak perempuan mereka yang ke-10. Aku suka anak-anak—mereka selalu membuat suasana rumah lebih hidup, meski aku sudah mati. Namun, yang membuat ulang tahun kali ini menarik adalah... hari ini tepat 100 tahun sejak hari kematianku. Kebetulan yang aneh, bukan?
Dekorasi ruangan sudah siap. Balon-balon berwarna cerah mengapung di sudut ruangan, dan kue ulang tahun yang besar berada di meja tengah, lengkap dengan lilin yang siap dinyalakan. Suara tawa anak-anak yang diundang memenuhi ruangan, bersama dengan dentingan piring dan garpu saat orang tua mereka menyajikan makanan. Anak-anak berlarian ke sana kemari, membuat suasana semakin riuh.
Aku hanya mengamati, berdiri di sudut ruangan, tak terlihat. Sudah menjadi kebiasaanku, setiap kali ada pesta di rumah ini, aku pasti muncul. Bukan untuk menakuti, tapi lebih karena kebosanan. Hidup sebagai hantu ternyata tidak semenarik yang dibayangkan. Jadi, ya... aku menonton ulang tahun ini dengan harapan mungkin sesuatu yang lucu akan terjadi.
Anak perempuan yang berulang tahun, namanya Michelle, sedang bersiap-siap untuk meniup lilin di kuenya. Aku mendekat, lebih karena penasaran. Dalam hatiku, aku merasa ada yang berbeda kali ini. Dan benar saja, saat lilin mulai menyala, justru listrik di rumah itu mati.
Suasana menjadi gelap gulita. Aku tertawa dalam hati—ini pasti efek kehadiranku. Aku memang selalu membuat lampu berkedip-kedip ketika emosi berubah, terutama saat hari peringatan kematianku.
“Ayah, kenapa mati lampunya?” Suara Michelle terdengar samar di antara gumaman kebingungan orang-orang dewasa.
Aku, yang sebenarnya ingin bersantai saja, mendapatkan ide jahil. “Mungkin aku bisa memberikan sedikit pertunjukan malam ini,” pikirku.
Perlahan, aku mulai menggerakkan kursi di dekatku. Tidak ada yang melihatku, tentu saja, tetapi mereka bisa melihat kursi itu bergerak sendiri. Seketika suasana menjadi hening. Semua orang menahan napas.
Lalu, ada suara histeris dari salah satu tamu dan anak-anak mulai menangis ketakutan. Aku merasa puas, tetapi belum selesai. Aku mendekati kue ulang tahun dan meniup lilinnya dengan cepat. Wuuushh! Semua lilin padam dalam sekejap.
Jeritan dan teriakan memenuhi ruangan, dan aku hampir tertawa terbahak-bahak. Namun, di saat yang sama, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Cahaya kecil dari korek api menyala, dan di sinarnya, aku melihat wajah Michelle yang ... tidak takut? Dia menatap langsung ke arahku, atau lebih tepatnya, ke tempatku berdiri.
“Aku tahu kamu di sana, Kak Hantu. Terima kasih sudah meniup lilin untukku!” ucapnya dengan senyum manis.
Aku tertegun. Tunggu... dia bisa melihatku? Lalu, dia berkata dengan riang, “Tapi jangan nakutin teman-temanku lagi ya. Kalau kamu mau, kamu bisa ikut makan kue, kok!”
Semua orang yang tadinya ketakutan kini bingung melihat Michelle berbicara ke udara kosong. Aku? Aku malah lebih bingung lagi. Seumur hidup... atau lebih tepatnya, seumur matiku, belum pernah ada yang mengundangku untuk makan kue.
Mungkin, malam ini akan jadi ulang tahun yang tak terlupakan, untuk Michelle dan juga untukku.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!