Chapter 1 : Rumah Duka

27 dibaca

A

Satu per satu tamu mulai meninggalkan rumah duka. Marcus mengantar mereka hingga ke depan pintu.

“Jaga Eva baik-baik. Dia pasti sangat terpukul kehilangan ibunya,” pinta Mrs. Esteban sembari menggenggam tangan pria kulit hitam itu.

Marcus mengangguk berat. Mrs. Esteban sempat menatap suaminya sebelum akhirnya melepaskan genggamannya. Mr. Esteban merangkul bahu istrinya dan membawa perempuan itu pergi meninggalkan kediaman Marcus.

Kini, rumah itu kembali sunyi.

Marcus mengembuskan napas panjang sebelum masuk dan menutup pintu di belakangnya.

Di lantai dua, Eva masih duduk sendirian di depan meja belajar. Di tangannya, sebuah krayon terus bergerak menggoreskan warna pada kertas. Ia sedang menggambar wajah seorang wanita cantik—ibunya.

Di sepanjang dinding dekat tempat tidurnya, beberapa piala berjajar rapi. Benda-benda itu bukan sekadar pajangan, melainkan bukti bakat Eva dalam menggambar dan berbagai penghargaan yang pernah diraihnya.

Marcus menaiki tangga perlahan hingga berhenti di depan kamar putrinya. Ia terdiam sejenak, menarik napas, lalu mengetuk pintu.

“Eva?”

Tidak ada jawaban.

Marcus mengetuk sekali lagi.

“Eva, Ayah boleh masuk?”

Tetap hening.

Namun Marcus tahu putrinya ada di dalam. Ia juga tahu gadis itu belum tidur.

“Eva,” panggilnya lagi dari balik pintu. “Ayah tahu kamu sedih. Tapi kematian Mama adalah takdir. Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.”

Tidak ada sahutan.

Di dalam kamar, Eva tetap diam. Tangannya terus bergerak, memoleskan warna pada gambar di hadapannya seolah tidak mendengar satu pun perkataan ayahnya.

Marcus menghela napas.

“Baiklah. Istirahatlah kalau sudah selesai.” Suaranya melembut. “Kalau lapar, turun saja. Ayah ada di bawah.”

Marcus berbalik dan mulai menuruni tangga.

Eva masih tidak bergerak. Matanya tetap terpaku pada gambar ibunya. Krayon di tangannya kembali menggores kertas dengan perlahan.

Lalu—

Krek.

Eva berhenti menggambar.

Dari dalam lemari di sudut kamarnya, terdengar suara sesuatu bergerak.

Gadis itu menoleh perlahan.

Krek.

Kali ini lebih jelas.

Eva menatap pintu lemari yang tertutup rapat.

“Ayah?”

Tidak ada jawaban.

Ia menelan ludah dan menggenggam krayon lebih erat. Berharap ayahnya masih di luar dan mendengarnya.

“Ayah...?”

Masih sunyi.

Namun apapun yang di dalam lemari, masih terus bergerak.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk