”DI Balik Setiap Nama Ada Takdir
Dan di Balik Setiap Takdir Ada Pengorbanan “
・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.
“Selamat malam, jiwa-jiwa gabut,”
“...yang nungguin pesan doi sambil cemberut,”
“Tidur aja sana! Ketimbang kayak badut.”
Tepat pukul sebelas malam. Aku telah menyalakan mikrofon sambil melihat angka penonton di pojok layar yang merangkak naik.
NullPointer is live | IRONBOUND: LAST BASTION (Server Shutdown Countdown)
“Buat yang baru gabung,” kataku sambil menyandarkan dagu ke telapak tangan. “Topik utama kita malam ini adalah... besok, jam dua belas siang, server gim ini resmi tutup. Selamanya. Se-la-ma-nya.”
Kolom chat langsung berlarian dengan cepat.
[SleepyHead]: Wih... ayo main sekali lagi, bang!!!
[NoobSlayer]: Gas final boss di mode tersulit, bang!
Aku terkekeh dan menggeleng. “Heh, sialan. Kayaknya kalian seneng banget lihat aku babak belur, ya? Sampai sekarang belum ada yang bisa sampai bos di mode tersulit! Gila emang mode tersulitnya.”
[KangCilok]: Lah terus dari kemarin ngapain aja di game ini, bang?
“Hmm... bahasa simpelnya sih, aku bongkar-bongkar file gim-nya. Bedain yah, main sama ngubek-ngubek data itu dunia yang beda. Lagipula, sampai sekarang aku belum pernah ngelewatin gim ini sampe tamat... bahkan di mode normal!”
Layar utamaku menampilkan kota kecil virtual yang sudah lama kubiarkan begitu saja. Setengah terbangun. Gedung boiler house-nya karatan dan jarang beroperasi.
Di monitor kedua, terbuka belasan tab, termasuk laman wiki komunitas yang sudah mati suri. Forum diskusi yang komentar terakhirnya diposting dua tahun lalu, serta deretan folder file mentah gim yang sudah kubongkar sampai ke akar-akarnya.
“Ironbound: Last Bastion.” Aku mengeja judul itu dengan nada simpatik, layaknya membacakan nama teman yang baru meninggal.
“Gim strategi pertahanan kota, setting steampunk, rilis empat tahun lalu. Dan... besok resmi tutup usia.”
Aku mulai mengetik, membuka panel developer yang biasa kupakai untuk mengintip data internal.
“Banyak yang nanya kenapa gim ini gagal di pasaran.”
“Padahal mekaniknya keren banget. Nah... masalahnya, selain tingkat kebrutalannya kelewatan. Gim ini tuh nggak ngasih ruang buat menang tanpa ada yang dikorbankan. Pahit, tapi itu faktanya.”
“Aku pernah membuka patch notes versi lama. Isinya? Gila, lebih banyak nerf ke hero-hero daripada panduan buat pemain baru! Ya iyalah, bingung kan jadinya.”
“Di samping itu, developer nyimpen hampir semua penjelasan penting di file catatan internal, yang notabene nggak pernah muncul di layar pemain. Tiap hero yang mati punya baris log sendiri. Lengkap dengan waktu kematian, di stage apa, termasuk penyebab kematiannya juga.”
“Sayang seribu sayang, Semua data itu sengaja disembunyikan. Ibaratnya, buku petunjuk dikunci, kuncinya dibuang ke... Ah sudahlah.”
“Itu poin utamanya. Lore gim ini juga nggak kalah menarik. Tiap pahlawan yang gugur punya potongan ceritanya sendiri kalau kalian jeli baca file base-nya. Siapa mereka sebelum berperang, apa motivasi mereka dan sebagainya...”
“Sayangnya, semua potongan cerita keren itu malah dikubur.”
Aku menarik napas panjang.
“Orang normal sih main dua jam, udah, uninstall, balik main Mobile Legends. Yang tersisa cuma orang-orang kurang kerjaan macam hamba ini, alias lebih milih ngubek-ngubek file teks daripada menyelesaikan gimnya.”
Aku menyeruput kopiku. Di sisi kanan monitor, nada obrolan di chat mulai berubah. Dari yang tadinya mengejek, perlahan berubah jadi penasaran.
Pola ini selalu berhasil. Mulai dengan candaan, lalu diam-diam menyeret para penonton masuk ke dalam rabbit hole bersamaku.
“Baik,” aku meregangkan jari-jemari di atas keyboard.
“Untuk segmen selanjutnya, aku akan kasih hadiah perpisahan untuk kalian semua.”
[AntiSpoiler]: JANGAN BILANG TEORI KONSPIRASI LAGI!
[PanikMode]: Lah ini....
[TukangNonton]: Udah nyiapin popcorn nih dari tadi, Bang.
“Bener banget, gengs... Teori konspirasi,” aku nyengir sampai keliatan gigi.
“Yang paling gila. Paling nggak masuk akal. Tapi justru itu yang bikin seru.”
Seperti biasa, topik dimulai dari yang paling ringan.
“Kalian tau kucing NPC yang selalu nongkrong di sudut kota? Jadi, aku udah nge-track lokasi dia muncul tiap tiga bulan in-game. Dan tebak? Dia selalu ada di dekat bangunan yang bakal rubuh di gelombang berikutnya.”
“Aku penasaran, apakah ini mata-mata developer? Atau cuma bug yang kebetulan lucu?”
Chat langsung meledak dengan emoji tertawa.
Aku nengok ke kamera sambil mesem-mesem sinis. Beberapa dari mereka sudah mulai mempertanyakan kewarasanku. Apalagi makin banyak teori liar yang meluncur dari mulutku.
[PawangBug]: Bang, situ kayaknya butuh liburan.
...
“Iya... liburan, bayarin... Tapi itu semua masih pemanasan. Hidangan utamanya ada di sini.”
“Misteri paling gila yang pernah aku temui.”
Aku membuka tab baru, menampilkan deretan riwayat traceroute jaringan yang sudah kusimpan berbulan-bulan. Baris demi baris IP address bergulir, semuanya berhenti dan mati di titik yang sama.
“Server utama gim ini,” kataku perlahan, “...tak pernah bisa dilacak! Bukan cuma aku yang gagal, Gengs. Coba aja kalian cari sendiri di forum mana pun. Nggak ada satu nyawa pun di komunitas yang tahu lokasi hosting-nya. Padahal untuk gim indie sekecil ini, orang awam aja biasanya bisa nebak dari ping server-nya.”
Aku menunjuk layar.
“Aku udah coba lacak dari rumah, dari warnet, bahkan minta tolong temenku yang kerja di bidang ethical hacking untuk tracking. Hasilnya nihil.”
“Paket datanya keluar dari komputer kita, tapi tak pernah memberikan balasan alamat yang jelas. Seolah-olah... datanya dikirim ke alamat yang tak ada di dunia nyata.”
[SiPalingIT]: Mungkin dev-nya sengaja ngumpetin biar gak kena DDoS, bang.
[IndieDev]: Standar dev indie, bang. Bukannya biasa kalau takut server-nya diserang.
“Awalnya aku juga berpikir seperti itu, Gengs.”
“Tapi sepintar apa pun sistem proxy atau VPN, biasanya tetap ada jejak atau celah. Aku udah coba semua bypass yang aku tahu, dan selalu nabrak tembok di koordinat IP yang sama persis. Bukan ditolak aksesnya, bukan di-block. Cuma... hilang.”
Aku menatap lurus ke arah webcam.
“Teori liarku... server gim ini nggak ada di dunia nyata.”
Kolom chat kembali liar.
[LogikaJalan]: BANG INI GAME STRATEGI BUKAN GAME KONSTIPASI
[AntiHalu]: Gaada bukti makanya namanya teori halu wkwkwk.
Aku hanya tertawa pelan, mengangkat kedua tangan tanda menyerah sementara. “Oke, oke. Kalau kalian butuh bukti...”
Aku mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuk. “Sekarang kita masuk ke hidangan utama malam ini. Sesuatu yang sudah aku tunggu-tunggu sejak lama.”
Aku menavigasi kursor ke sebuah folder tersembunyi di panel developer. Sebuah direktori terkunci yang selama delapan bulan terakhir selalu gagal kubobol.
“Jadi, ada satu direktori misterius bernama CITY_13 di file build lama, terisolasi dari file publik gim. Satu minggu penuh aku berusaha membobolnya, dan... selama itu pula enkripsinya tak pernah bisa aku tembus.”
“Awalnya kukira ini cuma sisa-sisa cut content. Peta yang batal dirilis atau prototipe awal yang ditinggal gitu aja sama pembuatnya. Developer sering kan nyimpen sampah kode tanpa dihapus.”
“Tapi tadi sore, iseng-iseng aku coba lagi. Dan ternyata...” Aku menunjuk layar. “Firewall-nya kebuka. Mungkin karena server mau dimatikan besok, pihak developer udah lepas tangan, Ya udah, aku gas aja!”
Aku mengetikkan sandi terakhir yang pernah kucatat dari percobaan lama, huruf demi huruf, sengaja menciptakan jeda agar penonton menahan napas.
Enter.
Layar memunculkan ikon loading. Berputar jauh lebih lama dari biasanya. Harddisk-ku berderit pelan.
Lalu, jendela folder itu terbuka.
Aku terdiam.
Tidak ada barisan kode. Tidak ada model 3D. Tidak ada file log.
Hanya satu gambar dan satu file teks Notepad*, sendirian di dalam folder kosong.
Chat yang tadinya rame tiba-tiba hening. Bahkan yang spam emoji pada berhenti.
Aku mengklik gambar itu.
Sebuah ranting hitam pekat, penuh duri, seolah baru saja dipatahkan dari pohonya. Tidak ada warna latar. Tidak ada bayangan. Hanya ranting itu yang mengambang di tengah layar gelap.
“...Ini bukan cut content ya, kan?”
Ini kerjaan developer iseng, kan?
Aku menelan ludah, lalu membacakan isi file teks itu pelan-pelan. Suaraku kehilangan nada cerianya tanpa kusadari.
”Aku gagal melindungi mereka.
Aku gagal menjaga rumah itu.
Aku gagal menjaga negeri ini.”
Aku berhenti
Kalimat itu diulang ratusan kali sampai ke bawah, seperti seseorang yang terus mengetik hal yang sama karena sudah tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada nama. Tidak ada tanggal. Tidak ada tanda tangan.
Di bagian paling bawah, terpisah dua spasi, hanya ada satu kata.
“Blacktorn...?”
Fokus ku kemudian beralih pada gambar.
Guratannya bukan pixel art murahan. Setiap durinya digambar dengan sangat presisi, seolah-olah ketajamannya bisa menusuk keluar dari layar kaca. Dan di ujung patahan ranting itu, ada satu titik gelap yang pekat. Berdenyut.
Atau setidaknya, mataku mengira itu berdenyut.
[TukangNonton]: Serius amat, bang?
[AnakWarnet]: Gak ada punchline lucunya nih?
“Aku juga bingung...” Jawabku datar, beda dengan biasanya.
Aku mencoba mengklik kanan pada gambar. Ingin melihat detail ukurannya. Nihil. Tidak ada menu yang muncul.
“Hmm... tak ada info lain,” gumamku parau.
“Cuma ada ranting berduri ini, surat penyesalan itu, serta kata Blacktorn...”
Saat aku masih memelototi duri hitam itu, layarku berkedip.
Satu kedipan cepat statis. Aku bahkan mengira itu cuma mataku yang lelah.
Lalu berkedip lagi. Lebih lama. Cahaya backlight monitor meredup lalu terang secara agresif.
“Eh?” Aku menggoyang-goyangkan mouse.
“Loh, ada apa nih?”
Layarku membeku sempurna.
Sementara itu, gambar ranting berduri hitam itu terkunci di tengah proses zoom in. Melalui headset, aku bisa mendengar suaraku sendiri dari software streaming mulai mengalami distorsi, patah-patah layaknya kaset kusut.
“Bentar, gengs.”
Aku spam F5.
Tidak ada respons. Aku arahkan kursor ke tombol silang merah di sudut kanan atas. Kursornya bergerak, tapi bunyi klik-ku sama sekali tak membuahkan hasil.
Aku menggunakan shortcut Ctrl+Shift+Esc untuk memanggil Task Manager. CPU: 12%. RAM: 30%. Jaringan normal. Semuanya wajar.
“Oke, guys, ini...” Nafasku tertahan. “...ini udah nggak lucu lagi!”
Tiba-tiba ada notifikasi obrolan pop-up muncul, menimpa gambar ranting di tengah layarku.
[UNKNOWN_000]: Halo, NullPointer.
Eh?
Akun itu tidak punya foto profil. Tidak ada badge penonton, tidak ada riwayat pendaftaran.
“Oke, hacker mana pun yang lagi usil..., kamu melanggar hukum, Bung.”
Tiba-tiba, tanpa input dariku, teks di file Notepad itu mulai terhapus dengan sendirinya, seakan ada seseorang yang menahan tombol Backspace. Huruf-hurufnya lenyap ditelan kedipan kursor.
Sedetik kemudian, ruang kosong itu terisi oleh deretan karakter asing (glitch text) yang berantakan, sebelum akhirnya bersih tak tersisa.
Mataku menangkap perubahan di sudut atas layar. Nama direktori di kolom path berubah dengan sendirinya.
CITY_13 Lalu merotasi hurufnya menjadi... GATE_ACTIVE
Belum sempat aku mengucapkan sesuatu, dingin merayap dari tengkuk. Kepalaku memberat seolah diisi oleh timah panas.
Mataku berdenyut. Kiri-kanan layar mulai gelap. Suara kipas komputer berubah jadi dengungan menyakitkan.
Sialan... ngantuk sekali...
Gara-gara begadang tiga hari tiga malam...
Otakku pasti butuh istirahat...
Notifikasi dari [UNKNOWN_000] masih berkedip di pojok.
Persetan sama abang hacker...
Pikiran terakhir yang sempat kutangkap sebelum semuanya menghitam adalah...
Harusnya aku tidur lebih awal.
・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!