Pernahkah kita bertanya seberapa jauh seseorang rela melangkah demi mimpinya?
Dalam novel After The Camera Turned Off, pembaca dibawa melalui perjalanan Vanessa, seorang remaja dengan ambisi besar di dunia perfilman. Di tengah romansa, proses mengejar mimpi, dan berbagai kejadian tak terduga, Vanessa perlahan menyadari bahwa perjalanan menuju sesuatu yang dicintai tidak selalu berjalan sesuai skenario.
Novel garapan Matsurika dengan genre romansa komedi, teenlit, serta drama ini ditujukan untuk pembaca remaja yang masih mengeksplorasi passion mereka, terutama di dunia perfilman.
Penulis dari novel ini secara terbuka mengatakan bahwa proses kreatifnya menggunakan bantuan Artificial Intelligence untuk brainstorming, pengecekan kalimat, maupun pembuatan sampul novel After The Camera Turned Off.
Meneropong Novel After The Camera Turned Off
Dimulai dari kelas online saat pandemi, cerita ini ditulis mengikuti ambisi Vanessa untuk membuat proyek film pendek. Pertemuannya dengan Ray di kelas online, menjadi awal dari kedekatan mereka. Seiring waktu, Vanessa mengajak Ray bergabung dalam proyek film berjudul Out of Frame, yang ia tulis dan sutradarai sendiri.
Bersama Nadia, Aldo, dan Kevin— Vanessa mulai merangkai mimpinya menjadi sebuah karya nyata. Namun, di balik kesibukan produksi film dan romansa remaja mereka, muncul kejadian tak terduga yang perlahan mengubah arah cerita.
Aku mencoba untuk tidak memberikan terlalu banyak spoiler. Tapi novel ini sebetulnya memiliki konflik yang lebih dalam daripada apa yang terlihat di luar. Seiring perkembangan cerita, konflik juga ikut merambah ke ranah yang lebih misterius, membuat cerita yang awalnya terasa seperti romansa remaja perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks.
Dalam ekspektasiku sendiri, novel ini akan setidaknya memberikan bacaan yang ringan serta menghibur melalui aspek komedinya, tapi seiring berjalannya cerita, progresi karakter serta perkembangan plot, novel After The Camera Turned Off ini memberikan aku perasaan yang sama saat aku baru mulai menulis.
Masih ada ambisi dan perasaan menggebu-gebu di sana.
Konflik psikologis Vanessa yang ingin menyerah dalam proses pembuatan filmnya juga mungkin relate dengan pengalaman pembaca, salah satunya aku.
Perasaan yang dibawa oleh Vanessa pada arc itu terasa familiar, karena aku pun pernah mengalami hal tersebut. Itulah yang membuat aku cukup invest dengan perjalanan Vanessa. Sebab, mengejar sesuatu yang kita cintai ternyata tidak selalu tentang seberapa besar ambisi yang kita punya, tetapi juga tentang bagaimana kita menghadapi diri sendiri ketika semuanya mulai terasa sulit.
Potensi Novel After The Camera Turned Off yang Ikut Padam Setelah Kameranya Berhenti Merekam
Tentu saja sebuah cerita yang ditulis kata per kata oleh manusia akan menemui sebuah celah. Di novel ini sendiri, aku menemukan beberapa hal yang agaknya kurang memuaskan dalam pengalaman membacaku sampai ke akhir bab.
Salah satu hal yang cukup mengganjal buatku pribadi adalah bagaimana elemen misteri dalam novel ini dikembangkan. Kehadiran sosok misterius yang berkaitan dengan rekaman kamera sebenarnya berhasil membangun rasa penasaran.
Namun, ketika misteri tersebut mulai menjadi bagian penting dari konflik cerita, aku merasa beberapa pengungkapannya masih bisa digarap lebih mendalam. Pastinya setiap pembaca bisa memiliki pendapat yang berbeda dan penulis juga dapat memilih pendapat mana yang ingin dia dengarkan.
Selain itu, hal lain yang sebetulnya mempunyai potensi untuk dikembangkan lebih adalah hubungan romansa antara Vanessa dan Ray. Ada satu pertanyaan yang muncul di kepalaku saat sampai di pertengahan cerita ini.
Apakah Ray ditulis sebagai karakter romantis yang punya perjalanan emosional sendiri, atau lebih sering menjadi pendamping dalam perjalanan Vanessa mengejar mimpi?
Pertanyaan itu muncul karena meskipun Ray memiliki peran penting dalam perjalanan Vanessa, terutama dalam proyek film Out of Frame, perkembangan hubungan mereka terasa lebih banyak mengikuti perjalanan Vanessa daripada memberikan ruang bagi Ray untuk berkembang sebagai karakter secara mandiri.
Aku mau melihat lebih jauh bagaimana ambisi, perasaan, dan konflik pribadi Ray turut mempengaruhi hubungan mereka. Tapi balik lagi, sebagai seseorang yang belum punya pengalaman romansa di kehidupan nyata—curhat dikit—aku merasa hubungan romantis antara Ray dan Vanessa terkesan too good to be true.
Di luar semua itu, novel ini masih tetap dapat dinikmati oleh para pembaca. Seperti mengunyah permen karet; ringan, manis, dan menyenangkan.
Yang Merekam Semuanya; Otak di Balik Novel After The Camera Turned Off
Matsurika sebagai penulis dari novel ini patut diacungi jempol, selain karena novel tulisannya mengeksplorasi mimpi dan ambisi remaja sekarang, dia juga secara terbuka mengatakan bahwa proses kreatifnya di beberapa aspek menggunakan bantuan akal imitasi.
Sebetulnya transparansi penggunaan akal imitasi kepada pembaca adalah bare minimum, tapi belum semua pelaku seni termasuk penulis, dapat dan mau mengakuinya dengan tangan terbuka.
Semoga selalu muncul novel-novel lainnya dari setiap kopi yang diminum saat menulis naskah, serta mimpi-mimpi baru yang berhasil dituangkan menjadi cerita.
Pada akhirnya, setiap karya punya perjalanan panjang sebelum sampai ke tangan pembaca, dan After the Camera Turned Off menjadi salah satu bukti bahwa ambisi yang berawal dari hal sederhana pun layak untuk diceritakan.
Keep writing, Matsurika.
See you in the next review!
Sosial media penulis
Instagram: @jasminehntz
Threads: @majik1155
Wattpad:














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!