Bab 02

01. Lagu yang Sumbang

2 dibaca

A

Suara dentum bass dari pengeras suara masih terasa bergetar di dada Elena, bahkan saat pintu ruang rias VIP itu sudah ditutup rapat.

Di luar, ribuan penggemar masih meneriakkan namanya, memanggil sang penanyi yang berada di puncak karier. Namun, di dalam ruangan yang dihiasi cermin dan lampu pijar yang terang itu, Elena Cuma bisa menatap bayangannya sendiri sambil mencoba mengatur napas yang memburu.

Gemelap lampu Jakarta dari balik jendela kaca lantai atas gedung pertunjukkan itu kelihatan megah. Lampu-lampu neon warna-warni, sorot panggung yang membelah malam, dan deretan kendaraan yang macet di bawah sana, semuanya adalah dunia yang selama beberapa tahun terakhir membesarkan namanya.

Dulu, setiap kali selesai konser, Elena akan berdiri lama di depan jendela itu dengan perasaan puas. Ia menikmati rasa lelah yang hadir setelah memberikan seluruh energinya di atas panggung.

Namun, malam itu berbeda. Di balik riasan tebal dan gaun surat cantik yang sengaja dirancang untuk menutupi bentuk tubuhnya, Elena merasa sanagt asing dengan dirinya sendiri.

Ia melangkah pelan mendekati meja rias, lalu menyenderkan kedua tangannya di tepi meja yang dingin. Jarinya agak gemetar. Ia menatap bayangannya di cermin, mencoba mencari sosok Elena yang dulu selalu percaya diri setiap kali melangkah ke depan kamera. Yang ia temukan malam itu hanya wanita menjelang 30 tahun, yang mulai kelihatan sangat lelah dan ketakutan.

Perubahan itu terjadi sangat cepat, Cuma dalam kurun waktu empat bulan terakhir.

Tubuhnya membengkak dan terasa makin berat tanpa alasan yang jelas. Rasanya bukan seperti kenaikan pola makan yang berantakan atau kurang olahraga. Fisiknya terasa tebal, kaku, dan energinya tersedot habis, bahkan untuk berjalan saja terasa berat.

Dokter-dokter terbaik di Jakarta sudah didatangkan secara diam-diam oleh pihak manajemen. Ahli gizi ternama sudah mengatur ulang seluruh asupan makanannya sampai kalori terkecil. Spesialis hormon dan penyakit dalam juga sudah memeriksa darahnya berkali-kali. Tapi hasilnya selalu nihi. Elena dinyatakan sehat.

“Elena, sepuluh menit lagi kita keluar lewat pintu belakang. Media gathering dibatalkan, aku sudah bilang ke pers kalau kamu kelelahan,” kata Sarah-manajernya, yang tiba-tiba masuk ke ruangan sambil menutup pintu rapat-rapat.

Sarah membawa mantel tebal berwarna hitam dan sebuah kacamata. Wajah wanita yang sudah menemani karir Elena sejak awal itu kelihatan sangat cemas, meski ia berusaha keras menutupinya. Elena paham betul apa yang sedang dipikirkan manajernya itu.

Pihak label rekaman sudah mulai melayangkan pertanyaan. Begitu juga sponsor-sponsor besar yang mengontrak Elena sebagai brand ambassador produk kecantikan juga sudah mulai menunjukkan keraguan.

Di media sosial foto-foto dan video konsernya malam itu dipastikan sudah beredar luas. Elena bahkan tidak perlu membuka ponselnya untuk tahu komentar pedas apa saja yang ditulis orang-orang di luar sana. Selama beberapa minggu terakhir, jemarinya sudah terlalu sering tanpa sengaja membaca spekulasi jahat publik.

“Kenapa posturnya jadi aneh begitu ya? Kelihatan berat banget kalau jalan”

“Suaranya sih enak, tapi penampilannya kok beda banget sama yang di video klip.”

“Dilihat-lihat dia makin jelek dan gendut.”

“Gendut banget kayak babi.”

Setiap kali membaca tulisan-tulisan seperti itu, mental Elena rasanya makin hancur. Industri hiburan yang dulu mengangkatnya ke tempat paling tinggi, kini mulai memperlakukannya seperti sebuah masalah yang harus segera disembunyikan.

“Dokter yang dari Eropa itu apa sudah ada kepastian jadwalnya, Sar?” tanya Elena. Suaranya agak serak dan dalam, kelelahan setelah bernyanyi belasan lagu dengan nada-nada tinggi selama dua jam penuh.

Sarah menghilangkan napas, lalu melangkah mendekat dan memakaikan mantel tebal itu ke bahu Elena. “Dr. Weber siap ketemu kita minggu depan. Tapi kliniknya bukan di beliin lagi, dia menyarankan kita ketemu di tempat praktiknya yang baru di Praha.”

“Praha?” Elena menoleh, melihat pantulan mata manajemennya dari kaca cermin. “Kenapa kok harus ke sana?”

“Iya, Praha. Katanya dia punya fasilitas khusus di sana buat nanganin kasus-kasus anomali fisik yang nggak kebaca di teslap biasa. Dia spesialis tangan ini kasus mendis langka yang ditinggalkan dokter konvensional,” jawab Sarah pelan. Mencoba memberikan nada optimis dalam suaranya. “Kita berangkat lusa. Pihak manajemen udah setuju buat ngumumin Kalau kamu bakalan hiatus medis selama beberapa bulan. Kira sebut saja ini istirahat karena kelelahan kronis.”

Elena cuma bisa menghela napas panjang. Ia kembali menatap ke arah luar jendela, memperhatikan kerlip lampu jalanan yang sibuk. Gemerlap kota yang dulu terasa hangat dan menyambutnya sekarang malah kelihatan asing dan menekan.

Semua pencapaian, angka penjualan album, dan ribuan tepuk tangan penonton terasa menguap begitu saja hanya karena tubuhnya menolak untuk tunduk pada standar yang diinginkan industri.

Ia mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang serba kencang. Elena tidak tahu harus berharap apa pada dokter di Praha nanti. Ia cuma ingin jawabannya, ia hanya ingin tahu kenapa tubuhnya terasa begitu asing dan berat, seolah-olah ada sesuatu yang amat sangat besar sedang menumpuk di dalam dirinya.

Pada saat yang bersamaan ribuan kilo meter dari keramaian Jakarta, malam di Praha berlangsung dingin dan tenang.

Salju tipis mulai turun di atas atap-atap bangunan berarsitektur barok dan lorong-lorong batu tua. Kota itu seolah tertidur di bawah bayangan sejarahnya sendiri. Di sebuah perpustakaan pribadi di dalam gedung yayasan budaya tua kawasan Mala Strana, seorang pria sedang duduk sendirian di dekat jendela bertingkat.

Namanya Konstantin Koschei. Pria itu memakai kemeja putih berlengan panjang dengan rompi hitam yang rapi. Gerakannya sangat tenang, hampir tanpa suara. Di tangannya ada sebuah buku berbundel kulit tua dengan tulisan alkimia abad ke-16 yang sudah memudar.

Konstantin tidak membutuhkan lampu listrik untuk membaca di dalam kegelapan ruangan itu. Penglihatannya sudah terbiasa dengan remang malam selama beberapa abad.

Di luar sana, Praha terus berganti rupa. Kerajaan-kerajaan kuno telah runtuh dan digantikan oleh negara modern. Jalanan yang dulu dilalui kereta kuda kini dipenuhi mobil dan jalur trem. Orang-orang yang dulu pernah menyapa Konstantin dengan rasa takut atau hormat kini sudah bersatu dengan tanah, nama mereka hanya tersisa di batu nisan yang terkikis hujan.

Namun bagi Konstantin, waktu seperti berhenti.

Dua ribu tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menyaksikan hal yang sama berulang kali. Konstantin telah melihat manusia lahir, mencintai, berperang lalu mati. Ia telah mengumpulkan kekayaan yang tak terhitung jumlahnya, menguasai berbagai bahasa yang kini sudah punah, dan menyimpan artefak-artefak langka yang dicari para sejarawan dunia.

Konstantin melepas kacamata bacanya dan meletakkannya di atas meja kayu yang tebal. Ia menatap keluar jendela, memperhatikan butiran salju yang jatuh menimpa patung batu di halaman galeri.

Konstantin tidak lagi tertarik kepada dunia modern. Ia tidak peduli dengan teknologi, politik, atau hiburan manusia. Selama ratusan tahun terakhir, cuma ada satu hal yang ia cari di antara ribuan buku tua dan artefak yang ia kumpulkan, yakni petunjuk untuk menemukan kembali persembunyian jiwanya sendiri.

Ia ingin menghancurkannya. Ia ingin semua berakhir.

Konstantin menghala napas pelan. Keheningan di ruangan itu kembali terasa tebal. Ia menutup buku di tangannya, lalu berdiri dan berjalan perlahan menuju lemari kaca di sudut perpustakaan. Di dalam lemari itu, kesimpan sebuah jam dinding tua buatan abad ke-17 yang jarumnya sudah mati dan berkarat selama lebih dari seratus tahun.

Konstantin menyentuh permukaan kaca lemari itu sebentar, lalu berbalik membumi kegelapan.

Ia tidak tahu bahwa malam itu, di belahan bumi lain, seorang wanita muda sedang bersiap naik ke atas pesawat menuju tempatnya. Iya sama sekali tidak menyangka bahwa kehidupan yang sudah dua ribu tahun beku dan statis itu akan segera terguncang oleh suara seorang manusia biasa dari dunia modern.

***

Di bandara Jakarta, Elena merapatkan mantel tebalnya saat berjalan menyusuri lorong keberangkatan internasional. Di sampingnya, Sarah sibuk memeriksa dokumen penerbangan dan tiket menuju Praha via Frankfurt.

Elena sempat menoleh sebentar ke belakang, menatap papan iklan elektronik raksasa yang menampilkan wajahnya sendiri dalam ikan parfum ternama, iklan yang mungkin sebentar lagi akan diganti dengan wajah artis baru.

“Ayo, El. Pesawatnya sudah boarding,” panggil Sarah pelan sambil memegang lengannya.

Elena mengangguk kecil. Ia membetulkan posisi kacamata hitamnya, lalu melangkah masuk ke dalam garbarata. Ia meninggalkan gemerlap kota yang mulai membuangnya, melangkah menuju sebuah kota tua yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, tanpa tahu bahwa di sana, ada seseorang yang sudah menunggu kematiannya selama ribuan tahun.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk