Hai hai di sini Rido sebagai pemandu penghuni rumah kontrakan yang tinggal terlebih dahulu, pertama kali aku berada di sini untuk mencari tempat yang nyaman sekiranya murah dalam satu tahun dibandingkan ngekos. Rumah ini cukup besar ada dua lantai yang kamarnya terdiri empat ruangan pribadi di bawah dan dua kamar di lantai atas, lalu satu gudang deket tangga, satu dapur, satu kamar mandi di lantai bawah juga. Ruang tamu dan keluarga digabung, beginilah denahnya. Tetapi, rumah yang besar dan murah tempatnya kosong melompong gak ada isinya, tempat tidur aja gak di sediakan hanya sebatas satu meja makan yang ada.
Aku berusia 16 tahun yang duduk di kelas dua SMA jurusan IPS, kemampuan berpikirku yang pas-pasan tak paham sama sekali dengan aritmatika yang rumit, aljabar dan sebagainya, menurut ku itu tidak penting sama sekali di kehidupan sehari-hari ku di masa depan mendatang.
Sekolahan ku cukup tersohor walaupun di posisi kedua, masih dibilang cukup gengsi. Karena SMA-nya dilihat dari luar cukup elegan dan luas, dalamannya tak kalah menarik banyak sekali ruangan yang digunakan untuk praktikum maupun klub-klub yang berterberan di penjuru area lingkungan sekolah, meskipun sekolah kami cuma ada dua jurusan doang IPA sama IPS.
Aku mempromosikan rumah kontrakan yang kutinggal untuk meringankan beban biayanya dibagi untuk enam orang. Ditanggung diri sendiri dah memakan empat juta dalam setahun hampir menyentuh UMR kota sini, itu sudah dibilang paling murah. Makanya aku mencari tambahan orang dari yang dekat terlebih dahulu yaitu teman sekelas ku namun gak ada yang berminat dikarenakan letaknya ada di sudut kota yang begitu jauh dari sekolahan. Apalagi tempatnya kurang strategis berada di samping rawa yang seperti danau.
Secara otomatis mereka pasti akan tinggal di kosan yang dekat dengan area sekolah, meskipun memakan biaya tapi itu bisa dibilang pantas dan layak dengan fasilitas yang diberikan.
Pertama kali aku merekrut penghuni kedua merupakan perempuan. Yah, beneran perempuan. Aku tak mengiranya ia tak mempermasalahkan tinggal satu atap dengan laki-laki, asalkan dia bisa mendapatkan kamar lantai dua, itu sudah cukup baginya.
Yang ketiga dan keempat adalah laki-laki, aku senang ada teman bicara yang satu jurusan. Terlebih lagi satu kelas dengan ku di kelas dua, tetapi mereka tak banyak berbicara seperti ku saat masih di kelas satu yang terpecah belah sampai hubungan kami dalam satu tahun ini. Masih dalam tahap pertemanan bukan persahabatan. Aku sudah mulai mengetahui kebiasaan-kebiasaan mereka, terutama saat sedang makan malam bersama.
“Makanan sudah siap, kalian cepat keluar dari kamar nanti keburu dingin.” Dia adalah perempuan yang barusan kusebutkan namanya adalah Linda, Linda Maharani. Ia merupakan orang asli suku pedalaman Dayak, tetapi orang tuanya memilih pergi keluar dari desa asalnya untuk melihat dunia modern, perihal agama maupun kepercayaan merupakan hal yang privasi dan sangat sensitif bila berbicara topik tersebut kepadanya.
“Mana ada makanan bisa langsung dingin, rumah ini tak memiliki AC sama sekali. Apalagi di luar sama di dalam temperaturnya gak ada perubahan, kenapa gak ada lubang ventilasi sih?” Laki-laki yang barusan mengeluh adalah Yuda, [[Yuda Ibrani]]. Nenek moyang nya dulu adalah orang yahudi yang memegang paham semi Ateisme. Perawakannya memang sedikit putih bersih seperti Linda yang memiliki kulit cerah, yah mukanya bisa dibilang cukup ganteng.
Ini adalah pulau bebas beragama sebagai kedoknya, ia menganut paham Kristen Protestan. Yuda tak banyak bicara soal keluarganya malahan terus menghindari dengan cara berdiam saja, atau memang masih belum terbuka kepada kita yang ada di sini. Yuda merupakan laki-laki yang misterius bagiku, meskipun kami berteman dekat. Aku belum mengetahui banyak hal tentangnya.
“Masakan hari ini apa?” tanyaku.
“Tentu saja kesukaan kita semua, kari rebung,” jawab Linda penuh semangat setelah membuat makan malam untuk kita.
“Dagingnya? Kemarin kita dah patungan membeli bahan makanannya, kenapa kamu memilih hidangan itu. Dan dari mana kamu mendapatkan rebung tersebut?” ujarku yang terus mengeluh.
“Dari tetangga—Protes mulu kalian berdua. Uangnya bisa disimpan untuk kebutuhan besok,” sanggah nya.
“Hah …” Yang barusan mengelah nafas adalah Budiman, bisa dipanggil Budi. Nama yang terdengar simpel di telinga kita, kalo ditambahi ‘pekerti dan luhur’ akan semakin lengkap paketnya hehe.
“Syukuri aja, apa yang ada. Entar ibu negara tak memberikan sarapan bagi kita.” Yuda mengambil sendok dan mencicipi kuahnya, “Lagipula masakannya selalu enak, gak usah protes segala,” imbuhnya.
Linda hanya tersenyum mendengarkan pujian darinya.
Budi gak bisa membantah perkataannya, aku tak sabar untuk memakannya, karena sudah lapar. Menunggu nasinya diambil oleh Linda dan dibagikan secara merata, mencium baunya sudah sangat menggoda. Sebab makan malam kita sedikit terlambat yang telah memasuki pukul sembilan malam.
Kami bergegas memakan hidangannya sebelum tangan kita dipukul oleh Yuda, “Kalian berdo’a dulu, mana sikap rasa syukur dan terima kasihnya kepada Tuhan kalian, sama yang membuat masakannya.”
Kami berdua menaruh kembali sendoknya dan berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Aku masih belum mengetahui kepercayaan yang dianut oleh Budi, bapaknya biksu, ibunya biarawati, aku bisa berspekulasi antara Hindu, Budha, Kristen atau Katholik.
Aku melihat Budi ia sepertinya diam saja, berpura-pura sedang berdo’a. Yuda menyenggolnya dan membuka topik pembicaraan tanpa aba-aba ia menanyai soal agamanya seperti tau aja apa yang sedang aku pikirkan, “Bud, agama mu apa sih? Aku belum pernah melihatmu beribadah sama sekali. Entah di masjid, gereja, kuil, kamu selalu berada di kamar mu menonton kartun mulu. Kamu gak punya kepercayaan?”
“Itu bukan kartun, enak aja kamu mengejeknya. Bisakah kau membedakan antara kartun sama anime?” rajuk Budi untuk mengalihkan soal agamanya yang tengah diungkit menjadi topik pembicaraan utama.
“Kurasa sama saja, mereka pada dasarnya sama-sama digambar oleh tangan, cuma beda negara saja di produksinya. Kenapa kamu jadi sensi begitu sih? Aku tidak bermaksud menjelekannya,” ujar Yuda. Ia tidak ingin mendorong lebih jauh, Budi tidak ingin membicarakan topik yang sensitif tersebut.
“Kalau sedang makan jangan ribut,” ujar Linda untuk melerai mereka berdua.
“Dia yang mulai duluan,” tunjuk Budi ke Yuda tanpa bersikap sopan sama sekali.
“Ya, ya, aku minta maaf, aku cuma bertanya soal agama mu saja tidak menyinggung tontonan mu,” ia masih mencoba dengan cara yang lebih halus.
“Apa kepentingan gerangan menanyakan hal tersebut? Apakah kamu ingin menceramahiku? membaptisku? atau mengucapkan syahadat untuk ku?” tutur Budi yang bersikap defensif.
Yuda diam saja tak menjawab, aku menengahi pembicaraan mereka agar tenang kembali. Di sini tidak diperbolehkan mengujarkan kebencian, mengumpat ataupun menghina satu sama lain, itu adalah peraturan yang sudah dibuat dan disepakati bersama, demi keharmonisan tinggal di sini.
Yuda lebih dewasa dibandingkan kita bertiga, ia selalu mengucapkan minta maaf terlebih dahulu bila dah menyentuh perasaan seseorang. Aku rasa ucapan darinya tak sengaja, hanya spontanitas. Mungkin perasaan dirinya masih labil, karena terus mengurung di dalam kamarnya. Itu bukanlah hal yang baik bagi kesehatan mentalnya.
Jika dirasakan seperti ada rasa gundah yang bergelayutan di dalam dirinya, Yuda sebatas khawatir saja kepada teman sekontrakannya. Tapi ucapannya itu terkadang susah sekali diatur dan mengatakan apa adanya tanpa perantara terlebih dahulu yang sudah diperhalus.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!