“Terima kasih atas makanan nya Lin, seperti biasa sangat enak.”
“Terima kasih kembali Yud, sudah menghabiskan nya.”
Kami berdua tidak mengucapkan sepatah kata pun, langsung mencuci piring kotornya masing-masing. Setelah habis makan, biasanya langsung beraktivitas seperti biasa. Karena ada tugas sekolah, kami mengerjakannya bersama akan tetapi, “Bud, aku titip juga tolong kerjain. Nanti kubayar seperti biasa.” Yuda melempar tanggung jawabnya, ia terima aja asal dibayar.
Barusan mereka terlihat seperti bertengkar sekarang bersikap biasa aja tak ada bedanya. Aku menanyai kenapa ia tak mengerjakannya sendiri. Jawabannya, “Sedang ada event di game dating ini. Belum lagi kalo aku jackpot gacha-nya bisa dijual mahal nanti akunnya.”
Itu dia … Ia tak kecanduan soal bermain gamenya. Sering kali barter akun dengan orang lain dan menjualnya ke komunitas game yang ada di sosial media.
Yuda aktif sekali mencari peluang yang beredar di internet. Cara ini yang paling mudah mendapatkan uang secara mudah, hanya mengandalkan keberuntungan jika ingin mendapatkan apa yang ia mau, tapi usahanya itu harus grinding tiap ada kesempatan dan juga pintar-pintar mencari waktu kosong.
“Yud, sesekali kamu mengerjakannya sendiri. Aku tahu, kita semua kau orang paling pintar di antara kita. Kenapa kamu bisa melempar tanggung jawabmu sebagai seorang pelajar?” tegur Linda.
“Jika badanku bisa dibelah menjadi dua seperti bakteri, mungkin aku tak mengandalkan orang lain. Bud, apakah kamu keberatan mengerjakan tugasnya?” ucap Yuda.
“Aku hanya menyalin saja, apa yang kau jawab dari setiap pertanyaannya. Lagian, kita semua sama-sama dapat untung gak ada yang dirugikan. Jika kita bingung tak ada yang mengerti, bisa langsung dijawab oleh ahlinya, ditambah aku dapat bayaran juga. Jadi ini dapat tiga burung dalam satu lempar bagiku, menghemat waktu, tidak berpikir, terutama praktis dan kalian terkena imbasnya, nilai sudah dijamin bagus,” jawab Budi.
“Aku setuju sih soal itu, tapi ini sudah persoalan yang lain. Do, kamu bilang sesuatu kek soal ini,” ujar Linda kepadaku.
Yah … Gimana yah, aku mengurus diri sendiri masih kewalahan, memerlukan adaptasi dengan seorang yang seumuran, apalagi ditambah dengan permasalahan orang lain, aku gak jagonya soal menilai hal tersebut. Perkara tanggung jawab masih belum bisa dijangkau olehku, aku mau mengatakannya takut salah nanti.
“Kenapa kamu diam saja dan bengong, dah ngomong aja,” ujarnya lagi sedikit menekan.
Aku pasrah aja deh salah ya salah, soal benar atau tidak belakangan aja. “Ehm … Aku rasa setuju dari ucapannya, meski otak mu pintar. Tapi sikap dan perilaku mu terlihat buruk di mata orang lain. Kamu mungkin dah tahu soal itu, tinggal kerjakan saja sebentar lalu tunda permainan tersebut gak masalah kan? Apakah itu demi keefektifan yang dimaksud oleh Budi?”
“Kamu tidak salah juga, tapi tidak benar juga,” sahut Yuda, yang masih fokus dengan layar gawainya.
“Dahlah Yud, jangan memusingkan pembicaraanmu pada kita.” Linda mengambil bukunya yang tengah mau dikerjakan dan dikembalikan ke pemiliknya.
“Taruh dulu tuh HP, game itu bisa ditunda sebentar kan?” Yuda menuruti kemauannya, ia membalikkan layar gawai nya dan mematikannya.
Linda tampak puas apa yang ia lakukan, kami mengerjakan tugas bersama-sama. Kita gak tahu sedang dikerjai olehnya atau dipermainkan, saat menemukan pertanyaan yang sulit. Kami kebingungan perkara jawabannya gak ada yang nyantol di otak kita, Yuda hanya menyuruh, “Cari saja di buku, di situ lengkap dah ada.” Barusan kami mengerjakan tugasnya bersama, Yuda sudah selesai terlebih dahulu dibandingkan dengan kita.
“Yud, tolong kasih dong jawaban nomor lima?” Linda meminta padanya, tetapi ditolak olehnya. Ia kembali memegang gawai nya dan membuka lagi permainannya yang tertunda.
“Pertanyaan nomor lima menurut pendapat sendiri, kenapa kamu bertanya kepada orang lain. Jawabannya bisa berbeda-beda menurut pemahaman kalian masing-masing,” ujarnya yang masih hafal dengan soal nya.
“Yah … Aku cuma ingin tahu jawabanmu saja, sebagai refrensi bukan contekan,” pinta Linda yang agak sedikit memelas.
“Kamu ingin melakukan ATM, Amati Tiru Masa bodoh? Katamu harus mengerjakannya sendiri, aku dah ngelakuin apa yang kau pinta,” sergah Yuda yang membantah permintaannya kedua kalinya.
“Sebenarnya yang kukatakan belum selesai sampai situ ….” Linda melirik kita berdua, agar bisa membujuk Yuda. Usaha ku dengan Budi kurasa sia-sia saja, Linda mulai naik pitam ia berani membentaknya, “YUD! Please lah, jangan pelit gitu nanti kuburannya sempit.”
‘Dari mana ia tahu soal pepatah tersebut,’ benakku.
“Aku tidak termakan sama ucapanmu, dan aku tak percaya kuburannya akan sempit. Apakah mayat yang memakai peti mati kuburannya akan terasa sempit?”
Apa yang dikatakan benar juga, ia menganut ajaran Kristen Protestan.
“Ya udah kalo kamu gak percaya, aku dah memperingatimu,” tutur Linda.
Yuda kembali diam dan terfokus ke layar gawai nya, perempuan satu ini mulai bertanya kepadaku sama Budi. Jawabannya masih belum terisi semua, ia sengaja menundanya akan ada kemungkinan bisa dicontek. Kami menjawab yang bisa saja dan pasti jawabannya belum tentu benar.
Aku mengecoh Yuda untuk menunjukkan sedikit saja, apakah ia beneran sudah mengerjakan semuanya atau belum, “Yud, bisa tunjukan sebentar jawabanmu? Aku gak akan menyalinnya.”
Budi sama Linda tertarik ingin melihatnya juga, sebagai jaminan Yuda meminta pulpennya. Kami menyerahkannya secara bersama, “Kerja bagus Do.” Puji syukur Linda kepadaku. Akhirnya aku tahu jawaban di setiap pertanyaan, tapi tulisannya.
“Yud, jawaban di nomor satu kamu nulis apa sih? Susah sekali untuk dibaca,” ucap Linda.
“Bacalah secara cermat dan ingatlah baik-baik di otak dongkol kalian. Katanya ingin melihatnya, bukan untuk menyonteknya ‘kan?” ketusnya yang sedang bermain secara fokus.
“Jika aku meminta menyonteknya, kamu tidak mempermasalahkannya ‘kan?” pinta Linda.
“Aku tidak keberatan, tapi itu sudah kadaluwarsa. Aku gak bisa menarik perkataan kalian lagi,” ujar Yuda.
Tatapan dari perempuan tersebut begitu cepat mengarah kepada ku, “Kamu gimana sih Do, kalau kau bilang tadi menyontek pasti dah selesai ini,” ucap Linda dengan marah.
Hee? Kenapa aku yang di salahin sih, “Bud coba kau ucapkan kata yang manis buat dia,” suruhnya.
“Itu gak akan mempan, tadi aku sudah menawarkan kemurahan hatiku kepada Budi, tapi kamu tolak. Lalu disuruh untuk mengerjakannya sendiri, ya … aku lakukan. Rido barusan ingin melihat jawabannya bukan menyonteknya jadi aku pegang pulpen sama kata-katanya. Sekarang kau menyuruhnya dan menyalahkan mereka,” tegur Yuda begitu tajam.
“Mmm nnn ...,” ia kesulitan mencari kata-kata. “Aku tidak menyalahkannya …,” sangkal Linda untuk bermain victim.
“Kalau gitu hapalin aja semua jawabannya, aku sudah bermurah hati memberikan buku ku kepada Rido,” imbuhnya.
“Tapi tulisanmu susah sekali dibaca, kenapa kamu harus menulis huruf latin bukan huruf biasa.” Aku setuju pendapatnya Linda, mata ku saja tidak bisa membaca. Tulisannya seperti seorang dokter aja.
“Mudah, cepat, gak gampang ditiru. Hanya guru yang bisa membacanya,” spontannya.
“Yuda, kenapa kamu pelit sekali. Aku hanya ingin menyonteknya saja, sampai segitunya gak boleh,” gerutu Linda.
Ia pergi dari tempat duduknya dan pergi kembali ke kamarnya sambil membawa pulpen kita. “Lin, kenapa kau bisa berkata begitu padanya. Yuda hatinya sensitif,” tegur Budi padanya yang dari tadi diam saja, baru angkat berbicara.
“A-Aku gak bermaksud begitu,” Linda merasa bersalah.
Aku yang mendengarnya terdengar biasa saja, tapi bagi sudut pandang Yuda itu sudah dalam konteks yang berbeda, ditambah ucapan Budi barusan semakin menyudutkan Linda.
“Jadi gimana kita mengisi jawabannya, pulpennya aja masih dipegang olehnya,” ucapku.
Saat itu, kami mau kembali kekamar masing-masing untuk mengambil peralatan alat tulis lainnya, tapi Yuda kembali ke meja makan dengan membawa tas kecil yang ia gendong. Mengeluarkan uang setumpuk cepek di atas meja untuk diperlihatkan kepada Linda, “Itu masih belum cukup?” ucapnya.
Ia menambahnya lagi, lagi, lagi dan lagi. “Kalau masih kurang akan kubawa mesin ATM sekalian kemari,” imbuh nya.
Aku tak percaya, Yuda memiliki uang sebanyak ini yang ada berada di dalam kamarnya. Budi juga sontak terkejut melihat benda berwarna merah yang menggoda.
“Maksud ku dalam artian pelit bukan begini, kenapa kamu bisa salah paham sih?” tegur Linda yang kembali normal.
Ia mengorek telinga nya yang gak begitu kotor, “Pendengaran ku bekerja dengan baik, apa yang kau katakan tadi. Ada maksud terselubung yang lainnya dan kamu mengatakan orang pelit kuburannya sempit. Apakah aku harus menyedahkan semua uang ini padamu, apakah kamu bisa menjamin ukuran kuburanku seluas lapangan sepak bola?” ketusnya dengan suara yang nyinyir.
Di mana-mana perempuan pasti gak mau minta maaf, Linda saja unik bagi kita. Ia menyesal memohon ampunan padanya, “Maaf … Aku sangat minta maaf, aku tarik kata-kataku tadi soal kuburan mu. Aku gak ada maksud menghinamu ataupun menjelekanmu, pelit orangnya. Itu hanya sebuah candaan. Aku beneran ingin menyontek PR mu saja.”
Kami berdua memegang uangnya Yuda dan menghitungnya. Jika diambil satu lembar saja mungkin tak diketahui olehnya, tetapi ia menarik uangnya kembali dan dimasukkan ke tas kecilnya.
“Sini … Ini uangku, jangan mengutil kalian berdua. Kerja sana! Jangan belajar mulu,” ketusnya lagi.
“Tapi belajarkan bisa membawakan kita pada rezeki,” sangkalku.
“Semua orang juga tahu hal itu, bayi pun tahu ia nangis oe-oe aja dah dapat rezeki,” jawab Yuda.
“Darimana kau tahu bayi baru lahir sudah dapat rezeki?” tanya Budi.
“Bernafas,” spontannya.
Itu benar sih, tapi … Ah sudahlah … Kalau adu mulut sama dia, susah dikalahkan. “Kalian tahu PR singkatannya dari apa? Kuberi kalian waktu untuk berpikir, sementara kukembalikan tas ini ke tempat asalnya.”
Semuanya juga tahu PR kepanjangan Pekerjaan rumah, tapi sekarang kita tinggal di kontrakan. Apakah harus diganti menjadi PK.
“Ayo mana jawabannya sebelum malam semakin larut,” pintanya. Kulihat jam dinding sudah berada di angka sepuluh.
“PEKERJAAN RUMAH,” Kami menjawabnya bersamaan tetapi sedikit loyo suaranya.
“Nah itu tahu, apakah harus digantikan menjadi PRK Pekerjaan rumah kontrakan. Kalau R-nya dihilangkan akan menjadi PK bisa diartikan Pekerjaan kosan. Kalian boleh menyontek, asal pergi kekosan atau aku yang pergi dari sini,” ucapnya yang terdengar begitu serius.
“Jangan Yud, jangan, kalau kamu pindah. Siapa yang harus nalangin dana yang besar tersebut. Aku masih ingin memakan daging dari belanjaanmu,” pinta Linda. Aku sama Budi juga gak ingin ia pergi dari sini, nanti kacau perhitungan nya kalau dibagi tiga orang. Mencari satu penghuni aja susah minta ampun.
Yuda semakin bertindak sewenang-wenang setelah Linda memohon ampunan padanya, “Sekarang kau sadar siapa bosnya di sini? Kalian tidak melakukan hal yang sama?”
Aku masih punya harga diri, lalu kulihat Budi. Tangannya mengepal penuh dengan keteguhan, kurasa kita berdua mempunyai harga yang sama. Itu harusnya dalam tanda kurung. Budi langsung bersujud padanya, memohon ia jangan pergi. Yuda yang memberikan uang jajan padanya, kalau diperintahkan darinya.
Ada upah ada jasa, ia bertanya kepadaku ‘Kenapa tidak melakukannya?’ Aku tidak bisa berkata banyak. Aku sadar, aku ini bodoh. Tapi punya prinsip yang harus dijaga.
Yuda menyodorkan pulpennya kepada ku, ia mengizinkanku untuk mencontek tugasnya. Akhirnya ini adalah kemenangan ku, matanya memandang mereka yang sudah memelas dengan tatapan yang merendahkan sekali, “Kalian tak lebih baik dari seekor babi.” Aku dirangkul olehnya dan dibawa masuk ke kamarnya. Ku mencatat apa yang ia ucapkan, dengan satu syarat. Tugas ini tidak boleh dicontek ataupun ditiru oleh mereka berdua. Kalau tidak, aku akan mengalami hal yang serupa seperti mereka.
“Hari ini seperti biasa sungguh bodoh sekali,” lirih dari gerutu Budi terdengar sampai telinga ku dan ia berdiri balik ke kamar terlebih dahulu sebelum kami beranjak ke sesi berikutnya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!