Ini ada cerita tambahan untuk Yuda. Ketika mereka berpisah, Linda pulang terlebih dahulu. Selama ini aku bernarasi merupakan alter Ego yang bersembunyi dibalik kegelapan hatinya Yuda yang tidak pernah ia sadari selama ini. Dan berjalan fokus ke tujuan berikutnya yaitu ke gereja kecil yang jauh dari perkotaan begitu padat, tepat berada di samping lapangan yang dipenuhi taman bunga.
Yuda masuk ke dalam ruangan pengakuan, “Selamat datang wahai domba yang tersesat. Akui dosamu kepada ku dengan sebenar-benarnya. Tuhan akan mendengarkan mu dan menyucikan mu lagi.”
Ia sebenarnya sudah tau, siapa yang ada di dalam sana. “Aku pulang Mary, kamu masih bertugas?”
“Siapa perempuan tersebut? Aku biarawati penyampai pesan,” orang yang di dalam sana menahan jawaban nya dari Yuda.
“Sebenarnya, teman ku mendapati masalah.”
“Apakah itu perempuan?”
“Ya. Ia gak mau jujur pada dirinya sendiri termasuk perempuan itu juga. Memendam perasaan memang hal yang bagus, jika mengetahui kondisi satu sama lain. Tetapi mereka bertemu pertama kali, merasa ada kecocokan menurut ku. Atau hanya aku yang beranggapan begitu.”
“Begitu. Jadi ia berbohong pada dirinya sendiri? Itu bukan perkara yang bagus dan akan menimbulkan penyakit kecemasan.”
“Itu benar sekali. Aku ingin tau caranya supaya mereka dapat berteman terlebih dahulu sebelum ke jenjang bermesra-mesraan. Omong-omong soal itu, besok kamu senggang pukul setengah tiga sore.”
“Maaf. Saya sedang bertugas. Pengakuan mu sudah selesai?”
“Ya sudah. Aku rasa Rido memerlukan waktu untuk bisa dekat dengannya.”
“Kalau gitu, mari kita ucapkan rasa syukur bersama.”
“Amin,” ujar mereka secara bersamaan. “Bisakah kamu datang ke ruangan sebelah?”
Yuda menuruti saja, apa permintaan dari biarawati tersebut dan membuka, ia sedang duduk di kursi kecil dengan jaring-jaring kasa sebagai penghalang di ruang sebelah. “Bau mu seperti perempuan, berapa kali Linda menempel pada mu?”
Dia menghitung jarinya sampai melebihi sepuluh jarinya. “Aku kelupaan, dia berhutang pada ku semalaman untuk memanjakannya satu harian penuh. Kamu cemburu?”
“Hm nnn … Lepaskan baju sekolah mu.”
“Buat apa?”
“Aku perlu mencucinya dan semua seragam mu berada di sini.”
“Aku rasa itu ide yang bagus, tadi sebelum pulang sekolah. Linda menduduki tubuh ku dan memeluk ku beberapa kali.”
Biarawati tersebut menahan rasa cemburunya untuk tidak menceramahi, “Terus habis itu?”
“Dia berpegangan tangan waktu telapak tangan ini,” sambil mengangkat lengan kirinya. “Berada di saku.”
“Kau perlu dibaptis dan mandi di sini.”
“Gak sampai segitunya,” tolak Yuda.
“Aku yang maksa,” Biarawati tersebut membawanya ke ruangan pribadinya. Dimana Bapa pastur melihat mereka berdua.
“Buruan cepat lepaskan,” paksa dia yang sudah kalut sama emosinya.
“Ya, ya …,” Yuda melepaskan kancingnya satu persatu yang masih memakai kaos kutang agak sedikit robek dan berlubang. Lalu mengendorkan sabuknya, menurunkan secara langsung celananya yang hanya memakai celana dalam.
“Nih, handuk sama baju gantinya.” Ia pergi keluar untuk menunggu Yuda selesai mandi, di mana ada cermin di sana yang melihat bola matanya sendiri begitu dalam sampai tenggelam tak sadarkan diri kami berganti posisi.
Aku mengambil kesadaran nya, tubuh nya begitu lemah sekali dan sangat berat. Ia pasti belum tidur dan istirahat semalaman demi mengejar event dengan keuntungan yang tidak seberapa.
Padahal Mary telah membuka tangan dan mengulurkan bantuan padanya, ia masih egois dan bersikap angkuh pada dirinya sendiri.
Gawat … mata ku sangat berat sekali. Mungkin gak akan bertahan lama, nanti pulang dari sini. Mau rebahan di kamarnya di atas lantai yang keras.
Pakaian yang diberikan Mary terlalu bagus, aku memilih memakai seragam sekolah lagi. Bapa pastur memberikan sambutan hangat padaku, “Selamat datang …,” ia berhenti tengah jalan dan melihat diriku sebenarnya. “Sekarang kamu Yudas?”
“Penglihatan mu berguna sekali, bisa melihat sosok asli seseorang setelah kematian istri mu.”
“Kali ini, tujuan mu apa?” tanya nya penuh rasa curiga.
Aku menutup mata sebelah biar Yuda setengah tersadar dan berbagi penglihatan dengan ku. Supaya rasa lelah ini gak terlalu memberatkannya.
Bapa melihat seolah-olah sedang ada hal yang buruk terjadi di dalam dirinya Yuda. “Kamu sudah tau, penderitaan dia di alur waktu ini. Kau pikir musuh Tuhan akan berdiam saja?”
“Tuhan, lindungi hamba mu ini dari para makhluk yang terkutuk.”
“Carilah kitab Solomon yang masih disembunyikan oleh Tuhan. Dengan mata mu bisa menemukan nya, kitab Injil dari guru ku yang aku pegang gak akan cukup untuk menyucikan mereka, jika nyawanya diambil. Aku perlu pegang kendali mereka dan mengetahui nama-namanya untuk dibinasakan.”
Yuda tidak berbagi ingatan dengan ku, ia tau nya ini semua hanyalah mimpi dan omong kosong gak masuk logika sama sekali.
“Tetapi, aku harus mencarinya dari mana?”
“Pikirkanlah sebaik mungkin. Kekacauan kota ini akan datang secara bersamaan, jika terlambat satu hari. Negeri pulau ini akan hancur total dan lumpuh semua ekonomi nya. Itu yang ada di dalam buku catatan kecil tersebut milik Yuda.”
Aku berpikir cukup dan mengasih saran padanya, “Coba cari sepenjuru sekolahnya Mary. Barang kali ada catatan atau buku mencolok di sana, meskipun salinan dari makhluk astral tersebut. Jangan sekali-kali Bapa memasuki dimensi mereka, jiwa mu akan tersesat di alam sana.”
“Beliau lahir di tanah Palestina, mana mungkin kitab nya sampai ke sini,” ujarnya yang terdengar masuk akal.
“Dia semasa kehidupannya, Solomon memiliki dua pengikut yang setia. Yaitu istrinya sendiri dan makhluk gaib yang selalu membawa pesan padanya.”
“Makhluk gaib?” Bapa masih belum menangkap maksud ku dan aku tidak diperbolehkan menyebutkan namanya atas firman dari Tuhan yang telah membatasi kehendak ku. “Nabi, Rasul, Muhammad. Jibril, maksud mu malaikat Jibril?”
“Ya. Dia yang menyimpan dan menyembunyikan catatan Solomon tenggelam di alam lain, tapi masih ada serpihan kertas yang tersisa. Jangan tanya aku dapat informasi dari mana, mereka sudah jelas tak akan memberitahu ku.”
“Terus, apa hubungan kalian berdua sampai-sampai segitu melindungi nya. Kamu ingin menantang takdir Tuhan yang sudah ditentukan?”
Aku menggelengkan kepala, “Ini adalah takdir Tuhan yang diberikan pada ku. Untuk menjaga dia, dalam perjalanan ku yang begitu jauh. Yuda selalu gak pernah mendapatkan kebahagiaan diakhir kehidupan nya dan dipenuhi rasa penderitaan yang kehilangan banyak orang. Aku ingin meminta belas kasihan kepada Bapa untuk membantunya sebagai Hamba yang tersesat mencari petunjuk dan jalan yang benar. Jika ia pergi, terpaksa aku harus mengulanginya dari awal.”
“Baiklah, aku akan membantu mu. Jika aku menemukan nya gimana cara menghubungi nya?”
“Gunakan saja gawai pemberian dari Mary, pasti akan langsung terhubung dengan gawai nya secara otomatis. Berikan kata kuncinya saja, jangan berupa teks secara keseluruhan. Kitab Solomon meskipun satu lembar saja, sudah dipenuhi oleh kekuatan gaib yang bisa mengendalikan hewan-hewan kecil dan makhluk gaib yang lemah energinya.”
Beliau langsung pergi dan bergegas keluar dari gereja lewat pintu belakang. Aku mendengar ada seseorang dibalik ruang pengakuan yang tengah berbincang. Mary mencoba menenangkan domba yang tersesat tersebut.
Dibalik itu semua adalah perempuan tersebut yang menangis penuh penyesalan, ia melihat ke arah ku dan pergi keluar untuk mencari udara segar. Sudah ada kerumunan siswa yang memamerkan kendaraannya, layaknya geng yang ingin disegani.
Jika Yuda diposisi begini, ia tidak akan mengambil tindakan dan memilih ajak berbicara, lalu berdebat panjang. Itu bukan cara cowok berkomunikasi, “Ikuti aku.”
Meretas sistem kendaraan mereka melalui gawai yang ada di saku celana ku. Tidak ingin ada keributan di tempat umum, jadi aku bawa ke tempat yang gak banyak orang berlalu-lalang.
“Well Well, sepertinya takdir yang buruk ini mempertemukan kita kembali. Aku ingin sekali melenyapkan mu di sini,” ia masih duduk di atas kendaraan beroda empat membiarkan melaju begitu cepat ke arah ku dan memegang muka nya dengan satu tangan. Sampai kendaraan nya terus melaju tanpa arah.
“Benar … Ini takdir yang begitu buruk. Jika kamu siap mati, akan kutunjukkan kematian itu apa.”
“Gimana caranya? Kau mau menusuk—“ Aku melepaskan cengkraman mukanya dan menghantam begitu keras bagian perut yang masih terluka merasakan bogeman ini sampai tak sadarkan diri dan kesusahan bernafas.
“Bawa dia ke IGD terdekat, sebelum nyawa nya melayang.”
“Beraninya kau melakukan hal tersebut kepada Aska. Mau ku laporkan ke penjaga keamanan?”
“Aku sudah merekam semua tindakan mu. Mau kusebar ke sosial media?”
“Kalian mau mengancam dan memeras ku, sama seperti perempuan tersebut? Lihat dulu video yang kau rekam dan kamera keamanan yang ada di sini.”
Aku membagikan video yang sudah dimanipulasi, hanya satu orang yang mengiktui konvoi nya. Gak ada satu sosok pun dari ku di sana.
Si-Korban gak sadarkan diri sebagai pelaku utamanya. Kenyataannya ia sedang kejang-kejang, teman-teman nya menghubungi ambulan begitu cepat. Telah melihat hasil video tersebut. Gak jadi disebar luaskan, akan menjadi bumerang bagi mereka.
“Kau pikir bisa pergi dari sini begi—“ Kebanyakan omong, aku sudah sikat bocah ingusan tersebut dan menawari ke mereka yang mau menghentikan ku.
“Masih ada yang mau mendapatkan hadiah dari ku?” Mereka langsung turun dari kendaraannya dan ketakutan mengindari ku.
“Ini adalah sebuah peringatan. Jika kalian mengincar perempuan tersebut atau mereka. Sebagai gantinya keluarga kalian yang akan aku incar.”
“Gi-Gimana caranya?” suaranya yang begitu gelagapan dipenuhi rasa takut.
Satu mata mereka berkedip, tubuh Yuda begitu hebat bisa beradaptasi dengan pergerakan ku yang langsung melompat ke arahnya siap menggenggam lehernya dan memukul perut nya.
Ia terjatuh dan mengompol di celana. Kedua mata ku terlihat begitu serius, mereka mulai menyerang ku secara diam-diam dan menghajarnya dengan penuh rasa ketakutan.
Lagian ambulan akan datang kemari, biarkan para perawat, dokter dan asuransi mereka bekerja. Tangan ku mengambil pulpen dari saku seragam tukang ngompol tersebut dan menusuk salah satu lengan mereka yang berteriak kesakitan.
Aku mencabutnya dengan kasar berpindah mematahkan lengan kirinya yang telah memegang tongkat besi untuk memukul kepala berharga ini.
Berpindah yang menggunakan jaketnya sebagai penghalang penglihatan ku, tangan ku layaknya seperti ular yang bisa mengincar lehernya dan membantingnya ke bawah dan memukul perutnya.
Satu-persatu tanpa henti, aku menendang mereka dengan kedua kaki ku tanpa henti. Semakin bergerak tubuh ini semakin ringan dan berkeringat kembali.
Rasa kantuk dan lelah ini hilang ke mana, di saat aku sudah panas-panasnya mereka semua babak belur sudah.
Ada perlu satu ritual supaya Yuda gak jadi tersangka dan dijatuhi hukuman. Ini merupakan tindakan curang yang melawan hukum alam.
Waktu tidak bisa menghentikan ku secara harfiah, tetapi waktu di masa mereka datang menemui ku bisa dipotong dengan kekuatan dimensi lain masuk ke bayangan diri sendiri dan membiarkan tenggelam. Tepat ketika Yuda sedang mandi melihat dirinya sendiri, seperti sedang melihat masa depan.
Bapa yang awalnya harus bertanya pada ku dan mendengarkan intruksi nya, ia langsung pergi ke pintu belakang gereja.
Perempuan tersebut yang bercurat kepada Mary dan bersedih, Yuda sudah membawa tas ranselnya untuk segera pulang ke rumah kontrakan.
Seharusnya ada beberapa geng kendaraan yang berada di lapangan, mereka sudah tidak ada sejak awal.
Yuda merasa kebingungan, yang terjadi dan apa dilihat. Sejak awal itu semua gak berbagi ingatan untuk tidak merusak dan bertubrukan memori neuron nya, namun efek samping nya begitu terasa yaitu kelelahan melebihi batas tubuhnya.
Setelah sampai ke rumah kontrakan, ia langsung tidur di kamarnya sendiri setelah membaca buku catatan kecil yang ada tulisan baru tertulis di sana. Dalam kurun waktu sebelum tubuh nya terbangun lagi untuk meminta do’a dan pengampunan saudara-saudara yang telah meninggal. Di buku catatan lainnya yang terkunci dengan gembok.
Bersambung














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!