“Lin, Tugas mu darinya sudah selesai belum?” ucap Yuda
“Tinggal sedikit lagi.”
Mereka berempat kembali semula untuk melupakan perkara ini dan berjalan secara perlahan ke kelas
“Sedikitnya itu seberapa?”
Linda merasa sedang diwaspadai olehnya, sedikit yang dimaksudkan ia langsung kabur menuju ke kelas tetapi Yuda duluan lebih cepat dibandingkan dengannya. Mereka berdua berjalan santai saja, ia mulai dijahili lagi oleh Yuda.
“Masih tersisa cukup banyak. Belum lagi, kau malah mencatatnya hampir persis dengan rekaman ku.”
“Akan aku ganti, akan aku ganti dengan gaya kalimat ku sendiri.”
“Akan ku bilang kepada bu Latifa untuk diberikan tugas cukup berat?”
“Kumohon, aku gak mau remidi berkepanjangan lagi.”
Setelah mereka sudah sampai, melihat dua perilaku kekanak-kanakannya. “Minta uangnya buat belanja,” ucap Budi.
Rido masih terdiam dan merenung, menata buku-bukunya dan siap pulang terlebih dahulu.
“Gunakan uang mu sebentar, Tugas dia harus selesai hari ini,” bujuk Yuda.
“Aku tidak keberatan. Kalian pulangnya jangan terlalu kesorean.” Mereka berdua pamitan pulang terlebih dahulu.
Linda terus menangis dan merengek dengan perubahan begitu cepat dan diajarkan oleh Yuda dari nol lagi.
...
“Pegel jemari ku nulis sebanyak ini tanpa henti,” keluh Linda yang mulai rebahan di atas meja.
“Kau biasanya memotong sayuran, mengupas bawang, kentang dan menggerus sambal kacang sampai lembut. Gitu aja udah capek.”
“Ini berbeda gak seperti memasak yang dibumbui dengan cinta.”
“Oh, jadi itu rahasia resep nya. Jika kau gak mau memasak, biar kami bertiga memasak secara bergiliran.”
Linda mengingat masakan mereka berdua jauh lebih buruk ketimbang Rido. Tetapi, ia selalu lebih boros demi mendapatkan hidangan yang sempurna bukan cukup.
“Jangan. Kalian harus memakan dari masakan ku.”
“Ya, selesaikan tugasnya.”
“Tapi, aku udah capek. Yuda … bisa gantiin tugas ku?”
“Kamu mau berhutang pada ku? Kali ini bayaran nya apa? Jangan kira hal yang sama akan mempengaruhi—“ Linda memeluk Yuda melingkari pinggang nya dan mulai bersikap manja. “Elus kepala ku seperti biasa nya.” Ia gak bisa menolak permintaan nya.
“Permainan mu kali ini apa?”
“Yuda mau minta apa pada ku? Akan aku dengarkan sesuai permintaan mu.”
Kalau gitu tanpa pikir panjang ia langsung mengambil keputusan, “Jangan minta bantuan ku dan mengganggu ku selama satu minggu.”
Linda merasa kecewa gak bisa mengabulkan permintaan tersebut. “Jangan cuek begitu kepada ku.”
“Kau setiap hari setiap waktu selalu mengganggu ku. Aku juga ingin menghabiskan waktu yang kupunya.”
“Tapi berbagi merupakan hal yang bagus.”
“Soal privasi dan berkerumun merupakan hal yang beda di pelajaran sosial yang telah kau pelajari.”
“Nanti malam, kau pergi ke gereja lagi kan?”
“Ini sudah menjadi kewajiban ku. Sama seperti Rido sebagai orang yang beragama.”
Linda semakin mengeratkan pelukan nya. Yuda mencoba melepaskannya, “Mau sampai kapan kau gak menyelesaikan tugas nya.”
“Bodoh amat soal itu. Aku sudah capek.”
“Kau tau, aku sedang merekam pembicaraan ini.”
“Gak peduli, terserah kamu saja mau diapain tuh barang bukti.”
“Tapi, jangan seperti kedua pasangan di kelas yang sepi ini. Apalagi ada di ujung lorong.”
Linda mulai menunjukkan sisi feminimnya untuk menarik perhatian nya. “Yuda, kau tidak memandangi ku sebagai gadis yang jelita?”
“Gak,” jawab nya singkat.
“Gadis yang baik?”
“Gak.”
“Perempuan?”
“Gak.”
“Terus, aku ini hanyalah anak kecil?”
“Yes Yes Yes, Yes!”
Ia kembali ngambek dan mendorong tubuhnya Yuda sampai terlentang di atas alas kursi yang menahan topangan berat tubuhnya. “Lihatkan, aku masih sanggup gak jatuh ke bawah dari berat tubuh mu yang begitu ringan.”
Linda mencubit, mencambuk dan menarik kulitnya di kedua pipi. “Jangan perlakukan aku terus seperti anak kecil. Kalian bertiga selalu begitu.”
“Jika kau sadar diri. Seharusnya gak tinggal di rumah kontrakan tersebut bersama tiga cowok dengan kita. Perempuan yang normal pasti memilih kos-kosan atau asrama khusus sesuai jenis kelamin mu. Kenapa kamu malah memilih tinggal di sana?”
“Apakah aku perlu alasan supaya kamu tau?”
“Jika kau gak memberitahu, itu bukan masalah. Kami menghargai mu tinggal di sana itu sudah cukup.”
“Kalau gitu, aku perlu alasan kalian yang selalu merendahkan ku.”
“Baiklah. Akan kuberitahu alasan ku untuk mewakili mereka berdua.” Linda mendengarkan nya dengan baik-baik yang masih duduk berada di atasnya. “Kau ini perempuan. Gadis yang sangat cantik dan mempesona, meskipun tubuh mu kecil. Aku menaruh respek pada mu yang bisa mandiri gak mempermasalahkan kami bertiga. Dan kau sudah tau dengan aturan yang kita yang sepakati, supaya tetap harmonis dan tidak ada penyimpangan. Bu Airi terus mengawasi mu, jika terjadi kenapa-kenapa. Karena bersama dengan tiga serigala.”
Yuda kira Linda akan merasa malu dengan ucapan nya dan bersikap feminim layaknya seorang gadis, ternyata tidak. “Jangan meremehkanku bahwa aku ini gadis kecil. Sendirian bersarang dengan tiga serigala laki-laki tidak membuat ku takut dan bisa bertahan diri layaknya di alam liar … Kau, Rido, Budi. Aku bisa menghabisi kalian berbuat macam-macam dengan ku waktu sedang tertidur saat kalian sedang lengah. Suku kami terbiasa memburu hewan buas apalagi manusia kota seperti kalian bukan tandingan—.”
Yuda mendorong balik tubuh kecilnya dan menahan Linda di atas mejanya sendiri. “Coba buktikan sekarang,” sambil menggenggam kedua telapak tangannya yang kecil.
Seisi kelas tak ada tas yang tersisa kecuali milik mereka berdua, Linda berusaha mendorong dan melawan sekuat tenaga. Tetapi ada siswi lain yang sedari tadi bersembunyi dan merekam pembicaraan mereka, Yuda langsung tau melempar alat tulis dan langsung berlari dengan cara melompat di atas meja-meja sampai ke depan pintu.
“Hapus, itu semua.” Aura ancaman nya terlalu menakutkan dan bisa melukai mereka jika sudah main tangan.
Linda menekuk kedua lututnya, untuk merendahkan martabat nya Yuda yang sudah bersikap maskulin tersebut.
“Jangan menakuti siswi kelas lain dan tolong sebarkan rumor tersebut bahwa aku ini pacarnya Yuda secara resmi.”
Yuda mau mengambil perangkat ponsel mereka, tetapi ditahan oleh Linda dan berhasil menjatuhkan satu serigala ukuran besar dengan memutar lengannya ke belakang punggung.
“Jangan lupakan, aku ini ikut ekstrakulikuler bela diri dan Judo. Musuh mu sekarang ada di belakang—“
Keuntungan kakinya cukup panjang, ia bisa menendang Linda tetapi dihindari olehnya. Sengaja membuatnya lengah, tetapi itu gak bisa menghentikan tindakan Yuda untuk mengejar siswi tersebut. Linda langsung menahan kedua kaki nya dan mau terjatuh di lantai. Tubuhnya malah roling ke depan, Linda ikut terbawa terlempar ke atas pada akhirnya jatuh lagi di tubuhnya Yuda yang terkapar di atas lorong lantai yang begitu kotor.
Linda tiduran dan merasa nyaman di atas dadanya Yuda yang membidang. “Kamu gak mau lanjut melawan?”
“Aku capek mengikuti kemauan mu. Serius mau disebar rumor tersebut?”
Ia merayap ke atas secara perlahan memeluk kepalanya Yuda yang sedang rebahan.
“Kamu sedang ngapain sih?” mukanya dongak melihat ke arahnya. Linda hanya tersenyum menggodanya. “Bukankah laki-laki menyukai payudara?”
Ia kembali berdiri duduk dan melepaskan pelukan nya Linda layaknya permen karet yang menempel. “Menurutmu? Emang wajah ku ini menunjukkan raut suka?”
“Punya ku memang kecil tapi gak akan mengecewakan mu.”
“Pass …” Yuda menyerah dan tanpa mengucapkan penolakan ke Linda. Memilih masuk ke kelas dan mengambil tas nya. “Aku mau pulang.”
“Kalau gitu, aku juga pulang.”
Mereka berdua berjalan bersama, ia memeriksa notifikasi layar gawainya. Linda berpegangan tangan, di mana tangan kirinya Yuda dimasukkan ke dalam saku dan menarik nya keluar supaya bisa bergenggaman layaknya orang tua dan anak.
Bersambung














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!