Bab 02

Di Balik Pintu

1 dibaca

A

Delapan tahun lalu, Era masih berupa bonggol bertunas yang dibeli Mira untuk melatih kesabaran. Ia belum memiliki batang, hanya satu tunas kecil yang perlahan membuka diri. Mira meletakkannya di dekat jendela, memeriksa tanahnya setiap pagi, dan belajar menahan diri untuk tidak terlalu sering menyiram. Harga bonggol itu terasa mahal untuk sesuatu yang belum tampak seperti tanaman, tetapi Mira menyukai kemungkinan yang ada di dalamnya. Ia menunggu daun pertama terbuka dan melihat warna putih muncul sedikit demi sedikit. Ternyata Era tumbuh lebih baik daripada yang ia bayangkan. Ketika sudah cukup besar, Mira beberapa kali mencacahnya dan menjual hasil cacahan itu untuk menambah uang belanja. Era tumbuh lagi, dicacah lagi, dan dijual lagi. Tanpa pernah direncanakan, tanaman yang mula-mula dibeli Mira untuk melatih kesabaran itu perlahan ikut membayar kebutuhan rumah.

Rumah tempat mereka tinggal merupakan warisan orang tua Mira. Tidak besar, tetapi cukup untuk mereka bertiga. Ada dua kamar tidur, ruang keluarga yang menyatu dengan ruang makan, dapur di bagian belakang, dan garasi yang lebih sering digunakan untuk menyimpan barang daripada kendaraan. Setelah Una lahir, barang-barang anak mulai memenuhi rumah dan beberapa pot tanaman Mira ikut berpindah ke teras serta halaman belakang. Suaminya tidak terlalu mempermasalahkannya selama tanaman-tanaman itu tidak mengganggu aktivitasnya. Ia bekerja di sebuah perusahaan swasta, berangkat pagi dan pulang sore, dan sebagian besar kebutuhan rumah dibayar dari penghasilannya. Ia membayar listrik, air, cicilan kendaraan, dan kebutuhan Una. Ketika anak itu sakit, ia mengantarnya ke klinik. Pada akhir pekan, ia sering mengajak Una berjalan-jalan atau membeli es krim choco chips kesukaannya. Di mata tetangga, ia adalah laki-laki yang bekerja keras dan bertanggung jawab terhadap keluarganya. Mira juga mengenal sisi itu, sehingga ketika masalah mulai muncul, ia tidak langsung menganggapnya sebagai masalah.

Setelah Una lahir, Mira dan suaminya pernah membicarakan pekerjaan mereka di meja makan setelah anak itu tidur. Pengasuh Una baru saja berhenti dan mereka belum menemukan pengganti yang cocok.

“Kalau kamu berhenti dulu gimana?” tanya suaminya.

Mira menatapnya. “Sampai kapan?”

“Sampai Una agak besar. Nanti kamu bisa kerja lagi.”

“Kalau aku berhenti, pengeluaran kita gimana?”

“Aku masih bisa tanggung. Kita nggak akan kelaparan.”

Mira tertawa kecil. “Aku bukan takut kelaparan.”

“Aku tahu. Tapi sekarang Una lebih butuh kamu.”

Mira memandang kamar Una yang pintunya sedikit terbuka. Pada akhirnya ia mengangguk. Saat itu keputusan tersebut terasa sederhana. Mereka hanya sedang mengatur ulang pembagian pekerjaan sampai anak mereka cukup besar untuk tidak lagi membutuhkan Mira sepanjang hari.

Mira mulai menanam kebutuhan dapur beberapa bulan kemudian. Awalnya hanya cabai yang ia semai dari biji sisa masakan, kemudian tomat, bayam, daun bawang, dan beberapa jenis sayuran lain. Ia tidak berniat membuat kebun. Ia hanya berpikir bahwa jika sebagian kebutuhan dapur dapat dipetik dari halaman sendiri, uang belanja bisa digunakan untuk kebutuhan lain.

Ia senang memetik cabai dari tanaman yang ditanamnya sendiri. Una juga sering ikut ke halaman dan mencabut bayam yang sudah cukup besar. Suatu kali, setelah menarik sebatang bayam sampai akarnya ikut terangkat, Una menatap tanaman itu dengan wajah serius.

“Sakit nggak, Bu?”

Mira tersenyum. “Menurut Una?”

“Sakit.”

“Kenapa?”

“Soalnya dicabut.”

Mira tertawa kecil. “Kalau begitu, jangan dicabut sembarangan. Kita ambil yang sudah boleh dimakan saja.”

Una mengangguk, lalu menunjuk tanaman lain. “Yang itu boleh?”

“Belum. Masih kecil.”

“Kalau yang besar?”

“Yang besar boleh.”

Una kemudian memetik satu daun bayam yang sudah lebar dan membawanya ke dapur dengan hati-hati, seolah-olah baru saja menyelamatkan sesuatu. Bagi Mira, pot-pot itu adalah cara sederhana untuk membuat pengeluaran rumah sedikit lebih ringan. Ia bisa memetik cabai, bayam, tomat, dan daun bawang tanpa harus membelinya setiap beberapa hari. Tanaman-tanaman itu juga membuat Una belajar bahwa makanan yang sampai di meja makan tidak selalu dimulai dari pasar.

Suaminya tidak melihatnya demikian. Suatu sore ia pulang dan menemukan halaman belakang mulai dipenuhi pot. Ia berdiri di pintu sambil memperhatikan Mira memindahkan bibit tomat ke pot yang lebih besar.

“Buat apa sebanyak itu?”

Mira menoleh. “Buat kebutuhan dapur.”

“Sayuran kan bisa dibeli.”

Mira tertawa kecil. “Kalau bisa nanam sendiri, kenapa harus beli?”

Suaminya tidak menjawab. Ia masuk ke rumah dan pembicaraan itu berhenti sampai di sana. Beberapa hari kemudian, ketika mereka sedang membicarakan pengeluaran bulanan, ia kembali menyinggung halaman belakang.

“Aku kerja supaya kamu nggak perlu mikirin beginian,” katanya.

“Aku cuma berusaha ngirit.”

Ngirit?”

Mira mengangguk. “Cabai bisa petik sendiri. Bayam juga. Tomat nanti bisa buat masak.”

Suaminya memandang ke arah halaman belakang. “Toh aku memenuhi kebutuhan masakmu.”

Mira terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Baru saat itu ia menyadari bahwa bagi suaminya, menanam makanan sendiri mengganggunya. Halaman belakang itu membuat Mira mampu memenuhi sebagian kebutuhannya sendiri tanpa meminta apa-apa darinya. Bagi Mira, pot-pot itu adalah bentuk penghematan. Sementara bagi suaminya, pot-pot itu perlahan terasa seperti pengurangan terhadap perannya sebagai laki-laki.

Mira tetap menanam. Ia hanya mulai melakukannya lebih banyak ketika suaminya tidak berada di rumah. Tanaman-tanaman itu tumbuh dengan baik dan tetangga mulai meminta bibit cabai, tomat, serta beberapa tanaman lain. Seorang ibu membeli dua pot tomat. Orang lain meminta bayam untuk ditanam di rumah. Mira tidak pernah memasang harga tinggi. Kadang ia memberikan bibit begitu saja. Dari sana ia mulai mengetahui bahwa orang bersedia membayar tanaman yang dapat mereka letakkan di teras atau ruang tamu, bahkan ketika tanaman itu tidak menghasilkan makanan. Ia mulai membeli beberapa tanaman hias kecil, merawatnya, lalu menjualnya setelah tumbuh lebih besar. Tanaman yang hampir mati sering kembali segar di tangannya. Orang-orang kemudian mengatakan Mira mempunyai tangan dingin. Ia hanya tertawa. Ia merasa tanaman lebih mudah dipahami daripada manusia. Tanaman akan menunjukkan kebutuhannya melalui daun yang menguning, tanah yang terlalu basah, atau batang yang busuk. Manusia sering mengatakan baik-baik saja ketika sebenarnya tidak. Pun begitu halnya dengan Mira.

Di balik pintu kamar, batas-batas yang lain mulai hilang. Suatu malam, ketika Una sudah tidur, Mira berbaring membelakangi suaminya. Hari itu ia kelelahan setelah mengurus rumah, memasak, dan membersihkan tanaman di halaman belakang. Ketika suaminya mendekat dan berbisik tepat di daun telinga Mira, ia menggeser tubuhnya menjauh.

“Aku capek.”

“Sebentar saja.”

Mira menggeleng. “Aku nggak mau.”

Suaminya bersikeras mendekat dan merengkuhnya dengan cengkeraman yang keras. Mira tahu bagaimana malam itu akan berakhir. Ia pernah mengatakan tidak sebelumnya, dan hampir setiap kali penolakan itu berujung pada tangan yang memukul atau rambut yang ditarik. Karena itu, pada malam-malam berikutnya, Mira semakin jarang melawan. Bukan karena ia menginginkannya, melainkan karena ia tahu penolakannya tidak akan mengubah apa pun.

Hal itu berlangsung hampir setiap malam. Setelahnya, suaminya dapat tidur seperti biasa, sementara Mira tetap terjaga dalam gelap. Pagi hari datang tanpa membawa penjelasan. Suaminya bangun, mandi, membuat kopi, lalu berangkat bekerja. Setelah pintu gerbang ditutup, Mira masuk kembali ke kamar dan merapikan tempat tidur. Tak ada yang tampak berbeda. Sprei masih terpasang, bantal masih berada di tempatnya, dan pakaian suaminya masih tergantung di belakang pintu. Hanya Mira yang merasa ada sesuatu yang telah berubah. Ia mulai paham, di dalam rumah itu, mengatakan “tidak” tidak selalu membuat seseorang berhenti.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk