Mira membuka YouTube setelah Una berangkat sekolah. Ia sebenarnya hanya ingin menonton video tentang cara mencampurkan media tanam. Belakangan ini, ia terpikir untuk mulai meracik media tanamnya sendiri agar tidak selalu bergantung pada campuran yang dijual di toko. Ia mengetik kata kunci yang biasa digunakannya. Sebelum sempat membuka salah satu video dari daftar yang muncul, sebuah berita tampil di beranda. Judulnya memuat nama perusahaan tempat mantan suaminya dulu bekerja. Mira hampir melewatkannya. Namun foto laki-laki yang ditampilkan di samping kanan layar membuat ia berhenti. Ia mengenalinya meskipun wajah itu tampak lebih letih dan berkerut daripada yang ia ingat.
Mira membuka video itu. Pembawa berita sedang membicarakan perkembangan kasus korupsi yang melibatkan beberapa orang dari perusahaan. Nama mantan suaminya disebut sebagai salah satu pihak yang telah diperiksa.
“...penyidik masih mendalami aliran dana yang diduga diterima oleh sejumlah pejabat dan pihak internal perusahaan. Salah satu nama yang telah diperiksa adalah...” Suara penyiar terdengar berdenging samar di telinga Mira. Kata-katanya sampai, tetapi tidak utuh. Ia mendengarkan sambil tetap memegang ponsel, lalu menurunkannya ke pangkuan ketika layar menampilkan seorang perempuan dengan wajah yang disamarkan.
Mira tidak langsung memahami seluruh kalimat yang didengarnya. Ia hanya mengenali beberapa bagian. Ada ancaman, kemarahan ketika seseorang menolak, dan keyakinan bahwa jabatan atau hubungan tertentu memberi seseorang hak mengatur tubuh dan keputusan orang lain.
Tubuh Mira melemas. Pelipisnya mulai berkeringat, sementara degup jantungnya terdengar seperti berasal dari luar dirinya. Suara penyiar yang sejak tadi berdenging samar di telinganya semakin sulit dibedakan dari bunyi lain di dalam ruangan. Sepanjang apa pun Mira menarik napas, tetapi udara yang masuk terasa pendek dan tidak cukup. Ia menekan telapak tangannya ke paha untuk memastikan bahwa dirinya masih berada di sana. Di layar, perempuan dengan wajah yang disamarkan itu terus berbicara. Mira tidak lagi mendengar semua kalimatnya. Ia hanya mendengar potongan-potongan suara yang terasa terlalu dekat dengan ingatannya sendiri.
“Saya sempat takut bicara. Saya takut tidak dipercaya, takut kehilangan pekerjaan, dan takut dianggap sedang mencari perhatian. Tetapi setelah mengetahui bahwa saya tidak sendirian, saya memutuskan untuk mengungkapkan apa yang terjadi.”
Mira menekan tombol jeda. Video berhenti pada wajah pembawa berita, sementara suara dari rumah sebelah terdengar samar-samar melalui jendela yang terbuka. Ia termenung. Selama bertahun-tahun, ia mengira pengalaman itu hanya miliknya. Ia tidak pernah menyebutnya kepada siapa pun, apalagi dengan kalimat yang setertata itu. Bahkan kepada dirinya sendiri, Mira menghibur diri dengan menyebutnya sebagai masa lalu rumah tangga belaka.
Mira melanjutkan video sampai selesai. Berita itu melaporkan bahwa mantan suaminya telah ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Laporan mengenai kekerasan juga sedang diproses setelah beberapa orang berani memberikan kesaksian. Untuk pertama kalinya, Mira merasa lega sekaligus bersyukur. Ia tiba-tiba percaya bahwa laki-laki itu tidak dapat lagi mengetuk pintu rumahnya, atau kembali menguasai ingatannya seperti dulu.
Mira mematikan YouTube, tetapi tidak segera meletakkan ponselnya. Ia tiba-tiba terbayang wajah Dina, sahabatnya. Senyumnya yang ceria, pelukannya yang tulus, dan caranya mendengarkan tanpa menyela membuat Mira merasa tenang. Sahabatnya itu mengenal Mira jauh sebelum pernikahan, sebelum Una lahir, dan sebelum Mira belajar menyimpan banyak hal sendirian. Ia hanya mengatakan bahwa rumah tangganya baik-baik saja; bahwa suaminya sedang banyak pekerjaan; bahwa ia sedang terlalu lelah untuk bertemu. Dina tidak pernah memaksanya bercerita, tetapi di saat yang sama tidak pernah menutup ruang untuk itu.
Mira menatap nama Dina di layar. Jarinya bergerak perlahan.
“Din, di mana? Bisa ketemu? Ada yang mau aku ceritakan.”
Ia membaca kalimat itu beberapa kali. Ia masih takut. Ia masih tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya. Namun kali ini, ia tidak menghapusnya. Ia menekan tombol kirim, lalu meletakkan ponsel di atas meja.
Mira beranjak ke garasi. Ia berdiri di antara pot-pot yang berjajar, mencari pandangan yang segar di antara dedaunan. Memperhatikan anak-anak hijaunya telah menjadi salah satu cara Mira menenangkan diri. Ia mengamati tekstur daun, pertumbuhan batang, hingga binatang-binatang kecil yang muncul di antara media tanamnya yang poros dan gembur. Perlahan, napasnya kembali teratur.
Mira menoleh ke arah Era. Ada sesuatu yang berbeda di dekat daun tertuanya, tepat di pangkal tanaman, tempat bonggol itu tertanam sebagian di media tanam. Dari sisi bonggol, sebuah tunas kecil menyeruak keluar. Bentuknya melengkung seperti jarum yang baru dibengkokkan, dengan ujung meruncing ke atas.
Tunas itu hampir seluruhnya putih. Mira mengerjap-ngerjapkan mata, memastikan itu bukan pantulan cahaya. Benar-benar putih pucat seperti lilin, bersih dan nyaris tanpa warna hijau. Permukaannya masih tertutup selubung tipis yang rapat, sehingga ia tampak seperti benda asing yang tumbuh dari tubuh Era. Hanya sedikit bagian di pangkalnya yang memperlihatkan semburat hijau kekuningan. Selebihnya, tunas itu putih, lembut, dan tegak dalam lengkungan kecilnya.
Mira mendekat. Ia menahan napas, lalu berjongkok untuk melihatnya lebih jelas. Tunas itu tumbuh langsung dari bonggol, seolah-olah Era menyembunyikan sesuatu di dalam tubuhnya dan baru sekarang memutuskan untuk mengeluarkannya. Mira mengulurkan tangan, tetapi berhenti sebelum menyentuhnya. Ia teringat pada dirinya sendiri yang selama bertahun-tahun berusaha bertahan tanpa pernah benar-benar memberi kesempatan kepada dirinya untuk tumbuh ke arah yang lain. Untuk pertama kalinya, ia membayangkan bahwa sesuatu yang baru tetap mungkin muncul dari bagian dirinya yang selama ini ia kira sudah selesai.
Ponselnya berdering dari dalam rumah. Mira menoleh ke arah pintu, tetapi tidak segera bergerak. Ia masih memandangi tunas putih di hadapannya. Setelah dering kedua, ia bangkit dan berjalan masuk, melewati ruang tamu untuk mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.
Nama Dina muncul di layar.
“Halo, Mir!” Suara Dina terdengar dari seberang.
Tangis Mira pecah seketika. Ia hampir lupa, ternyata, cairan bernama air mata itu masih ada.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!