Sudah kubilang pada Nenek bahwa ada sosok yang masuk ke kamarku setiap malam. Di setiap tahun aku datang berkunjung, hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
Keanehan ini pertama kali kusadari di malam pertama menginap di rumah Nenek. Melewati tengah malam, cahaya tidak lagi tampak di dalam rumah, hanya pendar lampu jalanan yang mengintip dari balik gorden. Letak rumah Nenek yang jauh dari kota menjadi tempat favorit kami untuk rehat sejenak dari keriuhan kota. Udara dingin yang bertiup lembut menyelinap dari kisi-kisi jendela bersama wangi obat nyamuk bakar sebagai pengusir hama.
Semua kebahagiaan malam itu seharusnya menjadi teman tidurku, namun dibalik pelupuk mata yang tertutup, aku merasakan kehadiran sebuah makhluk. Sedari kecil, aku memang memiliki rasa yang tajam. Bukan berarti aku bisa melihat makhluk halus, namun rasa sensitif terhadap kehadiran zat asing mudah mengusikku dibandingkan orang lain.
Aku yakin ada sosok kecil yang mengamatiku dari pintu. Ketika suasana semakin sunyi, aku merasakan ia berjalan mendekat. Semakin lama, nafasnya pun sampai dan menggelitik hidung. Karena takut, aku memilih diam di tempat tidur, berpura-pura terlelap sambil komat-kamit dalam hati mengingat Tuhan.
Saat aku membuka mata, sosok asing itu sudah tidak ada.
Mendengar ceritaku, Nenek hanya menertawakan kekonyolan ini. “Maksudmu rumah ini berhantu?” Nenek berkomentar sambil mengisi gelasnya dengan teh hangat untuk kedua kali. “Bagus deh. Udah lama Nenek tinggal sendirian, eh sekarang punya teman.”
“Nenek, aku serius!” nada bicaraku meninggi. Mengapa sulit sekali meyakinkan orang tua satu ini bahwa apa yang aku alami bukanlah omong kosong?
Desdemona, kucing Persia nenek diam-diam menyelinap di antara kaki kami, mengangkat kaki depannya untuk mencolek tepi daster Nenek. Sang perempuan tua itu membungkuk, mengelus kepala si makhluk berbulu dengan penuh kasih sayang. “Kenapa, Mona? Kamu lapar? Sudah waktunya makan siang, ya?” tanyanya.
Kenapa kucing ini mendapatkan perhatian lebih daripada cucunya sendiri, sih?!
Pada hitungan ketiga, Nenek mengangkat tubuhnya yang renta dengan penuh tenaga, sedikit mengerang karena rasa ngilu di lutut yang telah bertahun-tahun ia tanggung. Langkahnya yang menyeret diiringi oleh Desdemona–yang memalingkan wajahnya ke arahku. Tiba-tiba, mata kami bertemu.
Ia berdiri diam, menatapku begitu lama. Warna matanya yang serupa langit senja berkedip satu kali. Ada kilatan yang memancar dari dua mata bulat itu. Seketika, aku serasa disihir. Ujung-ujung jari tangan dan kakiku seperti kesemutan. Aku tidak bisa bergerak. Ketika Nenek memanggil namanya, kucing itu berpaling dan mengejar sang pemilik ke arah dapur.
…Apa itu barusan?!
Ketika matahari tenggelam di hari itu, aku mendapatkan jawaban dari keanehan yang menghantuiku di malam-malam sebelumnya. Sosok itu hadir lagi di pintu kamar, berdiri diam menatapku dalam gelap. Aku bisa merasakannya dari balik mataku yang tertutup.
Sensasi kesemutan di ujung-ujung jariku terasa lagi. Badanku tidak dapat bergerak. Sosok itu makin mendekat. Ia melompat naik ke tempat tidur. Kaki-kaki yang kecil namun kokoh memanjati tubuhku yang kaku. Nafasnya begitu dekat dengan hidungku.
“Buka mata,” suara yang berat itu terdengar di telinga. Jika aku dapat membayangkan, suara itu seperti milik seorang pemuda yang berwibawa. Bila kamu bersamanya di tengah hutan belantara dan tersesat, sosok ini pasti akan menjadi orang yang menenangkan dan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Aku membuka mata dan mendapati sepasang mata senja itu menatapku lekat-lekat.
“Jangan panik, Arya,” suara bijak itu keluar dari mulut Desdemona si kucing. “Aku mengunci tubuhmu untuk sementara, agar kamu tidak berteriak.”
Aku yakin telah mendesak udara keluar dari paru-paru untuk berteriak sekencang-kencangnya, namun tidak ada suara yang keluar. Aku berusaha melawan dengan menggerakkan tubuh, namun aku tidak memiliki kendali. Seperti dibebat oleh rantai besi, tubuhku membujur kaku di ranjang. Kucing itu bergeming, meski kepanikan kuperlihatkan dengan jelas.
Desdemona duduk di dadaku, kaki depannya melipat dengan anggun. Bulunya yang putih berpadu dengan corak bintik hitam tampak berbaur menjadi keabuan di tengah gelapnya malam. “Namaku Pangeran Kavish dari Negeri Kagan. Aku membutuhkan bantuanmu.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!