Lukas

5 dibaca

A

Hari ini adalah ketiga kalinya Lukas tidak terlihat di ambang jendela rumah Kakek Rumi.


Seekor kucing jantan berdada putih dengan motif garis-garis kecoklatan itu biasanya terlihat dari jendela rumahku yang menghadap rumah Kakek Rumi di lantai dua. Bagaikan alarm hidup, Lukas selalu muncul di waktu yang sama, di jendela yang sama, di ambalan yang sama.


Kakinya yang kecil mengorek celah daun jendela kayu, dengan suara berderik yang membangunkanku di pagi hari. Saat aku melongok ke jam meja, waktu selalu menunjukkan pukul 06.15.


Dengan cerdik ia mengangkat bukaan itu secukupnya, hingga tubuhnya yang liat mampu melewati celah. Lukas meregangkan tubuhnya sejenak, berputar dua atau tiga kali di tempat sebelum memposisikan diri untuk duduk. Ia akan diam di titik itu hingga matahari muncul untuk memeluk wajahnya yang bulat.


Kumisnya berkedut lucu, lonceng kalung merahnya bergemerincing ketika ia menggaruk, matanya menutup seakan menikmati hangatnya mentari, mensyukuri bahwa hari ini begitu cerah.


Aku, yang hanya seorang Tetangga Mau Tahu, mengamati gerak-gerik si makhluk berbulu sambil menyesap kopi hitam.


Meja kerjaku yang menghadap jendela menyaksikan Lukas menggoyang-goyangkan ekornya sesuai ritme sirine ambulans atau klakson mobil di kejauhan. Kadang ujung ekornya berkedut ketika suara anak-anak yang berangkat sekolah berlarian di jalan gang.


Aku tidak tahu apakah Lukas menyadari keberadaanku, karena kami tidak pernah bertegur sapa. Sepertinya ia dapat merasakan gerak-gerikku dari seberang jendela, namun tidak menunjukkan reaksi berarti begitu aku berkutat kembali dengan pekerjaan di komputer. Meskipun aku meliriknya di antara nafas, ia tampak tidak tertarik denganku.


Menjelang tengah hari, Lukas akan bangkit, membuat suara berderit ketika menyusup masuk ke dalam rumah dan menghilang. Setelah itu, aku tidak akan melihatnya hingga esok hari.


Tapi, ada yang berbeda tiga hari ini. Lukas sudah berhari-hari tidak terlihat.


Dan hari ini, ada jejak telapak kaki kucing yang menempel di jendela, berwarna merah darah. Aku yakin tidak melihat jejak itu kemarin. Aku membuka jendela, mencoba melihat lebih dekat dengan menjulurkan tubuh, namun ruangan yang gelap di baliknya tidak membuat pandanganku lebih jelas.


Ada suara meong yang keras dari dalam rumah Kakek Rumi. Saat kepala Lukas melongok di jendela, aku membelalak: separuh wajahnya bersimbah darah. Ia menggaruk-garuk jendela, membuka daunnya dengan susah payah.


Di antara rasa kejut yang mendera, aku memicingkan mata, mencoba menangkap bongkahan gelap yang tergeletak di lantai. Sepertinya badan manusia.


Serasa mendapat bogem mentah di ulu hati, bulu kuduk pun berdiri. Tanpa pikir panjang, aku berbalik dan berlari. Aku melompati anak tangga per dua pijakan, mendarat di lantai dasar rumahku dengan suara berdebam. Langkah dan detak jantungku beradu menuju rumah Kakek Rumi.


Ada sesuatu yang terjadi di rumah itu, dan sepertinya Kakek dalam bahaya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk