Bono mungkin sudah gila ketika ia memberiku saran untuk mengunjungi sebuah toko lukisan tua di pinggir kota.
“Kita putus aja deh,” ucapku, sambil menikmati makan siang di restoran favorit kami. Sebagai lelaki yang telah kupacari selama 6 tahun, sikap impulsif yang kutunjukkan padanya tidak lagi membuat Bono terkejut.
Ia hanya menghela nafas, mengambil buku catatan dan merobek selembar kertas dari halaman yang masih kosong. Dalam diam, ia mulai membuat garis-garis horizontal dan vertikal, membentuk tikungan dan persimpangan. Terakhir, ia membubuhkan sebuah coretan kepala kucing dan rumah. ‘Toko Indira’, ia menulis.
Ia menyerahkan peta buatan tangan itu kepadaku. Tanpa memberikan tanggapan pada kata-kataku barusan, Bono justru membalas, “Udah deh, kamu ke sini dulu.”
Kupandangi coretan itu lekat-lekat, setiap garisnya membuatku mengerutkan kening. Meski peta yang ia gambarkan begitu mendetail, aku belum menemukan korelasi antara sebuah toko lukisan dan kekosongan yang beberapa bulan ini aku rasakan.
”Apa sih ini? Aku bilang kita mendingan putus!”
“Natasya, kamu itu cuma stres karena tanggal pernikahan kita semakin dekat. Kebiasaan deh, selalu mau kabur kalau stres semakin menumpuk. Makanya aku ajak kamu makan di luar hari ini untuk ganti suasana. Eh, kecolongan juga,” Bono tertawa kecil, menyesap es kopinya. “Pokoknya, kali ini kamu nurut aja. Besok mampir ke toko ini, ya. It’s so magical.”
Obsesi Bono terhadap toko lukisan ini berawal dari hasil berburu akan sebuah lukisan yang terpajang di apartemennya. Sebuah lukisan bergaya realisme di mana seorang anak kecil sedang bermain kelereng di tanah terbuka. Bono bilang lukisan ini mengingatkannya pada suasana kampung tempat ia biasa bermain bersama anak-anak setempat saat dipingit oleh eyangnya dulu.
Seperti membuka kotak core memory dalam ingatan yang sempat terlupa, Bono menjadi pribadi yang lebih tenang, tidak lagi berapi-api seperti sebelumnya. Ia bilang, seekor kucing di toko itu yang memilihkan lukisan untuknya.
Untuk menghibur hati, aku akan mencoba permainan ini. Aku berdiri di depan sebuah toko mungil tak lebih lebar dari 3 meter, dengan pintu ganda yang satu sisinya dikunci rapat. Sebuah jendela etalase memamerkan sejumlah lukisan berukuran kecil–dan seekor kucing yang tertidur pulas. Lokasi yang ideal baginya untuk berjemur bersama kehangatan matahari yang menembus kaca.
Bulunya memiliki perpaduan warna yang aneh, seperti calico tapi juga tuxedo dan tabby. Perutnya tambun, kepalanya bulat dan ujung kaki-kaki kecilnya berwarna putih. Perpaduan garis dan titik hitam memenuhi sekujur tubuh yang berwarna-warni. Si kucing ajaib.
Aku melangkah masuk, disambut oleh suara bel kecil yang berdenting, terpaku di tepi atas pintu. Seorang laki-laki muda, kurang lebih seumuran denganku, memandang dari balik kacamatanya. Rambutnya yang keriting dan lebat terlihat berantakan.
“Selamat pagi,” ia menyapa dengan suara yang dalam. “Mau cari lukisan? Atau, mau langsung ketemu Indira?”
Aku mengernyitkan dahi. Indira? Mendengar kata itu, kucing yang sedang rebahan di etalase depan perlahan bangkit. Ia merenggangkan diri, melemaskan otot-otot yang tertekuk. Kucing itu diam sejenak, sebelum melompat turun. Perlahan berjalan mendekat ke arahku, si kucing berhenti tepat di sampingku. Ia mendongak, matanya mengedip. Ternyata bukan hanya sekedar toko, nama itu menjadi milik si makhluk berbulu.
Pria penjaga toko mengamati kami dengan senyum yang lebar. Satu tangannya menangkup dagu, seakan menikmati hiburan yang sedang terjadi di depan matanya. “Jangan bergerak. Indira sedang memindai.”
Aku terkikik geli. “‘Memindai’? Emang dia scanner berjalan?”
“Kurang lebih,” pria itu menjawab. Sambil menjelaskan, Indira si kucing berjalan memutari kakiku, sesekali mengeluskan kepalanya pada betis. Geli rasanya. “Nggak banyak orang yang tahu toko ini. Mereka yang tahu pun biasanya datang dengan tujuan yang spesifik: menyembuhkan diri. Mau dipikir seribu kali pun, seekor kucing yang bisa kerja seperti psikiater bukanlah hal yang masuk akal. Profesional manapun akan tersinggung kalau mereka tahu ada orang-orang yang percaya Indira punya kemampuan ajaib.
Anda juga nggak harus percaya. Tapi, kedatangan Anda ke sini pasti bukan tanpa sebab. Antara mendapat rekomendasi orang lain atau nyasar, Anda memutuskan untuk masuk ke dalam.”
“Tunangan saya,” aku membalas. “Dia yang menyarankan saya untuk ke sini. Dia cerita pernah datang ke sini untuk membeli lukisan. Anehnya, lukisan itu membuat dia menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi, dia berpikir saya harus ke sini supaya nggak minta putus terus.”
“Hm,” pria itu bergumam. “Saya tidak punya hak untuk mengulik masalah yang sedang Anda alami, tapi Indira tahu semuanya. Anda juga nggak wajib membeli lukisan yang disarankan. Tapi, nggak ada salahnya kok lihat-lihat.”
Bersamaan dengan diam laki-laki itu, Indira berhenti bergerak sebelum melangkah lurus. Setelah berjalan cukup jauh, Indira menoleh ke arahku seakan mengajakku untuk mengikutinya. Aku bertukar pandang dengan si penjaga toko yang melemparkan gestur untuk mengikuti si makhluk kecil. Aku menarik nafas dan mengikuti ke mana Indira pergi.
Setelah berbelok ke kiri, Indira membawaku melewati lorong sempit dengan sejumlah kanvas dalam berbagai ukuran yang bersandar pada dinding. Semakin lama kami bergerak semakin dalam. Ia berbelok ke kanan dan aku membuntutinya dalam diam. Ketika sampai di ujung lorong, Indira berhenti. Si bola berbulu memandangku, mengeong dan menunjuk sebuah lukisan dengan ujung hidungnya.
Sebuah lukisan berwarna lembut menggambarkan sepasang pengantin yang saling tersenyum satu sama lain. Si perempuan mengenakan gaun kebaya berwarna putih dengan ujung rok yang menjuntai ke lantai, sementara si pria mengenakan jas modern. Di jari mereka tersemat cincin berwarna keperakan. Seketika air mataku menetes.
Baiklah, Indira, aku akui kamu hebat.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!