Asha

1 dibaca

A

“Dok, tolong! Cepat! Kucing ini sekarat!”

Aku sedang menyiapkan gelas kopi kedua di malam itu ketika seorang ibu berusia paruh baya datang tergopoh-gopoh, membangunkan asistenku yang sedang tertidur di meja resepsionis. Si ibu mengenakan daster dan jaket, hijab yang ia kenakan berantakan. Nafasnya memburu seperti dikejar setan. Tangannya keriput menenteng sebuah tas kargo khusus hewan.

Terdengar suara rintihan kecil dari dalam tas itu.

Mita, asistenku, dengan mata yang masih setengah, terbuka berjalan terhuyung menuju pintu dan membantu si ibu ke ruang tunggu. Ia menjaga dirinya tetap tenang sementara si ibu terengah-engah dalam kondisi darurat yang membawanya datang ke klinik hewan malam itu.

Ruangan begitu sunyi tanpa interupsi kebisingan kendaraan lalu lalang di luar sana. Dengan nada bergetar, si ibu menjelaskan, “Waktu saya lagi mau tutup pintu pagar rumah,, saya lihat dia diam di pojokan. Mulutnya berbusa dan dia mengeong. Seperti kesakitan. Langsung saya bawa ke sini, Dok.”

Setelah mencuci tangan, aku menghampiri sang ibu sambil mendengarkan kata-katanya dengan seksama. Badan kaku, mulut berbusa.

“Kucing ini punya Ibu?”

“Bukan, Dok. Tapi dia biasanya datang minta makan.”

Kucing liar.

Aku meraih ke dalam kandang, menyentuh bulu yang kasar. Tubuh si kucing tidak terlalu kurus, namun dari ukurannya aku dapat menebak ia memiliki bentuk yang cukup besar dan terawat. Kuraih tengkuknya dan menariknya keluar dari dalam tas kargo.

Begitu melihat sosoknya, aku merasakan jantungku berhenti berdetak dalam milidetik.

Pandangan mataku membawa pada memori di masa kecil tentang seekor kucing yang pernah kumiliki. Namanya Asha, seekor kucing jantan berwarna putih mulus, berbulu pendek dengan mata kehijauan. Suara meongnya nyaring dan renyah seperti bel sepeda. Bentuk mulutnya membuatku geli karena ketika diam, ia seperti senantiasa mengulum permen.

Kucing yang berada di meja periksa ini serupa dengan Asha. Dari kepalanya yang bulat, ekornya yang panjang dan bengkok di ujung, serta telapak kaki berbentuk datar seperti kue mochi. Kucing itu bernapas lembut, menyandarkan kepalanya ke tanganku. Ia kesakitan tapi tidak ketakutan saat kusentuh.

“Gimana, Dok?” tanya si ibu. Jika beliau tidak memecah keheningan, mungkin aku sudah menangis dan memeluk si kucing sekarat di tanganku ini.

Kuperiksa matanya dengan pupil yang mulai membesar, perutnya yang naik turun dengan cepat, bekas liur dan busa yang telah dihapus. Tubuh lemas dan menegang. “Sepertinya keracunan, Bu,” jawabku singkat, sambil menerangkan setiap gejala fisik yang aku tangkap.

Si Ibu mendesah, seakan melepaskan beban yang menggantung dalam benaknya. “Di kompleks saya memang lagi ada isu seseorang menebar racun tikus, Dok. Belum ketahuan siapa pelakunya. Tapi si Putih ini memang suka makan sembarangan. Namanya juga kucing liar.”

Tanpa pikir panjang, aku mempersiapkan infus. Kupegang kaki Asha–maksudku, si Putih–untuk mencukur bulunya. Jarum infus yang panjang menusuk kulitnya yang mulai mengering. Sejumlah obat disuntikkan ke tubuhnya untuk membantunya bertahan malam ini. Jika ia bisa melewati hari ini, ia akan baik-baik saja.

“Untuk sementara si Putih saya rawat di klinik, ya, Bu. Doakan dia bisa melewati malam ini.”

“Mohon dibantu, ya, Dok. Meskipun liar, dia kesayangan kompleks. Nggak pernah nakal dan baik kepada siapa saja. Orang yang menaruh racun tikus sembarangan itu jahat banget, ya,” si Ibu menahan diri untuk tidak menangis.”Padahal si Putih kan cuma mencari makan untuk bertahan hidup, sama seperti kita. Belum tentu dia bisa mikir benda yang dia makan berbahaya atau tidak.”

Aku menghela nafas dan tersenyum simpul, memahami perasaan si ibu. Bersama Mita, kupindahkan si Putih ke kandang di ruang rawat inap. Kantong infus menjuntai di satu sisi, sementara kakinya yang telah tertusuk dibebat rapat dengan perban. Si Putih tidur lemas, masih terus mengeong.

Sulit bagiku untuk melepaskan pandangan darinya, apalagi dari kepala hingga ujung kukunya mengingatkanku pada teman main yang telah lama tiada. Asha, bila ini pertanda darimu untuk meneruskan kasih sayang kepada sesamamu, maka kuharap Tuhan menguatkanku untuk menyelamatkan si Putih.

Bagaikan mendengar doaku, si Putih mengedipkan matanya perlahan, seakan berterima kasih. Tenang saja, Putih, kamu pasti akan selamat.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk