GUA BATU

0 dibaca

A

Akar pohon raksasa melilit mulut gua seperti jemari kering. Kael masuk lebih dulu, bahunya menyentuh dinding batu yang sempit. Suara hujan di belakang mereka terdengar jelas, menghantam batang pohon pinus mati. Di kejauhan, cahaya merah dari menara pengawas perbatasan terlihat samar di balik kabut, suara lolongan terdengar bersahutan.

Mata Kael menyipit, pupil mata bulatnyanya berubah menjadi garis vertikal, ia menyisir area dalam gua, kakinya menendang sisa-sisa kayu bakar yang sudah lapuk. Tatapannya berhenri di sudut dinding, sebuah simbol kapak silang terukir kasar pada batu.

Wesi melemparkan tas besarnya hingga berdentum. Ia menghempaskan punggung ke dinding batu yang lembap. “Gua sialan. Bau pesing serigala.”

Kael menoleh sebentar, gigi taringnya memanjang.

Nila masuk terakhir, langkahnya terseret. Ia menyandar pada akar pohon, tangannya mencengkeram dinding batu. Wajahnya pucat pasi, sisa darah mengering di sudut matanya.

Wesi memantik api kecil. Ia mengeluarkan pisau berkarat, lalu menempelkan mata pisaunya ke nyala api hingga logam itu memerah.

Arkan menarik Nila duduk di atas tumpukan jerami kering di sudut gua. Nila menjatuhkan tubuhnya. Arkan menyodorkan botol air kayu ke mulut Nila. Nila membuka mulutnya, meneguk habis air dari dalam botol.

Kael berdiri di tengah gua, Cahaya bulan masuk lewat celah akar dan retakan batu. Tangannya menarik kain pakaiannya yang sudah hancur di bagian bahu. Otot-ototnya mulai menyusut, memar merah di kulitnya perlahan memudar.

Wesi melirik Kael. “Suatu hari nanti kau bakal pulang telanjang.” Jemarinya memutar pisau. “Mungkin aku harus mulai menagih biaya sewa celana.”

Kael menarik sobekan celananya. “Sekalian bikin yang banyak, dan lebih kuat kainnya.”

Nila menatap memar di kulit Kael yang sudah menghilang. “Kalau saja aku dapat Darah perubahan, mungkin aku tidak akan menyusahkan setiap kali kita selesai bertarung.” Uap panas keluar dari sela bibirnya yang pucat. “Kekuatan manipulasi tidak cocok buat orang sepertiku yang staminanya payah.”

Kael merogoh kantong kecil di pinggangnya. Ia mengeluarkan botol kaca berisi Darah Merah pekat. Darah itu berputar perlahan, menabrak dinding kaca seolah mencari celah untuk keluar. Arkan menatap sebentar ke botol lalu membuang muka.

“Monster tadi hampir jadi Monster Asli.” Kael menatap botol itu. “Darahnya pekat.”

Wesi mendekat, bayangan botol kaca terpantul di pupil matanya, setengah wajahnya gelap terhalang bayangan dari cahaya api. “Kalau kita jual di kota perbatasan, kita bisa makan daging segar dan bir enak seminggu penuh.” Ia menatap bagian bawah botol kaca, cap lilin hitam milik militer masih menempel setengah robek.

“Kalau kita tidak dirampok tentara atau bandit di jalan,” timpal Nila pelan. Suaranya serak. “Darah itu menarik perhatian banyak lalat.”

Kael menggeser botol itu ke arah Arkan. “Ambil.”

Arkan menoleh. “Sudah kukatakan. Simpan saja.”

“Ototmu tidak akan berguna kalau lawanmu monster tingkat tinggi, Arkan!” Kael menaikkan nada suaranya. “Kau hanya manusia. Sekali sabet, kau mati. Selesai.”

“Masih lebih baik daripada jadi budak benda hidup itu,” sahut Arkan. Matanya melirik pantulan cahaya merah dari botol, memancar di kulit tangannya. “Kalian membiarkan parasit tinggal di dalam jantung kalian sendiri.”

Nila membuka matanya yang merah, jemarinya meremas jerami kering di bawah tubuhnya hingga berderit. “Kau bicara seolah Darah ini memilih jadi seperti ini. Kami hanya wadah, Arkan. Tanpa kami, benda ini hanya monster. Tanpa benda ini, kami hanya mangsa.”

Wesi terdiam, matanya menatap api unggun yang mulai mengecil. “Kalian ingat Jargo?”

Kael menoleh. Nila menunduk.

“Pemburu veteran paling hebat yang pernah kukenal,” lanjut Wesi. Suaranya merendah, nyaris tenggelam oleh letupan bara api unggun, abu panas memercik ke tanah. “Terlalu sering menggunakan kekuatan Darah. Suatu pagi, dia bangun tapi tidak bisa bicara. Kulitnya jadi keras seperti kerak pohon. Dia mulai menggeram ke arah istrinya sendiri.”

Krak. Bunyi kayu patah di tumpukan api unggun terdengar saat Wesi mengambil salah satu kayunya.

“Kami harus menusuk jantungnya saat dia mulai memakan tangan temannya sendiri. Darah itu mengambil alih seluruh kepalanya. Dia bukan lagi Jargo.”

Jempol Arkan menggesek gagang kapaknya pelan, urat di punggung tangan Arkan menegang. Kael hanya terdiam, menatap botol Darah, tanganya gemetar.

Hembusan angin dari Hutan Mati masuk melalui pintu gua. kobaran api bergoyang pelan, bayangan memanjang lalu memendek di dinding gua.

Wesi membuka tasnya, mengeluarkan daging kering lalu melemparkannya ke pinggir api unggun. Tangan satunya meraih kuali kecil, menggantungkannya di atas api, lalu menuangkan air dan bumbu ke dalam kuali.

Kael melangkah keluar gua. Wesi membagikan daging yang sudah hangat. Nila tertawa kecil, menutup mulutnya saat Wesi memotong sedikit jatah daging Kael. Kael menoleh sebentar, menatap jatah dagingnya terpotong, lalu mendendang pelan kaki Wesi. Arkan duduk di antara mereka, menyesap sup yang hambar.

Arkan memejamkan mata, pancaran panas api yang menyentuh kulitnya. Ia tertidur dalam posisi duduk. Kelopak matanya bergetar, jemarinya mengais tanah, mencengkeram akar kering. Kejadian dua belas tahun lalu kembali tergambar di kepalanya.

Kobaran api setinggi atap rumah terlihat dari kejauhan. Suara kayu terbakar yang meletup. Jeritan yang terputus di tengah jalan.

Arkan menatap wajah gelap Seorang wanita mendorongnya ke arah semak-semak. Tangan wanita itu gemetar, berlumuran cairan marun.

”Lari... Arkan... lari...”

Bayangan sosok tinggi berjubah berdiri di tengah abu, memegang tombak panjang.

”Lari!”

Arkan tersentak bangun, napasnya memburu, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Matanya menyusuri setiap sudut gua. Nila dan Wesi tidur berdampingan. Matanya beralih ke pintu, ia menatap punggung Kael yang duduk di dekat pintu.

Arkan berdiri, berjalan keluar gua. Hujan sudah berhenti, aroma bau tanah basah dan kabut tebal menelan batang-batang pohon Pinus. Jauh di balik pepohonan, tembok batu perbatasan terlihat samar, membelah hutan seperti luka panjang hitam di tengah dunia.

Sret... Sret...

Suara gesekan dedauan terdengar dari dalam Hutan Mati. Arkan menggenggam gagang kapaknya hingga buku jarinya memutih.

“Kalau suatu hari nanti kau dipaksa memilih hidup atau mati,” suara Kael terdengar dari balik bayangan gua, tanpa menoleh ke arah Arkan. “Jangan sok jadi manusia paling keras kepala di dunia.”

Mata Arkan terpaku ke arah kabut di depan gua. Di balik pepohonan yang hitam, sebuah siluet besar bergerak perlahan.

Arkan dan Kael terpaku di mulut gua. kepala mereka mendongak. Cahaya bulan di belakangnya membuat sosok itu terlihat seperti lubang hitam setinggi tiga meter. Kalung lonceng besi yang digantung warga perbatasan di batang-batang pinus berbunyi pelan tertiup angin malam.

Kael tidak sempat berbalik penuh. Sosok itu melesat.

BUM.

Lengan raksasa sebesar batang pohon menghantam mulut gua. Arkan berguling ke samping, debu dan serpihan batu menyembur ke wajahnya. Suara gemuruh langit gua runtuh terdengar jelas.

Bongkahan tanah sebesar kerbau jatuh dari atas lembah di atas gua menimbun lubang pintu. Retakan panjang menjalar sampai ke tiang penanda jalur dagang di dekat lereng, merobohkan lambang kerajaan yang sudah berlumut.

“WESI! NILA!” Arkan bangkit, tinjunya memukul permukaan tanah yang menutup jalan masuk.

Suara tulang bergeser terdengar samar di belakangnya. Arkan menoleh, tubuh Kael bergetar hebat, lehernya memanjang, bulu hitam kaku menusuk keluar dari pori-porinya secepat jarum. Kedua tangan Kael menyentuh tanah, ia berubah menjadi Direwolf hitam pekat setinggi dua meter, matanya merah menyala di tengah kabut.

Monster itu meraung, suaranya menggetarkan air di genangan lumpur. Ia menerjang Kael.

Kael melompat di udara. Taringnya mengunci dada monster itu. Mereka bergulung, merusak semak, mematahkan pohon-pohon pinus di sekitar gua. Kepingan salju tipis yang menempel di ujung daun pinus ikut berjatuhan bersama serpihan kulit kayu.

Arkan mencengkeram kapaknya, lalu berlari di antara dahan patah. Ia melompat ke punggung monster itu, mengayunkan mata kapak dengan seluruh berat tubuhnya ke pundak sang makhluk.

KRAK.

Kapaknya memantul. Bahu Arkan bergetar hebat sampai ke sumsum tulang. Monster itu mengibaskan tubuh, Arkan terlempar menghantam batang pohon. Darah segar keluar dari mulutnya.

Kael melepaskan gigitannya, cakarnya menghujam dada monster, darah marun menyembur, perlahan menetes saat luka di dada monster perlahan menutup. Kael beralih ke leher, kepalanya bergoyang. Rahangnya menarik segumpal daging, lalu melemparkan daging itu ke barisan pohon pinus.

Mata Arkan menatap pohon pinus perlahan layu terkena daging monster yang di lempar Kael. Mata Arkan beralih ke monster, monster itu jatuh tengkurap tertindih tubuh Kael, uap panah keluar dari mulut Kael.

Tanah di bawah kaki Arkan bergetar, serpihan batu bergeser.

Srek. Tanah yang menutupi pintu gua terlempar ke samping.

Arkan menoleh, Nila berdiri di balik tanah yang bergeser, tangannya terentang gemetar ke depan pintu gua. Wajahnya seputih kertas. Garis merah tipis di bawah mata Nila semakin gelap. Detik berikutnya, matanya memutar ke atas, ia terkulai jatuh.

Kael menoleh ke arah Nila. Cakarnya yang menekan tubuh monster sedikit terangkat. Tubuh monster itu menyentak, ia bangkit. Kael terlempar ke belakang, menabrak barisan pohon pinus.

Arkan berbalik ke monster, kedua tangannya mencengkram kapak, urat pergelangan tangannya menonjol. Ia berlari ke arah monster, lalu merosot, melewati kolong monster. Ia memutar tubuhnya, menebas pergelangan kaki monster dengan seluruh berat tubuhnya.

Bum. Monster itu limbung. Tubuh raksasanya ambruk di depan mulut gua.

“KAEL! MUNDUR!” Arkan melesat melewati tubuh monster. Ia menyambar tubuh Nila, lalu menggendongnya, menjauh dari tubuh monster.

Wesi merangkak keluar dari debu, terbatuk-batuk. Kael menyusul, mengikuti langkah Arkan, rahangnya menggigit kerah baju Wesi.

Mereka berhenti setelah melewati dua pohon pinus. Arkan memindahkan tubuh Nila ke punggung Kael yang masih dalam bentuk serigala hitam.

Mereka melesat menembus kabut. Arkan memacu kakinya di atas lumpur yang licin. Mereka terus berlari menembus kegelapan hutan, menjauh dari gua yang sudah hancur.

Arkan melambat, lalu berhenti di balik pohon raksasa, napasnya memburu. Ia menoleh ke belakang, menyeka keringat yang bercampur debu di dahinya. Hutan itu mendadak sunyi.

Mata Arkan menyipit. Monster itu masih terlihat samar di kejauhan. Monster itu mematung di antara kabut, berdiri tegak seperti monumen hitam.

SRET.

Kepala monster itu terangkat ke udara. Terpisah dari lehernya dalam satu gerakan halus yang nyaris tak terlihat. Tubuh raksasa itu tetap berdiri kaku selama dua detik, darah marun muncrat seperti air mancur ke batang pohon di sekitarnya. Kulit batang pinus menghitam, mengelupas saat terkena cairan itu.

Bum. Tanah di bawah kaki Arkan bergetar. Tubuh monster itu tumbang menghantam tanah.

Arkan membeku. Pupil matanya melebar menatap ruang kosong di atas leher monster yang sudah mati. Kabut bergerak pelan melewati bangkai tanpa kepala tersebut.

“Lari,” bisik Kael. Suaranya kembali menggeram.

Arkan berbalik, kembali berlari menembus gelap. Di sela pepohonan, cahaya merah menara pengawas kadang muncul lalu hilang ditelan kabut.


Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk