Ribuan tahun kemudian.
Aroma besi dan tanah busuk mengudara di Hutan Pinus Utara. Kabut tebal menggantung rendah, menempel di zirah kulit yang lembab. Lumut hitam menempel di sebagian akar pohon, membentuk pola seperti urat yang menjalar ke dalam tanah. Bekas sayatan cakar hitam terlihat mengering seperti luka lama di beberapa pohon pinus. Tidak ada hewan yang tinggal terlalu lama di Hutan Pinus Utara. Sekawanan burung menghindari hutan pinus utara yang menjadi sarang Darah liar.
“Jangan terburu-buru kontrak, Arkan!” teriak Kael. Suara itu bergetar, air liur kental menetes ke zirah kulitnya.
Suara robekan kain dan daging terdengar dari belakang Arkan. Tubuh Kael melesat di antara batang pohon, ia berubah ke bentuk manusiaserigala. Otot bahunya membesar dua kali lipat hingga merusak jahitan bajunya, telinganya meruncing, kuku-kukunya memanjang hitam dan tajam. Uap hangat keluar dari sela giginya setiap kali ia bernapas. Bau bulu basah dan tanah tercampur dengan aroma darah memenuhi udara.
Arkan berguling di antara akar pohon yang licin, menghindari sabetan ekor monster yang menyerupai gumpalan daging busuk, dipenuhi duri tulang. Kapak pendek di tangannya bergetar hebat karena hantaman sebelumnya. Sabuk kulit di pinggang Arkan dipenuhi botol-botol kecil penyegel Darah.
“Aku tidak butuh Darah, Kael. Aku hanya butuh makhluk ini mati!” Arkan menendang batang pohon, ia terbang ke udara. Tangannya menahan getaran gagang kapak. Ia mengayunkan kapak ke sendi kaki belakang monster itu.
Krak.
Suara tulang patah terdengar. Monster itu limbung, luka di kakinya berdenyut. Daging yang terbelah bergerak seperti cacing basah, merayap perlahan mendekati tubuhnya.
“Nila, kunci!” seru Kael, cakarnya mencengkeram leher monster itu.
Nila berdiri sepuluh langkah di belakang mereka. Wajahnya pucat, matanya menyala merah tipis, tanah di bawah makhluk itu tiba-tiba melunak seperti rawa, mengisap kaki-kakinya yang tersisa. “Sekarang! Aku tidak bisa menahannya lama-lama!” teriak Nila. Suaranya serak.
Wesi melompat dari dahan pohon, meluncur turun seperti meteor. Pedang dua tangannya membelah udara, menebas lurus dari punggung hingga ke perut monster itu. Cairan merah kental menyembur, membasahi wajahnya. Monster itu melolong. Isinya berdenyut liar, dagingnya merambat, menyambung kembali bagian yang terpisah
“Arkan, selesaikan!” Kael mengerang. “Intinya belum keluar.”
Arkan merangsek maju. Ia melompati punggung Kael, kapaknya terangkat tinggi.
Ia menghantamkan kapaknya tepat ke tengah rongga dada makhluk itu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hantaman keempat menghancurkan inti keras di dalamnya.
Monster itu tumbang. Dagingnya mencair menjadi uap hitam, menyusut cepat, satu gumpalan merah seukuran kelereng berdenyut pelan di atas lumpur.
“Ambil,” Kael kembali ke bentuk manusianya. Ototnya menyusut perlahan, asap tipis mengepul dari luka di tubuhnya. “Pakaianku akan habis kalau aku selalu berubah ke bentuk hybird.” Ia menatap Arkan, napasnya memburu. “Ini jatahmu. Kau yang paling butuh kekuatan ini jika ingin tetap hidup di skuadku. Kau tidak bisa selamanya mengandalkan kapak tua itu.”
Arkan menatap gumpalan merah itu, lalu memalingkah wajahnya. “Aku masih punya kaki untuk lari dan tangan untuk memukul.” Ia menyeka darah monster di pipinya. “Simpan saja untuk yang lain.”
“Jangan bodoh,” desis Nila, ia berjalan tertatih mendekat. “Pasukan kerajaan akan segera sampai. Mau sampai kapan kau mengandalkam ototmu? Darah ini adalah cara untuk selamat.”
Matanya menatap ke kegelapan hutan. Suara derap kaki kuda terdengar mendekat. “Kita pergi sekarang,” Suaranya rendah. Ia mengeratkan sabuk senjatanya hingga kulit tangannya memutih.
Derap kuda semakin jelas. Cahaya obor menembus sela-sela pohon pinus, memantul pada zirah perak yang terlalu bersih.
“Sial, mereka lebih cepat dari biasanya,” kutuk Kael. Ia memungut gumpalan Darah pekat di tanah, memasukkannya ke dalam botol kecil. “Nila, hapus jejak!”
Nila mengangguk pelan. Ia menghentakkan kakinya, tanah berlumpur yang tadi menjadi rawa kini menutup, menelan sisa-sisa cairan hitam monster hingga tak berbekas.
“Lari!” bisik Kael.
Mereka melesat menembus semak berduri. Arkan berlari paling belakang.
“Berhenti!” Perintah pemimpin detasemen. pasukan kerajaan berhenti tepat di area pertempuran.. “Cek area ini. Aku mencium bau busuk monster yang baru saja mati.”
Arkan menahan napas, tubuhnya merapat ke dinding batu yang dingin. Ia menatap siluet ksatria kerajaan turun dari kuda. Jubahnya putih bersih, lambang beruang kutub berdiri di pundaknya.
Ksatria itu berjalan ke arah tanah yang tadi ditutup oleh Nila. “Tanahnya baru saja digeser.” Ia berlutut, menyentuh tanah dengan ujung jarinya. “Manipulasi elemen tanah.” Lumpur menempel pada sarung tangannya.
“Cari mereka,” ksatria itu berdiri. “Pemburu liar yang membunuh monster tanpa izin adalah hama. Dan jika ada manusia normal di antara mereka, eksekusi di tempat.”
Di kejauhan, di balik kabut dan puncak pohon pinus, bayangan menara pengawas kerajaan berdiri samar dengan api merah menyala di puncaknya.
Kael mmenepuk bahu Arkan, berjalan menjauh dari semak. Mereka merayap di balik bayangan tebing, masuk lebih dalam ke bagian Hutan Mati.
Tidak ada suara serangga. Pohon-pohonnya pucat seperti tulang, tanahnya dipenuhi akar hitam yang terlihat seperti urat nadi raksasa di bawah permukaan.
Dua jam kemudian, mereka sampai di gua kecil, tersembunyi di balik air terjun kering.
Wesi ambruk di sudut gua, pedang besarnya dilempar asal. Nila duduk bersandar pada dinding batu, wajahnya pucat pasi, napasnya mulai berat.
“Kita hampir mati tadi.” Wesi mengusap wajahnya yang penuh jelaga. “Ksatria tadi... itu Kapten Detasemen Ketujuh. Aku kenal lambang di pundaknya.”
Kael duduk di depan Arkan, meletakkan botol berisi Darah merah di antara mereka. “Kau lihat sendiri kan? Kerajaan tidak main-main. Jika tadi kita tertangkap dan kau tidak punya Darah, kepala kau sudah menggelinding di lumpur.”
Arkan menatap botol itu. Darah di dalamnya berdenyut, seolah-olah memiliki detak jantungnya sendiri. “Kalian semua bicara seolah Darah ini adalah penyelamat,” suaranya rendah. “Bagiku, benda itu cuma rantai. Kalian menelan makhluk purba agar bisa jadi kuat, tapi kalian lupa kalau kalian menyerahkan separuh kemanusiaan kalian pada mereka.”
“Kemanusiaan tidak bisa menebas leher monster, Arkan!” bentak Kael. “Dan kemanusiaan tidak akan melindungimu dari pedang kerajaan!” Kael mencondongkan tubuh. Cahaya api kecil dari obor darurat memantul di pupil mata merahnya yang belum sepenuhnya kembali normal.
“Kakekku bertahan hidup tanpa benda itu sampai dia tua,” balas Arkan.
“Dan kakekmu mati karena dia tidak punya kekuatan untuk melawan saat rumah kalian dibakar!”
Suara tetesan air dari langit-langit gua terdengar jauh lebih jelas. Wesi mengangkat kepala.
Arkan berdiri, tangannya menggenggam erat gagang kapak. “Dia mati sebagai manusia. Bukan sebagai monster peliharaan kerajaan.”
Ia berjalan menuju mulut gua. Matanya menatap rintik ari hujan, menghapus sisa-sisa jejak pelarian mereka. Arkan menunduk meanatap kerikil di dekat kakinya, kerikil itu bergeser beberapa milimeter.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!