Cewek Kentang

2 dibaca

A

Ray pertama kali mulai jatuh cinta sama Vanessa pas cewek itu mendadak berubah jadi kentang.

Bukan kiasan.

Beneran kentang. Kentang rebus segede gaban.

Tahun pertama mereka masuk SMA dimulai dari kasur kamar masing-masing.

Nggak ada tuh yang namanya gedung sekolah baru, sesi perkenalan canggung di depan kelas, momen nyasar di lorong yang asing, apalagi drama duduk di sebelah orang aneh yang terpaksa lo temenin sampai akhir semester.

Yang ada cuma satu tautan Google Meet.

Tiap pagi, ada dua puluh delapan kotak kecil yang nongol di layar laptop Ray.

Dan sebagian besar kotaknya... gelap gulita.

RIZKY P.

NADIA.

M. ALDO.

Samsung Galaxy A51.

Sampai hari ini, Ray nggak pernah tahu siapa sebenarnya sosok di balik nama Samsung Galaxy A51 itu.

Orang itu rajin masuk kelas, tapi seumur-umur nggak pernah nyalain kamera, jarang banget ngomong, dan entah gimana caranya bisa bertahan hidup selama satu tahun ajaran penuh dengan identitas resmi sebuah telepon genggam.

Ray sendiri nggak jauh lebih baik.

Kamera: mati.

Mikrofon: bisu.

Raga: hadir.

Jiwa: entah lagi melayang ke mana.

Tapi Vanessa beda cerita.

Kameranya hampir selalu menyala.

Itu sebabnya dalam hitungan hari, seisi angkatan langsung hafal namanya.

Lagipula, susah banget buat nggak merhatiin Vanessa.

Dia cantik.

Tapi ya... cewek cantik di dunia ini kan banyak.

Masalah utamanya adalah: Vanessa juga kelewat pinter.

“Oke,” kata guru matematika mereka di suatu pagi yang mendung. “Ada yang bisa jelasin nomor tiga?”

Ikon tangan digital Vanessa langsung terangkat.

“Ya, Vanessa?”

“B, Bu.”

“Alasannya?”

Vanessa langsung nyerocos ngejelasin rumusnya panjang lebar.

Ray cuma mudeng sekitar sepuluh persennya.

Sisanya yang sembilan puluh persen tampaknya cuma Bu Guru dan Tuhan yang paham.

“Tepat sekali. Bagus, Vanessa.”

Vanessa tersenyum manis ke kamera.

Ray sempat bengong natap kotak kecil Vanessa tiga detik lebih lama dari yang seharusnya.

Detik berikutnya, dia nggak sengaja ngeliat penampakan mukanya sendiri di kotak preview kecil di sudut layar.

Rambutnya acak-acakan kayak sarang burung ketabrak angin muson.

Detik itu juga, Ray buru-buru matiin kamera.

Rambutnya mendadak jadi darurat nasional yang mengancam harga diri.

Selama dua bulan berikutnya, begitulah cara Ray mengenal Vanessa.

Cuma sebatas kotak persegi panjang kecil di laptopnya.

Vanessa rajin nanya.

Vanessa rajin jawab.

Kadang-kadang dia benerin omongan guru yang keliru, tapi hebatnya, intonasi bicaranya nggak pernah kedengeran sok tahu atau nyebelin.

Dia juga selalu kelihatan segar bugar dan melek tiap pagi—hal yang menurut Ray sangat mencurigakan buat ukuran remaja normal.

Sampai akhirnya... insiden kentang itu terjadi.

Waktu itu pelajaran Matematika.

Jam setengah delapan pagi.

Waktu keramat di mana anak umur tujuh belas tahun belum layak dituntut buat memahami deret angka.

Bu Guru lagi sibuk ngejelasin materi di papan tulis virtual pas tiba-tiba suaranya mendadak putus.

“Vanessa.”

“Iya, Bu?”

“Kenapa muka kamu jadi kentang?”

Dua puluh tujuh anak yang tadinya koma di depan layar mendadak melek seratus persen.

Ray langsung melotot ke layarnya.

Dari leher ke bawah, Vanessa tampak normal dengan seragam sekolahnya.

Tapi dari leher ke atas... kepalanya berubah jadi kentang cokelat raksasa.

Kentang yang punya mata, mulut, dan ekspresi yang luar biasa ekspresif.

“Nggak tahu, Bu.”

“Matiin filternya, Vanessa.”

“Ini lagi dicoba, Bu.”

Blep.

Kentang itu hilang.

Kira-kira cuma bertahan satu detik.

Lalu Vanessa berubah jadi alien hijau bermata tiga.

Seseorang di kelas nggak sengaja nyalain mikrofon cuma buat ketawa ngakak.

“Vanessa!”

“Aduh, maaf Bu!”

Blep.

Aliennya hilang.

Sekarang kepalanya punya kumis tebal bapack-bapack ala kompeni Belanda.

Ray langsung buru-buru nge-mute mikrofonnya sendiri.

Pundaknya udah gemetaran nahan tawa sampai perutnya kram.

“Vanessa, tolong dong, Ibu lagi serius ini.”

“INI UDAH DICOBA MATIIN DARI TADI, BU!”

Blep.

Kumisnya hilang.

Gantinya kacamata disko kelap-kelip bentuk hati.

“VANESSA!”

Layarnya langsung gelap.

Hening.

Bu Guru menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak buat mengumpulkan sisa-sisa kesabaran hidupnya.

“Oke. Kita lanjut ya...”

Tiba-tiba terdengar suara Vanessa masuk lewat mikrofon.

Tapi suaranya... berat dan bergema kayak monster luar angkasa abis nelen knalpot racing.

“Maaf ya, Bu...”

Seisi Google Meet langsung meledak tanpa ampun.

Ray sampai ngejedotin kepalanya ke meja saking nggak sanggupnya nahan ketawa.

Bahkan Bu Guru pun kelihatan lagi bertarung mati-matian antara wibawa mengajar dan keinginan buat ngakak guling-guling.

“SUARANYA JUGA DIUBAH, VANESSA!”

“SAYA NGGAK TAHU CARANYA GIMANA INI, BU!”

“Keluar dari Meet sekarang!”

“Hah? Gimana, Bu?”

“Keluar dulu, terus masuk lagi!”

Vanessa menghilang dari daftar peserta.

Tiga puluh detik kemudian, notifikasi muncul di layar.

*Vanessa A. has joined the meeting.*

Kamera menyala.

Wajah normal.

Suara normal.

Rambutnya sedikit berantakan.

Dan Vanessa duduk di sana dengan tampang polos seolah-olah barusan nggak ada insiden mistis apa-apa.

Bu Guru menatapnya tajam selama beberapa saat.

Vanessa cuma tersenyum sopan tanpa dosa.

“Maaf ya, Bu.”

“Bisa kita mulai serius sekarang?”

“Bisa, Bu.”

“Bagus.” Bu Guru menarik napas dalam-dalam. “Sekarang, ada yang bisa jelasin kenapa jawaban nomor enam bukan C?”

Tangan digital Vanessa langsung naik lagi tanpa ragu.

Tawa Ray langsung terhenti seketika.

“Ya, Vanessa?”

“Jawabannya A, Bu.”

“Alasannya?”

Dan Vanessa pun menjelaskan.

Lancar, runtut, dan sempurna.

Bu Guru cuma bisa menghela napas pasrah.

“Tepat sekali.”

Ray menatap kotak kecil Vanessa lagi.

Cantik.

Pinter banget.

Tapi gapteknya di luar nalar sampai nggak bisa matiin filter kentang.

Menarik juga, batin Ray.

Bagus ini, disclaimer penggunaan AI dalam proses kreatif.

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk