Dia Sadar

1 dibaca

A

Obrolan pertama mereka yang sesungguhnya di luar urusan kelas dimulai gara-gara tugas Fisika sialan.

Malam itu, Ray lagi rebahan di kasurnya sambil natap langit-langit kamar pas HP-nya bergetar di atas dada.

*Vanessa: p*

*Vanessa: hei*

Ray langsung terduduk tegak.

Dia melotot menatap notifikasi itu.

Lalu natap nama pengirimnya.

Lalu balik natap layarnya lagi buat mastiin matanya nggak salah liat.

Dia sengaja nunggu sekitar empat puluh detik sebelum membalas, biar nggak kelihatan kayak cowok kesepian yang nungguin chat seharian.

*Ray: ya?*

*Vanessa: lo udah ngerjain tugas fisika blm?*

Tentu saja belum.

Jangankan ngerjain, buka filenya aja belum.

*Ray: dikit lg kelar sih*

Bohong banget.

*Vanessa: nomor 7 maksudnya apa dah ga masuk akal bgt*

Ray langsung panik buka laptopnya dengan kecepatan kilat, mencari file PDF tugas Fisika.

*Ray: iya emg agak aneh tuh nomor 7*

Bukan aneh.

Ray emang sama sekali nggak ngerti nomor tujuh.

Lima menit kemudian, sebuah pesan baru meluncur ke layarnya.

*Vanessa: call gmeet berdua aja yuk?*

Punggung Ray mendadak tegak sembilan puluh derajat.

Dia langsung panik ngecek rambutnya di cermin.

Ganti kaos oblong lusuhnya dengan kaos yang mendingan.

Terus ngelempar tumpukan cucian kotor di belakang kasur ke luar sudut pandang kamera.

Setelah semua area steril, dia nunggu tiga puluh detik lagi.

*Ray: gas*

Sesi belajar bersama yang niat awalnya ngerjain tugas itu akhirnya berlangsung selama tiga jam penuh.

Waktu yang bener-bener dipake buat mikir tugas fisika? Paling banter empat puluh menit.

Sisanya? Vanessa ngedongeng.

Cewek itu punya mimpi besar: dia pengen bikin film.

Bukan jadi artisnya.

Tapi jadi sutradara.

“Gue pengen jadi sutradara,” katanya antusias.

“Sutradara... film?” tanya Ray.

“Bukan, Ray. Sutradara lampu merah, mau ngatur lalu lintas,” sahut Vanessa enteng.

Ray ngakak. “Ya kan gue nanya doang.”

“Iya lah, film!”

Kepala Vanessa ternyata penuh banget sama ide-ide liar yang nggak ada remnya.

Mulai dari film horor tentang cewek yang terus-terusan dapet telepon dari dirinya sendiri di masa depan.

Film romantis yang semua adegannya cuma terjadi di dalem lift macet.

Film tanpa dialog sama sekali.

Sampai ide bikin film yang seluruh sudut pandang kameranya diambil dari dalem kulkas.

“Kenapa harus dari dalem kulkas dah?” tanya Ray heran.

“Kenapa nggak?”

“Ya kan itu kulkas, Van. Isinya telor sama kecap doang.”

“Justru di situ letak seninya!”

Ray nggak paham sama sekali letak seninya di mana.

Tapi Vanessa kelihatan yakin banget seolah itu mahakarya dunia.

Cewek itu terus nyerocos soal jenis kamera, tata cahaya, naskah, festival film internasional, sampai sutradara-sutradara independen asal Prancis yang namanya bahkan nggak bisa dieja sama Ray.

Tiba-tiba Vanessa ngambil buku tulis bersampul cokelat dan memamerkannya tepat di depan kamera laptop.

Di halamannya ada enam kotak coret-coretan spidol yang bentuknya abstrak banget.

“Ini gue lagi liat apaan dah?” tanya Ray sambil menyipitkan mata.

“Storyboard gue lah!”

“Itu yang di kotak dua gambar orang?”

“Itu cewek lagi sedih.”

“Kirain kursi kondangan patah.”

“Lo bukan target pasar gue, Ray!”

Ray ketawa lepas.

Dia suka banget dengerin Vanessa ngomong.

Cara Vanessa membicarakan masa depannya tuh beda dari kebanyakan anak SMA seumuran mereka yang pernah Ray kenal.

Biasanya anak-anak lain bakal ngomong:

*Mungkin nanti gue mau nyoba masuk kedokteran.*

*Kayaknya gue mau kuliah teknik deh.*

*Gimana nanti aja lah, liat hasil UTBK.*

Tapi Vanessa nggak pernah pake kata “mungkin” atau “kayaknya”.

“Pas gue bikin film pertama gue nanti...”

“Pas gue masuk sekolah film...”

“Pas gue nyutradarain film panjang pertama gue...”

*Pas.*

Bukan *kalau.*

Dia ngomongin mimpi-mimpinya seolah semua hal itu udah nungguin dia dengan sabar di masa depan.

Buat Ray, aura keyakinan itu luar biasa memikat.

“Nah, kalau lo sendiri mau jadi apa, Ray?” tanya Vanessa tiba-tiba, matanya menatap lurus ke kamera.

Ray terdiam. Tenggorokannya mendadak kaku.

“Gue?”

“Iya, lo. Impian lo apa?”

“Nggak tahu ya. Belum ada kepikiran.”

“Masa nggak punya sama sekali?”

“Kayaknya ada sih... tapi masih nyelip di mana gitu.”

Vanessa mengerutkan kening, menatapnya heran. “Kok bisa impian sendiri nyelip?”

“Ya nanti kalau udah ketemu, gue kabarin lo.”

Vanessa memandang wajah Ray lekat-lekat lewat layar laptop.

Lalu cewek itu mengangguk mantap dengan ekspresi super serius.

“Oke.”

“Oke apa?”

“Nanti gue bantuin cari.”

Ray tersenyum tipis.

Cara Vanessa ngomong barusan tuh santai banget.

Seolah-olah nyari tujuan hidup orang lain itu cuma perkara ngerjain PR tambahan yang gampang diberesin.

“Boleh deh.”

Ray nggak bilang ke Vanessa kalau di detik itu juga, apa pun yang disuruh cewek itu, kayaknya dia bakal ngangguk setuju tanpa mikir dua kali.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk