Hanya Vanessa

0 dibaca

A

Sinar matahari sore perlahan-lahan mulai tenggelam sepenuhnya di balik siluet cakrawala gedung-gedung bertingkat kota Jakarta.

Lalu suara Vanessa terdengar lagi, mengalun tenang membelah angin senja:

“Obat dan proses terapinya itu... beneran bikin isi kepalaku jauh lebih tenang, Ray.”

Ray menunggu kelanjutannya dalam diam.

“Aku sekarang udah nggak ngerasa terpuruk di jurang depresi lagi.” Cewek itu menengadah menatap langit sore yang perlahan menggelap kelabu. “Tapi di sisi lain... aku juga udah nggak pernah bisa melayang terbang tinggi lagi di atas awan sana.”

Vanessa mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi ke udara, lalu menurunkannya kembali ke pangkuannya.

“Nggak ada lagi letupan ide-ide raksasa yang meledak di jam tiga subuh.”

“Bagus lah kalau gitu, biar jantungku nggak senam terus,” sahut Ray mencoba melucu.

Vanessa langsung melotot sebal menatapnya.

“Maaf, keceplosan,” ralat Ray cepat.

“Nggak ada lagi perasaan jemawa yang ngerasa kalau aku bakal sanggup bikin lima film layar lebar dan menyapu bersih semua piala penghargaan dunia sebelum umur dua puluh lima tahun.”

“Jadwal ambisi kamu yang dulu emang kelewat mustahil sih buat ukuran manusia biasa.”

“Dulu sempat aku revisi jadi umur dua puluh tiga tahun lho, inget nggak?”

“Nah, itu makin di luar nalar lagi!”

Sebuah senyuman kecil yang manis merekah di bibir Vanessa.

Namun senyuman itu perlahan memudar kembali, berganti menjadi sebuah tatapan yang sangat dalam dan rapuh.

“Aku sekarang... cuma jadi...” Vanessa tercekat, mencari kata yang paling tepat. “...cuma jadi diriku sendiri, Ray.”

Ray menatap cewek di sampingnya itu lekat-lekat.

Kedua pelupuk mata Vanessa mulai digenangi air mata yang berkilauan ditimpa sisa cahaya senja.

“Bukan Vanessa yang luar biasa hebat dan genius lagi...” bisik Vanessa tersendat.

“Van, dengerin aku—“

“Tolong biarin aku selesai ngomong dulu, Ray,” pinta Vanessa pelan.

Ray mengangguk patuh.

“Bukan sosok Vanessa yang sanggup menaklukkan segala hal di dunia ini...” Cewek itu menarik napas dalam-dalam yang bergetar. “Tapi di sisi lain... juga bukan sosok Vanessa yang terkapar nangis depresi di kasur kamar.”

“Nggak ada lagi fase terbang di puncak tertinggi.”

“Nggak ada lagi fase jatuh di dasar jurang terdalam.”

“Cuma...” Vanessa menoleh menatap wajah Ray dengan bibir bergetar, “...cuma seorang manusia biasa.”

Dada Ray seketika berdenyut ngilu dan sesak mendengarnya.

Vanessa mengusap air mata yang menetes di pipinya dengan punggung tangannya yang kurus.

Lalu cewek itu akhirnya memberanikan diri melontarkan satu pertanyaan pamungkas yang selama berbulan-bulan ini diam-diam paling dia takuti di dalam hidupnya:

“Kalau setelah semua pengobatan ini... aku bakal tetap kayak gini untuk selamanya, Ray...”

Hening sejenak.

“Tetap stabil.”

“Biasa aja.”

“Cuma manusia biasa yang nggak punya keistimewaan apa-apa lagi...” Suara Vanessa bergetar hebat menahan tangis. “...apakah kamu bakal tetep cinta sama aku?”

Ray menatap wajah cewek itu cukup lama dalam keheningan yang syahdu.

Lalu tanpa sepatah kata pun, Ray merogoh ke dalam tas ransel sekolah yang tergeletak di samping kakinya.

Kening Vanessa berkerut heran melihat gerak-gerik cowoknya.

“Kamu lagi ngapain sih, Ray?”

Tangan Ray menarik keluar sebuah benda kecil dari dalam lipatan buku catatannya.

Secarik kertas kuning kecil.

Kertas memo tempel yang sudah usang dan sedikit lecek di sudut-sudutnya.

Sticky note pertama yang dulu pernah ditempelkan di buku tulisnya.

Vanessa seketika mengenali tulisan tangan cakar ayam itu dalam sekali pandang:

*SEMANGAT KUISNYA!*

*JANGAN MAU KALAH SAMA TRIGONOMETRI.*

*— V*

Mata Vanessa seketika membelalak lebar tak percaya menatap kertas usang itu.

“Kamu masih nyimpen kertas memo yang itu, Ray?!”

“Aku nyimpen semuanya tanpa terkecuali, Vanessa.”

“Semuanya?!”

“Iya, semua kertas memo kamu ada di laci meja kamarku.”

“Bahkan kertas memo pas insiden hantu gedung tua itu?!”

“Ada.”

“Kertas memo yang kamu temuin pas nempel di buah kelapa gluntungan?!”

“Lengkap semuanya masih ada.”

Vanessa langsung meledak tertawa geli di sela-sela air matanya yang tumpah membasahi pipi.

Ray perlahan menyimpan kembali kertas tempel kuning itu ke dalam tas ranselnya dengan hati-hati.

Lalu cowok itu memutar tubuhnya menghadap ceweknya, menatap lurus ke dalam bola mata Vanessa yang berkaca-kaca.

“Dari awal... aku nggak pernah jatuh cinta sama diagnosis apa pun itu, Vanessa.”

Ruangan di atas gedung parkir itu seketika diselimuti keheningan yang khusyuk.

“Aku nggak jatuh cinta sama kamu cuma gara-gara kamu sanggup melek nggak tidur semaleman suntuk.”

Ray mengulurkan tangannya, menggenggam erat telapak tangan Vanessa yang dingin di atas pangkuannya.

“Aku nggak jatuh cinta sama kamu cuma karena kamu sanggup nyelesaiin proyek film gila dalam waktu tiga minggu sampai ngeliat sosok cewek misterius itu.”

Vanessa memotong, “Kalau kamu liat aslinya cantik tau!”

“Bisa saya lanjutkan, Saudari Vanessa?”

Vanessa tertawa lalu lanjut menyimak.

“Bukan karena kamu harus selalu tampil lucu tiap detik.”

“Bukan karena kamu harus selalu kelihatan menarik dan memukau di depan semua orang.”

“Dan bukan karena kamu harus selalu memasang topeng bahagia di depan aku.”

Ray berhenti sejenak, mengatur ritme napasnya yang mulai diliputi haru.

“Dan aku... aku nggak seharusnya menuntut kamu buat menjadi semua hal hebat itu cuma supaya mencintai kamu terasa lebih mudah, Van.”

Cengkeraman jemari tangan Vanessa di tangan Ray seketika mengerat kencang, air matanya kian mengalir deras tanpa henti.

Ray tersenyum sangat tulus, binar matanya memancarkan kehangatan yang menenangkan jiwa.

“Jadi ya... Vanessa yang stabil...”

“Vanessa yang membosankan...”

Vanessa langsung memelototinya sambil cemberut di sela tangisnya.

“Aku tadi nggak bilang kalau diri aku ngebosenin ya!”

“Tapi intonasi omongan kamu barusan menyiratkan ke arah sana kok.”

“Aku tarik kembali kata-kataku barusan!”

“Udah terlambat, nggak bisa ditarik lagi.”

“Vanessa yang manusia normal?”

“Wah, itu definisinya malah kedengeran jauh lebih buruk lagi.”

“Ya udah deh, terserah!”

Ray tertawa kecil lalu menggelengkan kepalanya pelan.

“Cukup Vanessa.”

Vanessa menatap wajah cowoknya dengan pandangan nanar yang dalam.

“Hanya Vanessa...” bisik cewek itu mengulang perlahan.

“Iya. Hanya Vanessa seutuhnya.”

Ray meremas lembut jemari tangan ceweknya yang hangat.

“Aku bakal tetep jatuh cinta setengah mati sama cewek yang satu itu.”

Vanessa perlahan merebahkan kepalanya yang lelah ke atas pundak Ray.

Matahari senja kini telah benar-benar tenggelam sepenuhnya di ufuk barat, digantikan oleh taburan lampu-lampu kota metropolitan yang mulai menyala berkilauan di bawah sana.

Nggak ada lensa kamera yang sedang merekam momen itu.

Nggak ada sutradara yang berteriak memberi aba-aba *action*.

Nggak ada alunan musik orkestra latar yang mendramatisasi suasana.

Nggak ada susunan dialog naskah puitis yang sempurna yang dirancang untuk memancing decak kagum penonton bioskop.

Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya... Vanessa tidak lagi merasa perlu untuk mengubah momen nyata ini menjadi sebuah adegan film fiktif.

Cewek itu hanya duduk bersandar diam di sana.

Tidak lagi melayang tinggi di atas awan.

Tidak lagi terpuruk jatuh di dasar jurang yang gelap.

Hanya ada di sini.

Duduk bernapas nyata di samping cowok yang mencintainya.

Dan setelah melewati segala badai peristiwa yang begitu melelahkan dan menguras air mata—

fase terbang di puncak tertinggi,

fase jatuh di jurang depresi terdalam,

sosok cewek misterius tak kasat mata di lorong gedung tua,

dan segala versi kepribadian Vanessa yang pernah dicintai, ditakuti, dirindukan, dan disalahpahami oleh Ray—

mungkin pada akhirnya, versi terpenting dan terindah dari diri seorang Vanessa Adeline sebenarnya bukanlah sebuah “versi” apa pun.

Melainkan sosok manusia tulus dan apa adanya yang tetap tinggal...

tepat saat sorotan kamera telah dimatikan untuk selamanya.

Hanya Vanessa.

Dan Ray... tetap memilih untuk tinggal bersamanya di sana.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk