Setahun Kemudian

0 dibaca

A

Satu tahun setelah kamera itu dimatikan...

Vanessa resmi berhenti membawakan Ray hadiah buah kelapa gluntungan ke sekolah.

Cewek itu juga tidak menggantinya dengan buah mangga gedong gincu.

Atau buket bunga mawar merah.

Kertas-kertas memo tempel kuning pun frekuensi kemunculannya mulai jauh berkurang.

Bukan berarti hilang total sama sekali.

Hanya saja jumlahnya kini jauh lebih terukur dan masuk akal.

Cewek itu sudah mulai bisa tidur normal di malam hari.

Setidaknya, di sebagian besar malam-malamnya.

Dia berangkat ke sekolah setiap pagi dengan seragam putih abu-abunya.

Mengerjakan PR sekolahnya dengan tekun.

Kadang-kadang, ide-ide cerita film baru masih sesekali meletup di kepalanya.

Kadang-kadang tidak ada ide sama sekali.

Dia masih memelihara impian besarnya untuk menjadi seorang sutradara film profesional di masa depan.

Namun ide-ide liar itu tidak lagi datang menyerbu kepalanya sebanyak lima konsep sekaligus dalam satu tarikan napas.

Dia tidak pernah lagi membombardir ponsel Ray di jam 03:22 subuh hanya demi memberi tahu bahwa dia baru saja menemukan formula adegan penutup terhebat sepanjang sejarah sinema dunia.

Dan perlahan-lahan... hari-hari kelam di mana bangun dari kasur terasa seperti memindahkan gunung pun mulai berkurang frekuensinya.

Dokter yang menanganinya menyebut fase kehidupannya saat ini sebagai kondisi yang *stabil*.

Vanessa sendiri sebenarnya masih belum terlalu yakin apakah dia menyukai kata tersebut.

Kata stabil terdengar terlalu biasa bagi jiwa seninya.

Namun ternyata... menjalani kehidupan yang lebih tenang bisa terasa sangat menenangkan dan indah.

Di suatu sore yang cerah sepulang sekolah, Ray mendapati sosok cewek itu sedang duduk bersila sendirian di lantai rooftop gedung parkiran bertingkat.

Gedung parkiran yang sama persis di mana setahun yang lalu mereka berdua pernah tersesat jalan secara estetik demi mengejar pemandangan senja.

Matahari sore di atas langit Jakarta perlahan mulai tergelincir rendah.

Menyebarkan gradasi jingga keemasan yang hangat menyelimuti deretan gedung pencakar langit ibu kota.

Ray melangkah mendekat dan duduk bersila tepat di sampingnya.

“Kamu tahu kan kalau sebenernya kita bisa nongkrong di kafe deket sekolah aja tanpa harus naik Transjakarta jauh-jauh ke sini?” celetuk Ray santai.

Vanessa mengedikkan bahunya tanpa mengalihkan pandangannya dari kaki langit.

“Pemandangan matahari terbenam di sini jauh lebih dapet estetikanya tau, Ray.”

“Tahun lalu pas ke sini kita sempat nyasar muter-muter empat puluh menit ya!”

“Kan nyasarnya yang berjiwa seni!”

“Kamu yang nyasar sendirian ya, bukan kita!”

“Aku tahu kok wilayah geografis umumnya secara garis besar!”

“Kamu barusan nge-zoom out peta Google Maps di HP kamu sampai kelihatan satu benua Asia!”

Vanessa langsung tertawa renyah mendengar sindiran itu.

Ray pun ikut tertawa geli di sampingnya.

Lalu keheningan yang syahdu perlahan kembali menyelimuti mereka berdua.

Vanessa memandangi bola matahari yang kian temaram di ufuk barat.

“Ray...”

“Hm? Kenapa?”

“Aku boleh nanya sesuatu nggak sama kamu?”

“Tergantung pertanyaannya apaan dulu nih.”

“Aku beneran serius kali ini.”

Ray menoleh menatap wajah ceweknya dengan tatapan teduh.

“Iya, mau nanya apa?”

Vanessa menarik kedua lututnya merapat ke dadanya, memeluknya erat-erat.

“Dulu... pas kamu pertama kali kenal sama aku... kondisiku tuh lagi...” Cewek itu tampak mencari kata yang paling pantas di kepalanya, “...lagi heboh dan berlebihan banget kan ya?”

Ray hampir saja tersenyum geli. “Bukan heboh lagi sih, tapi kelewat ekstrem.”

“Ekstrem banget ya?”

“Iya, di luar batas kewajaran manusia normal.”

“Dulu aku selalu sibuk ngerjain segudang hal dalam satu waktu.”

“Fakta tak terbantahkan.”

“Kepalaku selalu dipenuhi ide-ide gila tiap detik.”

“Dan sebagian besarnya idenya bener-bener nggak masuk akal.”

“Ide film di dalem kulkas itu sangat visioner ya!”

“Ide film kulkas itu sama sekali nggak punya alur cerita, Vanessa!”

“Itu namanya eksplorasi sinema eksperimental!”

“Itu isinya cuma makanan sisa kemarin sama telor 12 butir!”

Vanessa langsung menyikut lengan Ray sambil cemberut gemas.

Ray menatap Vanessa beberapa detik sebelum akhirnya berkata santai.

“Kalau nanti kamu mau merealisasikan film-film itu... aku bersedia kok jadi aktornya.”

Vanessa langsung menoleh.

“Oh? Kamu ketagihan?”

Ray mengedikkan bahu.

“Sedikit.”

“Termasuk film kulkas ya?” canda Vanessa.

“Ogah, itu pengecualian.”

Senyuman jahil langsung muncul di wajah Vanessa.

“Nanti kalau jadi aktor papan atas jangan lupain aku ya.”

Ray mendengus.

“Belum apa-apa udah ngaco.”

Vanessa tertawa, dan Ray akhirnya ikut tertawa bersamanya.

Namun tawa di bibir Vanessa perlahan memudar kembali, sorot matanya berubah serius menatap jemari tangannya sendiri.

Ray yang peka langsung menghentikan tawanya.

“Pas kondisi aku lagi di atas sana dulu... kamu suka banget kan ada di deket aku, Ray?” bisik Vanessa pelan.

Ray mendengarkan setiap patah kata itu dalam diam.

“Dulu aku orangnya lucu banget... gampang akrab ngobrol sama siapa aja... bisa ngerjain sepuluh proyek sekaligus... bisa tahan begadang semaleman suntuk dan paginya tetep bisa masuk sekolah dengan ceria...” Vanessa menghentikan kalimatnya sejenak, menelan ludahnya yang tercekat. “Pas waktu itu... aku bener-bener ngerasa kalau aku sanggup bikin mahakarya apa pun di dunia ini.”

Di kepala Ray, memori masa lalu itu kembali berputar jernih:

*Kita bakal menang juara satu.*

Bukan kalimat *mungkin*.

Bukan kalimat *semoga*.

Melainkan kepastian mutlak yang berapi-api.

“Dan pas kondisiku mendadak anjlok terjun bebas ke jurang depresi kemarin...” Suara Vanessa mengecil menjadi bisikan yang sangat perih. “...aku mendadak kehilangan semua kemampuan hebat itu tanpa sisa.”

Ray tetap memilih bungkam mendengarkan.

“Bahkan pas film kita resmi diumumin lolos finalis nasional... aku sama sekali nggak sanggup ngerasain secuil pun rasa bahagia, Ray.”

“Iya, aku inget momen itu, Van.”

“Aku nggak sanggup lagi bikin karya apa-apa.”

“Aku inget.”

“Aku nggak mau ketemu dan ngobrol sama siapa pun di dunia ini.”

“Aku inget betul, Van.”

Vanessa perlahan menolehkan kepalanya, menatap lurus ke dalam bola mata Ray dengan pandangan menuntut kejujuran:

“Dan pas di masa-masa kelam itu... kamu kangen banget kan sama sosok diri aku yang dulu?”

Ray menelan ludahnya yang terasa sangat berat di tenggorokan.

“Iya, Van,” jawab Ray jujur tanpa tedeng aling-aling.

Dia sebenarnya bisa saja memilih berbohong demi menjaga perasaan cewek itu.

Tapi kali ini, dia memilih untuk tidak berbohong lagi.

Vanessa mengangguk pelan dengan seulas senyuman pasrah di bibirnya.

“Aku udah tahu kok.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk