Yudha terbangun sebelum alarm bunyi.
Hal pertama yang ia lakukan bukan mengecek ponsel, tapi entah kenapa, pandangannya langsung terpaku ke jendela.
Garis air itu sudah tidak ada.
Sidik jarinya pun tidak.
Seakan memang tidak ada apapun di sana.
Kayaknya aku kurang tidur, pikir Yudha.
“Kamu ngapain, Yud?”
Suara Ratih membuatnya tersentak, istrinya itu duduk di tepi kasur dengan rambut kusut dan mata masih setengah terpejam. Ia mengusap matanya beberapa kali dan kemudian menatap Yudha.
“Enggak,” balas Yudha, “cuma tadi malam, aku liat ada jejak air di jendela.”
“Di dalam atau di luar?”
“Nah itu, aku enggak ingat.”
Ratih bangun dari kasur dan mendekati jendela. Dia berdiri di sebelah suaminya dengan mata memicing, dan kening yang mengernyit.
Lalu ia mundur setengah langkah, dan wajahnya pucat.
“Yud,” ucapnya pelan. “Ini sebelah dalam.”
Di sudut bawah kaca, nyaris tak terlihat, ada satu bekas kecil berbentuk ujung jari. Basah.
Di sebelah dalam jendela mereka.
Dua jam setelah sarapan, mereka berdua pun pamit. Yudha dan Ratih bergantian salim pada sang Ibu.
“Keluar kota, ya?” tanya Ibu Ratih sambil memberikan sekantung makanan dalam kresek.
“Iya, bu. Paling dua atau tiga harian.”
Anita memeluk kaki Yudha erat-erat. Gadis kecil itu menggenggam tangannya—persis seperti cara anak kecil di foto itu mengangkat tangannya.
“Papa hati-hati, ya. Mama juga.”
Yudha berjongkok, mengecup kening putrinya. “Anita baik-baik di rumah sama Nenek.”
Begitu Yudha masuk mobil, Ratih tidak langsung masuk. Dia memerhatikan Anita dengan wajah yang tidak bisa Yudha deskripsikan. Campuran antara sendu dan cemas.
“Rat? Kenapa?”
Ratih menggeleng dan masuk ke dalam mobil.
“Rasanya aneh,” katanya pelan, “Anita enggak pernah bersikap begitu. Kayak ... Dia enggan kita pergi.”
Yudha menatap Ratih agak lama, tapi ia tidak menjawab. Yudha menyalakan mesin, dan mobil tua itu keluar dari komplek perumahan mereka.
Tiga jam pertama perjalanan, semua berjalan mulus. Terlalu mulus, malah. Tapi ada satu masalah.
“Renjana enggak ada di Maps,” kata Yudha. Dia mengetik ulang nama kota itu di ponselnya, layar memproses cukup lama, hingga akhirnya hasil yang sama muncul : lokasi tidak ditemukan.
“Aneh,” sahut Ratih, “masa iya kota sebesar itu enggak ada di Maps?”
Sang istri membuka peta tua yang difoto kopi oleh Bram dari ruang arsip redaksi. Di sana, masih ada Renjana—sebuah kota kecil di dekat perbatasan.
Radio mobil yang tadinya masih memutar lagu, kini berubah menjadi mendesis. Seakan mereka sudah keluar dari jangkauan radio.
“Sejauh apa sih kita—“
Ratih tidak jadi bertanya ketika ia mendengar sesuatu dari radio. Suara hujan yang samar. Ia buru-buru mematikan radio dan duduk dengan bahu tegang.
Begitu pula Yudha yang tengah menyetir.
Mereka hanya bisa berpura-pura tidak mendengar apa pun.
Ketika siang akhirnya tiba, Yudha dan Ratih memutuskan untuk berhenti di warung kecil dekat perbatasan menuju Renjana. Yudha memesan nasi telur, dan Ratih memesan ketoprak.
Seorang perempuan tua tengah menyiapkan makanan untuk keduanya.
“Mau ke mana, Mas, Mbak? Jauh banget kayaknya,” tanya perempuan tua itu sambil meletakkan makanan mereka di atas meja.
“Mau ke Renjana, Bu.”
Mendengar perkataan Ratih, Ibu itu menatap mereka lama sekali.
“Ngapain ke sana?”
Yudha mengangkat alis, “Kerja, Bu.”
Perempuan itu menunjuk ke utara dengan dagunya, “Lurus. Nanti ketemu palang kayu. Kalau sudah lihat palang, balik lagi.”
“Kenapa, Bu?”
“Kalau hujan, jangan masuk.”
Ratih dan Yudha bertukar pandang.
“Di sana selalu hujan, Bu,” kata Ratih hati-hati.
Perempuan tua itu mengangguk pelan, seolah justru itu maksudnya.
“Karena itu jangan masuk. Yang masuk waktu hujan … pulangnya kurang.”
Yudha dan Ratih mengernyit, “Kurang apanya, Bu?”
“Ada aja yang kurang. Renjana itu suka mengambil oleh-oleh dari pendatang. Bisa barang, bisa juga sesuatu yang lain,” jawab perempuan itu lalu kembali ke belakang, suaranya masih terdengar.
Perkataan itu membuat Yudha tertegun, tapi ia tidak mencoba mengatakan sesuatu. Ia dan Ratih hanya makan dalam diam setelah peringatan itu.
Setelah sejam berlalu dari warung, mereka melewati perbatasan menuju Renjana. Dan warna langit berubah—menjadi gelap.
Lalu, hujan pun turun, deras.
Sebuah palang kayu terlihat di sisi kiri mereka.
KOTA RENJANA.
Lampu-lampu kuning redup menyala meskipun hari masih siang. Kabel-kabel listrik menggantung rendah. Sebuah halte kosong berdiri di sisi jalan.
Semuanya persis seperti foto di utas itu.
“Kita masuk pas hujan,” gumam Yudha.
“Kalau kita tunggu reda, kita enggak akan pernah masuk, Yud. Di sana hujan terus.”
“Berarti kita memang enggak dimaksudkan untuk masuk.”
Ratih memegang gagang pintu, “Atau kita memang dimaksudkan masuk saat hujan.”
Yudha hanya melirik istrinya, sebelum akhirnya menginjak pedal gas. Mobil mereka melewati palang itu.
Suara hujan di atap mobil kini terdengar semakin rapat, udara menjadi lebih dingin. Ratih melihat ponselnya dan mengerutkan kening—di sini, sama sekali tidak ada sinyal. Padahal ini sebuah kota.
“Yud,” katanya, “HP kamu ada sinyalnya, enggak?”
Yudha melirik ponselnya yang terpasang di dasbor mobil, “Kosong, tuh.”
Ratih mengangkat alis.
“Yud,” panggilnya lagi, “tadi kita berangkat jam enam pagi, ‘kan?”
“Iya, memang kenapa—“
Saat Yudha melihat jam digital di dasbor, ia langsung terdiam. Jam menunjukkan pukul tujuh belas lewat lima belas menit.
Ia tidak tahu apa yang terjadi, dan memilih untuk diam.
Lalu, mobil mereka pun akhirnya sampai di dekat halte yang kosong di foto itu.
Tapi, kali ini haltenya tidak kosong.
Seorang perempuan tua berdiri di sana, mengenakan jas hujan yang sudah pudar, memegang payung hitam meskipun atap halte melindunginya. Saat mobil melewati halte itu pelan-pelan, perempuan ters
ebut berbicara tanpa menoleh.
“Selamat datang kembali, Nak Yudha. Nak Ratih.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!