Bab 02

Rencana

1 dibaca

A

Bab Dua

Rencana

“Papa, Mama!”

Seorang gadis kecil yang mengenakan seragam merah putih kebesaran berlari ke arah kedua orang tuanya yang baru turun dari motor. Ratih tertawa kecil dan berjongkok untuk menangkap sang putri tercinta.

Di belakang Anita, ibu dari Ratih tersenyum melihat keceriaan cucunya. Yudha mendekat dan menyalami sang mertua.

“Kalian lama sekali pulangnya, Anita sudah menunggu dengan tidak sabar sejak tadi.”

Ratih menggendong Anita. Gadis kecil itu mengangkat alis.

“Baju Mama kok basah? Kehujanan?”

Ibu Ratih mengernyit.

“Tapi dari tadi cerah, kok.”

Yudha dan Ratih bertukar pandang. Padahal, supermarket itu hanya berjarak beberapa ratus meter dari komplek perumahan mereka, bahkan aspal benar-benar kering sepanjang perjalanan mereka kembali.

Jok motor mereka juga sama sekali tidak basah saat mereka akan pulang tadi.

“Papa mukanya seram,” komentar Anita sambil meraih wajah sang ayah dan mencubit pipinya pelan.

Yudha tersentak dari pikirannya dan tersenyum. Dia mengelus puncak kepala gadis kecil itu dan mengecup keningnya.

“Papa enggak apa-apa, kok. Tadi di sekolah bagaimana?”

“Anita bisa jawab pertanyaan bu guru lho, Pa! Kata bu guru, Anita pintar!”

“Anita memang pintar, kok. Kayak Mama,” jawab Yudha, “Papa senang mendengarnya.”

“Sudah, kalian masuk dulu. Pasti capek ‘kan, kerja terus,” ucap ibu Ratih sambil tersenyum, “ibu sudah masak opor daging untuk Yudha.”

“Oh iya, kami beli ayam dan beras, bu. Nanti aku bawa ke dalam.”

Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah, meninggalkan Yudha di luar. Lelaki itu menatap langit yang kini cerah.

Pikirannya tetap kembali pada kejadian tadi. Aspal yang kering, tapi baju mereka tetap basah.

***

Malam itu, setelah Anita dan neneknya tidur, Yudha duduk di tepi tempat tidur, sambil menatap langit-langit.

Pintu kamar mandi terbuka, dan Ratih keluar dengan rambut basah dan handuk yang berada di atas kepalanya.

“Kamu kepikiran yang tadi, ya?”

Yudha menatap istrinya dan mengangguk.

“Aneh sekali. Baju kita basah, tapi aspalnya kering,” ujar Ratih, duduk di sebelahnya, dengan handuk di pangkuan, “jok motor juga kering.”

“Iya.”

“Rasanya aneh, ya? Seperti ada sesuatu yang terjadi, tapi aku tidak tahu apa.”

Yudha menatap langit-langit, “Aku merasa itu sangat aneh.”

Hening sejenak. Di luar, tidak ada suara hujan. Tidak ada suara apa pun kecuali kipas angin di sudut kamar yang berputar pelan.

“Kamu masih mau pergi?” tanya Ratih.

Yudha tidak langsung menjawab. Dia memutar cincin di jari manisnya—kebiasaan lama yang muncul kalau dia sedang berpikir keras.

“Justru karena itu, aku mau pergi.”

Ratih menatap suaminya. “Itu tidak masuk akal.”

“Aku tahu.”

“Dan kamu tetap mau?”

“Kamu yang bilang ikut.”

Ratih terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan. “Iya. Aku tetap ikut.”

Yudha merebahkan tubuhnya di kasur, “Kamera kamu. Foto keluarga yang hilang itu … kamu tidak ingat sama sekali?”

“Tidak,” ucap Ratih pelan sambil menggeleng. Dia ikut tidur di sebelah Yudha, “aku hanya ingat pernah memotret seseorang, tapi aku tidak ingat siapa.”

“Padahal kamu termasuk orang yang ingatannya kuat banget,” gumam Yudha, “kalau kamu sampai lupa, berarti ada sesuatu yang aneh.”

“Yud.”

Ratih mendekati sang suami, wajahnya terlihat cemas, dia melingkarkan kedua tangannya pada tangan milik Yudha, “Menurutmu, kita harus ke Renjana?”

“Kamu takut?”

“Bukan takut,” Ratih menggeleng, “hanya firasat buruk.”

“Kamu bisa tinggal, kok. Biar aku saja yang pergi ke sana, paling aku pinjam dulu kameramu.”

Ratih mengernyit, “Aku sudah bilang aku mau ikut, ‘kan?”

Yudha tersenyum tipis, “Yang benar yang mana, Rat? Kamu bilang firasat buruk, tapi enggak mau tinggal. Bagaimana, dong?”

Ratih merengut, dia menyandarkan kepalanya di bahu Yudha, “Aku cuma enggak mau Anita nanti berpikir kita pergi jauh-jauh tanpa dia. Tapi aku juga enggak mau Anita ikut ke Renjana.”

“Jangan.”

“Setuju.”

“Kita enggak tahu apa-apa tentang Renjana,” gumam Yudha, “dan lebih baik kalau Anita dan Ibu tidak tahu kita pergi ke sana.”

“Lalu, kita bilang ke Ibu apa?”

“Bilang saja dinas keluar kota.”

Ratih tersenyum kecil, “Memang kita keluar kota sih, ke Renjana. Tidak sepenuhnya bohong, ya.”

Yudha mengangguk dan mengelus kepala sang istri yang sejak tadi memeluk tangannya, “Sudah, jangan dipikirkan terus. Ayo kita tidur, besok kita harus berangkat ke sana.”

“Iya, aku tidur duluan ya, Yud.”

Malam itu, Ratih tertidur lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena semua yang ia rasakan akhirnya terucap.

Yudha yang tidak bisa tidur. Ia menatap langit-langit, mendengar kipas angin berputar pelan, berulang kali berkedip entah karena apa.

Ponselnya bergetar di nakas. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Yudha meraih ponselnya pelan-pelan, agar tidak membangunkan Ratih, dan memicingkan mata ke layar.

Dari Bram.

Lelaki itu membuka kunci ponselnya dan membaca pesan dari Bram.

Yud, maaf ganggu malam-malam.

Tapi kamu harus lihat ini.

Utas Renjana hilang.

Alis Yudha bertaut membaca kalimat demi kalimat yang dikirim oleh editornya itu. Dia menoleh ke arah Ratih di sebelahnya yang masih tertidur dengan tangan kirinya sebagai bantal kepala sang istri, ia membalas dengan satu tangan.

Dihapus? Sama siapa?

Balasan Bram datang lebih cepat dari yang ia duga, mungkin editornya itu menunggu jawaban Yudha di seberang layar.

Ralat Yud, bukan dihapus, tapi hilang sendiri. Aku sudah cek panel admin, enggak ada yang menghapus, seolah utas itu enggak pernah ada sebelumnya.

Yudha menatap kalimat itu cukup lama. Seolah  utasnya tidak pernah ada sebelumnya. Dia teringat palang kayu kuning, lampu redup, dan halte yang kosong. Juga Ratih yang memotret orang lain tapi lupa dengan apa yang ia foto.

Ada backup enggak, Bram? Screenshot, mungkin?

Ada, nih. Ini yang membuatku chat kamu malam-malam.

Bram mengirim sebuah gambar di layar obrolan. Stempel waktunya sore ini, jam 17.12, tepat saat Yudha dan Ratih masih di supermarket.

“Tidak usah repot-repot datang, kalian berdua sudah dibasahi oleh hujan.”

Di luar, malam tetap tenang, tidak ada angin maupun hujan. Namun, di jendela kamar mereka, ada satu garis air yang bergulir turun, seakan ada yang menempelkan jari basah di sana.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk