Angka yang Tak Pernah Bulat

8 dibaca

A

Ada satu kebiasaan yang tak pernah benar-benar aku tinggalkan sejak dulu, membaca label nutrisi di kemasan makanan. Bahkan sekarang, saat jariku lebih sering menari di atas keyboard daripada memegang buku Ilmu Gizi Dasar, mataku masih refleks berhenti sejenak di rak minimarket, menimbang kandungan natrium dalam mi instan yang akan jadi makan malamku lagi.

Namaku Naya. Usiaku dua puluh empat tahun, dan jika kau bertanya siapa aku sepuluh tahun lalu, aku akan menjawab dengan mata berbinar calon ahli gizi, mahasiswa Gizi di Universitas Airlangga, gadis yang menghafal tabel Angka Kecukupan Gizi seperti orang lain menghafal lirik lagu kesayangan.

Sekarang aku programmer. Tepatnya, frontend developer di sebuah startup kecil yang namanya mungkin belum pernah kau dengar, bekerja dari kamar kos berukuran tiga kali empat meter, ditemani secangkir kopi yang cepat dingin dan layar laptop yang cahayanya jadi satu-satunya bintang di malam-malam lemburku.

Perpindahan itu bukan pilihan yang kubuat dengan gagah berani. Ia lebih menyerupai sungai yang mendadak berbelok arah karena bendungan jebol dan bendungan itu bernama biaya rumah sakit Ayah.

Aku ingat malam itu masih basah oleh hujan November. Ibu menelepon dengan suara yang dipaksa tenang, jenis suara yang justru membuatku tahu ada yang benar-benar salah.

“Ayahmu... jantungnya, Naya. Harus operasi.”

Aku pulang naik bus malam dari Surabaya ke kampung, dengan diktat kuliah masih terselip di tas, seolah aku masih bisa kembali ke kelas minggu depan seperti biasa. Tapi angka-angka di kertas tagihan rumah sakit tidak pernah bulat, tidak pernah mau berkompromi dengan impian seorang anak kuliahan semester lima.

Aku cuti. Lalu cuti itu jadi mengundurkan diri. Uang kuliah yang seharusnya membayar semester berikutnya, diam-diam sudah berpindah jadi obat, jadi ruang ICU, jadi napas Ayah yang masih tersisa.

Aku tidak menyesalinya. Sungguh. Tapi ada bagian dalam diriku yang sampai hari ini, masih diam-diam berkabung untuk perempuan berjas laboratorium yang seharusnya aku menjadi.

Kadang aku bertanya-tanya, andai malam itu tidak pernah datang, akan seperti apa hidupku sekarang. Mungkin aku sedang duduk di ruang praktik kecil, memberi konsultasi gizi pada ibu-ibu muda yang bingung menyapih anaknya. Mungkin aku sedang menulis jurnal ilmiah tentang defisiensi zat besi pada remaja putri di pedesaan, topik yang dulu selalu membuat mataku berbinar setiap kali dosen membahasnya.

Tapi kenyataan tidak pernah bertanya pendapatku sebelum mengambil keputusan. Ia hanya datang, membawa serta kertas-kertas rumah sakit, dan meninggalkanku dengan dua pilihan yang sama-sama menyakitkan tetap kuliah dan menyaksikan Ayah kehilangan kesempatan sembuh, atau berhenti dan menyelamatkan yang masih bisa diselamatkan.

Aku memilih yang kedua. Siapa pun kupikir, akan memilih yang sama.

Belajar coding bermula dari keputusasaan yang menyamar jadi keberanian. Aku ikut kelas daring murah, tiga bulan, sambil menjaga toko kelontong Ibu di sore hari dan begadang menonton tutorial di malam hari. Ada masa-masa aku menangis di depan layar karena kode yang tak kunjung berjalan, sama persis seperti dulu aku menangis karena tidak paham rumus Kebutuhan Energi Basal hanya saja kali ini tidak ada dosen yang bisa kutanyai, hanya forum internet dan keheningan kamar kos.

Tapi aku bertahan. Aku selalu bertahan. Mungkin itu satu-satunya hal yang tidak ikut runtuh bersama impian lamaku.

Sekarang, dua tahun sejak baris kode pertamaku berhasil berjalan tanpa error, aku duduk di sini, di meja kerja kecil dengan tumpukan sticky notes berisi task yang harus selesai sebelum deadline Jumat. Dan seperti biasa, di sela kesibukan itu, aku menyempatkan diri mengirim pesan ke Ibu.

“Bu, kalau masak sayur bening, jangan lupa tambah tomat. Vitamin C-nya bagus buat daya tahan tubuh Ayah.”

Kebiasaan lama tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berpindah rumah, diam-diam menumpang di sela kehidupan baruku menunggu mungkin, waktu yang tepat untuk kembali menagih tempatnya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk