Sebelum aku bercerita lebih jauh tentang siapa aku sekarang, izinkan aku membawamu kembali ke ruang kuliah berlantai tiga yang dindingnya selalu berbau cat basah setiap awal tahun ajaran, tempat aku pernah menjadi seseorang yang begitu yakin dengan arah hidupnya.
Aku masuk jurusan Gizi bukan karena kebetulan. Waktu SMA, nenekku menderita diabetes yang tak terkontrol, dan aku ingat betapa frustrasinya keluarga kami setiap kali dokter hanya memberi resep tanpa penjelasan yang cukup tentang makanan apa yang boleh dan tidak boleh ia makan. Aku menghabiskan malam-malam remajaku membaca artikel tentang indeks glikemik, mencatatnya di buku tulis biasa, mencoba menyusun menu sederhana untuk Nenek dari apa yang bisa kutemukan di dapur.
Nenek meninggal sebelum aku sempat lulus SMA. Tapi rasa penasaran itu tidak ikut mati bersamanya. Ia tumbuh jadi tekad bahwa aku ingin jadi orang yang bisa menjelaskan, bukan sekadar memberi resep tanpa makna, kepada keluarga-keluarga lain yang kebingungan seperti keluargaku dulu.
Di kampus, aku menemukan duniaku. Dosen pembimbingku, Bu Ratna, seorang perempuan berkacamata tebal dengan suara lembut yang selalu memuji catatan kuliahku yang, katanya, “terlalu rapi untuk mahasiswa semester tiga.” Aku menghabiskan jam-jam kosong di laboratorium gizi, menimbang sampel makanan, menghitung kandungan kalori dengan ketelitian yang menurut teman-temanku berlebihan, tapi bagiku terasa seperti bermain.
Aku juga punya sekelompok sahabat dekat Wulan, yang selalu membawakanku jajanan pasar setiap pagi; Reza, satu-satunya laki-laki di kelompok belajar kami, yang jago menghafal rumus tapi payah menjelaskan; dan Sinta, teman sekamar kos yang jadi tempatku bercerita segala hal, dari kegalauan soal skripsi sampai gosip dosen.
Kami sering begadang di kos, menyusun rencana masa depan dengan penuh keyakinan khas anak muda. Wulan ingin bekerja di rumah sakit besar. Reza bermimpi membuka klinik gizi sendiri. Dan aku, aku ingin kembali ke kampung halamanku, mendirikan semacam pusat konsultasi gizi sederhana untuk keluarga-keluarga yang tidak mampu membayar dokter spesialis, seperti keluargaku dulu.
“Kamu bakal jadi ahli gizi paling keras kepala se-Indonesia, Naya,” canda Sinta suatu malam, sambil menyeruput mi instan yang ironisnya kami makan sambil membicarakan pentingnya pola makan seimbang. “Tapi aku yakin, cita-cita kamu itu bakal kesampaian.”
Aku tertawa saat itu, penuh percaya diri, tidak tahu bahwa hanya beberapa bulan kemudian, kepercayaan diri itu akan diuji oleh sebuah telepon yang datang di tengah hujan November.
Semester lima adalah semester tersibuk sekaligus paling membahagiakan bagiku. Aku mulai magang di puskesmas dekat kampus, membantu program pemberian makanan tambahan untuk balita gizi buruk. Setiap kali melihat berat badan seorang anak naik setelah beberapa minggu program, ada perasaan yang sulit kujelaskan seolah aku sedang melakukan sesuatu yang benar-benar berarti di dunia ini.
Aku juga mulai dekat dengan salah satu senior di organisasi mahasiswa, kak Bimo, yang sering membimbingku menyusun proposal penelitian kecil-kecilan. Bukan romansa, hanya kekaguman seorang junior pada seseorang yang tampak begitu yakin dengan jalan yang ia pilih kekaguman yang, jujur saja, membuatku makin yakin bahwa inilah dunia tempatku berada seumur hidup.
Aku menulis di jurnal pribadiku, malam sebelum telepon itu datang: “Aku ingin, sepuluh tahun dari sekarang, menjadi seseorang yang keluarganya bisa banggakan bukan karena gelar, tapi karena aku benar-benar membantu orang.”
Aku tidak tahu, saat menuliskan kalimat itu, bahwa sepuluh tahun kemudian aku memang akan membantu orang, hanya saja dengan cara yang sama sekali tidak pernah kubayangkan, lewat baris-baris kode alih-alih laporan gizi, lewat aplikasi alih-alih konsultasi tatap muka.
Hidup, kupelajari kemudian, punya selera humor yang aneh dalam mengabulkan doa.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!