Sekitar dua minggu setelah kedatangan Rangga, saat aku sibuk membongkar ulang buku catatan hijau itu untuk mencari resep yang kujanjikan pada Ibu semalam, seseorang tiba-tiba berhenti di sisi mejaku.
“Itu... catatan tentang diet jantung?” suara itu milik Rangga, matanya menatap halaman yang terbuka daftar makanan rendah kolesterol dengan tulisan tanganku yang rapi.
Aku terkejut, refleks menutup buku itu setengah jalan, seperti tertangkap basah menyimpan rahasia.
“Kamu... tahu soal ini?” tanyaku, suaraku sedikit bergetar, bukan karena marah, tapi karena tak menyangka ada yang mengenali dunia yang selama ini kusimpan sendirian.
Rangga tersenyum tipis, senyum yang sama seperti hari pertama ia datang kikuk, tapi kali ini menyimpan sesuatu yang lebih dalam.
“Lumayan,” jawabnya pelan. “Dulu aku... ah, panjang ceritanya.”
Aku menatapnya, menunggu, tapi ia hanya menggelengkan kepala pelan, seperti belum siap membuka topik itu lebih jauh saat itu.
“Boleh aku lihat?” tanyanya kemudian, menunjuk buku catatan yang masih setengah tertutup di tanganku.
Aku ragu sejenak, tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam caranya bertanya hati-hati, tanpa memaksa yang membuatku akhirnya membuka buku itu dan menyerahkannya padanya.
Rangga membolak-balik halaman dengan seksama, sesekali mengangguk, sesekali mengerutkan kening seperti sedang membaca sesuatu yang membangkitkan ingatan lama.
“Ini... ditulis dengan sangat detail,” katanya, kagum. “Kamu benar-benar paham soal ini.”
“Dulu, iya,” jawabku pelan. “Aku kuliah Gizi, sebelum akhirnya... ya, jadi kayak sekarang ini.”
Aku tidak menjelaskan lebih jauh, dan Rangga tidak memaksa. Ia hanya mengangguk, mengembalikan buku itu dengan hati-hati, seolah menyadari betapa berharganya benda sederhana itu bagiku.
“Aku suka orang yang punya cerita di balik keahliannya,” katanya, sebelum kembali ke mejanya sendiri.
Kalimat sesederhana itu mengendap lama dalam pikiranku sepanjang sore. Selama ini, aku selalu menganggap masa laluku sebagai sesuatu yang harus disembunyikan, semacam kegagalan yang tidak perlu diketahui orang lain. Tapi cara Rangga memandangnya sebagai cerita, bukan kegagalan terasa seperti sesuatu yang baru, sesuatu yang perlahan mulai menggeser cara pandangku sendiri.
Malam itu, saat aku menelepon Ibu untuk menyampaikan resep yang kujanjikan, aku menceritakan sedikit tentang Rangga, tanpa detail berlebihan, hanya sekadar menyebut ada rekan kerja baru yang “lumayan asyik diajak ngobrol.”
“Wah, siapa tuh namanya?” tanya Ibu, nadanya langsung berubah antusias seperti biasa setiap kali mencium topik yang berkaitan dengan urusan hati anak gadisnya.
“Rangga, Bu. Biasa aja, temen kerja,” jawabku, meski aku sendiri tidak sepenuhnya yakin dengan kalimat “biasa aja” itu.
Ibu tertawa kecil di seberang telepon, tidak mendesak lebih jauh, tapi aku bisa membayangkan senyum jahilnya senyum seorang ibu yang berharap anaknya, setelah bertahun-tahun terlalu sibuk bertahan hidup, akhirnya punya ruang sedikit untuk hal-hal yang lebih ringan, lebih hangat, dari sekadar tagihan dan tanggung jawab.
Aku menutup telepon malam itu dengan perasaan yang sulit kunamai campuran antara harapan yang malu-malu dan kewaspadaan lama yang selalu mengingatkanku untuk tidak terlalu cepat berharap pada hal-hal indah.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!