Orang Baru di Ruang Kerja

1 dibaca

A

Kantor kami kecil, hanya menempati satu lantai ruko di jalan kecil dekat pusat kota, dengan suara AC yang berdengung dan aroma kopi sachet yang tak pernah absen dari meja siapa pun. Ada delapan orang yang bekerja di sana, Pak Broto sang pendiri yang lebih sering terlihat panik soal deadline daripada tenang, Tania yang jadi sahabat kerja paling dekatku, dua orang backend developer bernama Yoga dan Fikri yang hampir selalu terlibat perdebatan kecil soal arsitektur sistem, seorang desainer UI bernama Mira, dan seorang admin bernama Bu Painah yang usianya paling tua di antara kami semua namun paling cekatan mengurus segala hal administratif.

Pagi itu, seperti biasa, aku datang lebih pagi dari yang diperlukan bukan karena rajin, tapi karena kos yang sunyi kadang terasa lebih berat dari pekerjaan itu sendiri. Aku baru saja menyalakan laptop ketika pintu terbuka, dan seseorang yang belum pernah kulihat masuk sambil membawa kardus berisi barang-barang pribadinya.

“Ini programmer baru kita,” ujar Pak Broto, sambil menepuk pundak lelaki itu dengan semangat berlebihan seperti biasa. “Dari Jakarta, katanya pernah kerja di perusahaan gede sebelum akhirnya pindah ke sini. Kenalan dulu, ya.”

Lelaki itu menoleh, tersenyum tipis, kikuk seperti orang yang belum terbiasa jadi pusat perhatian. Tingginya sedang, rambutnya sedikit berantakan seolah baru bangun tidur meski sudah jam delapan pagi, dan matanya aku memperhatikan ini belakangan, meski coba kusangkal saat itu memiliki semacam kelelahan yang tidak biasa untuk seseorang seusianya.

“Rangga,” katanya, mengulurkan tangan.

Aku menyambutnya, dan entah kenapa, ada sesuatu dalam caranya menatap ruangan sedikit lelah, sedikit hati-hati, seperti seseorang yang juga sedang menyembunyikan sesuatu di balik kalimat-kalimat sopannya, yang membuatku berhenti sejenak lebih lama dari yang seharusnya.

“Naya,” balasku singkat, lalu buru-buru kembali menatap layar, seolah baris kode di depanku tiba-tiba jadi jauh lebih menarik daripada biasanya.

Pak Broto mengantar Rangga berkeliling, memperkenalkannya pada Yoga dan Fikri yang langsung menyambutnya dengan pertanyaan-pertanyaan teknis khas programmer yang baru kenal “biasa pakai stack apa?”, “dulu di Jakarta kerjain proyek apa aja?” sementara Tania melirikku dengan alis terangkat, semacam kode rahasia antara perempuan yang berarti “eh, anak baru lumayan juga, ya.”

Aku pura-pura tidak menangkap kode itu, tenggelam kembali dalam pekerjaanku, meski jujur saja, ada rasa penasaran kecil yang mulai tumbuh—penasaran tentang mengapa seseorang yang pernah bekerja di perusahaan besar Jakarta memilih pindah ke startup kecil di kota yang bahkan tidak banyak orang kenal.

Siang itu, saat makan siang bersama di meja panjang kantor, Rangga duduk agak menyendiri, membuka bekal sederhana yang ia bawa sendiri—nasi dengan lauk seadanya, jauh dari kesan orang yang baru pindah dari kota besar dengan gaji besar.

“Kamu masak sendiri?” tanya Mira, penasaran.

“Lumayan, buat hemat,” jawab Rangga singkat, senyumnya tetap sopan meski nadanya terdengar seperti orang yang tidak ingin membahas lebih jauh soal kondisi finansialnya.

Aku memperhatikan dari kejauhan, dan entah kenapa, jawaban sederhana itu membuatku merasa ada kesamaan tak terucap antara kami dua orang yang, mungkin, sama-sama menyimpan cerita yang tidak sesederhana penampilan luarnya.

Jantungku, dasar pengkhianat kecil, berdetak sedikit tidak beraturan setiap kali mataku tak sengaja bertemu dengan matanya sore itu. Bukan seperti alarm kerja lembur, melainkan seperti sesuatu yang lain sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan sejak aku memutuskan untuk berhenti berharap pada hal-hal yang indah.

Aku tidak tahu, sore itu, bahwa kedatangan seorang programmer baru akan menjadi bab pertama dari cerita yang jauh lebih rumit tentang luka lama yang perlahan disentuh, dan impian yang, mungkin, belum benar-benar selesai bicara denganku.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk