Malam itu kami lembur berdua, hanya kami berdua, karena semua orang lain sudah pulang mengejar jadwal makan malam masing-masing. Layar monitor Rangga menampilkan barisan error merah yang sama sekali tidak mau berkompromi, dan aku, sebagai satu-satunya orang tersisa yang cukup paham modul yang sedang ia kerjakan, menarik kursi ke sebelahnya.
“Coba cek di sini,” kataku, menunjuk satu baris yang sepertinya jadi biang kerok. “Function-nya dipanggil dua kali, makanya data-nya duplikat.”
Rangga menatap layar, lalu menatapku, seolah baru sadar aku benar.
“Kamu jenius,” katanya, setengah bercanda, setengah serius.
“Bukan jenius. Cuma sering ketemu bug serupa,” jawabku, mencoba terdengar biasa saja, padahal ada sesuatu di dadaku yang menghangat mendengar pujian sesederhana itu.
Kami menyeduh kopi sachet berdua di pantry kecil kantor, duduk berhadapan di meja plastik yang goyang sebelah kakinya. Dari jendela, lampu jalanan berkelip-kelip seperti enggan benar-benar menyala.
“Jadi,” aku memberanikan diri bertanya, “soal catatan diet jantung itu. Kamu tahu dari mana?”
Rangga menghela napas panjang, memutar-mutar gelas plastiknya.
“Aku dulu kuliah kedokteran,” katanya, pelan, seperti mengucapkan sesuatu yang jarang ia katakan pada siapa pun. “Semester enam, ayahku meninggal. Aku anak sulung, harus kerja, adik-adikku masih kecil-kecil. Jadi aku berhenti, ambil kursus coding kilat, dan... di sinilah aku sekarang.”
Aku terdiam. Bukan karena tidak tahu harus berkata apa, tapi karena rasanya seperti menatap cermin yang kebetulan berbentuk laki-laki, luka yang berbeda rupa tapi sama dalamnya.
“Aku juga,” bisikku akhirnya. “Dulu di jurusan Gizi. Ayahku sakit jantung, bukan meninggal, untungnya, tapi biayanya... ya, kamu tahu sendiri lah gimana rasanya.”
Kami saling menatap sejenak, dan untuk pertama kalinya sejak kejadian itu bertahun-tahun lalu, aku merasa tidak sendirian menanggung kisah yang selama ini kuanggap terlalu memalukan untuk diceritakan.
“Berarti kita berdua,” katanya, tersenyum kecil, “sama-sama dokter dan ahli gizi yang gagal, tapi jago ngoding.”
Aku tertawa, tawa yang keluar begitu saja, ringan, tidak dibuat-buat. Sudah lama rasanya aku tidak tertawa seringan itu di depan orang lain.
“Kamu pernah nyesel?” tanyaku, penasaran.
Rangga terdiam sejenak, menatap kopinya yang mulai dingin.
“Setiap hari,” jawabnya jujur. “Tapi aku juga belajar, penyesalan itu nggak selalu berarti keputusan kita salah. Kadang, itu cuma tanda kalau kita dulu benar-benar mencintai sesuatu.”
Kalimat itu menghantamku dengan cara yang tidak kuduga sederhana, tapi begitu tepat menggambarkan apa yang selama ini kurasakan namun tak pernah bisa kuucapkan sejelas itu.
Kami menyelesaikan bug malam itu hampir jam sebelas, dan saat aku bersiap pulang, Rangga menawarkan diri mengantarku sampai depan kos dengan motornya tawaran sederhana yang kuterima dengan alasan “daripada nunggu ojek online lama.”
Di perjalanan pulang, dengan angin malam yang dingin menerpa wajah, aku memegangi ujung jaketnya dengan canggung, merasakan detak jantung yang, aku tahu, bukan lagi sekadar reaksi biasa terhadap seseorang yang kebetulan baik hati.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!