Bab 01

AC&ML Bab 1.

4 dibaca

A

Pagi ini suasana di pesantren Al-Ikhlas terlihat berbeda. Banyak mobil berlalu-lalang dan orang-orang baru. Hari ini, suara tangisan terdengar mendominasi.


“Yang nurut sama Pak Yai, dan Bu Nyai, ya Nak! Jangan nakal.”


Di sudut parkiran, terlihat sebuah keluarga yang begitu harmonis. Sang Ibu terlihat mengusap pucuk kepala anak perempuannya, seraya memberi wejangan. Sedangkan yang lain turut menyemangati.


Melihat itu, Zea, salah satu pengurus putri yang bertugas menyambut santri baru merasa senang sekaligus sedih. Dia sedih mengingat dirinya dahulu yang hanya diantar oleh sang ibu dan sampai sekarang tidak pernah dijenguk. Ia bagaikan anak dibuang.


“Mbak, nitip anak kami, ya. Kalau dia ada salah atau melanggar peraturan, silakan hukum sesuai aturan yang berlaku,” ujar si Bapak.


“Siap, Pak.” Zea dan temannya mengangguk mantap. Setelah acara perpisahan antara anak dan orang tua selesai, mereka membawa santri putri itu ke aula, tempat di mana para santri putri baru berkumpul.


Sepanjang perjalanan, pikiran Zea melayang jauh ke masa lalu. Dia memikirkan bagaimana keadaan kedua orang tuanya. Apakah saat ini masih hidup atau bahkan sudah tiada? Apakah ayahnya mencarinya? Zea tidak tau bagaimana keadaan kedua orang tuanya. Yang dia ingat hanya satu yaitu, kedua orang tuanya sudah berpisah.


“Assalamu’alaikum, semuanya,” ucap Aruna, teman Zea, setibanya mereka di aula.


“Wa’alaikumsalam,” jawab para santri yang mendengar ucapan salam.


“Mbak, itu Mbak Zea, kenapa?” Salah satu santri menyadari Zea seperti sedang melamun.


Aruna menoleh. Benar saja, temannya sedang melamun. Dia pun menyenggol pelan lengan Zea.


“Mbak Ze, kenapa?”


“Eh, astaghfirullah.” Zea tersadar dari lamunannya. Dia langsung mengusap wajahnya. Aruna menggeleng.


“Ini ada teman kalian yang baru datang. Namanya Putri, dari kota K.” Zea memperkenalkan santri baru yang bersamanya. “Akur-akur, ya.”


“Jangan khawatir, Mbak. Kami enggak makan orang, cuma gigit aja,” sahut salah satu santri.


“Bener, tuh,” timpal yang lain. Zea dan Aruna hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah beberapa santri yang mudah bergaul.


“Putri, silakan bergabung sama yang lain, ya.” Zea memandang Putri.


“Siap, Mbak!” balas Putri, semangat.


Setelah memastikan Putri bisa berbaur dengan yang lain, Zea dan Aruna kembali ke pos jaga mereka.


“Mbak, Mbak kenapa?” tanya Aruna, yang berhasil menghentikan gerakan Zea.


“Apanya yang kenapa?” Kening Zea mengernyit, heran. Seingatnya, dia tidak kenapa-napa.


“Tadi Mbak melamun dari parkiran sampai aula. Melamunin apa?”


“Oh itu, keingat mamah sama papah.”


“Emm, maaf nih ya Mbak Ze, emang orang tua Mbak ke mana? Aku nggak pernah liat mereka ke sini jenguk, Mbak,” ujar Aruna. Sejak dia menjadi santri di sini, belum pernah sekali pun melihat Zea dijenguk.


Zea menghela nafas panjang, dia tak mau menjawabnya, karena dengan ia menjawab pertanyaan itu sama saja dirinya menggali masa lalu yang sudah berusaha ia kubur dalam-dalam.


Untungnya, ada seorang anak kecil perempuan yang mengenakan gaun berwarna pink serta sepatu kecil, berlarian ke sana ke mari, mengalihkan perhatian, dan mengundang tawa tiap orang yang melihatnya. Begitu juga dengan perhatian Aruna. Sehingga Zea bisa bernafas lega. Tak perlu menjawab pertanyaan Aruna.


“Ih lucunya, anak siapa sih, itu?” Zea gemas sendiri melihat tingkah anak kecil perempuan itu.


“Mana aku tahu, Mbak, aku aja baru pertama liat anak itu,” timpal Aruna.


Bruk.


Anak kecil bergaun pink terjatuh, lalu menangis keras, mengundang perhatian semua orang. Zea beranjak dari tempatnya. Bergegas menghampiri anak itu kemudian membopongnya.


“Huhuhu, aki atu akit,” rengek anak kecil itu, mengadu pada Zea.


“Yang mana yang sakit?” Zea nampak khawatir tubuh anak kecil tersebut terluka.


“Ini.” Dengan wajah polos dan sisa-sisa air mata di pipi, batita itu menunjuk lutut kanannya. Zea segera memeriksa kaki anak itu, dan ternyata tidak ada yang terluka.


“Huuff.” Zea meniup kaki si anak. Berharap sang anak segera berhenti menangis.


“Udah ya, jangan nangis lagi. Ayo kita beli eskrim, mau?” Zea memberi penawaran sembari mengelap sisa-sisa air mata pada wajah si kecil.


“Benelan?” Anak kecil tersebut nampak antusias mana kala mendengar kata eskrim. Mata bulatnya berbinar bahagia.


“Benar, Sayang.”


“Hole, ayo Mah,” teriak anak kecil itu girang. Zea mengernyitkan dahi kala mendengar panggilan anak itu untuk dirinya.


“Mah?”


“Ayo Mah, atanya au beli ekim,” celetuk anak itu menagih ucapan Zea.


“Iya, iya.”


Zea menoleh ke arah Aruna. “Saya mau ke koprasi dulu ya.”


“Iya, Mbak, silakan.”


Setelah mendapat persetujuan dari Aruna, Zea bergegas membawa anak itu ke koperasi.




“Syukurlah ternyata di sini,” ucap seorang lelaki yang berdiri di belakang Zea dengan nafas memburu. Zea yang sedang asik memilih eskrim menghentikan kegiatanya, dia segera membalikan badannya.


“Oh ini putri, Anda?” tanya Zea sembari menundukan kepala. Tak berani melihat wajah sang pria.


“Iya, dia putri saya, terima kasih ya,” ucap pria itu berterima kasih pada Zea, karena telah menjaga anaknya.


“Sama-sama.”


“Ayo sayang, sini sama papah.” Kedua tangan pria itu terulur, ingin mengambil sang putri dari gendongan Zea.


“Nda au, au cama Mamah.” Bocah kecil itu menepis kedua tangan papahnya. Kemudian melingkarkan kedua tangan mungilnya di leher Zae, menenggelamkan kepalanya di sana. Anak itu seolah tidak mau dipisahkan dengan Zea.


“Ayo Sayang, sama papah.” Pria berkulit kuning langsat itu masih berusaha membujuk anaknya.


“Hua, nda au, Ai mau cama Mamah.” Tangis si batita. Aira namanya.


“Begini saja, apa Anda masih lama disini?” Zea yang tak tega melihat bocah itu menangis, memcoba mengusulkan sesuatu.


“Ya, nanti sore pulang,” jawab sang pria.


“Kalo begitu biar putri Anda, bersama saya dulu, nanti jika waktunya Anda pulang, saya akan mengembalikannya,” usul Zea. Membuat pria itu diam berfikir.


“Baiklah, saya Arka. Siapa namamu? Agar saya gampang mencarimu nanti.” Pria itu setuju dengan usulan Zea.


“Zea.”


“Ya sudah, Sayang jangan nakal ya! Jangan nyusahin Mba Zeanya.” Arka mengusap punggung Aira.


“Ini Mamah!” tegas anak itu di sela-sela sesenggukannya.


“Iya, Mamah.” Arka meralat ucapannya.


“Kalo begitu, saya permisi dulu.” Tanpa menunggu persetujuan Arka, Zea berlalu pergi ke kasir untuk membayar eskrim yang dipilih oleh Aira. Selesai membayar, Zea langsung keluar dari koprasi dan menuju komplek putri.


Sementara Arka masih terpaku di tempatnya, memikirkan perkataan Aira, yang menyebut Zea ‘mamah’. Sampai sang keponakan menghampiri dan menyadarkannya.


“Om Arka, kok lama? Katanya cuma mau beli ember,” protes ponakannya.


“Astaghfirullah, maaf Ali. Ayo kita beli embernya.” Arka mengusap wajahnya.


“Dede Aira belum ketemu, Om?” Bukanya menjawab ajakan sang om, anak bernama Ali itu malah mengajukan pertanyaan.


“Udah, ayo kita beli.” Arka menggandeng tangan sang ponakan menuju tempat ember berada.


“Ayo pilih,” titahnya pada Ali. Dengan semangat 45, Ali segera memilih ember dengan ukuran yang ia inginkan. Setelah menemukan barang yang diinginkan, keduanya segera menuju kasir untuk membayar.


“Ini, Mas.” Arka menyodorkan barang belanjaanya pada penjaga kasir.


“Siap,” jawab sang penjaga kasir sambil menerima sodoran barang dari Arka.


“Mas tau yang namanya, Zea?” tanya Arka yang penasarannya dengan sosok Zea. Mengapa anaknya bisa langsung akrab dengan orang yang baru petama kali ketemu? Biasanya, Aira akan menangis bila diajak oleh orang yang pertama kali ia temui.


“Mba Zea?” tanya penjaga kasir itu memastikan. Arka mengangguk.


“Dia pengurus putri yang sudah mondok di sini lebih dari 10 taun.”


“Tujuh belas ribu Mas. Mas suka ya sama Mba Zea?” Goda sang penjaga kasir pada Arka.


“Cuman pengin tau aja, ini.” Arka memberikan uang pas. Tak mau membahas lebih lanjut.


“Terimakasih Mas. Kalo Mas suka sama Mba Zea, mending ga usah, udah banyak saingannya, haha,” celoteh penjaga kasir, semakin menggoda Arka.


Tanpa menghiraukan celetohan penjaga kasir, Arka berlalu pergi begitu saja bersama ponakannya.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk