AC&ML Bab 2.

1 dibaca

A

“Dari mana saja si Ka, ko lama banget?” Omel kaka perempuan Arka, setibanya Arka di depan komplek santri putra Pondok Pesantren Al-Ikhlas.


“Maaf.” Hanya satu kalimat yang keluar dari mulut Arka.


“Airanya udah ketemu?” tanya Bu Aminah, ibunya Arka.


“Sudah Bu, tapi tadi dia ga mau ikut aku, malah ikut sama pengurus putri.” Arka menjelaskan jika anaknya tidak mau ikut bersamanya.


“Masa?” timpal Mbak Airin, heran. Pasalnya Aira, tidak akan mau diajak oleh orang yang baru pertama kali ia temui. Aira akan memberontak dan menangis jika dipaksa ikut dengan orang yang baru pertama bertemu.


“Aku juga heran Mba, mana dia manggil ‘mamah’ lagi.”


“Wah, pertanda itu namanya, Ka.”


“Pertanda apa, Mbak?” Arka menatap kakaknya, polos. Tak mengerti ke mana arah pembicaranya.


Tuk. Mbak Airin menyentil kening Arka. “Ka, kamu ini bego apa bodoh si, masa gitu aja ga tau?”


“Suer aku ga tau apa yang Mbak, maksud.”


“Udah Rin, jangan nagajak adikmu ribut,” tegur Bu Aminah. Beliau yakin, kalo perdebatan ini tidak ada selesainya.


“Iya deh. Maksud mbak, pertanda kalo Aira sudah cocok dengan calon mamah barunya. Coba kamu hitung berapa kali kamu ajak calonmu ketemu Aira, dan Aira selalu ga mau kalo digendong, kan?”


Arka menatap Mbak Airin. Tak lama, senyumnya terkembang. Apa yang kakaknya ucapkan ada benarnya juga. Selama ini Aira selalu menolak wanita yang ia kenalkan. Lihatlah kali ini, bocah itu justru tak mau pisah dari Zea.


“His ini kenapa malah jadi bahas calon istrinya Om Arka?” celetuk Ali, memprotes kelakukan ibu serta omnya.


“Oh ya jadi lupa tujuan utama, kamu sih Rin.” Bu Aminah mengomel. Mba Airin yang tak terima disalahkan ingin membuka mulut, tapi terlambat. Arka sudah lebih dulu mengajak mereka ke kamar Ali.



Sementara itu di lain tempat ....


Sesampainya Zea di komplek putri, ia langsung dikerumuni oleh para santri. Hal biasa saat ada anak kecil. Para santri putri akan berkumpul mengerubungi anak kecil tersebut.


Anak siapa, siapa namanya, umurnya berapa? Sederet pertanyaan yang pasti akan terlontar dari para santri. Benar saja, para santri langsung memberondong Zea dengan berbagai pertanyaan.


“Namanya Aira, panggilannya Ai.” Dengan sabar, Zea menjawab setiap pertanyaan.


“Dede Ai, sama Mba Lia, yuk,” ajak santri berkaos hitam dengan gambar kepala panda di bagian depan.


“Sama Mba Dina aja, nanti kita liat ikan,” ujar santri berbaju biru.


“Sama mba Karin aja, yu.”


Aira sama sekali tidak merespon ucapan para Mbak-mbak santri yang mencoba mengajaknya. Ia malah semakin mengeratkan pegangannya pada jilbab Zea.


“Tolong dong Mbak, bujuk Ai, kami cuma pinjam sebentar,” mohon salah satu santri. Dia ingin sekali mengajak Aira bermain.


“Aku coba ya,” timpal Zea. Para santri itu serentak mengangguk. Berharap Zea bisa membujuk Aira.


“Ai mau ga ikut Mbak santri, nanti Ai bisa liat ikan yang besar, loh.”


“Nda au, aunya cama Mamah.” Jwaban Aira, membuat para santri terkejut mendengar panggilannya untuk Zea.


“Mamah?” Kompak para santri dengan mulut terbuka, dan kening berkerut, heran.


“Iya, dari pertama ketemu tadi di pos jaga, udah panggil mamah, aku aja bingung.” Jujur saja, Zea juga turut bingung, mengapa anak itu memanggilnya ‘mamah’?.


“Anak kecilkan emang tau siapa yang baik, dan siapa yang jahat Mbak, mungkin dia pengin Mbak, jadi mamahnya,” seloroh Mba Karin.


“Emang mamahnya kemana, Mbak?” tanya Mba Lia.


“Aku ga tau, tadi adanya ayahnya aja.” Jujur, Zea memang tidak tau di mana mamah Aira berada.


“Wah lampu hijau tuh, Mba,” celetuk salah satu santri. Tak mau semakin digoda, Zea memutuskan pamit ke kamarnya.


“Jangan aneh-aneh. Udah, saya mau ke kamar.”


“Yah.” Suara kekecewaan para santri putri, karena tidak bisa menjadikan Aira ‘mainan’.


Tanpa menghiraukan kekecewaan para santri, Zea melenggang pergi bersama Aira yang berada di gendongnya.


Setibanya di kamar, keadaan begitu sepi. Tidak ada orang. Hanya ada barang-barang. Sepertinya para abdi ndalem juga sedang sibuk menyambut para wali santri yang ingin bertemu dengan Umi. Zea menurunkan Aira dari gendongannya.


“Ai, nanti kalo mau pipis apa pup bilang ya.” Zea membelai lemut kepala Aira. Anak itu mengangguk, dan bibirnya tersenyum manis.


“Tolong buca, Mah.” Aira mengacungkan es cream rasa coklat dengan merk ternama. Zea segera mengambil es cream dari tangan kanan Aira, kemudian membuka bungkusnya.


“Ayo baca do’a dulu,” titah Zea pada Aira sembari menyodorkan es cream yang baru saja dibuka bungkusnya.


“Bis millah hilloh man nil lohim.” Dengan gaya khas anak-anak usia dua tahun setengahnya, Aira membaca do’a sebelum makan. Selesai membaca do’a batita tersebut langsung menggigit es creamnya.


“Nggak dingin, Sayang?” Melihat itu, Zea meringis menahan ngilu di gigi. Aira lagi-lagi menggeleng. Dia semakin menikmati setiap gigitan es creamnya.


Tidak perlu menunggu waktu lama, es cream di tangan Aira, tinggal bungkusnya saja. Zea hanya bisa tersenyum Aira. Lantas dia menyuruh bocah itu membaca do’a sesudah makan.


Dengan polosnya Aira menjawab, “Belum bica, Mah.”


“Ya sudah, Ai ikutin mamah, ya!” Aira mengangguk patuh. Membuat Zea semakin gemas.


Cup.


Zea mencium pipi gembul Aira. Setelah itu dia membaca do’a selesai makan, dan diikuti oleh Aira.


Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillaahil ladzi ath’ amana wasaqona wajangalan muslimin.


Yang artinya : 𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘩𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘢𝘩𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨. 𝘚𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘱𝘶𝘫𝘪 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘳𝘪 (𝘮𝘶𝘴𝘭𝘪𝘮).


Kemudian Zea mengajari Aira menghafal huruf hijaiyah.


Sungguh kedua makhluk Alloh yang berbeda usia itu terlihat seperti anak dan ibu kandung. Sama-sama berkulit hitam manis, bibir tipis dan bulu mata yang panjang nan lentik.




Tanpa sadar, waktu berlalu begitu cepat.


Mentari sudah berada di ufuk barat, para santri juga sedang berjajar rapih untuk mengambil jatah makan malamnya.


Sedangkan di kamar para abdi ndalem putri, keadannya begitu kontras. Terlihat wajah-wajah lelah dari para abdi ndalem, yang seharian ini ikut menyambut kedatangan para santri baru. Begitu juga dengan Zea.


“Mba Ze, ada yang nyariin tuh, di kantor pengurus,” ucap salah satu teman sekamar Zea.


“Iya.” Zea yang baru saja selesai memakai pakaian, bergegas memakai kerudungnya. Lalu membopong Aira yang sedang tertidur lelap, dan membawanya ke kantor pengurus.


“Ze, mau kemana?” tegur seseorang, saat Zea baru saja ke luar dari komplek.


Zea menoleh. Dia mendapati seorang laki-laki tinggi, berbadan kekar, dan gagah berdiri di belakangnya dengan.


Yoga Aditya Pratama namanya. Putra pertama Kyai Hasbullah dan Umi Hindun, selaku pengasuh pondok pesantren. Di usianya yang menginjak 30 tahun, Mas Yoga masih betah menjomblo, padahal tiga adiknya sudah menikah bahkan punya anak. Entah apa yang membuatnya betah dalam kesendirian.


“Mau ke kantor pengurus, Mas,” timpal Zea.


“Oh, itu siapa yang digendong kamu?”


“Aira.”


“Sini mas bantuin gendong.” Mas Yoga menawarkan diri untuk menggendong Aira. Namun, Zea menolak tawaran itu dengan halus.


“Terima kasih, Mas. Tapi Zea masih bisa sendiri.”


“Baiklah.”


Dirasa tak ada hal penting lagi, Zea berpamitan untuk melanjutkan langkah.


“Zea lanjut ke kantor pengurus. Permisi.” Zea berlalu.


Mas Yoga mengangguk, memperbolehkan. Matanya menatap punggung perempuan yang semakin menjauh.


𝘏𝘶𝘧𝘵𝘵, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘴𝘶𝘣𝘶𝘳?

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk