“Mbak, Mbak sadar enggak?”
Zea yang sedang melipat kain menghentikan gerakannya. Menoleh. “Sadar apa?” keningnya mengerut.
“Sadar kalau Pak Arka suka sama Mbak.”
“Uhuk, uhuk.” Mendengar itu, Zea tersedak ludahnya sendiri.
“Mbak juga suka, kan?” Aruna langsung menepuk-nepuk punggung Zea.
“Ada-ada aja kamu, Run. Lagian wajar, kan, laki-laki suka perempuan?”
Aruna memutar matanya, malas. Sudah hafal dengan tingkah Zea, yang akan langsung mengalihkan topik pembicaraan jika tidak suka.
“Wajar, Mbak. Wajar banget, malah,” balas Aruna, kesal.
Zea hanya tersenyum. Dia memerintahkan Aruna membalik tanda tutup pada pintu butik ini. Butik yang dibangun atas hasil kerja keras Zea, dan sudah memiliki satu cabang.
Butik ini menyediakan pakaian muslim, dan penyewaan baju pengantin. Zea juga menjual jasa pembuatan gaun pengantin yang ia desain sendiri. Sedari kecil, ia memang suka menggambar. Terlebih menggambar gaun-gaun untuk para putri di serial kartun.
Umi Hindun yang melihat bakat Zea, mengarahkan bocah itu untuk menggambar baju muslim. Beliau juga membelikan buku-buku tentang desain baju.
Semakin besar, Zea semakin paham akan dunia desain. Hasil gambarnya pun semakin memuaskan. Setelah berhasil menjuarai lomba desain tingkat kecamatan, ia semakin percaya diri mengikuti lomba-lomba lainnya.
Selain pintar menggambar, akademiknya juga tidak kalah. Ia tak perlu pusing memikirkan biaya sekolah, karena mendapat beasiswa. Pun begitu dengan biaya pesantrennya. Ia juga diakui sebagai anak angkat Umi Hindun dan Abi Soleh.
“Iya, iya.” Aruna berlalu membawa rasa kesalnya.
“Apa yang dikatakan Aruna, ada benarnya juga.” Zea ingat saat menunggui Aira di rumah sakit. Arka tidak berani masuk ruangan sembarangan, kecuali dalam waktu tertentu. Lelaki itu juga memastikannya makan teratur, setelah tahu asam lambung Zea naik.
“Tapi ..., apa Pak Arka mau, dengan perempuan sepertiku?” Inilah salah satu kekurangan Zea. Ia selalu merasa tidak pantas menjadi milik siapa pun.
Ibunya saja membuangnya ke pesantren. Apakah akan ada orang lain yang menginginkannya?
Tak mau berlarut pada pikiran buruk, Zea bergegas menyusul Aruna.
“Selamat pagi. Selamat datang di butik kami.” Aruna menyapa dua orang perempuan yang memasuki butik.
“Pagi, Mbak.”
“Loh Oma, Mbak Airin, Aira, Dek Lisa,” ujar Zea. Sebenarnya ada satu lagi seorang perempuan berseragam baby sitter berdiri di belakang empat orang itu. Akan tetapi, Zea tidak tahu namanya.
“Mamah!” seru Aira. Mata bulatnya berbinar melihat Zea. Ia meronta turun dari stroller.
“Zea,” timpal Oma Aminah dan Mbak Airin bersamaan.
“Kamu kerja di sini, Ze?” tanya Mbak Airin.
“Bukan, Mbak. Mbak Zea ini pemiliknya,” sahut Aruna, yang langsung mendapat tatapan tajam Zea.
Zea tak suka diperkenalkan sebagai pemilik butik. Ia lebih suka diperkenalkan sebagai karyawan biasa di butik ini.
“Wah, masyaallah. Selain cantik, baik, keibuan, pintar, ternyata calon mantunya oma ini pengusaha juga,” puji Bu Aminah.
“Calon mantu?” batin Zea, “apa mungkin Pak Arka ....” Ia segera menepis pikiran itu.
“Oma bisa aja. Ini semua juga berkat dukungan keluarga Abi Umi, dan tentunya atas Ridho Sang Maha Kuasa,” balas Zea. Bu Aminah dan Mbak Airin mengangguk, setuju.
Setelah bersalaman, menggendong Aira, dan dikenalkan dengan susternya Lisa oleh Mbak Airin, Zea lantas mengajak keluarga Arka berkeliling butik. Ia juga menanyakan apa yang Bu Aminah dan Mbak Airin cari. Ternyata keduanya mencari gamis dan kerudung senada. Zea dengan cekatan menawarkan beberapa model gamis terbaiknya.
“Ini cocok sekali untuk dipakai sehari-hari, Mbak. Bahannya adem, enggak nerawang, dan modelnya kekinian.” Zea menjelaskan gamis dengan style korean look yang sedang dipegang oleh Mbak Airin.
“Oke, mbak ambil yang ini.”
Pada akhirnya, Mbak Airin membeli lima setel gamis yang dipilihkan Zea, juga tiga setel gamis untuk Sus Nur. Sedangkan Oma Aminah hanya membeli satu gamis. Puas berbelanja, mereka pun pamit, dan seperti biasa ada drama.
Aira tidak mau berpisah dengan Zea. Bocah itu terus menempel pada Zea, layaknya anak kangguru yang ada di kantong sang induk.
“Aira biar sama saya saja, Oma, Mbak.”
“Tapi, Ze, nanti cucu oma nyusahin kamu.” Bu Aminah tidak enak hati. Tiap kali bertemu Aira, Zea pasti dibuat repot.
“Enggak, kok, Oma. Aira kan anak baik, nurut juga, insyaallah enggak akan ngerepotin saya,” balas Zea.
“Gitu, ya?”
“Iya! Udah, Ibu percaya aja sama Zea,” sela Mbak Airin.
“Mbak boleh minta nomor whatsappmu, Ze? Biar nanti kalau Aira rewel, kamu bisa kabari mbak,” kata Mbak Airin. Zea mengangguk. Ia langsung menyebutkan nomor ponselnya yang sudah hafal di luar kepala.
“Makasih, Sayang.” Ada senyum misterius di ujung kalimat Mbak Airin.
“Ini nomernya Zea.” Mbak Airin mengirim pesan pada seseorang.
“Kalau gitu, kami pamit, ya Ze,” pamit Bu Aminah.
“Iya Oma, hati-hati di jalan.” Zea kembali menyalami kedunya. Lantas mereka berlalu.
“Cie-cie, yang jadi calon mantunya Oma Aminah,” ledek Aruna.
“Cuma calon, bisa aja enggak jadi,” timpal Zea, seraya nyelonong pergi, membawa Aira.
“Astaga, Mbak Zea! Masih aja ngerasa rendah diri. Padahal Oma Aminah dan Mbak Airin udah seterang-terangan itu ngasih restu.” Aruna menggeretu. Ia tidak suka pada sifat Zea yang satu ini. Merasa dirinya tidak pantas untuk siapa pun.
“Halo, assalamu’alaikum, dengan siapa dan ada keperluan apa?” Jam sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB, saat Zea mengangkat panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.
“Wa’alikumsalam. Saya papahnya Aira.” Terdengar jawaban dari sebrang sana.
“Oh, Pak Arka.”
“Iya.” Arka mengangguk, walau ia tahu Zea tidak bisa melihatnya. “Apa Aira rewel? Nyusahin kamu?”
Zea mengulas senyum. Mengalihkan tatapannya pada Aira, yang tengah sibuk bermain pazel. Ia menjelaskan bahwa seharian ini Aira sama sekali tidak rewel. Bocah itu sangat nurut, walau keingintahuannya begitu besar. Setiap benda yang dilihatnya, pasti ingin dimainkannya.
Aira juga tidak mengganggu saat Zea melayani pelanggan. Bocah itu diam tenang di pangkuan Zea.
“Syukurlah kalau begitu.” Arka bernapas lega.
“Iya, Pak.”
“Boleh bagi lokasi kamu?”
“Boleh.” Tanpa ba bi bu, Zea membagi titik lokasinya pada Arka.
“Terima kasih, Ze.”
“Sama-sama.”
Selanjutnya, Arka berpamitan dan berjanji akan segera datang menjemput Aira. Sambungan telepon pun ditutup.
Zea menyimpan telepon pintarnya ke dalam saku. Ia meraih salah satu kepingan pazel, kemudian mulai mengajari Aira menyusunnya.
Selang lima menit, kepala Aruna muncul dari balik pintu. “Mbak, ada Pak Arka.”
“Oke.” Zea bangkit.
“Ayo, Sayang, kita temui papahmu.” Ia menggendong Aira. Kemudian berlalu dengan jantung yang berdetak tak karuan.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!