Malam harinya, Zea menginap di rumah sakit, karena Aira yang tidak mau ditinggal. Bahkan Aira meminta Zea untuk menemani tidur di sampingnya.
“Apa kamu sebegitu rindunya akan sosok mamah, Sayang?” batin Arka, menatap Aira yang tidur pulas dalam pelukan Zea. Tangan kanannya bergerak membenarkan selimut yang tersingkap.
Zea yang masih setengah sadar, langsung membuka mata, tatkala merasa selimutnya di tarik seseorang.
Deg.
Mata mereka bertemu. Waktu seakan terhenti untuk beberapa saat.
“Manis,” guman Arka tanpa sadar.
“Ehem.” Zea berdeham.
“Eh, ma-maaf, bukan maksud saya tidak sopan. Saya-saya hanya ingin membenarkan selimut,” jelas Arka terbata-bata.
“Ya,” jawab Zea, cuek. Padahal degub jantung Zea layaknya orang yang habis lari maraton. Berdebar begitu kuat.
“Maaf, bisa Anda pindah posisi?” Zea merasa tak nyaman dengan posisi Arka yang begitu dekat dengannya.
“Oh ya, maaf.” Arka melangkah mundur.
Dug.
“Anda tidak apa-apa?”
Arka menggeleng. Namun, wajahnya tidak bisa bohong jika sedang menahan sakit. Tidak mau mencampuri urusan Arka, Zea turun dari ranjang, mengambil tas di atas nakas, kemudian berlalu.
“Mau ke mana?”
“Mau solat isya, saya belum solat,” jawab Zea tanpa menoleh. Arka mengangguk.
“Ah, dasar nakas payah!” Begitu Zea tak lagi terlihat, Arka mengumpat. Tangannya memukul nakas pelan. Ia duduk, memeriksa kakinya yang terantuk nakas.
“Ya Allah, ada apa dengan hatiku, kenapa setiap mata kami bertemu, jatungku berdebar begitu kuat?” Zea terus berpikir ada apa dengan dirinya, hingga ia tak sadar telah sampai di depan masjid rumah sakit.
“Astaghfirullah, dari tadi mikir yang aneh-aneh, sampai engga sadar udah sampai.”
Suasana masjid rumah sakit begitu sepi. Hanya terlihat beberapa orang pria yang sedang duduk santai di teras masjid.
Sebelum melangkah memasuki area masjid, Zea membuang jauh-jauh pikirannya tentang Arka. Agar solatnya tak terganggu dengan wajah tampan sang duda beranak satu itu. Setelah merasa sudah tak memikirkan Arka lagi, ia langsung bergerak ke arah tempat wudu khusus kaum hawa.
Mentari telah keluar dari persembunyian, menyinari bumi dengan sinarnya. Menghadirkan hawa hangat.
Seperti kata Dokter Iqbal kemaren, hari ini Aira sudah boleh pulang. Arka, Zea, dan Aira sudah berada di perjalanan pulang dengan Zea yang memangku Aira di kursi penumpang. Membuat Arka terlihat seperti sopir. Tapi itu bukan masalah besar bagi Arka, yang penting Aira senang.
Zea dan Arka sudah sepakat, nanti jika Aira sudah tidur, Zea akan pulang ke pesantren.
“Kamu sudah berapa lama di pesantren?” Arka mulai basa-basi. Ia mentap Zea melalui kaca.
“Belum lama.”
“Terima kasih, kamu sudah membantu saya menjaga Aira.”
Zea mengangguk. “Sama-sama.”
“Saya dan ibunya Aira sudah bercerai sejak Aira lahir.” Entah kenapa, Arka ingin menceritakan kisah hidupnya pada Zea.
“Satu tahun terakhir ini, saya mencoba mengenalkan Aira dengan beberapa teman perempuan saya. Tapi Aira selalu menangis tak mau digendong oleh mereka. Eh, begitu bertemu kamu, Aira langsung memanggil mamah,” kata Arka, yang diakhir senyum di ujung kalimatnya.
Senyum penuh arti, yang menyimpan banyak tujuan di baliknya.
Zea hanya diam. Takut salah bicara.
Tak terasa, sampailah mereka di depan sebuah gerbang yang terbuat dari baja dengan ukiran kepala singa di tengahnya. Seolah menunjukan betapa berkuasanya sang pemilik rumah.
Arka menekan klakson mobil kala gerbang tak kunjung terbuka. Seorang berseragam satpam datang dengan berlari kecil. Lalu ia segera membukakan gerbang untuk sang bos.
“Makasih, Pak,” ucap Arka, tidak lupa berterima kasih. Mobil memasuki halaman rumah. Kemudian berhenti di depan pintu utama.
Seorang wanita yang masih cantik di usia senjanya, menyambut kedatangan mereka dengan senyum bahagia.
“Makasih ya, Sayang, udah mau nungguin cucu oma,” ujar wanita itu pada Zea.
“Sama-sama Oma, ayo Ai salim sama Oma” titah Zea pada Aira agar bocah itu menyalimi tangan sang Oma. Aira menuruti apa kata Zea. Bocah itu mengulurkan tangan kananya meminta salim.
“Duh pinternya cucu oma,” puji Bu Aminah seraya mengelus kepala Aira. Gemas.
“Ayo masuk, pasti belum sarapan, kan?” Bu Aminah mengajak Zea sarapan di rumahnya. Beliau tau jika Zea, dan anaknya pasti belum makan. Lagi pula, mana ada warung yang jam 6 pagi sudah buka? Zea mengangguk, kemudian mengikuti langkah Bu Aminah.
“MasyaAllah,” guman Zea takjub melihat keindahan dan kemewahan interior serta barang-barang yang ada di dalam rumah itu.
“Pagi Ze, Ai,” sapa Mba Airin yang sedang menyuapi seorang anak perempuan yang lebih kecil dari Aira.
“Pagi mba Airin,” balas Zea. Zea mendekatkan diri ke arah mba Airin, lalu menyuruh Aira untuk salim dengan budenya itu.
“Pagi Mba Lica.” Aira menyapa anak yang sedang disuapi oleh mba Airin.
“Hehehe.” Anak itu hanya tertawa.
“Sayang sini, sarapan dulu.” Bu Aminah memanggil Zea.
“Iya, Oma.” Karena bingung ingin memangil dengan panggilan apa pada Bu Aminah, akhirnya Zea lebih memilih untuk memanggilnya dengan sebutan Oma.
“Ayo Mba, sarapan.” Zea mengajak Mba Airin.
“Mba udah sarapan, udah sana kamu sarapan dulu, pasti dari kemaren kamu hanya makan sedikit,” tolak Mba Airin.
“Hehhe, ya sudah Zea mau sarapan dulu ya, Mba,” ujarnya dengan senyum malu-malu. Mbak Airin mengangguk.
Zea berlalu bersama Aira, meninggalkan mba Airin dan Alisa menuju ke meja makan. Sampai di meja makan, Zea memilih untuk duduk di dekat Bu Aminah, dan Aira didudukan di sampingnya.
“Ai makan, ya?” titahnya pada si gadis kecil.
“Iy Mah, cuapi,” jawabnya manja. Zea mengguk seraya menjawil gemas pipi gembul Aira.
“Oma, ini buat Ai kan?” tanyanya seraya menunjuk semangkok bubur.
“Iya, Sayang, itu sarapan buat Ai,” jawab Oma Aminah.
Zea dengan cekatan menyuapi Aira makan. Bu Aminah yang melihat kedekatan cucunya dan Zea, merasa terharu sekaligus sedih. Sedih teringat perceraian Arka dengan Sarah. Sedih teringat Aira yang tidak diinginkan ibu kandungnya.
Lihatlah. Zea yang bahkan baru kenal beberapa hari dengan Aira, begitu perhatian dan telaten.
“Oma nangis?” tanya Zea yang tak sengaja melihat butiran air mata membasahi pipi Bu Aminah. Bu Aminah langsung mengusap air matanya yang berhasil lolos begitu saja. Beliau tak mau Zea tau, jika dirinya benar-benar menangis.
“Engga, oma enggak nangis ko, cuma kelilipan tadi,” elaknya.
“Oh, kirain Zea, Oma nangis.”
“Sini Ze, biar saya yang nyuapi Aira, kamu makan, ya!” Arka baru saja datang entah dari mana. Dia langsung mengambil alih mangkuk makan milik Aira dari tangan Zea.
“Silakan.” Zea menyerahkan sendok kecil yang berada di tangannya.
“Ai makan sama papah dulu ya, biar Mamah juga makan.” Arka mulai menyuapi anaknya. Untungnya, Aira nurut.
Melihat bagaimana Arka dan Bu Aminah memperlakukan Aira, Zea jadi merindukan orang tuanya. Pikirannya melayang jauh, kembali ke saat dirinya berusia 5 tahun. Di usia itulah Zea pertama kali menginjakan kakinya di pondok pesantren Al-ikhlas, yang menjadi tempat tinggalnya sampai saat ini.
Di hari itu juga, terakhir kali dirinya melihat wajah sang ibu. Zea masih mengingat dengan jelas janji ibunya saat akan meninggalkannya.
“Ibu janji akan menjengukmu setiap bulan Ze, jadi jangan menangis, belajarlah yang benar.”
Janji tinggalah janji, sejak hari itu Zea sama sekali tidak pernah melihat ibunya lagi, ntah masih sehat atau tidak, atau bahkan sudah menjadi tanah? Zea tak tau, karena sejak hari itu pula, Zea tak pernah mendengar kabar tentang ibunya.
Sejak hari itu, ia ‘dibuang’ ibunya sendiri.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!