DARAH BIRU YANG TERLUPAKAN
Di sebuah desa yang dikelilingi hutan tua, hiduplah seorang pemuda bernama Anto Wijaya.
Anto dikenal sederhana. Tidak ada yang menyangka bahwa di dalam tubuhnya mengalir darah keturunan bangsawan.
Sejak kecil, Anto sering mengalami mimpi aneh.
Dalam mimpinya ia selalu melihat seekor macan putih berdiri di depan sebuah keraton tua.
Suatu malam, ketika Anto berusia dua puluh tahun, mimpi itu berubah.
Macan putih tersebut berbicara kepadanya.
“Waktumu telah tiba, pewaris.”
Anto terbangun dengan tubuh penuh keringat.
Di telapak tangannya muncul sebuah tanda berbentuk cakar macan.
Keesokan harinya Anto menemui gurunya, Ki Patikmanungso.
Ki Patikmanungso langsung terdiam ketika melihat tangan muridnya.
“Jadi akhirnya tanda itu muncul juga.”
“Guru, tanda apa ini?”
Ki Patikmanungso menarik napas panjang.
“Anto... selama ini aku menyembunyikan sesuatu darimu.”
Anto menatap gurunya.
“Kau bukan pemuda biasa.”
BAB 2 — PEWARIS AJIAN MACAN PUTIH
Ki Patikmanungso akhirnya menceritakan kebenaran.
Keluarga Wijaya merupakan keturunan bangsawan kuno yang dahulu menjaga sebuah ilmu pusaka bernama Ajian Macan Putih.
Ajian itu bukan sekadar ilmu untuk bertarung.
Ia merupakan ilmu yang dipercaya dapat memberikan kekuatan luar biasa kepada orang yang memiliki garis darah tertentu.
Namun, ilmu tersebut memiliki aturan.
Tidak boleh digunakan untuk keserakahan.
Jika digunakan untuk kejahatan, kekuatan Macan Putih akan berbalik menghancurkan pemiliknya.
“Guru, mengapa saya tidak pernah diberi tahu?”
“Karena ada orang yang sedang mencarimu.”
“Siapa?”
Ki Patikmanungso menjawab pelan.
“Ki Aryo Pangalila.”
BAB 3 — KI ARYO PANGALILA
Di tempat lain, di sebuah rumah tua yang berada jauh di dalam hutan, seorang lelaki tua duduk di depan tungku.
Dialah Ki Aryo Pangalila.
Di hadapannya terdapat berbagai benda pusaka dan kitab kuno.
Tiba-tiba sebuah lilin padam.
Ki Aryo tersenyum.
“Macan Putih telah bangun.”
Di belakangnya terdengar suara berat.
“Apakah pewarisnya sudah ditemukan?”
Ki Aryo menoleh.
“Sudah.”
“Siapa?”
“Anto Wijaya.”
Ki Aryo kemudian membuka sebuah kitab tua.
Di dalamnya terdapat lukisan seorang pemuda berdiri di samping macan putih.
Di bawah gambar tersebut tertulis:
PEWARIS DARAH BIRU AKAN MENJADI PENGHALANG KUDajATI.
Ki Aryo mengepalkan tangan.
“Kalau Anto menguasai Ajian Macan Putih sepenuhnya, perjanjian Kudajati bisa dihancurkan.”
BAB 4 — JAGATPATI, JURAGAN TERKAYA
Nama Jagatpati dikenal di seluruh wilayah.
Ia memiliki tanah, rumah, perkebunan, dan berbagai usaha.
Namun masyarakat tidak mengetahui rahasia kekayaannya.
Setiap malam tertentu, Jagatpati pergi ke sebuah tempat terlarang di tengah hutan.
Di sana terdapat sebuah patung menyerupai manusia berkepala kuda.
Patung itu disebut Kudajati.
Jagatpati berlutut.
“Kudajati... berikan aku kekayaan yang lebih besar.”
Api di sekeliling patung tiba-tiba menyala.
Suara mengerikan terdengar.
“Berikan tumbal...”
Jagatpati tersenyum.
“Selama kekayaanku bertambah, aku akan melakukan apa pun.”
Tetapi malam itu Kudajati memberikan syarat baru.
“Darah pewaris Macan Putih.”
Wajah Jagatpati berubah.
“Anto Wijaya...”
BAB 5 — WULANDARI
Anto tidak menghadapi semuanya sendirian.
Sahabatnya, Wulandari, selalu berada di sisinya.
Wulandari sebenarnya memiliki hubungan dengan keluarga Sasena Bagaskoro.
Suatu hari Wulandari memperkenalkan Anto kepada Putri Agreani Sasena.
Putri Agreani merupakan putri keluarga Sasena yang sangat dihormati.
Ketika pertama kali melihat Anto, Putri Agreani terlihat terkejut.
“Nama lengkapmu siapa?”
“Anto Wijaya.”
Putri Agreani terdiam.
“Keluarga Wijaya?”
Anto mengangguk.
Putri Agreani kemudian berkata:
“Berarti legenda itu benar.”
“Legenda apa?”
Putri Agreani menatap Wulandari.
“Sepertinya sudah waktunya dia mengetahui semuanya.”
BAB 6 — RAHASIA KELUARGA SASENA
Keluarga Sasena ternyata telah menjaga sebuah rahasia selama ratusan tahun.
Mereka mengetahui bahwa suatu hari pewaris Ajian Macan Putih akan muncul.
Namun mereka juga mengetahui bahwa munculnya pewaris tersebut akan membangkitkan kekuatan Kudajati.
Putri Agreani kemudian menyerahkan sebuah benda kepada Anto.
Sebuah cincin kuno bergambar macan putih.
“Ini milik leluhurmu.”
Ketika Anto menyentuh cincin tersebut, tanah tiba-tiba bergetar.
Angin berputar.
Dari kejauhan terdengar suara auman macan.
“Auuummm...”
Ki Patikmanungso yang berada di tempat lain langsung mengetahui apa yang terjadi.
“Ajian Macan Putih mulai memilih tuannya.”
BAB 7 — PERANG BESAR
Jagatpati akhirnya mengirim orang-orangnya untuk menangkap Anto.
Namun mereka tidak mengetahui bahwa Anto telah berlatih bersama Ki Patikmanungso.
Ketika Anto dikepung, matanya berubah tajam.
Tubuhnya mengeluarkan aura putih.
Ki Patikmanungso berteriak:
“Anto! Ingat pesanku!”
Anto menoleh.
“Jangan gunakan kekuatanmu karena dendam.”
Anto mengepalkan tangan.
“Aku mengerti, Guru.”
Untuk pertama kalinya, Ajian Macan Putih muncul sepenuhnya.
Bayangan seekor macan putih terlihat di belakang tubuh Anto.
Semua orang terdiam.
Ki Aryo Pangalila yang melihat kejadian itu dari kejauhan hanya berkata:
“Perang antara Macan Putih dan Kudajati telah dimulai.”
Dan dari dalam hutan...
terdengar suara tawa Jagatpati.
“Anto Wijaya... kau adalah kunci menuju kekayaan abadiku.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!