BAB 8 — SERANGAN DI TENGAH MALAM

14 dibaca

A

SERANGAN DI TENGAH MALAM

Malam semakin larut.

Desa yang biasanya tenang tiba-tiba diselimuti kabut tebal. Suara burung malam berhenti. Bahkan anjing-anjing warga bersembunyi di bawah rumah.

Anto Wijaya berdiri di halaman rumah Ki Patikmanungso.

Ia merasakan sesuatu yang aneh.

“Guru...”

Ki Patikmanungso keluar membawa sebuah keris tua.

“Mereka datang.”

“Siapa?”

“Orang-orang Jagatpati.”

Belum sempat Anto bertanya, terdengar suara langkah dari balik pepohonan.

Satu...

Dua...

Kemudian puluhan bayangan muncul.

Di antara mereka berdiri seorang lelaki berpakaian hitam.

“Serahkan Anto Wijaya!”

Ki Patikmanungso mengangkat kerisnya.

“Selama aku masih hidup, tidak akan kubiarkan kalian menyentuh muridku.”

Pertarungan pun pecah.

Anto mencoba melindungi gurunya. Namun tiba-tiba salah seorang penyerang mengeluarkan ilmu hitam.

Tubuh Anto terpental.

“ANTO!”

Teriakan Wulandari terdengar dari belakang.

Ternyata Wulandari dan Putri Agreani datang untuk membantu.

Putri Agreani membawa cincin pusaka keluarga Sasena.

“Anto! Bangun!”

Anto membuka matanya.

Ia melihat Wulandari terluka.

Seketika amarah menguasai dirinya.

Aura putih mulai muncul dari tubuhnya.

Ki Patikmanungso berteriak:

“Jangan, Anto!”

Namun terlambat.

Bayangan macan putih muncul di belakang Anto.


BAB 9 — MACAN PUTIH MENGAMUK

Tanah bergetar.

Para anak buah Jagatpati mundur ketakutan.

“Dia... mengeluarkan Ajian Macan Putih!”

Anto melangkah maju.

Setiap langkahnya membuat aura putih semakin kuat.

Pemimpin kelompok itu mencoba menyerang.

Namun dalam sekejap Anto menghindar.

BRAK!

Lelaki tersebut terpental jauh.

Anto hendak menyerang kembali.

Tetapi Ki Patikmanungso berdiri di depannya.

“Berhenti!”

“Guru, mereka menyakiti Wulandari!”

“Aku tahu.”

“Biarkan aku menghancurkan mereka!”

Ki Patikmanungso menatap tajam.

“Kalau kau membunuh karena amarah, kau tidak berbeda dengan Jagatpati.”

Kata-kata itu membuat Anto terdiam.

Aura putih perlahan menghilang.

Para penyerang melarikan diri.

Tetapi sebelum pergi, pemimpin mereka berkata:

“Jagatpati sudah mengetahui kelemahanmu.”

Anto menatapnya.

“Apa?”

Lelaki itu tersenyum.

“Kelemahanmu adalah orang-orang yang kau cintai.”


BAB 10 — PERJANJIAN KUDajATI

Di kediamannya, Jagatpati menerima laporan.

“Anto berhasil melawan kita.”

Jagatpati marah.

“Kalau begitu waktunya aku meminta bantuan Kudajati.”

Malam itu Jagatpati kembali menuju tempat pesugihan.

Ia berlutut di depan patung Kudajati.

“Aku ingin kekuatan lebih besar.”

Suara gaib terdengar.

“Bawa darah pewaris.”

“Aku akan mendapatkannya.”

“Dan sebagai gantinya...”

Jagatpati terdiam.

“...apa?”

“Keturunanmu akan menjadi milikku.”

Jagatpati sempat ragu.

Namun keserakahan mengalahkan rasa takutnya.

“Aku setuju.”

Api di sekitar patung menyala tinggi.

Perjanjian pun diperbarui.

Sejak saat itu, Jagatpati mendapatkan kekuatan yang jauh lebih besar.


BAB 11 — RAHASIA WULANDARI

Sementara itu, Wulandari berada di rumah Putri Agreani.

Ia melihat sebuah lukisan tua keluarga Sasena.

Di dalam lukisan tersebut terdapat seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dirinya.

“Putri...”

“Ya?”

“Siapa wanita ini?”

Putri Agreani terdiam.

“Itu leluhur keluargaku.”

Wulandari semakin penasaran.

“Kenapa wajahnya mirip denganku?”

Putri Agreani akhirnya membuka rahasia.

“Wulandari... sebenarnya kau juga memiliki darah keluarga Sasena.”

Wulandari terkejut.

“Apa?”

“Dan ada alasan mengapa keluargamu menyembunyikan identitasmu.”

Tiba-tiba pintu terbuka.

Ki Aryo Pangalila berdiri di sana.

“Karena darah Wulandari adalah pasangan darah Macan Putih.”

Semua terdiam.

Anto menatap Wulandari.

“Apa maksudnya?”

Ki Aryo tersenyum misterius.

“Kalau kau ingin mengalahkan Kudajati, Anto, kau tidak bisa melakukannya sendirian.”


BAB 12 — KI ARYO PANGALILA

Anto berdiri berhadapan dengan Ki Aryo.

“Kenapa kau tahu semua tentang keluargaku?”

Ki Aryo menjawab:

“Karena aku pernah menjadi murid gurumu.”

Ki Patikmanungso langsung terkejut.

“Jangan buka masa lalu itu!”

Ki Aryo tertawa kecil.

“Dulu kita berdua belajar ilmu yang sama. Tetapi jalan kita berbeda.”

Ki Patikmanungso menggeleng.

“Kau memilih jalan kegelapan.”

“Dan kau memilih menjadi pertapa.”

Ki Aryo kemudian menatap Anto.

“Aku tidak datang untuk membunuhmu.”

“Lalu untuk apa?”

“Aku datang memperingatkanmu.”

“Perihal apa?”

Ki Aryo menunjuk ke arah hutan.

“Kudajati sudah bangun sepenuhnya.”

Tiba-tiba langit berubah gelap.

Petir menyambar.

Dari kejauhan terdengar suara seperti ringkikan kuda.

Ki Patikmanungso berbisik:

“Mustahil...”

Ki Aryo menatapnya.

“Sudah waktunya, Patikmanungso.”

“Perang terakhir akan segera dimulai.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk