DELAPAN TRAH BERSATU
Melihat Jagatpati mulai kehilangan kendali, para pewaris Delapan Trah bergerak.
Jaka Anom mengangkat tangannya.
Sekar Sasena membuka pusaka keluarganya.
Raka Angkara mengeluarkan kekuatan Kerta Angkara.
Wira Wisesa memanggil kekuatan Kolo Wisesa.
Bima Bogolono menghentakkan kakinya.
Jati Angkoro mengangkat kedua tangannya.
Energi mereka perlahan menyatu.
Ki Patikmanungso menatap mereka.
“Inilah tujuan sebenarnya Delapan Trah.”
Semua terdiam.
“Bukan saling menguasai.”
“Bukan mencari kekayaan.”
“Bukan mengejar kesaktian.”
Ki Patikmanungso mengepalkan tangannya.
“Tetapi menjaga keseimbangan.”
Anto berdiri di tengah mereka.
Wulandari berada di sampingnya.
Cahaya putih masih menyelimuti tubuh Anto.
Sementara itu, Raden Wijaya mulai terbebas dari pengaruh Kudajati.
“Ayah...”
Raden Wijaya menatap Anto.
“Anto...”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tatapan mereka kembali bertemu tanpa kegelapan.
Namun...
Tiba-tiba—
BOOOOM!
Gerbang makam Prabu Kolosukma pecah berkeping-keping.
Gelombang energi hitam menyapu seluruh ruangan.
Para pewaris Delapan Trah terlempar.
Wulandari menahan tubuhnya.
Anto berdiri dengan susah payah.
Macan Putih di belakangnya mengaum keras.
GRRRRAAAWWWR!
Dari dalam kegelapan, muncul sebuah sosok.
Langkahnya perlahan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Setiap langkah membuat tanah bergetar.
Ki Aryo Pangalila membeku.
Wajahnya berubah pucat.
“Mustahil...”
Anto menoleh.
“Siapa dia?”
Ki Aryo hampir tidak mampu mengeluarkan suara.
“Prabu...”
Sosok itu akhirnya keluar dari kegelapan.
Wajahnya tua namun penuh kekuatan.
Matanya menyala merah.
Aura hitam memenuhi seluruh gua makam.
Prabu Kolosukma telah bangkit.
Sang Dayang langsung berlutut.
“Prabu...”
Prabu Kolosukma tidak menjawab.
Ia hanya menatap seluruh pewaris Delapan Trah.
Kemudian matanya berhenti pada Anto.
Lalu kepada Wulandari.
Dan terakhir kepada Jagatpati yang sudah berlutut dalam ketakutan.
“Delapan Trah...”
Suara Prabu Kolosukma menggema di seluruh makam.
“Kalian telah membangunkanku.”
Anto mengepalkan tangannya.
Cahaya putih kembali membara.
Macan Putih mengaum di belakangnya.
Namun Prabu Kolosukma hanya tersenyum.
“Jadi...”
Ia melangkah maju.
“Kaulah pewaris Wijaya.”
Anto menatapnya tanpa gentar.
“Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan dunia ini.”
Prabu Kolosukma tertawa kecil.
“Anak muda...”
“Aku tidak datang untuk menghancurkan dunia.”
Ia berhenti.
“Aku datang untuk mengambil kembali apa yang dahulu menjadi milikku.”
Anto terdiam.
“Apa yang kau maksud?”
Prabu Kolosukma menatap pusaka Macan Putih Sukma.
“Warisan Delapan Trah.”
Suasana menjadi sunyi.
Wulandari merasakan sesuatu yang aneh.
Darah putih dalam tubuhnya bergetar.
Sementara Anto merasakan Ajian Sukma Wijaya bereaksi.
Seolah kedua kekuatan itu mengenali sesuatu dari masa lalu.
Prabu Kolosukma tersenyum.
“Perang yang dahulu belum pernah berakhir.”
Ia mengangkat tangannya.
Seluruh makam berguncang.
“Dan sekarang...”
Matanya menyala semakin terang.
“PERANG YANG SEBENARNYA BARU DIMULAI.”
BERSAMBUNG....














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!