BAB 50 — AYAH YANG DIKUASAI KUDAJATI

3 dibaca

A

AYAH YANG DIKUASAI KUDAJATI

Gua makam Prabu Kolosukma bergetar hebat.

Raden Wijaya Angkara berdiri dengan tubuh gemetar. Urat hitam mulai menjalar dari leher hingga wajahnya.

Anto menatap ayahnya dengan air mata.

“Ayah... lawan dia!”

Raden Wijaya berusaha membuka matanya.

“Anto...”

Suaranya terdengar lemah.

“Jangan... bunuh Ayah.”

Anto mengepalkan tangan.

“Aku tidak akan membunuh Ayah.”

Tiba-tiba suara berat keluar dari tubuh Raden Wijaya.

“Dia bukan milikmu lagi.”

Kudajati telah mengambil alih sebagian tubuhnya.

Jagatpati tertawa.

“Sempurna.”

Ki Aryo Pangalila langsung maju.

“Jagatpati, kau tidak tahu apa yang telah kau bangunkan.”

Jagatpati menoleh.

“Aku tahu.”

Ia tersenyum.

“Aku akan menjadi penguasa seluruh Delapan Trah.”


BAB 51 — MACAN PUTIH MELAWAN KUDAJATI

Anto maju.

Aura putih menyelimuti tubuhnya.

Di belakangnya muncul Macan Putih.

Raden Wijaya yang dikuasai Kudajati juga mengeluarkan aura hitam.

Namun di balik aura itu, Anto masih bisa merasakan ayahnya.

“Ayah!”

Raden Wijaya tiba-tiba menahan serangannya sendiri.

“ANTO!”

Kudajati mengamuk.

“Diam!”

Tubuh Raden Wijaya terlempar ke dinding.

Anto hendak menolong.

Namun Ki Patikmanungso menahannya.

“Jangan menyerang sembarangan!”

“Kenapa?”

“Kalau kau melukai tubuh ayahmu, segel Kudajati akan semakin kuat.”

Anto terdiam.

“Lalu bagaimana cara menyelamatkannya?”

Ki Patikmanungso menjawab:

“Gunakan kekuatan yang hanya dimiliki pewaris Wijaya.”

“Ajian Macan Putih?”

“Bukan.”

Ki Patikmanungso menatap pusaka Macan Putih Sukma.

“Ajian Sukma Wijaya.”


BAB 52 — AJIAN SUKMA WIJAYA

Anto mendekati pusaka putih yang melayang di udara.

Ketika tangannya menyentuhnya...

WUSSSHHH!

Sebuah cahaya memasuki tubuhnya.

Anto melihat masa lalu.

Ia melihat leluhur Trah Wijaya.

Ia melihat perang antara Delapan Trah.

Ia melihat Prabu Kolosukma.

Dan akhirnya ia melihat ayahnya.

Raden Wijaya muda berdiri di depan gerbang Kudajati.

Suara leluhur terdengar:

“Suatu hari keturunanmu akan datang untuk menyelesaikan apa yang tidak mampu kau selesaikan.”

Anto membuka matanya.

Kini ia memahami semuanya.

Ajian Macan Putih bukan sekadar ilmu untuk menyerang.

Ajian Sukma Wijaya adalah ilmu untuk membebaskan seseorang dari ikatan kegelapan.

Anto mengangkat tangan.

Cahaya putih mengalir dari tubuhnya menuju ayahnya.


BAB 53 — WULANDARI DAN SANG DAYANG

Sementara Anto berusaha menyelamatkan ayahnya, Dayang Prabu Kolosukma mendekati Wulandari.

“Wulandari.”

Wulandari menatapnya.

“Kau ingin mengambil tubuhku?”

Dayang menggeleng.

“Aku ingin memberikan sesuatu kepadamu.”

Dayang membuka telapak tangannya.

Sebuah cahaya hitam muncul.

“Ini adalah bagian terakhir dari kekuatan Kolosukma.”

Wulandari ragu.

“Kenapa kau memberikannya kepadaku?”

“Karena aku tidak ingin mengulang kesalahan masa lalu.”

“Apa kesalahan itu?”

Dayang menatap makam Prabu Kolosukma.

“Dahulu kami mengira kekuatan adalah segalanya.”

Ia tersenyum sedih.

“Ternyata kekuatan tanpa hati hanya akan melahirkan kehancuran.”

Wulandari menerima cahaya itu.

Tubuhnya bersinar.

Kini Darah Putih dan kekuatan gelap berada dalam keseimbangan sempurna.

Wening Kala mencapai tingkat kedua.


BAB 54 — JAGATPATI MENGKHIANATI KUDAJATI

Jagatpati melihat Anto hampir berhasil membebaskan Raden Wijaya.

Ia menjadi panik.

“Kudajati!”

Sosok iblis itu menoleh.

“Ambil kekuatan Macan Putih!”

Namun Kudajati justru berkata:

“Aku tidak lagi membutuhkanmu.”

Jagatpati terdiam.

“Apa?”

Kudajati menatapnya.

“Selama bertahun-tahun kau mengira kau yang mengendalikan pesugihan.”

Ia tertawa.

“Padahal kaulah yang menjadi budakku.”

Jagatpati mundur.

“Tidak!”

Api hitam mulai keluar dari tubuh Jagatpati.

Ki Aryo Pangalila berkata:

“Perjanjian itu akhirnya menagih hutangnya.”

Jagatpati berteriak.

“AKU TIDAK AKAN MENJADI BUDAKMU!”

Kudajati menjawab:

“Terlambat.”


BAB 55 — DELAPAN TRAH BERSATU

Melihat Jagatpati mulai kehilangan kendali, para pewaris Delapan Trah bergerak.

Jaka Anom mengangkat tangannya.

Sekar Sasena membuka pusaka keluarganya.

Raka Angkara mengeluarkan kekuatan Kerta Angkara.

Wira Wisesa memanggil kekuatan Kolo Wisesa.

Bima Bogolono menghentakkan kakinya.

Jati Angkoro mengangkat kedua tangannya.

Energi mereka menyatu.

Ki Patikmanungso berkata:

“Inilah tujuan sebenarnya Delapan Trah.”

Bukan saling menguasai.

Bukan mencari kekayaan.

Bukan mengejar kesaktian.

Tetapi menjaga keseimbangan.

Anto berdiri di tengah mereka.

Wulandari berada di sampingnya.

Raden Wijaya mulai terbebas dari pengaruh Kudajati.

Namun tiba-tiba...

BOOOOM!

Gerbang makam pecah.

Dari dalam kegelapan muncul sosok yang jauh lebih besar daripada Kudajati.

Semua orang terdiam.

Ki Aryo Pangalila berbisik:

“Mustahil...”

Anto bertanya:

“Siapa itu?”

Ki Aryo menatapnya dengan wajah pucat.

“Prabu Kolosukma.”

Sang Dayang langsung berlutut.

“Prabu...”

Sosok itu membuka matanya.

“Delapan trah...”

Ia memandang Anto.

Kemudian Wulandari.

Lalu Jagatpati.

“Kalian telah membangunkanku.”

Anto mengepalkan tangannya.

Macan Putih mengaum.

Namun Prabu Kolosukma hanya tersenyum.

“Sekarang, perang yang sebenarnya baru dimulai.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk