Sancta Lumina jarang mengadakan pertemuan sebesar ini, setidaknya tidak dengan upacara semeriah ini. Sancta Dalam tampak lebih cemerlang dari biasanya di bawah cahaya terik pagi, batu-batu putihnya digosok hingga bersih sampai terlihat begitu suci. Panji-panji emas yang baru dibentangkan menggantung di sepanjang teras tanpa satu pun lipatan, sementara setiap permukaan, setiap pilar, setiap anak tangga seolah telah dibersihkan dari debu, retakan, bahkan usia itu sendiri. Udara pun terasa diatur, diukur dengan cermat agar tak ada sesuatu pun yang tidak sempurna dapat bertahan di dalamnya.
Barisan warga suci memenuhi teras-teras bawah dalam keheningan mutlak, menyaksikan dengan keteguhan kaku yang diharapkan dari orang-orang beriman. Di atas mereka menjulang panggung eksekusi, ditinggikan cukup tinggi untuk mendominasi alun-alun di bawahnya, dengan bentuk yang tegas dan mutlak di tengah hamparan batu pucat yang mengelilinginya.
Di ujung panggung, seorang wanita berlutut dengan kedua pergelangan tangan terikat dengan pengekang Vein. Rambut hitam panjangnya terurai lemas ditiup angin. Kilauan rantaian besi menyelimuti kulitnya, menekan kekuatan tak stabil yang masih menggeliat di dalam tubuhnya. Jauh sebelum eksekusi dimulai, dirinya sudah terluka. Sayatan-sayatan bertumpuk di atas luka lama, lebam menggelapkan permukaan kulitnya yang pucat, dan bekas-bekas luka bakar tak beraturan menyebar di sepanjang lengan serta lehernya dengan kekejaman yang disengaja. Ini bukan persiapan untuk kematian. Ini adalah proses yang telah disempurnakan oleh Sanctum selama beberapa generasi.
Imam Agung melangkah maju dan mengangkat suaranya, menggema ke seluruh alun-alun.
“Lihatlah.” Kata itu meluncur tanpa hambatan menembus keheningan. “Sebuah penyimpangan.”
Tak ada amarah dalam nadanya, tak ada kebencian. Hanya kepastian dingin dari sebuah doktrin yang telah diulang terlalu sering hingga tak lagi dipertanyakan.
“Black Vein.”
Sebuah gumaman menyebar di antara teras-teras, tertahan tetapi cukup berat untuk mengendap di atas kerumunan seperti abu. Rasa jijik menyebar di antara mereka, penolakan alami terhadap sesuatu yang telah dinyatakan tidak murni jauh sebelum siapa pun benar-benar memahaminya.
“Dia tak lagi disentuh oleh Aurelion,” lanjut Imam Agung. “Tak juga dibimbing oleh kemurnian. Terlahir di luar kasih karunia-Nya.”
Wanita itu tak pernah mengangkat pandangannya ke arah kerumunan. Napasnya tetap pendek dan tak beraturan, tetapi dia masih sadar, masih hadir di balik besi pengekang dan rasa sakit yang dipaksakan ke dalam tubuhnya.
Di kaki panggung berdiri sosok lain yang sama sekali tak bergerak.
Zenon.
Berbeda dari para Imam Agung di atasnya, dia mengenakan zirah berat yang penuh dengan goresan. Sebilah pedang eksekusi raksasa bertumpu dalam genggamannya, tebal dan brutal, dirancang hanya untuk memastikan hasil akhirnya, bukan semata-mata untuk sebuah keanggunan. Tak ada sesuatu pun yang halus dari senjata itu. Senjata tersebut hanya memiliki satu tujuan. Penghakiman.
Imam Agung berbalik menghadapnya.
“Algojo Agung.”
Zenon hanya menjawab dengan anggukan kecil sebelum melangkah maju. Setiap gerakannya terasa diatur, meski keheningan yang menyelimuti alun-alun membuat bahkan suara langkahnya sendiri terdengar janggal. Denting baja yang beradu dengan batu menggema di bawah sepatu botnya saat dia menaiki panggung dan berhenti di hadapan wanita yang berlutut itu.
Dari jarak sedekat ini, dia melihat semuanya. Rantai yang melapisi kulitnya. Irama napasnya yang gemetar. Luka-luka yang tak pernah dibiarkan sembuh.
Lalu wanita itu mengangkat kepala.
Gerakan itu tampak begitu melelahkan, seolah bahkan untuk mengangkat pandangan pun dia harus mengerahkan lebih banyak tenaga daripada yang masih dimiliki tubuhnya. Zenon menatapnya dari atas, bersiap menghadapi satu lagi penyimpangan yang dijatuhi hukuman mati, satu lagi tugas yang harus dituntaskan atas nama Aurelion.
Namun, selama satu momen itu, dia melihat putrinya.
Kemiripan itu mustahil. Meski begitu, bayangan tersebut tetap mencekik tenggorokannya. Pikirannya langsung memahami bahwa itu hanyalah kebohongan, ingatan yang retak, dan memaksakan dirinya menimpa kenyataan. Namun, ilusi itu masih terasa lebih nyata daripada suara Imam Agung ataupun berat zirah yang menekan tubuhnya.
”Ayah,” sebuah bisikan menghampiri telinganya.
Genggaman Zenon mengerat pada gagang pedang hingga bilahnya bergetar di tangannya. Baja itu tiba-tiba terasa sangatlah berat, terbebani oleh keraguan yang tak mampu dibungkam oleh doa mana pun.
Dia menarik napas panjang yang kasar, lalu memaksa dirinya untuk melihat sekali lagi. Bayangan semu itu mulai memudar. Wanita di hadapannya kembali menjadi dirinya sendiri, hancur, berlumuran darah, dan kehabisan tenaga hingga sulit dibayangkan. Sebuah penyimpangan, begitulah apa yang diajarkan selama ini oleh Sanctum.
Namun, kata itu tak lagi mengendap dengan mudah di dalam pikirannya.
”Ayah.”
Bisikan itu kembali hinggap, kali ini lebih lirih. Bersamanya datang sebuah beban dari setiap eksekusi yang pernah dilakukannya demi mengabdi kepada Sanctum. Kini bukan hanya pedang yang terasa menyeret lengannya, melainkan juga ingatan tentang setiap nyawa yang telah diakhirinya ketika dia masih percaya bahwa dirinya sedang menegakkan kebenaran.
Suara Imam Agung membelah kebisingan yang mulai bergemuruh di dalam tengkoraknya. “Laksanakan kehendak-Nya.”
Zenon tetap terbeku.
Keheningan berlangsung lebih lama daripada seharusnya. Cukup lama hingga sesuatu yang telah lama tertanam di dalam dirinya mulai tercerai-berai. Iman yang selama sebagian besar hidupnya tak pernah dipertanyakan tiba-tiba terasa rapuh di hadapan sosok yang berdiri di depannya. Perlahan, dia menurunkan pedangnya, menyerahkan dirinya, namun bukan kepada iman yang ia pegang.
Imam Agung segera menyadarinya.
“Algojo!” Peringatan itu menggema di sepanjang panggung, tetapi terdengar jauh di tengah gemuruh hati nurani Zenon.
Lalu dia melepaskannya.
Pedang raksasa itu menghantam batu dengan dentuman logam yang berat dan tumpul, suara yang terasa menembus alun-alun lebih dalam daripada eksekusi mana pun sebelumnya. Kerumunan membeku sepenuhnya, tak mampu mencerna pengkhianatan yang begitu mutlak nan jelas.
Zenon mundur dari panggung. Dia berbalik tanpa sepatah kata pun dan mulai berjalan pergi.
Tanpa pernyataan. Tanpa penjelasan.
Dia hanya pergi.
Keheningan itu seketika pecah.
“SESAT!”
“TANGKAP DIA!”
Teriakan itu mengguncang alun-alun, tetapi sebelum para kesatria sempat bergerak, sebuah perintah lain membungkam mereka. “Biarkan dia pergi.”
Perintah itu membekukan para penjaga di tengah langkah. Jauh di atas panggung eksekusi, beberapa sosok hanya mengamati dari balkon bagian dalam tanpa emosi ataupun keterkejutan. Garis Keturunan Aurelian berdiri tak bergerak di bawah cahaya, menyaksikan kehancuran salah satu algojo paling setia mereka dengan ketenangan yang meresahkan. Mereka telah menentukan nasibnya.
Zenon menuruni panggung selangkah demi selangkah. Tak seorang pun menyentuhnya. Tak seorang pun mencoba menghentikannya. Penghakiman telah dijatuhkan di suatu tempat yang jauh melampaui jangkauan pandangan kerumunan.
Zenon berjalan melewati gerbang Sancta Lumina. Tanpa menyadari bahwa dengan memilih untuk tidak membunuh, dia telah membunuh segala sesuatu yang berarti baginya.
Lonceng-lonceng belum berdentang. Belum. Namun, itu hanya soal waktu.
Dia telah menentukan pilihannya. Gerbang tidak menutup di belakangnya. Gerbang itu tetap terbuka, seolah tak terjadi apa-apa, seolah segala sesuatunya telah terjadi.
Zenon berjalan menyusuri jalan-jalan yang kini semakin sunyi. Bukan kosong, melainkan terasa begitu jauh, seolah kota itu telah mulai menjauh darinya. Orang-orang menyingkir tanpa perlu diperintah. Kebiasaan telah menggerakkan mereka, kepatuhan murni yang telah lama diukir Sanctum ke dalam diri mereka. Zenon tidak memandang siapa pun. Dia tidak membiarkan dirinya berpikir. Belum.
Jalan pulang begitu akrab hingga Zenon tak perlu lagi memikirkannya. Setiap belokan, setiap batu usang di bawah sepatu botnya, setiap pintu yang telah dilewatinya ribuan kali masih berada tepat di tempat semestinya.
Tak ada yang berubah.
Itulah hal pertama yang terasa salah.
Tak ada penjaga yang menunggu di dekat gerbang luar.
Selalu ada penjaga di sana, setidaknya satu orang yang ditempatkan di dekat sudut jalan untuk mengawasi kawasan itu jauh sebelum siapa pun mendekati rumahnya. Namun, kini jalan tersebut benar-benar sunyi. Zenon berhenti untuk pertama kalinya sejak meninggalkan panggung dan mendengarkan keheningan di sekelilingnya dengan saksama.
Tak ada suara. Tak ada gerakan. Tak ada sesuatu pun yang hidup.
Lalu dia melangkah maju.
Pintu depan dibiarkan terbuka renggang, seolah-olah mempersilakannya masuk. Zenon memasuki rumahnya, dan baunya langsung menghantam dirinya. Bau menyengat yang memuakkan dari minyak terbakar, kayu hangus, dan daging yang terpanggang.
Bagian dalam rumah remang-remang. Cahaya menyelinap masuk melalui langit-langit yang rusak. Debu bergerak perlahan di udara, seperti abu yang menolak mengendap.
Zenon melangkah sekali lagi.
Lalu dia melihatnya.
Alina. Tubuhnya tergantung dengan kedua lengan terentang dan terikat. Sebuah salib dari kayu yang menghitam menopang tubuhnya dalam posisi tegak. Kepalanya terkulai ke depan. Kulit yang masih tersisa telah terbakar dan menggantung terbelah, sementara sebagian dari gaunnya melekat menyatu pada tubuhnya.
Zenon tidak bergerak, terpaku membisu. Sesaat, dia lupa bagaimana caranya bernapas.
Pada awalnya, tak ada reaksi darinya. Duka itu belum mencapainya. Ia hanya berdiri di sana dalam keheningan.
Lalu terdengar suara lirih dari suatu tempat di belakangnya.
Zenon berbalik perlahan.
Sosok yang lebih kecil tergantung tanpa bergerak di dekat dinding seberang.
Kayila.
Tali itu tampak tidak sesuai ketika melilit tubuh sekecil itu. Kedua kakinya menggantung di atas lantai, kepalanya miring ke satu sisi, dan matanya telah terpejam.
Bahkan sebelum Zenon mencapainya, sebelum tangannya yang gemetar sempat menyentuhnya, dia sudah tahu.
Zenon melangkah maju. Sepatu botnya terasa begitu berat, seolah lantai itu sendiri akan retak di bawah beban dukanya. Dia mengulurkan tangan ke arah tubuh kecil Kayila yang tak lagi bergerak, tetapi tangannya terhenti hanya beberapa inci darinya, gemetar hebat oleh ketakutan yang belum pernah dikenalnya. Tak ada suara yang sanggup keluar dari tenggorokannya. Lalu sesuatu jauh di dalam jiwanya membungkuk di bawah tekanan, patah. Napas kasar yang tak teratur memaksa keluar dari dadanya, membawa serta sisa-sisa kemanusiaannya.
Dunia tidak hancur berkeping-keping. Dunia menyempit. Segala sesuatu terpusat pada satu titik. Dadanya mengencang. Tekanan membuat pandangannya kabur. Vein mengamuk di dalam tubuhnya, tak terkendali, tak terbimbing, menjerit menuntut pelepasan.
Cahaya Vein putih kekuningan membara meledak dari balik kulitnya, ganas, liar, tak stabil. Garis-garis energi membelah kulitnya dari dalam, menyebar di bawah daging seperti peta penderitaannya sendiri. Pengekang yang telah dihabiskan seumur hidupnya untuk dipaksakan kepada orang lain kini mungkin akan berubah menjadi abu jika dikenakan kepadanya.
Sebuah suara dingin terdengar di belakangnya. “Kau telah memilih dengan keliru.”
Zenon tetap menatap lurus ke depan tanpa memandang mereka.
Lima sosok berdiri menunggu di ambang pintu. Para Kesatria Aurelian, tak bergerak di balik zirah putih dan emas yang tiba-tiba tampak kurang suci daripada hampa. Lebih banyak prajurit memenuhi jalan di belakang mereka, begitu sunyi hingga seluruh kawasan itu terasa ditinggalkan.
“Mereka telah dipersembahkan kepada Aurelion.” Kalimat itu terdengar seperti sebuah pernyataan. “Sebuah koreksi yang diperlukan.”
Tangan Zenon perlahan mengepal. Kepalanya sedikit tertunduk. “...koreksi...”
Kata itu tidak pantas disematkan pada apa yang terbentang di hadapannya, dan sesuatu jauh di dalam diri Zenon menolaknya sepenuhnya.
Vein miliknya menjawab sesaat kemudian, mengamuk lebih kuat di sekujur tubuhnya hingga kedua tangannya mulai gemetar menahan tekanan. Zenon perlahan berbalik menghadap para kesatria. Matanya tak lagi menyimpan keteguhan yang selama ini mereka kenal.
“Pergi.”
Para kesatria tidak bergerak. “Kau bukan lagi bagian dari Sanctum.”
Zenon melangkah maju. Lantai retak di bawah kakinya. “Sudah kubilang... pergi.”
Keheningan bertahan hanya sesaat sebelum kesatria pertama menerjang dengan ketepatan yang telah terlatih.
Zenon tidak bergerak untuk menangkis. Bilah pedang itu menghantam tangannya dan berhenti di sana. Ditahan langsung oleh tangannya
Cahaya Vein meledak dengan ganas di bawah kulitnya saat jari-jarinya mengatup pada senjata itu, cukup kuat untuk meremukkannya dalam genggaman. Tulang patah. Logam terpuntir. Sang kesatria roboh bahkan sebelum suara benturan itu sepenuhnya menghilang.
Lalu semuanya pecah.
Para kesatria yang tersisa menyerangnya serentak, baja dan cahaya Vein bertabrakan, mengguncang rumah yang telah hancur dalam gelombang gerakan brutal.
Zenon menerjang para kesatria, tak lagi bergerak seperti manusia, melainkan seperti longsoran tanah yang tak lagi memiliki apa pun untuk hilang. Palu perangnya berayun dalam lengkungan lebar yang penuh keputusasaan, tak lagi mulus ataupun presisi, tetapi berat dan mampu meremukkan tulang dalam sekejap. Setiap hantaman mengakhiri satu nyawa, tetapi Zenon tidak menghitungnya. Dia tidak berhenti. Yang dirasakannya hanyalah darah yang menghantam zirahnya dan bunyi retakan keras dari batu serta baja di sekelilingnya.
Apa pun yang masih tersisa dari rasa sakit telah tenggelam di bawah amukan Vein.
Lebih banyak kesatria memasuki rumah. Lebih banyak tubuh berjatuhan.
Kelima Kesatria Aurelian melangkah maju bersama-sama. Vein mereka tidak mengamuk. Ia mengalir dengan terkendali.
Zenon menerjang. Benturan mereka mengguncang seluruh bangunan.
Sesaat, sesuatu yang lain bergerak di tepi medan pertempuran.
Di pinggiran kehancuran, sosok lain berdiri tanpa bergerak di bawah debu yang berjatuhan.
Vael.
Dia belum bergerak.
Pertarungan berlanjut.
Zenon terus hancur, sementara para kesatria bertahan.
Dan di suatu tempat di antara keduanya, sesuatu bergeser.
Bukan kemenangan. Bukan kekalahan. Hanya sebuah gangguan.
Debu berjatuhan dari langit-langit. Bangunan itu mengerang. Vael melangkah maju. Dia bergerak semata-mata karena dirinya ada di sana, dan entah bagaimana, itu sudah cukup.
Momen itu pecah. Para Kesatria Aurelian mengubah posisi. Zenon berbalik. Dunia bergeser. Dan dalam pergeseran itu, sesuatu lolos dari genggaman.
Zenon jatuh. Kegelapan menelannya. Ketika debu akhirnya mengendap, tubuh-tubuh itu masih tergeletak. Rumah itu telah hancur. Dan Zenon telah menghilang.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!