Sanctum sebagai Rumah

1 dibaca

A

”Bapa kami, Oh Aurelion, yang bertahta di surga, dimuliakanlah nama-Mu; datanglah kerajaan-Mu; jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya; dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari kejahatan. Amin.”

”Oh Aurelion, yang paling terkasih. Pagi ini aku datang kepada-Mu dengan hati penuh syukur. Terima kasih atas kehidupan, kesehatan, dan kesempatan yang kubawa bersamaku hari ini. Bimbinglah pikiran, perkataan, dan tanganku dalam menjalani hari, agar aku dapat merasakan kehadiran-Mu ke mana pun langkahku menuntunku. Amin.”

Kata-kata itu terucap lirih, dan ruangan menampungnya sesaat sebelum membiarkannya berlalu. Lucyna tetap berlutut setelah doanya berakhir. Tidak ada alasan ritual untuk bertahan lebih lama, rangkaian doa itu telah selesai, tetapi dia tetap tinggal karena inilah bagian pagi yang menjadi miliknya seorang. Sebelum hari dimulai. Sebelum siapa pun meminta sesuatu darinya. Hanya suaranya sendiri dan keyakinan yang setiap pagi dipercayakannya kepada udara dengan tangan yang sama, di lantai yang sama, dalam kamar kecil yang sama, tempat dia bangun setiap hari sejak cukup besar untuk melafalkan kata-kata itu dengan benar.

Dia bangkit dan melirik ke luar jendela sempit. Langit di atas Outer Sancta masih pucat di bagian tepinya, jenis pagi yang belum sepenuhnya memutuskan akan menjadi seperti apa. Di bawah sana, jalanan sudah mulai bergerak. Para pedagang membuka lapak, para suster berjalan berpasangan, dan asap mengepul dari dapur umum di sebelah selatan. Kehidupan dimulai dengan cara yang sama seperti setiap hari, dan Lucyna menemukan kenyamanan dalam keseragaman itu, sebagaimana dia menemukan kenyamanan dalam sebagian besar hal yang bisa diandalkan.

Dia memeriksa tasnya; kain bersih, salep, dan segenggam herba kering yang telah disiapkannya sendiri, lalu berangkat.

Hospitium terletak di sudut Outer Sancta yang biasanya dilewati orang-orang tanpa alasan untuk berhenti. Bangunannya tua, dindingnya lebih gelap daripada bangunan di sekitarnya, dan ada aroma khas yang menetap di ambang pintunya, perpaduan antara obat-obatan, lilin, dan aroma yang lebih mendasar dari tubuh-tubuh yang berjuang keras untuk terus bertahan hidup. Suster Maren sudah berada di pintu masuk, seorang wanita tua bertubuh kecil yang punggungnya mulai membungkuk, tetapi matanya sama sekali belum kehilangan ketajamannya.

“Lucyna.” Dia mengucapkan nama itu seperti biasanya, hangat tanpa sedikit pun keterkejutan. “Kau tidak harus selalu datang kemari, kau tahu.”

“Rasanya ada yang kurang kalau aku tidak datang,” jawab Lucyna sambil melepas sarung tangannya bahkan sebelum mencapai ruangan pertama.

Wanita di ruangan pertama sedang tertidur, napasnya lambat dan berat. Kulitnya terasa hangat ketika Lucyna menempelkan punggung tangan ke dahinya. Terlalu hangat untuk pagi yang baik. Lucyna bekerja dalam diam, mengganti kain di dahi wanita itu, memeriksa lengannya, dan menyesuaikan posisi tubuhnya agar tak ada bagian yang tertekan dengan cara yang keliru. Suster Maren berdiri di ambang pintu dan mengamati.

“Dia sudah terlihat lebih baik,” kata Lucyna tanpa menoleh. Ada senyum kecil yang tulus dalam suaranya.

“Ya.” Jawaban Suster Maren terdengar lembut. “Sejak kau mulai datang, tempat ini telah menjadi sesuatu yang lebih dari sebelumnya.”

Lucyna tidak menjawab. Dia memastikan selimut wanita itu terpasang rapi sebelum beranjak menuju ruangan berikutnya.

Dia tidak terlalu memikirkan kenyataan bahwa orang-orang di sini seharusnya sudah dibawa ke tempat lain sekarang, bahwa ada prosedur bagi mereka yang tak bisa disembuhkan dengan cepat, prosedur yang memiliki nama khusus dalam doktrin Sanctum. Seiring waktu, dia belajar untuk tidak terlalu memikirkan hal itu. Suster Maren membiarkan pintunya tetap terbuka sedikit lebih lama daripada yang seharusnya. Lucyna datang sebelum siapa pun menyadarinya. Begitulah kesepakatan mereka, dan kesepakatan itu berjalan dengan baik. Untuk itu, dia bersyukur.

Dia tinggal sampai semua urusan praktis selesai, mulai dari mengepel lantai, memindahkan ranjang, hingga berbincang singkat dengan seorang pemuda yang matanya masih terlalu cerah akibat demam. Setelah itu, dia berpamitan dan melanjutkan perjalanan menuju Citadel.

Perjalanan dari Hospitium ke Sancta bagian dalam adalah perjalanan di antara dua gagasan berbeda tentang tempat yang sama. Jalanan luar memiliki warna, pintu-pintu bercat, anak-anak yang berlarian menembus gang tanpa tujuan tertentu, serta penjual roti yang berteriak terlalu keras untuk jam sepagi itu. Tembok-tembok di sini lebih rendah dan udara mengalir bebas, membawa aroma pasar pagi serta bunyi lonceng sesekali dari menara-menara doa yang jauh.

Semakin jauh dia masuk ke dalam, semakin tinggi tembok-tembok itu menjulang. Batu-batunya berubah dari kelabu yang lapuk dimakan cuaca menjadi sesuatu yang lebih tua dan dibangun dengan tujuan yang lebih tegas, bukan untuk menyambut, melainkan untuk bertahan. Jalanan menyempit, dan orang-orang yang melaluinya bergerak dengan arah yang lebih jelas serta suara yang lebih sedikit. Dua kesatria Sanctum berdiri di persimpangan utama, punggung tegak, mata lurus ke depan, wajah mereka membentuk kekosongan khas orang-orang yang dilatih untuk tampak seperti perabot sampai dibutuhkan. Lucyna melewati mereka seperti biasa, tanpa memperlambat langkah.

Pintu samping Citadel terasa akrab baginya seperti perabot tua. Dia mengenali setiap retakan pada kusennya tanpa perlu sengaja menghafalnya. Dia mendorong pintu itu dan memasuki koridor utama, sementara kidung pagi segera menyambutnya, mengalun melalui celah-celah ventilasi tinggi di sepanjang dinding.

Oh Aurelion, dalam kemurahan hati-Mu, jauhkanlah darah yang kotor dari kami,
darah yang memberontak melawan Vein, 
darah yang menolak untuk dipulihkan.

Koridor itu panjang dan simetris, lantainya dipoles hingga berkilau, memantulkan cahaya dari lilin-lilin berinti Vein yang terpasang pada setiap pilar. Nyala apinya memancarkan semburat biru samar di bagian tepi. Beberapa suster berjalan dari arah berlawanan dan mengangguk ketika berpapasan dengannya. Di ceruk-ceruk sepanjang dinding, patung-patung kecil Aurelion berdiri dalam berbagai pose, dengan tangan terbuka, tangan terangkat, atau tangan menggenggam cahaya yang bersumber dari telapak mereka sendiri.

Biarlah yang tidak murni dikembalikan ke dalam api,
agar api dapat mengembalikan mereka ke dalam kasih karunia Aurelion.

Sebab mereka yang tak dapat dimurnikan tak dapat diselamatkan.
Dan mereka yang tak dapat diselamatkan tak boleh dibiarkan tinggal.

Lucyna melewati semua itu seperti biasanya, hadir tanpa tergesa-gesa. Kidung tersebut adalah suara pagi di tempat ini. Dia telah mendengarnya begitu sering hingga kata-katanya tak lagi terasa seperti rangkaian kalimat, melainkan sesuatu yang lebih menyerupai cuaca.

Vier, kakaknya, berdiri di ujung koridor, membelakangi pintu ruangan dengan kedua tangan terlipat di belakang tubuh, memandang halaman dalam melalui jendela sempit. Posturnya sama seperti biasanya, tenang dan tegak, jenis keheningan yang tidak berasal dari istirahat.

“Kau terlambat, Lucy,” katanya.

“Maaf.”

“Aku tahu kau pergi ke Hospitium.” Dia berbalik, dan ekspresinya bukanlah ketidaksenangan, melainkan kepasrahan seseorang yang sudah berkali-kali menghadapi perdebatan yang sama. “Mereka menawarkan kamar untukmu di Citadel. Kenapa kau tidak mengambilnya?”

“Kau tahu alasannya,” jawab Lucyna.

“Kau tidak harus pergi ke sana setiap pagi.”

“Aku tidak bisa berhenti pergi ke sana, Vier.”

Dia menatap Lucyna sejenak. Kemudian sudut mulutnya bergerak, bukan senyum sepenuhnya, melainkan pengakuan bahwa percakapan ini selalu berakhir dengan cara yang sama dan dia telah berdamai dengan kenyataan itu.

“Baiklah,” katanya tanpa nada kesal. “Kau tahu aku tidak bisa berdebat denganmu.”

Lucyna nyaris membalas senyumnya. Nyaris.

“Imam Agung ingin kau memeriksa William,” kata Vier, suaranya berubah lebih datar. “Di gerbang luar.”

Lucyna mendongak. “Oh, demi nama Aurelion, mereka berhasil kembali?”

Lima tahun adalah waktu yang lama. Dia berusaha untuk tidak terlalu sering memikirkannya, sebab memikirkannya berarti membayangkan alasan mengapa dia tak pernah mendengar kabar apa pun, dan sebagian besar kemungkinan itu bukanlah hal yang baik. Vier tidak langsung menjawab. Dia kembali menatap jendela.

“Tidak.” Dia terdiam sesaat. “Hanya... dia.”

Dua kata yang membawa beban tiga nama lain yang tak terucapkan. Lucyna melangkah mendekatinya.

“Kau... baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja. Kita harus pergi memeriksanya, uh... katanya ada sesuatu yang... agak aneh. Itu sebabnya mereka memintamu memeriksanya.”

“Tunggu.” Lucyna menjaga suaranya tetap tenang. “Jangan begitu. Jangan bersikap seolah semuanya baik-baik saja sekarang. Besok adalah—“

“Aku tahu, Lucy.” Dia memotong ucapan Lucyna, tetapi tanpa kekasaran. “Aku tahu.”

Lucyna mengulurkan tangan dan menyentuh tangannya sebentar, sebuah gestur yang telah ada di antara mereka sejak sebelum keduanya cukup besar untuk menjelaskan artinya, sejak masa ketika mereka masih begitu kecil hingga sentuhan itu menjadi satu-satunya bahasa yang mereka miliki untuk mengungkapkan hal-hal yang sulit diucapkan.

“Tunjukkan jalannya, Kak.”

Mereka keluar melalui pintu utama Citadel, dan kidung itu mengikuti langkah mereka hingga ke udara terbuka.

Diberkatilah darah yang menjawab panggilan.
Diberkatilah tangan yang memurnikan bumi.

Sebab kemurahan Aurelion bukanlah kelembutan, melainkan ketepatan.
Dan ketepatan adalah bentuk cinta yang tertinggi.

Kidung itu memudar di belakang mereka saat keduanya menyeberangi alun-alun terbuka di antara Citadel dan kawasan luar. Pagi kini telah sepenuhnya tiba, langit tampak putih merata, dan alun-alun dipenuhi aktivitas yang biasa terlihat pada pertengahan pagi di Sanctum. Orang-orang bergerak dengan tujuan masing-masing, sebuah gerobak pasokan sedang dibongkar di dekat tembok utara, sementara sekelompok kesatria muda berlatih formasi di sudut yang jauh.

Lalu Lucyna melihat asap itu.

Asap mengepul di ujung alun-alun, dekat panggung tua, dan ada sesuatu di dalam kobaran api yang masih bergerak. Sebuah pemurnian. Dia pernah melihatnya sebelumnya. Namun, yang satu ini tampak berbeda, dan langkahnya melambat sebelum dia sendiri memutuskan untuk memperlambatnya.

“Itu tidak seharusnya terjadi.”

Vier ikut menoleh ke arah yang sama. Sosok di dalam api itu tak lagi menyerupai sosok dalam pemahaman Lucyna. Tubuhnya berubah bentuk dengan cara yang membuat dadanya mengencang tanpa dia mengerti alasannya, sementara para kesatria Sanctum di sekitar panggung justru mundur dari posisi mereka alih-alih mempertahankannya.

“Kenapa dia masih hidup?”

Dia mengucapkannya kepada dirinya sendiri. Kakinya sudah bergerak menuju alun-alun ketika tangan Vier mencengkeram lengannya.

“Vier—“

Dia menatap Lucyna. Di belakangnya, dua kesatria sudah terjatuh. Dari tempat mereka berdiri, Lucyna bisa melihat tubuh mereka di tanah, sementara makhluk yang sebelumnya merupakan seorang wanita itu masih bergerak dan formasi para kesatria yang tersisa mulai runtuh di bagian tepinya.

“Kita harus membantu mereka.”

“Yang lain akan menangani ini.” Suaranya tenang dengan cara yang terasa disengaja.

“Mereka kewalahan—“

“Lucy.” Hanya namanya, diucapkan dengan nada yang sejak dulu selalu memiliki arti tertentu.

Lucyna menatapnya.

Cengkeraman Vier pada lengannya tidak mengendur. “William. Ingat?”

Dia terdiam sesaat, dengan suara-suara dari alun-alun di belakangnya, makhluk itu, para kesatria yang berusaha menyusun kembali formasi, dan sesuatu yang menghantam tembok di kejauhan. Kemudian dia mengembuskan napas, berbalik, dan berjalan bersamanya.

Beberapa menit kemudian, suara dari alun-alun berubah. Suara makhluk itu, jeritan yang sebelumnya menembus segala bunyi lain, mendadak berhenti. Vier menyadarinya lebih dahulu dan menoleh, lalu Lucyna mengikuti arah pandangannya. Seseorang berjubah berdiri di dekat makhluk tersebut, cukup dekat untuk menyentuhnya, dan makhluk itu telah terdiam. Dari jarak ini, Lucyna tak bisa mengenali siapa orang itu. Dia hanya tahu bahwa apa pun yang telah dilakukannya berhasil dengan cara yang tak bisa dicapai oleh pedang ataupun api.

Vier mengamatinya lebih lama daripada yang Lucyna perkirakan. Dia tidak mengatakan apa-apa. Namun, sesuatu di balik matanya sedang berubah. Lucyna mengenal keheningan Vier, jenis keheningan ketika dia menyimpan sesuatu ke dalam sebuah kategori yang bahkan belum memiliki nama.

Lalu dia berbalik dan mereka melanjutkan perjalanan.

Gerbang luar lebih sunyi daripada alun-alun. Udara di sana membawa keheningan khas tempat yang dirancang untuk menerima kedatangan, bukan untuk menjadi pusat aktivitas. Kesatria yang bertugas menegakkan tubuh ketika melihat Vier mendekat.

“Inkuisitor Agung.” Dia sedikit menundukkan kepala.

“Saudara Suci.” Vier membalasnya tanpa memperlambat langkah. “Di mana dia?”

“Di dalam, Tuan. Ada yang tidak beres dengannya. Dia tampak...” Penjaga itu ragu, mencari kata yang tepat sebelum memilih kata yang paling jujur. “Sakit.”

Mereka masuk. William terbaring di sebuah bangku di ruang penerimaan kecil, dan hal pertama yang diperhatikan Lucyna adalah bahwa dia masih sadar. Itu berarti dia bisa melihat wajahnya, dan wajah itu sudah memberitahunya sesuatu bahkan sebelum William membuka mulut.

“Vier, Lucyna.” Dia berusaha mengangkat kepala. Senyum yang muncul tulus, tetapi lambat, seolah harus melawan sesuatu. “Oh, puji Aurelion. Kudengar sekarang kau menjadi Inkuisitor Agung, ya.”

Lucyna bergerak sebelum Vier sempat mendekat. “Tunggu, biar kuperiksa dia dulu.”

Dia duduk di samping William dan menempelkan tangan ke dahinya, lalu memeriksa denyut nadinya. Detak jantungnya tidak beraturan, pola yang dikenali Lucyna dari Hospitium, dari kasus-kasus yang tak seharusnya dibicarakannya di hadapan orang yang salah. William kembali mencoba berbicara, tetapi mulutnya mulai bergerak sebelum kata-kata berhasil keluar.

“Vier... Viktor itu... Viktor itu—“

Tubuhnya mendadak mengejang sesaat. Kejang kecil yang hanya berlangsung sedetik, tetapi meninggalkan sisi matanya lebih gelap daripada sebelumnya. Lucyna tetap menahan tubuhnya dengan kedua tangan dan mendongak ke arah Vier, yang berdiri di samping bangku sambil mengamati William dengan ekspresi yang tak sepenuhnya bisa dibacanya.

Dia merendahkan suaranya. “Vier. Ini gejala pertama dari—“

“Dari apa?” potongnya terlalu cepat.

“Kita harus membantunya. Kita tidak perlu memberi tahu Imam Agung terlebih dahulu. Belum.”

Lucyna menenangkan dirinya dan melanjutkan, menjaga suaranya tetap rendah agar penjaga di dekat pintu tak dapat mendengarnya. “Aku tidak ingin ini berakhir seperti yang terjadi pada... Alth—“

“Jangan sebut namanya.” Vier mengucapkannya dengan lirih, dengan sesuatu yang telah melewati amarah dan mencapai tempat yang lebih keras serta lebih tua.

“Tidak, Lucy. Tidak.” Suaranya semakin rendah. “Tidak.” Kata-kata itu tak berhenti di sana. “Ini—“

Sebelum kalimatnya selesai, Lucyna bangkit dan menghampirinya, meletakkan tangan di dadanya seperti yang selalu dilakukannya ketika kata-kata tak akan cukup.

“Tolong, Vier.” Suaranya jelas, meski nyaris kehilangan keteguhannya. “Aku tidak ingin kau mengalami semua itu lagi. Besok adalah hari dimana Althea—“

“Aku bilang jangan sebut namanya.” Kata-kata itu keluar dengan kendali penuh, tetapi sepenuhnya hampa. “Lucy. Jangan.”

Dia terdiam. Ketika kembali berbicara, suaranya terdengar seperti suara seseorang yang sedang menekan sesuatu agar tetap terkubur, sesuatu yang menolak untuk terus diam.

“Ini... bidah.”

William bergeser di bangku di belakang mereka, masih berjuang melawan sesuatu yang menghalangi mulutnya untuk berbicara.

“Vier... Viktor itu... gila... dia—dia mencoba—membantai kami semua...”

Vier tak lagi memandang William. Kini matanya tertuju pada lantai. “...diamlah.” Kemudian dia mengangkat kepala ke arah pintu.

“Saudara.” Dia mengeraskan suaranya untuk memanggil penjaga.

Penjaga itu masuk. “Ya, Inkuisitor Agung.”

“Bawa dia ke penjara bawah tanah.”

“Maaf, Tuan?” Penjaga itu sedikit ragu.

“Dia mengidap Black Vein.”

William mengeluarkan suara, sebagian terkejut, sebagian lagi menyerupai protes yang tak mampu disampaikannya karena tubuhnya tak lagi cukup kooperatif. “Apa—“

Para penjaga mengangkatnya dari bangku. Vier sudah berada di pintu, sudah berjalan keluar menuju koridor, sudah menciptakan jarak antara dirinya dan ruangan itu, nama yang nyaris diucapkan Lucyna, serta keputusan yang baru saja dibuatnya. Lucyna tetap berdiri di tempatnya sesaat, mendengarkan William dibawa ke satu arah dan langkah kaki Vier menjauh ke arah lain. Dari suatu tempat yang lebih jauh, melewati gerbang luar dan alun-alun, dari arah tembok-tembok tinggi Citadel, kidung itu masih terus mengalun, sabar dan tanpa terputus, seolah tak ada apa pun yang terjadi di ruangan di belakangnya.

“Vier...”

Dia tidak menjawab. Lucyna sebenarnya memang tidak berharap dia akan menjawab.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk