Bab 1

0 dibaca

A

Waktu kecil, kita selalu mendapat cerita tentang bagaimana jahatnya Bawang Merah terhadap Bawang Putih. Penindasan secara fisik dan verbal digambarkan begitu masif. Semua orang dituntut untuk membenci sosok Bawang Merah dan ibunya.

Namun, ada satu anak yang waktu itu lebih tertarik berada di posisi jahat. Kalena Nurin Respati namanya. Baginya, Bawang Putih terlalu lemah. Namun, di sisi lain, Bawang Merah juga selalu mengandalkan ibunya. Maka, ia pun memutuskan untuk menciptakan satu karakter baru yaitu Bawang Bombay.

Alasannya, Bawang Bombay lebih besar dan aromanya lebih menyengat. Ia bisa menindas Bawang Merah yang menjelma dalam kepura-puraan sebagai Bawang Putih.

Baik, mari kita beralih dari perbawangan ini. Lena, panggilan untuk perempuan tiga puluh tahun itu, menatap dingin ke arah lelaki pertengah lima puluhan di depannya.

Keriput pria itu, yang sudah ada di kening, tampak semakin dalam karena mengernyit. Mata yang dibingkai kacamata dengan harga puluhan juta membaca cepat proposal di tangannya. Singgasana yang puluhan tahun ditempati seolah terguncang saat melihat gagasan yang dituangkan Lena di dalam proposal itu.

“Pemikiran sampah!” Serunya.

Bendelan proposal itu dilempar ke depan, hampir mengenai wajah jelita nan dingin Lena. Namun, Lena tetap berdiri tegak dan memasang wajah angkuhnya. Dua mata perempuan tersebut sama sekali tidak berkedip seperti sudah terbiasa dengan hal ini.

“Sampah organik yang berkualitas tinggi dan bisa menjadikan Adhisti Textila lebih dikenal karena inovasinya,” ralat Lena.

Indra Respati, sosok pemimpin perusahaan garmen yang menyediakan pakaian untuk merek mewah ternama internasional itu, menggebrak meja. Ia menatap nyalang ke arah putri sulungnya.

“Kamu nggak tau apa-apa soal menjalankan tempat ini!” Indra Respati berseru. Matanya nyalang penuh amarah saat menatap Lena.

Seringai tipis merekah di bibir merah terang yang menjadi ciri khas dandanan Lena. “Lantas, apa anak haram papa mampu?”

“Lena, jaga ucapanmu!” Indra berteriak lagi.

Kontras dengan ayahnya, Lena tetap bicara dengan tenang. Tapi, setiap kata yang terucap dari mulutnya penuh dengan penekanan.

“Itu fakta tidak terbantahkan.” Sebelah alis perempuan itu terangkat. Ia maju selangkah lebih dekat ke arah meja. Kakinya yang dibalut stiletto merah menyala menginjak proposal yang dilempar sang ayah. “Kursi yang papa duduki punya mamaku. Nama perusahaan ini adalah nama mamaku, Adhisti.”

Tangan Indra Respati mengepal kuat. Ia menahan ledakan amarah manakala Lena mengingatkan posisinya.

“Ah iya, hari ini ada pertemuan keluarga untuk perjodohan si anak haram bukan?” Rasanya sungguh tidak sudi menyebut nama putri Indra dari selingkuhannya itu.

“Jangan kamu kacaukan acara itu. Calon suami adikmu—“

“Adik?” Lena menyela dan terbahak. “Calonnya itu orang berpengaruh? CEO?”

Di depan Lena, Indra meneguk salivanya dengan susah payah. “Apa maumu sekarang, menyetujui proposal sampah itu?”

Lena menggeleng. Tangannya mendarat di atas meja dan dua telunjuknya mulai mengetuk. Indra Respati mulai resah. Ia menunggu apa lagi yang diinginkan sang putri sulung.

“Aku baru mendapati ada bahan kain berkualitas rendah yang diselundupkan di antara bahan berkualitas tinggi. Haruskah aku laporkan ini ke klien?” Ekspresi Lena tampak mengerikan dengan tatapan tajam dan seringai semakin lebar.

Tangan Indra Respati sedikit bergetar. Ia berdehem dan mengangkat kepalanya agar mengimbangi pongah sang putri jahat. “Apa maumu?” Ia bertanya ulang.

“Well, aku dengar calon si anak haram itu CEO Bhumi Organics. He is handsome, rich, and suit my taste.”

“Lena, dia calon adikmu.” Indra menggeram.

“Papa,” katanya. Kali ini, perempuan itu melangkah memutari meja. Suara ketukan dari sepatunya menggema di dalam ruangan.

Tangan Lena terulur, membetulkan kerah baju dan dasi ayahnya yang tampak sedikit tidak simetris. Gerakan yang semestinya ungkapan dari perhatian jika dilakukan anak Indra yang lain. Namun, hal yang dilakukan Lena sekarang lebih seperti ancaman nyata dan mengerikan.

“Posisiku di sini seorang kakak, bukan? Aku akan ubah panggilan ke putri papa yang satu itu jadi lebih manusiawi, asal urutan soal menikah diperbaiki. Tentu saja, yang lebih tua harus duluan.” Tangan Lena menyentuh bahu ayahnya.

“Kamu bisa minta pacar kam—“

“Jangan sebut si brengsek itu.” Nada bicara Lena sangat dingin dan penuh dendam. “Aku kan bilang, CEO Bhumi Organics adalah tipeku. Apa papa perlu ke THT?”

“Lena, tapi—“

Lena tidak memberi kesempatan ayahnya bicara lagi. “Atau klien tau ada yang tidak beres sama sebagian kecil bahan baku kita. Kontrak sepuluh tahun akan jadi taruhannya,” ancam perempuan itu.

Indra Respati meneguk ludah. Kengerian dari ekspresi Lena membuat kepalanya secara otomatis mengangguk kecil. Senyum merekah yang sangat mengerikan mengembang di bibir Lena. Ia menepuk pelan bahu ayahnya.

”Good.”  Perempuan itu menjauh. “Sampai jumpa nanti sore, Papa.”

Lena, si Bawang Bombay, melenggang keluar dari kantor pimpinan Adhisti Textila, sebuah perusahaan garmen terkemuka. Ketukan dari sepatunya menggema lagi, membuat para pekerja yang ada di lantai bawah terdistraksi.

Beberapa pekerja mulai komat-kamit, seperti sedang merapal mantra agar Lena tidak mendatanginya. Bagi mereka, Ibu Lena adalah atasan yang selalu menorehkan mimpi buruk. Beberapa orang menjulukinya sebagai penyihir bibir merah.

“Perhatikan jahitan kalian.” Lena bersuara, menegur para pekerja yang sempat terdistraksi oleh kehadirannya. “Jangan sampai kalian harus lembur untuk memperbaiki jahitan yang tidak sesuai.”

Perempuan itu berjalan di antara deretan mesin jahit. Setiap beberapa langkah, ia berhenti hanya untuk memegang bahan juga melihat kerapihan jahitan. Posisinya sebagai Quality Control Manager mengharuskannya menjadi ketat seperti ini. Ia tidak mau reputasi Adhisti Textila tercoreng akibat penurunan kualitas jahitan.

Setelah puas memeriksa pekerjaan beberapa pekerja, ia melenggang pergi. Perempuan itu masuk ke dalam ruangannya sendiri yang penuh dengan sampel kain. Ruangan pengap dan sedikit berdebu itu adalah cara Indra Respati membuat putrinya merasa rendah diri.

Sayang, seorang Bawang Bombay tidak akan seperti itu. Bagi Lena, ini kesempatan. Posisinya sangat strategis dan ia malah bisa membuat banyak ancaman nyata yang membuat sang ayah gemetar.

Di ruangannya sendiri, Lena terbahak. Ia terbayang wajah ketakutan sang ayah saat mendapat ancaman tadi.

“Apa jadinya tempat ini tanpa aku,” gumam perempuan itu setelahnya.


Waktu bergulir, tanpa terasa siang berubah menjadi sore. Lena keluar ruangan setelah para pekerja meninggalkan pos masing-masing. Perempuan itu menghela napas. Ia mengeluarkan kaca dari dalam tas tangan berwarna merah menyala.

Hari ini, tema pakaiannya adalah merah hitam. Ia sengaja memakai kemeja katun berwarna hitam, rok pensil kulit panjang selutut warna hitam juga. Lalu, stiletto warna merah menyala, tas merah, juga lipstik merah.

Hitam dan merah, kombinasi mematikan yang membuat dirinya mengintimidasi. Lena suka hal itu. Ia senang saat orang-orang memandangnya dengan sorot ketakutan. Lena merasa kuat dan berkuasa ketika rasa takut menguar. Sepertinya, ketakutan itu menjadi tenaga paling mujarab dalam menghadapi energi negatif di sekitarnya.

Menunggangi sedan hitam miliknya, perempuan tersebut menyusuri jalanan kota yang padat. Tujuannya adalah sebuah restoran mewah di puncak gedung pencakar langit. Tiba di depan gedung, ia berjalan sangat percaya diri.

Rambut hitamnya yang tergerai bergoyang. Aroma floral dari parfum mahalnya membekas saat ia lewat. Banyak pasang mata memperhatikan, terpukau dengan gaya penuh percaya diri perempuan itu. Lena tersenyum kecil ketika petugas lift menyapa.

Selagi menunggu sampai puncak, Lena memperhatikan jam di pergelangan tangan. Ia sengaja datang sedikit telat agar bisa menjadi pusat perhatian. Bagi Lena, melihat wajah kesal ayah dan keluarga haramnya menciptakan kepuasan tersendiri.

Petang ini, restoran tidak begitu ramai. Ketukan sepatu Lena kembali menggema membuat beberapa orang menoleh ke arahnya. Mata perempuan itu memindai dan seringainya muncul manakala menemukan meja di mana Indra Respati dan keluarga hinanya duduk.

Di seberang mereka, membelakangi posisi Lena, tiga orang asing duduk tenang. Salah satunya tampak muda meski dilihat dari belakang. Punggung itu begitu lebar dan ia tahu, itulah CEO Bhumi Organics.

“Maaf sedikit telat. Jalanan cukup padat karena jam pulang kerja.” Lena bersuara.

Perempuan itu tersenyum kecil, senyum ramah yang membuat ayahnya bergidik. Sementara di sudut matanya, ia bisa melihat putri Indra Respati yang lain mengerucutkan bibir dan selingkuhan ayahnya  merotasikan mata.

Dua orang—perempuan dan laki-laki paruh baya—berdiri menyambutnya. Mereka tersenyum ramah, tetapi sosok CEO Bhumi Organics itu bergeming. Ia duduk tegak di kursi sambil minum air mineral dengan santai.

Mata tajam Lena memindai penampilan lelaki itu. Sebelah alisnya terangkat, wajah si lelaki memang tampan, bagai pahatan patung yang sempurna. Bibirnya penuh, hidungnya mancung, alisnya tegas dan tebal. Rambutnya rapi dan tidak ada kumis maupun jenggot memenuhi wajahnya.

Ada sedikit freckles, tanda kalau terkadang lelaki itu bekerja di luar ruangan. Pakaiannya rapi dengan kemeja abu-abu yang kancing teratasnya sengaja dibuka.

Mungkin, kalau satu kancing lagi dibuka, penampilan lelaki itu akan bertambah hot. Begitulah pemikiran Lena.

Penampilan cukup oke, apalagi pakaiannya berasal dari desainer ternama. Sayang, hidung sensitif perempuan itu mencium pencampuran aroma yang aneh.

Cedarwood, mint, dan... kompos? Lena menebaknya seperti itu.

“Jadi...” Lelaki itu bersuara. Setelah sekian detik, ia baru menatap ke arah Lena. “Dia calon istri saya?”

Mata mereka beradu. Lena tersenyum kecil dan lelaki itu mengangkat sebelah alisnya.

“Buk—“ Kamala Nayara Respati, putri Indra Respati dari istri yang dulunya selingkuhan, hendak menepis.

Sayang, sang ayah segera menyela. “Betul. Ini putri sulung saya, Kalena Nurin Respati.”

Mata anak dan istri Indra membelalak, begitu juga dua orang paruh baya yang mendampingi CEO Bhumi Organics itu.

Lelaki tampan itu akhirnya berdiri. Ia mengulurkan tangan ke arah Lena, yang tentu saja disambut perempuan di depannya.

“Savero Laksamana,” ucapnya, sebelum menarik tangan Lena mendekat dan mencium punggung tangannya.

Dua orang itu saling menyeringai. Aura kelam memancar dari dalam diri mereka, membuat orang-orang di sekitar bergidik ngeri.

“Panggil saya Vero,” lanjut lelaki tampan itu saat mengangkat wajah usai mencium punggung tangan Lena.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk