Bab 2

1 dibaca

A

“Halo sayang-sayangku, apa kabar hari ini?” Suara rendah dan dalam seorang lelaki terdengar saat masuk ke mini greenhouse miliknya.

Sambil melepas dasi, ia berjalan diantara deretan tanaman tomat yang berjejer memenuhi tempat itu. Matanya begitu awas memandangi buah-buah kecil yang terbentuk dari bunga. Fokusnya buyar manakala netranya menangkap seekor lebah terbang di sekitar satu tanaman paling ujung.

“Ada ulat,” gumamnya.

Lelaki itu menggerakkan kaki, mendekat ke arah tanaman yang dihinggapi lebah. Ia menghela napas lagi tatkala mendapatkan beberapa helai daun bolong akibat dimakan ulat.

Kali ini, matanya memindai area greenhouse. Sepertinya tukang kebun yang biasa bersih-bersih kurang rapat menutup pintu. Ini yang sering menjadi dilema untuknya tiap kali sibuk. Ia harus merelakan orang lain masuk ke area healing-nya agar semua tetap bersih terawat.

“Respons kamu bagus. Lebah bisa datang dan mengusir ulat itu.” Lelaki tersebut bicara lagi. Ia memegang lembut daun-daun yang bolong.

Lelaki itu, Savero Laksamana, memang sangat menyukai tanaman tomat. Baginya, tanaman itu tidak hanya menghasilkan buah yang ranum, tapi juga ada mekanisme pertahanan serta ketelitian dalam fase hidupnya. Vero, biasa ia dipanggil, seperti ada di dalam kawanannya saat berada di tengah kumpulan tanaman tomat.

Makanya, jangan heran kalau mendapati lelaki itu sedang bicara sendirian di greenhouse pribadi yang dibuatnya tepat di halaman belakang rumah. Vero bisa menghabiskan waktu seharian saat hari libur di sana.

Manakala pulang dari kantor lebih cepat seperti sekarang, ia pasti langsung berjalan dari garasi ke tempat para sahabatnya ini tinggal.

“Mas Vero?” Sosok wanita paruh baya yang memakai kebaya kutu baru warna coklat membuka pintu greenhouse.

“Ada apa, Mbok Darmi?” Ia kembali berjalan di antara tanamannya, mendekati pintu. “Kalau tanya apa saya sudah makan siang, jawabannya sudah.”

Biasa memang Asisten Rumah Tangga yang sudah bekerja dengan keluarganya sejak Vero masih umur lima tahun itu akan bertanya perihal makanan begitu ia pulang ke rumah. Namun, kepala Mbok Darmi menggeleng. Ia mengernyit dan ekspresinya tampak resah.

“Anu… itu…” Belum juga wanita itu selesai bicara, pintu terbuka lebih lebar.

“Apa kabar keponakanku tersayang?” Wanita lainnya muncul. “Mbok balik aja ke dapur.”

Mbok Darmi mundur dan pergi. Kali ini, pintu greenhouse ditutup wanita yang baru datang. Ia melepas kacamata hitam berbingkai bulat besar dan memasukkannya ke dalam tas berukuran besar juga. Ketukan sepatu flat-nya sedikit teredam sebab lantai ruang aman Vero itu dilapisi rumput sintetik.

Di tempatnya berdiri, Vero menghela napas berat. Ia memasukkan tangan ke dalam kantong celana dan menatap wanita itu dengan datar. “Ada apa, Tante Hayu?”

Senyum palsu nan memuakkan merekah di bibir adik perempuan ayah Vero itu. Alih-alih langsung mengutarakan apa yang diinginkannya, wanita lima puluh tahun tersebut dengan santai mengelilingi tanaman tomat jenis heirloom yang amat disayangi Vero.

Arah mata Vero mengikuti langkah sang tante. Ia tahu, tantenya sering diam-diam memetik tomat yang berbuah ranum. Beberapa kali tanamannya rusak akibat ulah tantenya sendiri.

“Kalau tante cari tomat, bisa langsung beli di Pasar Bhumi.” Nada bicara Vero tetap datar.

Hayu tampak kecewa, tapi senyumnya tidak pudar. Atensinya kembali jatuh pada sang keponakan yang selalu memberikannya tatapan dingin atau terkadang menghina.

“Memangnya tante orang yang suka minta-minta?” Ia menggerutu tapi sebisa mungkin dibuat nadanya seperti sedang bercanda.

Kali ini, Vero duduk di kursi dekat pintu masuk. “Bukannya memang hobi tante itu minta-minta?” Sebelah alis Vero terangkat. Seringai tipis muncul di bibirnya.

Hayu mendengkus. Tatapannya dipenuhi percikan amarah. “Apa kamu nggak bisa hargai tante sebagai pengganti orang tuamu?”

Lelaki itu terkekeh. “Bicara soal pengganti orang tua, sepertinya sosok yang pas adalah Mbok Darmi.”

Sang tante berdecak. Ia berjalan mendekat ke arah keponakannya sambil menghentak kaki. Kemudian, merogoh tas dan mengeluarkan selembar foto perempuan muda.

“Apa ini?” Vero mengernyit. Tantenya menyodorkan foto perempuan asing yang bergaya sok cantik.

“Waktu itu, kamu sendiri yang bilang kalau terserah tante mau jodohin kamu sama siapa. Jadi, ini dia calonnya. Cantik bukan?” Senyum lebar tante Hayu merekah lagi.

Mata Vero memandang foto itu cukup lama. Ia tidak bisa menilai bagaimana sosok di dalam foto sebelum bertemu langsung. Namun, lelaki itu menaruh curiga. Bisa jadi, tantenya ini sengaja menjodohkan Vero dengan relasinya untuk memperdaya lelaki itu.

Sikap Vero yang kurang baik pada sang tante bukan tanpa alasan. Tante Hayu dan Om Teja—adik lelaki ayahnya—adalah orang paling tamak yang pernah dikenalnya. Lima tahun lalu, saat orang tua Vero meninggal dalam kecelakaan, mereka yang paling ribut soal warisan.

Saat itu Vero sudah dewasa dan sudah mulai bekerja di perusahaan ayahnya, Bhumi Organics. Namun Om Teja merasa ia lebih berhak sebab lebih tua. Tante Hayu juga ikut-ikutan padahal mereka tidak punya kontribusi dalam perusahaan.

“Dari keluarga mana?” Tanyanya.

“Putri kedua keluarga Respati, pemilik Adhisti Textila. Baju-baju high-end Eropa, produksinya di pabrik mereka,” jelas tante Hayu dengan semangat.

“Putri kedua,” gumam Vero. “Berarti ada putri pertama?”

Pertanyaan itu membuat sang tante tiba-tiba terpingkal. Setelah beberapa saat, begitu tawanya reda, tante Hayu baru bicara lagi. “Kamu nggak akan tahan sama putri pertamanya. Dia terkenal jahat dan licik.”

Deskripsi itu malah terdengar menarik. Namun, Vero tidak menunjukkannya meski lewat ekspresi. Ia tetap datar dan bangkit dari kursi. “Atur aja pertemuannya.”

Mata Hayu berbinar. “Beneran? Besok gimana?”

“Terserah tante.” Lelaki itu membuka pintu. Ia memberi isyarat tangan agar tantenya keluar.

Kembali sendirian di greenhouse, membuat lelaki itu bisa mengeluarkan ekspresi. Seringai lebarnya terukir dan jemarinya menjentik udara. Ia bukan senang sebab akan berkenalan dengan perempuan. Vero lebih suka tanaman tomat daripada manusia. Namun, kepalanya telah menyusun skenario jahat.

“Dijodohkan dengan perempuan bergaya aneh begitu? Wajahnya saja sudah kelihatan bisa disiksa dan dipermainkan.” Kali ini, ia terkekeh.

Tubuhnya mendekat ke arah deretan tanaman tomat. Ia berjalan menuju tanaman yang sempat diserang ulat. “Bagaimana caranya saya memanggil lebah untuk melemahkan ulat pengganggu?” Gumamnya.


Hari berganti tanpa terasa. Sesuai dengan apa yang tante Hayu katakan, pertemuan dilakukan di sebuah restoran mewah. Lokasinya berada di puncak gedung pencakar langit, tepat di tengah kota metropolitan.

Hari ini, Vero datang memakai kemeja abu-abu dan celana hitam. Ia sempat berganti sepatu dengan pantofel hitam yang mengkilat. Asisten yang mengantarnya juga menyemprotkan parfum, sebab lelaki itu baru kembali dari perkebunan di luar kota.

Seperti biasa, tubuh tinggi tegapnya berjalan penuh percaya diri. Ia mengangguk kecil ketika petugas lift menyapa. Mata yang sering menatap tajam itu memindai restoran manakala keluar dari lift.

Vero menghela napas berat. Matanya menangkap dua orang yang paling tidak ingin dilihatnya. Di salah satu meja dekat jendela ada Tante Hayu bersama Om Teja. Kakak-beradik itu duduk membelakanginya, tapi Vero sudah hafal gaya para adik sang ayah.

Om Teja memakai jas mahal seharga puluhan juta kebanggaannya. Rambutnya diberi gel sampai kaku. Sementara Tante Hayu memakai setelan blazer, menampilkan gaya wanita karier kelas atas.

“Saya pikir sudah telat,” katanya, bersuara tatkala langkahnya semakin dekat.

Orang-orang di meja itu berdiri, termasuk tiga orang asing. Satu wanita muda yang berusaha keras tampak anggun, satu lelaki paruh baya yang sedikit lebih tua dari Om Teja, dan wanita paruh baya dengan rambut disasak tinggi.

“Ini dia, Vero. Savero Laksamana. Keponakan kebanggaan kami, CEO Bhumi Organics.” Tante Hayu memperkenalkannya secara berlebihan.

Padahal, Vero tetap datar. Ia langsung duduk tepat di seberang perempuan muda yang dikenalinya dari foto. Kesimpulan lelaki itu sepertinya benar, perempuan itu akan sangat mudah menjadi sasaran penyiksaannya. Namun, tidak ada daya tarik yang membuat Vero bersemangat saat melihat sosok di seberang meja.

“Kamala Nayara Respati. Itu namaku dan Mas Vero bisa panggil aku Lala.” Senyum perempuan di depannya merekah lebar. Pancaran matanya terasa palsu. Suaranya saat bicara dibuat-buat halus.

Tidak ada respons. Vero diam saja, hanya menaikkan sebelah alis dan mengambil buku menu. Sikap dingin itu bukan membuat si perempuan gentar. Ia malah memajukan tubuhnya, seperti ingin berbisik, tapi Vero malah duduk bersandar. Perempuan itu urung melancarkan aksinya dan menarik diri dengan bibir sedikit cemberut.

Sementara itu, para orang tua masih asik berbincang. Tidak ada kata pengantar atau perkenalan secara resmi. Malah, Vero dapat melihat Tuan Respati seolah mengulur waktu dengan pembicaraan kosong. Sesekali, mata pria itu melirik resah ke arah lift.

Tidak lama, suara ketukan sepatu menggema. Pada saat itu, mata tiga orang di depan Vero membelalak. Mereka seperti melihat hantu paling jahat bersiap menyerang.

“Maaf sedikit telat. Jalanan cukup padat karena jam pulang kerja.” Suara perempuan yang baru datang itu begitu tegas.

Dua orang yang mengapit duduknya berdiri, tapi Vero masih tenang. Ia malah meminum air mineral begitu santai. Matanya mengarah pada kaki perempuan itu. Kakinya jenjang, sepatunya mengkilap dengan bagian tumit tinggi serta tajam.

Ia bisa menebak, perempuan itu adalah putri sulung Tuan Respati. Sosok jahat yang Tante Hayu bilang kemarin.

Menarik.

Kali ini, ia menyeringai kecil. Kepalanya terangkat dan ikut berdiri. Mata Vero akhirnya dapat melihat penampilan utuh sosok yang sepertinya sengaja datang terlambat di acara perjodohan ini.

Merah dan hitam. Penampilannya sengaja seperti tidak ingin mencolok tapi tetap mencolok juga. Perempuan itu punya tatapan dingin saat netra mereka beradu.

“Jadi, dia calon istri saya?” Pertanyaan itu pastinya membuat semua terbelalak.

Vero bisa merasakan tangan sang tante sengaja menyenggol sikunya. Tentu lelaki itu tahu, orang yang dijodohkan adalah anak kedua. Namun, ia sengaja memancing kontroversi.

Tanpa dinyana, jawaban Tuan Indra Respati lebih mengejutkan lagi. “Betul. Ini putri sulung saya, Kalena Nurin Respati.” Lelaki itu bahkan menyela putri keduanya.

Situasinya semakin menarik. Ekspresi pongah dari Kalena Nurin Respati memantik kobaran jahat di dalam dirinya. Di mata Vero, perempuan itu tampak seperti lebah yang menyingkirkan ulat di tanaman tomatnya.

Hanya saja, lebah juga berbahaya. Meski ulat tersingkir, tanaman bisa rusak jika petaninya salah menangani lebah itu.

Sebagai bentuk dari penerimaan situasi ini, Vero mengulurkan tangan ke arah sang calon istri. “Savero Laksamana,”ucapnya, memperkenalkan diri.

Uluran tangannya bersambut. Lelaki itu bisa merasakan halus telapak tangan putri sulung Tuan Respati. Pandangan mereka benar-benar tidak terputus, seolah sedang membangun frekuensi satu sama lain. Bahkan saat dengan sengaja lelaki tersebut mencium punggung tangan Kalena Nurin Respati.

“Panggil saya Vero,” lanjutnya.

Seringai terukir di bibir sulung Respati. “Lena.”

Suara tegas itu kembali keluar. Bersamaan dengan itu, Vero bisa merasakan sebuah gejolak menyenangkan yang belum pernah ia rasa sebelumnya. Rencana awalnya untuk mempermainkan putri kedua Respati langsung beralih.

Kali ini, bagaimana kalau bermain dengan si sulung?

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk