AWAL SEBUAH PERTEMUAN

12 dibaca

A

Awal sebuah pertemuan

Malam perlahan turun di Desa Weningjati.

Langit yang sejak sore tertutup awan hitam kini semakin gelap. Cahaya bulan hanya sesekali terlihat di antara celah awan. Angin berembus pelan melewati pepohonan tua yang tumbuh di sepanjang jalan desa.

Weningjati memang dikenal sebagai desa yang tenang.

Rumah-rumah penduduk berdiri berjajar dengan halaman yang luas. Sebagian besar masih mempertahankan bentuk rumah sederhana dengan teras kayu dan genteng tua. Setelah matahari tenggelam, kehidupan desa biasanya ikut berhenti. Hanya suara jangkrik, katak dari sawah, dan sesekali suara motor yang melintas memecah kesunyian.

Namun malam itu terasa berbeda.

Ada sesuatu yang sulit dijelaskan.

Di sebuah rumah sederhana yang berada tidak jauh dari batas desa, seorang gadis bernama Sekar Kinasih Pratiwi duduk sendirian di teras.

Usianya masih muda. Wajahnya sederhana, tetapi sorot matanya menyimpan ketenangan yang sulit dijelaskan.

Sekar memandangi halaman rumahnya.

Sejak sore, perasaan aneh terus mengganggunya.

Seperti ada seseorang yang memperhatikannya.

Sekar menoleh ke kanan.

Kosong.

Menoleh ke kiri.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia kemudian melihat ke arah jalan desa. Lampu-lampu rumah warga sudah mulai menyala. Kabut tipis perlahan turun dari arah perbukitan.

Sekar menarik napas panjang.

“Kenapa perasaanku nggak enak sejak tadi?”

Ia mencoba mengabaikannya.

Mungkin hanya kelelahan.

Mungkin pikirannya terlalu banyak memikirkan sesuatu.

Tetapi saat Sekar hendak masuk ke rumah, tiba-tiba ia mendengar suara.

Krek...

Seperti ranting patah.

Sekar berhenti.

Matanya langsung tertuju ke halaman belakang.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Sekar mengambil senter kecil yang berada di atas meja, lalu berjalan perlahan menuju halaman.

Cahaya senter menyapu rerumputan.

Tidak ada apa-apa.

Hanya pohon mangga tua yang berdiri di dekat pagar.

Sekar mengarahkan senter ke bawah pohon.

Dan saat itulah tubuhnya mendadak kaku.

Di bawah pohon tersebut, berdiri seorang lelaki.

Jaraknya cukup jauh.

Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup bayangan malam.

Sekar mengerutkan kening.

“Siapa kamu?”

Lelaki itu tidak menjawab.

Ia hanya berdiri diam.

Sekar melangkah satu kali.

Kemudian satu langkah lagi.

Namun semakin Sekar mendekat, semakin aneh perasaannya.

Dadanya tiba-tiba terasa sesak.

Kepalanya berdenyut.

Pandangan matanya mulai berubah.

Untuk sesaat, lelaki itu terlihat seperti seseorang yang tubuhnya diselimuti kabut hitam.

Sekar memejamkan mata.

Ia menggelengkan kepala.

Ketika matanya kembali terbuka...

Lelaki itu sudah tidak ada.

Sekar terdiam.

“Mustahil...”

Ia melihat ke sekitar.

Tidak mungkin seseorang menghilang begitu cepat.

Sekar berjalan menuju tempat lelaki itu berdiri.

Tidak ada jejak kaki.

Tidak ada suara langkah.

Hanya sebuah benda kecil yang tergeletak di atas tanah.

Sekar membungkuk.

Ia mengambil benda tersebut.

Sebuah benda tua berbentuk seperti liontin.

Permukaannya dipenuhi ukiran yang tidak ia kenali.

Begitu benda itu menyentuh telapak tangannya—

DUG!

Kepala Sekar terasa sangat sakit.

Tangannya bergetar.

Senter terjatuh ke tanah.

Sekar mencoba berteriak, tetapi suaranya seakan tertahan.

Kemudian sesuatu muncul di hadapannya.

Bukan lagi halaman rumah.

Bukan lagi Desa Weningjati.

Sekar melihat sebuah rumah tua yang berdiri di tengah hutan.

Di depan rumah itu terdapat seorang perempuan berpakaian putih.

Rambutnya panjang.

Wajahnya tidak terlihat.

Perempuan itu perlahan mengangkat kepalanya.

Sekar ingin bergerak, tetapi tubuhnya tidak bisa dikendalikan.

Kemudian terdengar suara lirih.

“Sekar...”

Mata Sekar membesar.

“Siapa kamu?”

Perempuan itu tidak menjawab.

Ia hanya menunjuk ke arah sebuah pintu kayu tua.

Pintu tersebut terbuka perlahan.

Kreeeek...

Di balik pintu terdapat kegelapan.

Dari dalamnya terdengar suara laki-laki.

“Jangan biarkan mereka menemukan darahmu...”

Sekar terkejut.

“Darahku?”

Tiba-tiba perempuan itu menoleh.

Untuk pertama kalinya Sekar dapat melihat wajahnya.

Wajah yang pucat.

Mata yang dipenuhi kesedihan.

Namun sebelum Sekar dapat melihat lebih jelas—

BRAK!

Semuanya menghilang.

Sekar tersentak kembali ke dunia nyata.

Ia terjatuh di atas tanah.

Napasnya tersengal.

Keringat dingin membasahi dahinya.

Tangannya masih menggenggam benda tua tersebut.

Sekar menatap benda itu dengan ketakutan.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Ia tidak tahu bahwa apa yang baru saja dilihatnya bukan sekadar bayangan.

Sejak kecil, Sekar memang beberapa kali mengalami kejadian aneh.

Ia pernah melihat sosok berdiri di ujung rumah ketika tidak ada siapa pun.

Pernah mendengar suara memanggil namanya dari tempat kosong.

Bahkan beberapa kali ia merasakan kehadiran seseorang di dalam kamar ketika dirinya sedang sendirian.

Tetapi setiap kali Sekar menceritakannya kepada keluarganya, mereka selalu mengatakan hal yang sama.

“Mungkin kamu cuma kecapekan.”

Sekar akhirnya belajar untuk diam.

Belajar mengabaikan semuanya.

Namun malam ini berbeda.

Karena untuk pertama kalinya, sesuatu dari masa lalu seolah datang mencarinya.

Sekar berdiri dan mengambil senter yang terjatuh.

Ia kembali menatap pohon tua itu.

Tidak ada siapa-siapa.

Tetapi dari kejauhan, di balik kabut yang menyelimuti jalan desa, terdengar suara langkah kaki.

Tap...

Sekar menoleh.

Tap...

Suara itu semakin dekat.

Sekar menggenggam benda tua di tangannya.

Kemudian muncul sebuah suara laki-laki dari balik kabut.

“Jangan takut.”

Sekar terdiam.

Dari balik kabut, seorang pemuda perlahan muncul.

Wajahnya masih samar.

Ia berhenti beberapa meter dari Sekar.

Keduanya saling menatap.

Pemuda itu melihat benda yang berada di tangan Sekar.

Wajahnya tiba-tiba berubah.

“Kamu menemukan benda itu?”

Sekar tidak menjawab.

“Siapa kamu?” tanyanya dengan suara bergetar.

Pemuda itu menatapnya cukup lama.

Kemudian berkata pelan,

“Namaku belum penting.”

Sekar mengerutkan kening.

“Lalu kenapa kamu ada di sini?”

Pemuda itu melirik ke arah hutan di belakang rumah Sekar.

“Karena seseorang sedang mencarimu.”

Sekar merasakan bulu kuduknya berdiri.

“Siapa?”

Pemuda itu tidak langsung menjawab.

Ia hanya berkata,

“Kalau kamu ingin tahu siapa dirimu sebenarnya, jangan pernah pergi ke hutan Weningjati seorang diri.”

Sekar semakin bingung.

“Kenapa?”

Pemuda itu menatap tepat ke matanya.

“Karena tidak semua yang hidup di sana adalah manusia.”

Angin tiba-tiba berembus kencang.

Daun-daun pohon berguguran.

Lampu rumah Sekar berkedip beberapa kali.

Dan ketika Sekar kembali menatap pemuda tersebut—

ia sudah menghilang.

Sekar berdiri seorang diri.

Jantungnya berdegup semakin cepat.

Ia menatap benda tua di tangannya.

Untuk pertama kalinya, Sekar mulai bertanya kepada dirinya sendiri.

Siapa sebenarnya dirinya?

Dan mengapa orang-orang misterius mulai muncul setelah benda itu ditemukan?

Sekar belum mengetahui jawabannya.

Ia juga belum tahu bahwa pertemuan malam itu adalah awal dari sebuah perjalanan panjang.

Sebuah perjalanan yang akan membuka rahasia tentang keluarganya, leluhurnya, cinta, dendam, pesugihan, dan kekuatan yang selama puluhan tahun tersembunyi di balik kehidupan Desa Weningjati.

Malam itu hanyalah permulaan.

Permulaan dari rahasia besar di Jagad Asmoroloyo.

Awal sebuah pertemuan

Sekar masih berdiri di tempatnya.

Kabut perlahan menelan jalan desa. Sosok pemuda tadi benar-benar telah menghilang, seolah tidak pernah datang ke tempat itu.

Sekar menatap jalan kosong di hadapannya.

“Siapa sebenarnya dia?”

Tidak ada jawaban.

Hanya suara angin yang bergerak di antara dedaunan.

Sekar kemudian melihat kembali benda tua yang masih berada dalam genggamannya.

Liontin itu terasa dingin.

Aneh.

Padahal beberapa saat sebelumnya benda tersebut berada di atas tanah dan terkena udara malam.

Sekar membaliknya.

Di bagian belakang terdapat sebuah ukiran yang baru sekarang ia sadari.

Sebuah lambang berbentuk bunga dengan delapan kelopak, dikelilingi garis melingkar seperti ular yang menggigit ekornya sendiri.

Sekar menyentuh ukiran tersebut menggunakan ujung jarinya.

Tiba-tiba—

Denyut.

Benda itu terasa bergetar.

Sekar langsung menarik tangannya.

“Apa lagi ini?”

Dari dalam rumah terdengar suara ibunya.

Sekar!

Sekar tersentak.

“Iya, Bu!”

“Ngapain di luar malam-malam?”

Sekar menoleh ke arah rumah.

Lampu teras masih menyala.

Ia menggenggam liontin itu erat-erat dan memasukkannya ke dalam saku bajunya.

“Nggak apa-apa, Bu. Tadi cuma dengar suara.”

Ibunya muncul di ambang pintu.

Wajahnya terlihat cemas.

“Suara apa?”

Sekar menggeleng.

“Cuma ranting jatuh.”

Ibunya memandang ke arah halaman.

Kemudian tatapannya berhenti pada pohon mangga tua.

Untuk beberapa detik, wajah wanita itu berubah.

Seperti melihat sesuatu yang sangat ia kenal.

Namun ia segera mengalihkan pandangan.

“Masuk.”

Nada suaranya berbeda.

Lebih tegas.

Sekar memperhatikan ibunya.

“Kenapa, Bu?”

“Masuk dulu.”

Sekar menurut.

Begitu berada di dalam rumah, ibunya langsung menutup pintu dan menguncinya.

Klik.

Sekar semakin heran.

“Ibu kenapa?”

Ibunya tidak menjawab.

Ia justru berjalan menuju jendela dan menutup seluruh tirai.

Satu per satu.

Seolah takut seseorang sedang mengawasi dari luar.

Sekar berdiri di belakangnya.

“Ibu...”

Wanita itu akhirnya menoleh.

“Mulai malam ini, kalau malam sudah terlalu larut, jangan keluar rumah.”

Sekar terdiam.

“Kenapa?”

“Pokoknya jangan.”

“Tapi biasanya Ibu nggak pernah melarang aku.”

Ibunya menarik napas panjang.

“Kadang ada hal-hal yang lebih baik tidak kamu ketahui.”

Kalimat itu membuat Sekar semakin bingung.

“Hal apa?”

Ibunya tidak menjawab.

Ia berjalan menuju dapur.

Sekar tetap berdiri di ruang tengah.

Matanya mengikuti langkah sang ibu.

Ada sesuatu yang disembunyikan.

Ia bisa merasakannya.

Dan untuk pertama kalinya, Sekar mulai berpikir bahwa mungkin selama ini keluarganya memang mengetahui sesuatu tentang dirinya.

Sesuatu yang sengaja dirahasiakan.

Malam semakin larut.

Sekar akhirnya masuk ke kamar.

Ia duduk di tepi tempat tidur.

Kemudian mengeluarkan liontin yang ditemukan di bawah pohon.

Cahaya lampu kamar menerangi ukiran di permukaannya.

Sekar mengambil kaca pembesar kecil dari meja.

Ia memperhatikan lambang itu dengan saksama.

Delapan kelopak.

Delapan garis.

Entah kenapa, lambang tersebut terasa familiar.

Seperti pernah ia lihat sebelumnya.

Sekar mencoba mengingat.

Tidak berhasil.

Ia kemudian membuka laci meja.

Di dalamnya terdapat beberapa barang lama miliknya.

Foto masa kecil.

Surat sekolah.

Kalung pemberian ibunya.

Dan sebuah foto lama yang sudah mulai menguning.

Sekar mengambil foto tersebut.

Foto keluarganya ketika ia masih kecil.

Ada dirinya.

Ada ayah dan ibunya.

Namun sesuatu membuat Sekar terdiam.

Di belakang mereka, berdiri seorang perempuan tua.

Perempuan yang selama ini tidak pernah Sekar ingat.

Sekar membalik foto tersebut.

Ada tulisan tangan di belakangnya.

”Weningjati, 17 tahun lalu.”

Sekar mengerutkan kening.

“Siapa perempuan ini?”

Ia kembali melihat wajah perempuan dalam foto.

Perempuan itu tersenyum tipis.

Namun semakin lama Sekar memandangnya, semakin aneh perasaannya.

Wajah perempuan tersebut...

mirip dengan sosok yang ia lihat dalam penglihatannya tadi.

Sekar langsung menjatuhkan foto itu.

Jantungnya berdegup keras.

“Nggak mungkin...”

Ia mengambilnya kembali.

Memeriksa wajah itu.

Sekilas sama.

Tetapi perempuan dalam penglihatannya terlihat lebih muda.

Sekar berdiri.

Ia ingin bertanya kepada ibunya.

Namun sebelum membuka pintu kamar—

Tok... tok... tok...

Sekar membeku.

Suara ketukan terdengar dari jendela.

Tiga kali.

Tok... tok... tok...

Sekar menatap jendela.

Tirai tertutup.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Ketukan terdengar lagi.

Tok... tok... tok...

Sekar perlahan mendekat.

Tangannya terangkat menuju tirai.

Namun sebelum menyentuhnya, terdengar suara bisikan dari luar.

Sangat pelan.

Hampir seperti suara perempuan.

”Sekar...”

Tubuh Sekar langsung merinding.

Ia mundur satu langkah.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Sekar memberanikan diri membuka tirai sedikit.

Tidak ada siapa pun.

Halaman belakang gelap.

Pohon mangga berdiri diam diterpa angin.

Namun di kaca jendela...

Sekar melihat sesuatu.

Sebuah telapak tangan.

Bekasnya berada dari sisi luar kaca.

Sekar menahan napas.

Perlahan bekas tangan itu mulai menghilang.

Lalu muncul tulisan seperti embun di permukaan kaca.

JANGAN PERCAYA SIAPA PUN.

Sekar menutup mulutnya.

Air matanya hampir jatuh.

Ia mundur dari jendela.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.

Ibunya berdiri di sana.

“Sekar!”

Sekar langsung berbalik.

“Ibu!”

Ibunya melihat wajah Sekar yang pucat.

“Ada apa?”

Sekar menunjuk jendela.

“Itu...”

Ibunya berjalan cepat menuju jendela.

Namun ketika tirai dibuka—

Tidak ada apa-apa.

Tidak ada bekas telapak tangan.

Tidak ada tulisan.

Semuanya menghilang.

Ibunya menatap Sekar.

Wajahnya berubah pucat.

“Kamu melihat apa?”

Sekar terdiam.

Ia ingin menceritakan semuanya.

Tetapi kalimat pemuda tadi kembali terngiang di kepalanya.

Jangan percaya siapa pun.

Sekar menatap ibunya.

Untuk pertama kalinya, ia merasa ragu kepada orang yang selama ini paling ia percaya.

“Aku... cuma ketakutan.”

Ibunya memeluk Sekar.

Tetapi pelukan itu justru membuat Sekar semakin gelisah.

Karena ketika ibunya memeluknya, liontin di saku Sekar tiba-tiba terasa panas.

Sangat panas.

Ibunya tersentak.

Tangannya langsung melepaskan tubuh Sekar.

Tatapannya tertuju pada saku baju anaknya.

“Apa yang kamu bawa?”

Sekar membeku.

“Nggak ada.”

Ibunya menatapnya tajam.

“Jangan bohong sama Ibu.”

Sekar menggenggam liontin di dalam saku.

Ibunya semakin pucat.

Kamu menemukan benda itu di mana?

Sekar tidak menjawab.

Dan dari tatapan ibunya, Sekar akhirnya memahami satu hal.

Ibunya mengenal benda tersebut.

Bahkan mungkin...

ibunya tahu siapa pemuda yang datang malam ini.

Sekar menatap ibunya dengan penuh pertanyaan.

“Ibu... sebenarnya apa yang terjadi di Desa Weningjati?”

Ibunya terdiam lama.

Kemudian matanya berkaca-kaca.

“Sudah waktunya kamu tahu.”

Di luar rumah, angin tiba-tiba berhenti.

Seluruh Desa Weningjati mendadak sunyi.

Dan jauh di dalam hutan, terdengar suara gong tua berdentang satu kali.

DUNG...

Ibunya menutup mata.

“Karena mereka sudah kembali.”

Sekar menelan ludah.

“Siapa mereka?”

Ibunya membuka mata dan menatapnya.

“Orang-orang yang seharusnya tidak pernah menemukanmu.”

Bersambung...

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk