RAHASIA YANG TERKUBUR

2 dibaca

A

RAHASIA YANG TERKUBUR

“Orang-orang yang seharusnya tidak pernah menemukanmu.”

Kata-kata itu terus terngiang di kepala Sekar.

Ia menatap ibunya tanpa berkedip. Untuk pertama kalinya, wanita yang selama ini selalu terlihat tenang itu menunjukkan ketakutan yang tidak bisa disembunyikan.

“Ibu... siapa mereka?”

Ibunya tidak langsung menjawab.

Ia berjalan menuju pintu kamar, kemudian memeriksa kunci sekali lagi.

Klik.

Setelah memastikan pintu terkunci, ia kembali mendekati Sekar.

“Duduklah.”

Sekar menurut.

Ibunya duduk di tepi tempat tidur.

Beberapa saat mereka hanya diam.

Di luar, suara angin kembali terdengar. Namun suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dibandingkan sebelumnya.

“Ibu sudah berharap hari ini tidak akan pernah datang,” ucapnya pelan.

Sekar mengerutkan kening.

“Hari apa?”

“Hari ketika kamu mulai melihat semuanya.”

Sekar menelan ludah.

“Maksud Ibu... kemampuan yang aku punya?”

Ibunya terdiam.

Sekar langsung memperhatikan wajahnya.

“Jadi selama ini Ibu tahu?”

Ibunya menghela napas panjang.

“Sejak kamu kecil.”

Sekar terkejut.

“Kenapa Ibu nggak pernah bilang?”

“Karena Ibu ingin kamu hidup normal.”

Sekar berdiri.

“Normal?”

Suaranya mulai meninggi.

“Bagaimana aku bisa hidup normal kalau sejak kecil aku sering melihat sesuatu yang orang lain nggak bisa lihat?”

Ibunya menundukkan kepala.

“Karena kalau kamu tahu terlalu cepat, mereka akan tahu bahwa kamu sudah terbangun.”

Sekar terdiam.

“Terbangun?”

Ibunya menatap mata Sekar.

“Darah itu sudah mulai bangun di dalam tubuhmu.”

Sekar merasakan tengkuknya merinding.

“Darah apa?”

Ibunya tidak menjawab.

Ia justru meminta Sekar mengeluarkan benda yang ditemukan di bawah pohon mangga.

“Berikan liontin itu kepada Ibu.”

Sekar ragu.

Namun akhirnya ia mengambil liontin tersebut dari saku.

Begitu benda itu terlihat, wajah ibunya berubah pucat.

Tangannya gemetar.

“Dari mana kamu mendapatkannya?”

“Di bawah pohon mangga.”

Ibunya memejamkan mata.

“Jadi benar...”

“Benar apa, Bu?”

Ibunya mengambil liontin itu dengan hati-hati.

Ia tidak langsung menyentuh ukirannya.

“Benda ini milik seseorang dari masa lalu keluarga kita.”

“Siapa?”

“Namanya... Kinasih.”

Sekar membeku.

“Kinasih?”

Ibunya mengangguk perlahan.

“Perempuan yang selama ini tidak pernah kamu kenal.”

Sekar teringat foto lama yang baru saja ditemukannya.

Perempuan tua di belakang keluarganya.

“Perempuan di foto itu?”

Ibunya terdiam.

Sekar langsung mengambil foto dari meja.

“Ini dia, kan?”

Ibunya memandang foto tersebut.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Iya.”

Sekar mendekat.

“Siapa dia sebenarnya?”

Ibunya menarik napas panjang.

“Dia adalah nenek dari ayahmu.”

Sekar terpaku.

“Kenapa aku nggak pernah tahu?”

“Karena keluarga kita sengaja menghapus namanya dari cerita keluarga.”

“Kenapa?”

Ibunya memandang ke arah jendela.

“Karena Kinasih bukan perempuan biasa.”

Sekar merasakan jantungnya berdetak semakin cepat.

“Apa maksudnya?”

Ibunya menggenggam liontin itu.

“Dia adalah salah satu penjaga warisan lama di Weningjati.”

“Warisan apa?”

“Warisan yang berkaitan dengan sesuatu yang jauh lebih tua daripada desa ini.”

Sekar diam.

Ibunya melanjutkan.

“Dulu, sebelum Weningjati menjadi desa seperti sekarang, daerah ini dipercaya memiliki tempat yang disebut Watu Wening.”

“Watu Wening?”

“Tempat yang dipercaya menjadi batas antara dunia manusia dan sesuatu yang lain.”

Sekar menatap ibunya dengan tidak percaya.

“Dunia gaib?”

Ibunya tidak membantah.

“Orang-orang dulu menyebutnya begitu.”

Sekar menggenggam ujung bajunya.

“Lalu apa hubungannya denganku?”

Ibunya menatap liontin tersebut.

“Karena keluarga kita pernah menjaga rahasia tempat itu.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang rahasia itu mulai terbuka kembali.”

Tiba-tiba terdengar suara dari luar rumah.

Krek...

Keduanya langsung menoleh.

Sekar berdiri.

Ibunya memberi isyarat agar diam.

Beberapa detik kemudian—

Tok... tok...

Ketukan terdengar dari pintu depan.

Sekar menatap ibunya.

“Siapa?”

Ibunya tidak menjawab.

Ketukan kembali terdengar.

Tok... tok... tok...

Tiga kali.

Persis seperti suara dari jendela kamar tadi.

Wajah ibunya berubah pucat.

“Jangan buka pintu.”

Sekar berbisik.

“Siapa yang datang?”

Ibunya berdiri dan mematikan lampu kamar.

Rumah mereka menjadi gelap.

Kemudian terdengar suara laki-laki dari luar.

“Bu...”

Sekar langsung mengenali suara itu.

Suara yang sama seperti pemuda yang ditemuinya di halaman.

Ibunya menutup mulut Sekar dengan tangannya.

“Jangan jawab.”

Suara dari luar kembali terdengar.

“Sekar ada di dalam, kan?”

Sekar menatap ibunya.

Ibunya menggeleng pelan.

Jangan bersuara.

Suara itu kemudian berubah.

Tidak lagi terdengar seperti suara manusia.

Lebih berat.

Lebih dalam.

Kami tahu kamu sudah menemukannya.

Liontin di tangan Sekar tiba-tiba terasa panas.

Sekar hampir menjatuhkannya.

Ibunya berbisik sangat pelan.

“Jangan lepaskan.”

“Apa?”

“Selama kamu memegang benda itu, mereka belum bisa menyentuhmu.”

Di luar, suara langkah kaki mulai terdengar.

Tap...

Tap...

Tap...

Langkah itu bergerak menjauh dari rumah.

Sekar menunggu beberapa saat.

Kemudian suara tersebut benar-benar menghilang.

Ibunya menyalakan lampu kembali.

Sekar menatapnya.

“Bu... sebenarnya siapa mereka?”

Ibunya tidak menjawab.

Ia berjalan menuju lemari tua di sudut kamar.

Lemari itu sudah terlihat sangat lama.

Ibunya membuka bagian bawahnya dan mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil.

Kotak itu dikunci dengan gembok tua.

Ia membukanya.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar kain, sebuah foto lama, dan sebuah benda yang membuat Sekar terpaku.

Sebuah keris kecil.

Sarungnya berwarna hitam.

Pada bagian gagangnya terdapat ukiran bunga delapan kelopak.

Sama persis dengan lambang pada liontin.

Sekar mendekat.

“Kenapa lambangnya sama?”

Ibunya menatap keris itu.

“Karena keduanya adalah bagian dari warisan yang sama.”

“Warisan Kinasih?”

Ibunya mengangguk.

“Dan suatu hari nanti, kamu harus memilih.”

“Memilih apa?”

Ibunya menatap Sekar dalam-dalam.

“Apakah kamu akan meneruskan warisan leluhurmu...”

Ia berhenti sejenak.

“Atau menghancurkannya sebelum warisan itu menghancurkan hidupmu.”

Sekar tidak mampu berkata apa-apa.

Di luar rumah, suara ayam jantan tiba-tiba berkokok.

Padahal malam masih panjang.

Ibunya kemudian mengambil sebuah foto lain dari dalam kotak.

Foto itu memperlihatkan beberapa orang berdiri di depan sebuah bangunan tua.

Di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan:

“Weningjati, sebelum semuanya terkubur.”

Sekar memperhatikan foto itu.

Kemudian matanya berhenti pada satu sosok.

Seorang pemuda berdiri di ujung barisan.

Wajahnya samar.

Tetapi Sekar mengenalinya.

Pemuda yang baru saja menemuinya malam ini.

Sekar langsung menatap ibunya.

“Bu...”

Ibunya membeku.

“Pemuda ini...”

Sebelum Sekar menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara keras dari halaman.

BRAK!

Mereka berdua tersentak.

Kemudian suara benda jatuh terdengar dari luar.

Ibunya segera menutup kotak kayu tersebut.

“Sekar, dengarkan Ibu.”

“Apa?”

“Besok pagi, kita harus pergi dari Weningjati.”

Sekar menggeleng.

“Kenapa?”

Ibunya menatapnya dengan mata penuh ketakutan.

“Karena kalau mereka sudah datang mencarimu...”

Ia berhenti.

“Berarti seseorang sudah membuka kembali pintu yang selama ini terkubur.”

Sekar memandang ke arah jendela.

Di balik kaca, untuk sesaat ia melihat siluet seorang perempuan berpakaian putih berdiri di bawah pohon mangga.

Perempuan itu mengangkat tangannya.

Menunjuk ke arah hutan.

Lalu bibirnya bergerak tanpa suara.

Sekar hanya mampu membaca dua kata.

“Datanglah...”

Dan dalam sekejap—

sosok itu menghilang.

Sekar sadar bahwa malam itu bukan akhir dari pertemuannya.

Justru baru permulaan.

Sementara Sekar dan ibunya masih berada di dalam rumah, jauh dari Desa Weningjati, sebuah mobil hitam berhenti di depan sebuah bangunan tua yang sudah lama tidak digunakan.

Pintu mobil terbuka.

Seorang pria turun dengan langkah tenang.

Namanya Adi Laksana.

Ia dikenal sebagai salah satu pejabat pemerintahan yang memiliki pengaruh besar di wilayah tersebut. Di hadapan masyarakat, Adi dikenal sebagai orang yang tegas, berwibawa, dan sering berbicara tentang pembangunan desa.

Namun tidak banyak yang mengetahui sisi lainnya.

Adi adalah seorang pria yang serakah.

Baginya, jabatan bukanlah amanah.

Jabatan adalah kekuasaan.

Dan selama bertahun-tahun, ia telah menggunakan pengaruhnya untuk mendapatkan apa pun yang diinginkannya.

Tanah.

Uang.

Kekuasaan.

Bahkan rahasia orang lain.

Adi berjalan memasuki bangunan tersebut.

Di dalam sudah menunggu tiga orang.

Salah satunya seorang pria tua yang mengenakan pakaian hitam.

“Bagaimana?” tanya Adi.

Pria tua itu menundukkan kepala.

“Benda itu sudah muncul.”

Adi tersenyum tipis.

“Di tangan siapa?”

“Sekar Kinasih Pratiwi.”

Senyum Adi semakin lebar.

“Jadi akhirnya keturunan itu muncul juga.”

Ia berjalan menuju sebuah meja kayu.

Di atas meja terdapat peta tua Desa Weningjati.

Beberapa titik diberi tanda merah.

Adi menyentuh salah satu tanda tersebut.

“Hutan Weningjati.”

Ia kemudian menunjuk titik lain.

“Watu Wening.”

Pria tua itu berkata pelan,

“Tempat itu tidak boleh dibuka.”

Adi tertawa kecil.

“Tidak boleh?”

Ia menatap pria tua itu.

“Siapa yang membuat aturan itu?”

Tidak ada jawaban.

Adi mengambil sebuah dokumen tua.

“Puluhan tahun orang-orang menjaga tempat ini. Mereka menyembunyikan semuanya dari pemerintah, dari masyarakat... bahkan dari keluarga mereka sendiri.”

Ia tersenyum.

“Dan sekarang semuanya akan menjadi milikku.”

Pria tua itu terlihat gelisah.

“Pak Adi, Anda tidak tahu apa yang ada di balik tempat itu.”

Adi mendekat.

“Aku tidak perlu tahu.”

Ia menepuk bahu pria tersebut.

“Aku hanya perlu tahu bahwa sesuatu di sana memiliki nilai.”

“Kalau benar legenda itu—”

“Legenda tidak membuatku takut.”

Adi memotong perkataannya.

“Uang yang membuatku tertarik.”

Ruangan kembali sunyi.

Kemudian Adi membuka sebuah foto lama.

Foto yang sama seperti yang dilihat Sekar.

Di dalam foto itu terdapat beberapa orang dari masa lalu.

Jarinya berhenti pada satu sosok.

Kinasih.

“Perempuan ini,” katanya pelan.

“Dia menyimpan kunci.”

Pria tua itu mengangguk.

“Dan sekarang kuncinya sudah berpindah kepada keturunannya.”

Adi tersenyum.

“Kalau begitu kita tidak perlu mencari pintunya.”

Ia menatap foto Sekar yang berada di samping dokumen.

“Kita hanya perlu mendapatkan gadis itu.”


Di rumah Sekar, malam semakin larut.

Sekar belum bisa tidur.

Ia terus memikirkan perkataan ibunya.

Warisan leluhur.

Watu Wening.

Orang-orang yang mencarinya.

Dan pemuda misterius yang seolah mengetahui semuanya.

Sekar akhirnya keluar dari kamar.

Ia melihat ibunya masih duduk di ruang tengah.

“Ibu belum tidur?”

Ibunya menggeleng.

“Ibu menunggumu.”

Sekar duduk di sampingnya.

“Aku mau tanya satu hal.”

“Apa?”

“Siapa ayahku sebenarnya?”

Ibunya langsung terdiam.

Sekar menyadari pertanyaan itu membuat ibunya sangat terpukul.

“Ayahmu meninggalkan banyak hal yang tidak pernah sempat ia ceritakan.”

“Dia masih hidup?”

Ibunya menatap lantai.

Tidak menjawab.

Sekar semakin penasaran.

“Bu... jawab.”

Beberapa detik kemudian, ibunya berkata pelan,

“Tidak semua orang yang pergi berarti sudah mati.”

Sekar terdiam.

“Apa maksudnya?”

Ibunya berdiri.

“Besok kamu akan tahu.”

“Tahu dari siapa?”

Ibunya berjalan menuju lemari.

“Dari seseorang yang selama ini menjaga keluargamu dari jauh.”

Sekar hendak bertanya lagi.

Namun tiba-tiba terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah.

Brummm...

Lampu mobil menyinari jendela.

Ibunya langsung membeku.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Kemudian terdengar suara pintu mobil ditutup.

Brak.

Sekar berjalan mendekati jendela.

Ibunya segera menarik tangannya.

“Jangan lihat!”

“Kenapa?”

Ibunya berbisik,

“Karena mereka sudah menemukan rumah kita.”

Di luar, beberapa bayangan manusia mulai terlihat.

Dan di antara mereka berdiri seorang pria dengan pakaian rapi.

Adi Laksana.

Ia menatap rumah Sekar dari kejauhan.

Kemudian tersenyum.

“Sekar Kinasih Pratiwi...”

“Sudah waktunya kita bertemu.”

Di dalam rumah, Sekar menggenggam liontin tua itu.

Untuk pertama kalinya, benda tersebut memancarkan cahaya samar.

Cahaya samar dari liontin itu semakin terang.

Sekar menatap benda tersebut dengan napas tertahan.

“Ibu... lihat.”

Ibunya tidak menjawab.

Wajahnya justru semakin pucat.

Dari luar terdengar suara beberapa orang berjalan mendekati rumah.

Tap... tap... tap...

Sekar berdiri.

“Siapa mereka?”

Ibunya segera mengambil keris kecil dari kotak kayu tadi.

“Sekar, dengarkan Ibu. Apa pun yang terjadi, jangan keluar.”

“Tapi mereka datang ke rumah kita.”

“Ibu yang akan menghadapi mereka.”

Ibunya berjalan menuju ruang depan.

Sekar mengikutinya.

Namun sebelum mereka sampai ke pintu—

Gedebuk!

Seseorang memukul pintu dari luar.

“Buka pintunya!”

Suara seorang pria terdengar.

Ibunya terdiam.

Kemudian suara lain menyusul.

“Ini dari pemerintahan. Kami hanya ingin berbicara.”

Sekar menatap ibunya.

“Pemerintahan?”

Ibunya berbisik,

“Jangan percaya.”

Kemudian terdengar suara seorang pria yang berbeda.

Tenang.

Berwibawa.

“Tidak perlu takut. Saya Adi Laksana.”

Sekar membeku.

Nama itu baru saja disebut.

Ibunya langsung menggenggam tangan Sekar.

“Dia orang yang paling berbahaya.”

Di luar, Adi berbicara kembali.

“Saya tahu kamu ada di dalam.”

Sekar merasakan liontin di tangannya kembali berdenyut.

DUG...

Sekali.

DUG...

Dua kali.

Kemudian tiba-tiba—

BRAK!

Pintu rumah terbuka paksa.

Beberapa orang masuk.

Di belakang mereka, Adi Laksana melangkah masuk dengan tenang.

Ia melihat sekeliling rumah.

Kemudian tatapannya berhenti pada Sekar.

Untuk beberapa detik, Adi hanya diam.

Seolah sedang memastikan sesuatu.

“Jadi kamu Sekar.”

Sekar tidak menjawab.

Adi tersenyum.

“Mirip sekali dengan keluargamu.”

Ibunya langsung berdiri di depan Sekar.

“Keluar dari rumah saya.”

Adi tertawa kecil.

“Sudah lama sekali kita tidak bertemu.”

Ibunya menatapnya tajam.

“Aku tidak pernah mengundangmu.”

“Aku juga tidak datang untuk diundang.”

Adi melirik ke arah tangan Sekar.

Matanya langsung tertuju pada liontin.

Senyumnya menghilang.

“Itu.”

Sekar refleks menggenggam liontin tersebut.

Adi melangkah maju.

“Berikan kepadaku.”

“Tidak.”

Jawaban Sekar membuat Adi berhenti.

“Berani juga kamu.”

Sekar menatapnya.

“Apa yang sebenarnya kamu inginkan?”

Adi tersenyum kembali.

“Bukan apa yang kuinginkan.”

Ia menunjuk liontin itu.

“Melainkan apa yang seharusnya menjadi milikku.”

Ibunya berkata tegas,

“Watu Wening bukan milik siapa pun.”

Adi menoleh.

“Justru itu masalahnya.”

Ia mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam jasnya.

“Tanah di sekitar hutan Weningjati akan segera menjadi bagian dari proyek pembangunan.”

Sekar terkejut.

“Proyek?”

Adi mengangguk.

“Jalan baru, kawasan wisata, dan beberapa fasilitas lainnya.”

Ibunya tertawa pahit.

“Kamu bukan ingin membangun desa.”

Adi tersenyum.

“Kamu masih mengenalku dengan baik.”

Ia mendekat.

“Aku tahu ada sesuatu di bawah tanah Weningjati.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Dan aku akan menemukannya.”

Ibunya menggenggam keris kecil semakin erat.

“Jangan pernah membuka tempat itu.”

Adi menatap keris tersebut.

“Masih menyimpan benda itu?”

“Aku memperingatkanmu.”

Adi tertawa.

“Dulu keluargamu berhasil menghentikanku.”

Ia menatap Sekar.

“Tapi sekarang tidak ada lagi yang bisa menghentikanku.”

Tiba-tiba liontin Sekar memancarkan cahaya yang jauh lebih terang.

Semua orang terdiam.

Angin berembus keras di dalam rumah.

Jendela terbuka sendiri.

BRAK!

Lampu rumah berkedip.

Adi mundur satu langkah.

Untuk pertama kalinya, wajahnya menunjukkan ketakutan.

Dari arah hutan terdengar suara gong.

DUNG...

Kemudian suara kedua.

DUNG...

Sekar memejamkan mata.

Di dalam kepalanya muncul gambaran yang sama seperti sebelumnya.

Rumah tua.

Hutan.

Perempuan berpakaian putih.

Tetapi kali ini perempuan itu berdiri di depan sebuah pintu batu.

Di belakangnya terdapat delapan bayangan manusia.

Salah satu bayangan mengangkat tangan.

Kemudian Sekar mendengar suara:

”Jangan biarkan Adi menemukan pintu itu.”

Sekar membuka mata.

Ia terengah-engah.

Adi menatapnya.

“Apa yang kamu lihat?”

Sekar tidak menjawab.

Adi semakin yakin.

“Kamu sudah bisa melihatnya.”

Ibunya langsung menarik Sekar ke belakang.

“Pergi!”

Sekar terkejut.

“Ibu?”

“Sekarang!”

Ibunya mengangkat keris.

Udara di ruangan tiba-tiba terasa berat.

Adi memberi isyarat kepada orang-orangnya.

“Jangan sakiti mereka.”

Ia tersenyum dingin.

“Belum.”

Kemudian ia berjalan keluar.

Sebelum meninggalkan rumah, Adi berhenti di depan pintu.

“Sekar.”

Sekar menatapnya.

“Kita akan bertemu lagi.”

Ia tersenyum.

“Dan saat waktunya tiba, kamu sendiri yang akan menunjukkan jalan menuju Watu Wening.”

Adi pergi bersama orang-orangnya.

Suara kendaraan perlahan menjauh.

Sekar menatap ibunya.

“Ibu... aku harus melakukan apa?”

Ibunya menatap liontin di tangan Sekar.

“Kita tidak punya banyak waktu.”

“Untuk apa?”

Ibunya mengambil foto lama dari kotak kayu.

“Kita harus menemukan orang yang membawa kunci kedua.”

Sekar mengerutkan kening.

“Kunci kedua?”

Ibunya mengangguk.

“Liontin yang kamu temukan adalah kunci pertama.”

“Lalu kunci kedua ada di mana?”

Ibunya menatap ke arah hutan.

“Di tangan pemuda yang datang menemuimu malam ini.”

Sekar terdiam.

“Jadi dia sebenarnya siapa?”

Ibunya menjawab pelan.

“Namanya Raka Wening.”

Sekar mengulang nama itu dalam hati.

Raka Wening.

Tanpa mereka sadari, di ujung jalan desa, seorang pemuda berdiri di bawah pohon.

Raka menatap rumah Sekar dari kejauhan.

Di tangannya terdapat sebuah benda yang bentuknya hampir sama dengan liontin milik Sekar.

Namun pada benda miliknya hanya terdapat empat kelopak bunga.

Raka menggenggamnya erat.

“Adi Laksana sudah kembali.”

Ia menatap hutan Weningjati.

“Berarti waktunya juga sudah tiba.”

Di dalam hutan, sesuatu bergerak di antara pepohonan.

Raka menoleh.

Untuk sesaat, terdengar suara bisikan dari kegelapan.

“Empat warisan akan kembali terbangun...”

Raka menatap hutan dengan wajah serius.

“Dan Sekar adalah yang pertama.”

Malam itu, rahasia yang selama puluhan tahun terkubur mulai bergerak kembali.

Dan tanpa disadari Sekar—

pertemuannya dengan Raka bukanlah sebuah kebetulan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk