NAMA YANG DICURI
Tanah makam keluarga Sekar terus terbelah.
Batu nisan tua bergeser, lalu jatuh ke dalam retakan yang menganga. Dari celah tanah itu muncul kabut merah kehitaman yang berputar seperti pusaran. Bau kemenyan menyebar ke seluruh halaman rumah.
Sosok laki-laki yang menyerupai ayah Sekar berdiri di tengah kabut.
Di belakangnya, bayangan kepala kerbau semakin besar.
Tanduknya menjulang menembus awan.
Sekar berdiri dengan empat lambang darah menyala di telapak tangannya. Di sampingnya, Raka menahan rasa sakit yang masih tersisa di dadanya. Mahendra mengepalkan tangan, sementara Laras memusatkan cahaya emas di sekitar tubuhnya.
Ki Kusumo menatap makam itu dengan wajah muram.
“Jangan biarkan dia menyebut nama Wira Angkara,” ucapnya.
Sekar menoleh.
“Kenapa?”
“Karena nama itu adalah jangkar. Jika disebut oleh darah pertama, raga yang ada di sana akan sepenuhnya menjadi miliknya.”
Sosok laki-laki itu tersenyum.
“Penjaga tua itu masih takut pada nama.”
Sekar menatapnya.
“Kalau kau benar-benar ayahku, sebutkan nama yang hanya diketahui keluarga kami.”
Sosok itu terdiam.
Kabut merah di sekelilingnya berputar semakin cepat.
Sekar melanjutkan,
“Sebutkan lagu yang selalu dinyanyikan ayah ketika aku tidak bisa tidur.”
Sosok itu menundukkan kepala.
“Lagu…”
“Ya. Lagu yang ayah nyanyikan ketika listrik padam. Lagu yang hanya ayah dan aku tahu.”
Tidak ada jawaban.
Sekar mulai memahami sesuatu.
“Kau bukan ayahku.”
Sosok itu mengangkat wajah.
Senyumnya menghilang.
“Nama tidak menentukan siapa seseorang.”
“Benar,” jawab Sekar. “Tetapi kenangan tidak bisa dipalsukan oleh sukma yang tidak pernah mengalaminya.”
Sosok itu menggeram.
Bayangan kerbau di belakangnya mengangkat tangan. Tanah di bawah kaki Sekar bergetar hebat.
“Sekar!” teriak Raka.
Raka mendorong Sekar ke samping, tepat ketika tanah meledak. Bongkahan batu makam melesat ke udara. Mahendra segera membentuk dinding api merah untuk menahan serpihan tersebut.
Laras mengangkat kedua tangannya.
“Lingkar Wening!”
Cahaya emas membentuk pelindung di sekitar ibu Sekar dan Gus Rahman.
Ki Kusumo maju dengan tongkat yang telah patah.
“Wira Angkara!”
Sosok itu tertawa.
“Akhirnya, kau menyebutnya.”
Ki Kusumo menatapnya tajam.
“Aku menyebut nama musuhku, bukan memanggilnya.”
Dari dalam makam, suara berat menggema.
“Nama tetaplah nama, Ki Kusumo.”
Tanah kembali berguncang.
Bayangan kepala kerbau perlahan turun dari langit. Kedua tanduknya menyentuh tanah makam. Dari antara tanduk tersebut, muncul wajah manusia yang sangat tua.
Wajah itu tidak lagi memiliki kulit yang sempurna. Sebagian pipinya terlihat seperti tulang. Matanya merah menyala, sementara mulutnya dipenuhi gigi yang tidak beraturan.
“Wira Angkara…” bisik Sekar.
Ki Kusumo segera menoleh.
“Jangan!”
Namun, sudah terlambat.
Keempat lambang darah di telapak tangan Sekar menyala bersamaan.
Kabut di sekitar makam tersedot menuju tubuh sosok laki-laki itu.
Bayangan kerbau meraung.
Sosok tersebut mengangkat kedua tangannya.
“Akhirnya… darah pertama memanggil namaku.”
Tubuh laki-laki itu terangkat dari tanah.
Kulitnya robek, lalu terlepas seperti kain tua. Di balik wajah ayah Sekar, muncul wajah asli Wira Angkara.
Tubuhnya tinggi dan kurus, dengan mata merah serta tanduk kecil yang tumbuh di sisi kepalanya.
Sekar mundur.
“Jadi, selama ini…”
“Tubuh ayahmu hanya raga pinjaman,” jawab Ki Kusumo. “Wira Angkara menggunakannya untuk menjaga pintu terakhir.”
“Di mana ayahku?”
Wira Angkara tertawa.
“Masih ada di sini.”
Ia menekan dadanya.
Dari dalam tubuhnya terdengar suara laki-laki yang lemah.
“Sekar…”
Sekar langsung mengenalinya.
“Ayah!”
Suara itu terdengar samar, seolah berasal dari tempat yang sangat jauh.
“Jangan dengarkan dia…”
Wira Angkara menutup dadanya dengan satu tangan.
“Diam!”
Sekar melangkah maju.
“Lepaskan ayahku!”
“Dia sudah lama menjadi bagian dari pintu.”
“Tidak!”
“Tubuhnya kubutuhkan. Namanya kubutuhkan. Dan sekarang, darahmu juga kubutuhkan.”
Raka berdiri di samping Sekar.
“Dia tidak akan menyerahkan apa pun.”
Wira Angkara menatap Raka.
“Darah keempat. Kau masih membawa bayangan kerbau.”
Raka mengangkat wajah.
“Aku tidak takut.”
“Tidak perlu takut. Kau hanya perlu menyerah.”
Bayangan hitam muncul di belakang Raka. Bentuknya menyerupai kepala kerbau, tetapi kali ini tidak menyerang. Ia berdiri diam, seolah menunggu perintah.
Wira Angkara mengangkat tangannya.
“Pulanglah kepadaku.”
Bayangan di belakang Raka bergetar.
Raka mencengkeram dadanya.
Sekar segera meraih tangannya.
“Raka, dengarkan aku.”
Suara Wira Angkara semakin keras.
“Kau bukan manusia.”
>
“Kau bukan penjaga.”
>
“Kau bukan pemilik tubuhmu sendiri.”
Raka menutup mata.
Sekar menggenggam tangannya lebih kuat.
“Raka, lihat aku.”
Raka membuka mata.
“Kau adalah Raka Wening,” kata Sekar. “Kau memilih jalanmu sendiri.”
Bayangan kerbau menggeram.
Raka mengangguk.
“Aku Raka Wening.”
Wira Angkara tertawa.
“Nama tidak akan menyelamatkanmu.”
“Tidak,” jawab Raka. “Tetapi pilihan akan menyelamatkanku.”
Raka mengangkat tangan.
Bayangan kerbau di belakangnya tiba-tiba berbalik dan menyerang Wira Angkara.
Benturan dua bayangan itu mengguncang makam.
Wira Angkara terlempar ke belakang. Tubuhnya menghantam batu nisan, tetapi ia segera bangkit.
“Pengkhianat!”
Raka berdiri dengan napas berat.
“Aku tidak pernah menjadi milikmu.”
Wira Angkara mengangkat kedua tangannya.
Dari tanah muncul tangan-tangan hitam yang meraih kaki semua orang.
Mahendra melepaskan api merah.
Laras mengirimkan cahaya emas.
Ki Kusumo membaca mantra.
Namun, tangan-tangan itu terus bermunculan.
Sekar memandang makam.
Di antara retakan tanah, ia melihat empat batu kecil dengan lambang darah. Keempat batu itu membentuk pola lingkaran.
Kinasih muncul di sampingnya.
“Sekar.”
Sekar menoleh.
“Kinasih, bagaimana cara menghentikannya?”
“Pintu itu tidak bisa ditutup dengan kekuatan.”
“Lalu, dengan apa?”
“Dengan nama yang benar.”
Sekar teringat tulisan pada taling sukmo.
NAMA ASLI AYAHMU TELAH DICURI.
Ia menatap tubuh Wira Angkara.
“Nama ayahku…”
Kinasih mengangguk.
“Wira Angkara tidak hanya mencuri tubuhnya. Ia juga mencuri namanya.”
“Bagaimana cara mengembalikannya?”
“Darah pertama harus memanggil nama yang hilang.”
“Aku tidak tahu nama asli ayahku.”
Kinasih memandang ibu Sekar.
Perempuan itu berdiri dengan tubuh lemah, tetapi matanya penuh keyakinan.
“Bukan ibu yang harus mengatakannya,” ujar Kinasih. “Bukan Ki Kusumo. Bukan pula orang lain.”
“Lalu, siapa?”
“Hatimu.”
Sekar terdiam.
Kinasih menyentuh dadanya.
“Nama seseorang tidak selalu tersimpan dalam ingatan. Kadang-kadang, nama itu disimpan dalam rasa yang paling dalam.”
Sekar memejamkan mata.
Ia mengingat ayahnya.
Tangan besar yang selalu menggandengnya ketika menyeberang jalan.
Suara berat yang mengajarinya membaca.
Cara ayahnya tertawa ketika Sekar kecil jatuh dari sepeda.
Malam ketika ayahnya duduk di samping tempat tidur dan menyanyikan lagu sederhana.
Perlahan, sebuah nama muncul di dalam pikirannya.
Nama yang sudah lama tidak pernah ia dengar.
Nama yang selalu disebut ibunya dengan penuh kasih.
Sekar membuka mata.
“Namanya…”
Wira Angkara tiba-tiba menoleh.
“Jangan!”
Sekar menatap sosok itu.
“Nama ayahku adalah Jatmiko Pratiwi.”
Makam bergetar.
Wira Angkara menjerit.
“Tidak!”
Suara laki-laki dari dalam tubuhnya terdengar lebih jelas.
“Sekar…”
Sekar mengangkat tangan.
“Jatmiko Pratiwi, jika kau masih berada di dalam tubuh itu, pulanglah!”
Cahaya putih menyambar dari telapak tangannya.
Tubuh Wira Angkara terbelah oleh cahaya.
Dari dalam dadanya muncul sosok laki-laki transparan.
Ayah Sekar.
Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya masih sama—mata yang pernah menatap Sekar ketika ia masih kecil.
“Sekar…”
Sekar menangis.
“Ayah…”
Jatmiko mengulurkan tangannya.
Namun, sebelum mencapai putrinya, tubuhnya tertahan oleh benang hitam yang menghubungkannya dengan makam.
Ki Kusumo berteriak,
“Sekar! Putuskan benangnya!”
“Bagaimana?”
“Gunakan Rogo Sukma, tetapi jangan pisahkan jiwa ayahmu dari raganya!”
Sekar memahami maksudnya.
Ia tidak boleh menghancurkan ikatan sukma.
Ia harus memutus ikatan milik Wira Angkara.
Sekar mengangkat kedua tangannya.
“Dengan darahku…”
Keempat lambang darah menyala.
“Dengan namaku…”
Cahaya putih menyebar ke seluruh makam.
“Dengan kehendakku…”
Benang hitam mulai retak.
“Rogo Sukma…”
Wira Angkara mengaum.
“Jangan!”
Sekar berteriak,
“PUTUSKAN IKATAN YANG BUKAN MILIKNYA!”
Cahaya putih memotong benang hitam.
Jatmiko terlepas.
Ia melayang menuju tubuh ibu Sekar, lalu masuk ke dalam raga yang selama ini kosong.
Perempuan itu terkejut.
“Ayah?” bisik Sekar.
Tubuh ibu Sekar bergetar.
Kemudian, ia menatap Sekar.
Suara yang keluar dari mulutnya adalah suara ayah Sekar.
“Sekar… maafkan ayah.”
Sekar terisak.
“Ayah?”
“Ayah tidak bisa menjaga kalian.”
“Ibu sudah menyelamatkanku. Sekarang, ayah juga harus pulang.”
Jatmiko menatap istrinya.
“Aku akan mencoba.”
Namun, Wira Angkara belum lenyap.
Ia berdiri di tengah makam dengan tubuh yang semakin besar. Bayangan kepala kerbau menyatu dengan punggungnya. Tanduk hitam tumbuh dari kepalanya.
“Tidak ada yang bisa mengambil raga itu dariku!”
Ki Kusumo menatap Sekar.
“Sekar, sekarang waktunya menutup pintu.”
Sekar menoleh.
“Bagaimana dengan Wira Angkara?”
“Dia harus dikembalikan ke tempat asalnya.”
“Di balik Watu Wening?”
Ki Kusumo mengangguk.
“Namun, pintu itu hanya dapat ditutup dari dalam.”
Semua orang terdiam.
Sekar memahami maksudnya.
“Harus ada seseorang yang tinggal di sana.”
“Benar.”
Raka langsung melangkah maju.
“Aku akan melakukannya.”
“Tidak!” bentak Sekar.
Raka menatapnya.
“Darah keempat adalah penjaga jalan. Aku sudah terhubung dengan bayangan itu. Aku bisa membawa Wira Angkara kembali.”
“Kalau kau masuk, kau tidak akan kembali.”
“Mungkin.”
Sekar menggeleng.
“Aku tidak akan membiarkanmu mengorbankan diri.”
Raka tersenyum tipis.
“Dulu, kau pernah terjebak di sana. Aku yang membawamu keluar.”
“Dan sekarang, aku akan membawamu keluar.”
“Sekar…”
“Kita mencari jalan ketiga, bukan?”
Raka terdiam.
Sekar menatap Ki Kusumo.
“Apakah ada cara untuk menutup pintu tanpa mengorbankan siapa pun?”
Ki Kusumo memandang empat lambang darah.
“Ada satu cara.”
“Apa?”
“Keempat darah harus memilih dengan sukarela. Bukan sebagai korban. Bukan sebagai kunci. Namun, sebagai penjaga bersama.”
Mahendra maju.
“Apa risikonya?”
“Keempat darah akan terikat dengan pintu. Jika salah satu mengkhianati sumpah, pintu akan terbuka kembali.”
Laras menatap Sekar.
“Berarti, kita harus menjaga pintu itu selamanya?”
“Tidak,” jawab Ki Kusumo. “Hanya sampai Wira Angkara kehilangan kekuatannya.”
“Berapa lama?”
Ki Kusumo menatap bayangan kepala kerbau.
“Tidak ada yang tahu.”
Wira Angkara tertawa.
“Kalian ingin mengikatku dengan sumpah?”
Sekar menatapnya.
“Bukan hanya dengan sumpah.”
Ia memandang Raka, Mahendra, dan Laras.
“Dengan pilihan.”
Mahendra mengangguk.
“Aku ikut.”
Laras maju.
“Aku juga.”
Raka menggenggam tangan Sekar.
“Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Keempat darah berdiri mengelilingi makam.
Putih.
Merah.
Emas.
Hitam.
Keempat cahaya bertemu.
Wira Angkara mengamuk. Bayangan kerbau di belakangnya mengaum, lalu menyerang mereka.
Ki Kusumo mengangkat tongkatnya yang patah.
“Guntur Saketi!”
Petir biru turun dari langit dan menghantam bayangan tersebut.
Mahendra mengangkat api merah.
Laras membentuk lingkaran emas.
Raka menahan bayangan hitam.
Sekar berdiri di tengah empat cahaya.
Ia mengucapkan sumpah,
“Darah pertama tidak akan membuka pintu demi kekuasaan.”
Mahendra melanjutkan,
“Darah kedua tidak akan menggunakan api untuk membalas dendam.”
Laras berkata,
“Darah ketiga tidak akan mengikat sukma demi keinginan pribadi.”
Raka menatap Wira Angkara.
“Darah keempat tidak akan menyerahkan jalan kepada kegelapan.”
Sekar mengangkat tangan.
“Dengan empat darah yang memilih…”
Keempat lambang menyala.
“Dengan empat jiwa yang bersatu…”
Tanah makam bergetar.
“Dengan Rogo Sukma…”
Wira Angkara menjerit.
“Tidak!”
Sekar berteriak,
“PINTU INI BUKAN MILIKMU!”
Cahaya putih menyambar tubuh Wira Angkara.
Mahendra, Laras, dan Raka ikut mengangkat tangan.
“PULANGLAH KE TEMPAT ASALMU!”
Keempat cahaya membentuk pintu besar di atas makam.
Di balik pintu itu terlihat Watu Wening.
Kabut berputar.
Tanah berwarna hitam.
Dan ruang kosong yang menunggu.
Wira Angkara berusaha melawan.
Namun, bayangan kepala kerbau mulai terlepas dari tubuhnya.
“Tidak! Aku telah menunggu ratusan tahun!”
Ki Kusumo berteriak,
“Tidak ada sukma yang berhak memiliki dunia selamanya!”
Raka mengerahkan seluruh kekuatannya.
Bayangan kerbau di tubuhnya berubah menjadi rantai hitam yang melilit Wira Angkara.
Mahendra membakar rantai itu dengan api merah.
Laras menyelimuti api dengan cahaya emas.
Sekar menggunakan Rogo Sukma untuk mengarahkan seluruh kekuatan menuju pintu.
Wira Angkara terseret perlahan.
Ia menatap Sekar dengan kebencian.
“Darah pertama…”
Sekar menjawab,
“Namaku Sekar Kinasih Pratiwi.”
Wira Angkara menjerit.
“Jangan sebut nama itu!”
“Namaku bukan kunci milikmu.”
Cahaya putih meledak.
Wira Angkara dan bayangan kepala kerbau tersedot ke balik pintu.
Pintu itu mulai menutup.
Namun, sebelum benar-benar tertutup, Wira Angkara mengulurkan tangan.
“Aku akan kembali!”
Sekar menatapnya.
“Tidak selama kami masih memilih untuk menjaga.”
Ia mengangkat tangan untuk terakhir kalinya.
“Rogo Sukma… tutuplah jalan yang salah!”
Pintu batu itu tertutup.
Suara ledakan mengguncang makam.
Kemudian, semuanya menjadi sunyi.
Kabut menghilang.
Tanah berhenti bergerak.
Bayangan kepala kerbau lenyap dari langit.
Empat lambang darah di telapak tangan Sekar perlahan memudar.
Di tengah makam, hanya tersisa sebuah batu putih dengan ukiran empat simbol.
Di bawahnya tertulis:
EMPAT DARAH TELAH MEMILIH.
# BAB 24 — AYAH YANG PULANG
Matahari terbit perlahan di balik bukit Weningjati.
Hujan telah berhenti.
Kabut tipis menyelimuti halaman rumah Sekar. Tanah makam keluarga yang semalam terbelah kini kembali tertutup, meskipun batu nisannya telah berubah posisi.
Di ruang tamu, ibu Sekar terbaring di atas tikar.
Napasnya mulai teratur.
Namun, sejak malam berakhir, ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya.
Kadang-kadang, ia berbicara dengan suaranya sendiri.
Kadang-kadang, suara Jatmiko terdengar dari dalam tubuhnya.
Sekar duduk di sampingnya, menggenggam tangan ibunya.
“Bu…”
Perempuan itu membuka mata.
“Sekar?”
Sekar tersenyum dengan air mata yang belum kering.
“Ibu sudah sadar?”
“Iya.”
Ibunya mengusap wajah Sekar.
“Kau terluka.”
“Tidak apa-apa.”
“Raka bagaimana?”
Sekar menoleh.
Raka duduk di dekat jendela. Wajahnya pucat, tetapi ia masih sadar. Mahendra sedang membalut luka di lengannya, sementara Laras memeriksa tanda hitam di dada Raka.
“Dia masih hidup,” jawab Sekar.
Ibunya menghela napas lega.
Kemudian, suara Jatmiko terdengar dari mulutnya.
“Sekar…”
Sekar terdiam.
“Ayah?”
Mata ibunya berubah sedikit. Bukan menjadi hitam, melainkan terlihat lebih dalam.
“Ayah hanya bisa tinggal sebentar.”
Sekar menunduk.
“Kenapa?”
“Raga ibu bukan milik ayah. Ayah hanya menggunakan jalan yang terbuka untuk mengucapkan selamat tinggal.”
Sekar menggenggam tangan ibunya.
“Ayah bisa kembali ke tubuh sendiri?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Raga ayah telah terlalu lama digunakan Wira Angkara. Sebagian besar sudah menjadi debu.”
Sekar menahan tangis.
“Jadi, ayah benar-benar akan pergi?”
“Setiap orang memiliki waktunya untuk pulang.”
Sekar menatap ibunya.
“Apakah ayah takut?”
Suara Jatmiko terdengar lembut.
“Ayah hanya takut kau tumbuh tanpa mengetahui bahwa kau selalu dicintai.”
Air mata Sekar jatuh.
“Aku marah kepada ayah.”
“Ayah tahu.”
“Ayah pergi tanpa menjelaskan apa pun.”
“Ayah ingin melindungimu.”
“Semua orang mengatakan itu.”
“Kadang-kadang, orang dewasa menyebut ketakutan mereka sebagai perlindungan.”
Sekar terdiam.
“Maafkan ayah.”
Sekar menunduk dan mencium tangan ibunya.
“Aku maafkan.”
Suara Jatmiko semakin melemah.
“Sekar… jangan hidup sebagai penjaga pintu. Hiduplah sebagai manusia.”
Kemudian, tubuh ibu Sekar terdiam.
Matanya kembali normal.
Sekar memanggil,
“Ayah?”
Tidak ada jawaban.
Ia menatap ibunya.
“Ibu?”
Perempuan itu mengangguk perlahan.
“Ayahmu sudah pergi.”
Sekar menangis dalam pelukan ibunya.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, ia merasa kehilangan itu benar-benar selesai.
Tidak ada lagi suara yang memanggil dari kegelapan.
Tidak ada lagi bayangan ayahnya di jendela.
Tidak ada lagi pertanyaan apakah sosok yang pulang benar-benar keluarganya.
Jatmiko telah mengucapkan selamat tinggal.
Dan kali ini, ia pergi dengan namanya sendiri.
# BAB 25 — EMPAT PENJAGA
Tiga hari setelah kejadian di makam keluarga, Desa Weningjati mulai kembali seperti semula.
Orang-orang yang sebelumnya jatuh sakit mulai sadar. Mereka yang mengalami mimpi buruk tidak lagi mendengar suara-suara dari hutan. Pohon-pohon yang mengering kembali mengeluarkan tunas baru.
Pondok Pesantren Al-Hikmah Wening juga mulai diperbaiki.
Gus Rahman mengumpulkan para santri untuk membersihkan halaman. Tidak ada seorang pun yang mengetahui seluruh kejadian malam itu. Mereka hanya tahu bahwa badai besar telah melewati desa dan meninggalkan kerusakan.
Namun, empat orang mengetahui kebenarannya.
Sekar.
Raka.
Mahendra.
Laras.
Mereka berdiri di depan Watu Wening.
Pintu batu itu kini tertutup rapat. Retakan yang sebelumnya menjalar di permukaannya telah berubah menjadi garis putih tipis.
Di depan pintu, Ki Kusumo menancapkan tongkat baru.
“Mulai hari ini,” ucapnya, “Watu Wening tidak lagi menjadi penjara.”
Sekar menatap batu itu.
“Lalu, apa?”
“Batas.”
“Batas antara dunia manusia dan dunia sukma?”
Ki Kusumo mengangguk.
“Batas yang harus dihormati, bukan ditakuti.”
Mahendra menyilangkan tangan.
“Apakah Wira Angkara benar-benar sudah lenyap?”
“Belum.”
Laras menatap Ki Kusumo.
“Jadi, dia masih hidup?”
“Wira Angkara tidak lagi memiliki raga. Sukmanya terperangkap di antara pintu dan bayangan kerbau. Ia tidak bisa kembali selama sumpah kalian masih utuh.”
Raka memandang tanda hitam di dadanya.
“Dan bayangan itu?”
Ki Kusumo menatapnya.
“Sebagian telah kembali ke pintu. Sebagian masih tinggal di dalam dirimu.”
Raka menghela napas.
“Berarti, aku masih menjadi wadah?”
“Bukan wadah,” jawab Ki Kusumo. “Penjaga.”
Raka tersenyum tipis.
“Perbedaannya hanya pada nama.”
“Tidak,” kata Sekar. “Perbedaannya ada pada pilihan.”
Raka menoleh kepadanya.
Sekar melanjutkan,
“Wadah tidak memiliki kehendak. Penjaga memilih apa yang harus dijaga.”
Ki Kusumo mengangguk.
“Sekar benar.”
Mahendra menatap tangannya.
“Lalu, apa yang terjadi dengan api di dalam darahku?”
“Api itu tidak lagi menjadi alat balas dendam.”
“Lalu?”
“Gunakan untuk melindungi, bukan membakar.”
Laras memandang cahaya emas yang samar di telapak tangannya.
“Dan darahku?”
“Darah ketiga adalah pengikat keseimbangan. Jangan pernah menggunakan kekuatanmu untuk mengikat sukma seseorang demi kepentingan pribadi.”
Laras mengangguk.
Sekar memandang keempat lambang yang terukir di pintu.
“Bagaimana dengan darahku?”
Ki Kusumo menatapnya.
“Darah pertama adalah pembuka jalan. Tetapi sekarang, kau telah belajar bahwa tidak semua jalan harus dibuka.”
Sekar menyentuh permukaan batu.
“Kalau suatu hari pintu ini terbuka lagi?”
“Jangan hadapi sendirian.”
Sekar menoleh kepada tiga orang di belakangnya.
Raka berdiri dengan tenang.
Mahendra tersenyum kecil.
Laras mengangguk.
Sekar kembali memandang Watu Wening.
“Kami akan datang bersama.”
Ki Kusumo tersenyum samar.
“Kalau begitu, tugas kalian telah dimulai.”
“Apakah kami harus tinggal di desa ini selamanya?”
“Tidak.”
“Lalu, bagaimana menjaga pintu?”
“Dengan menjalani hidup kalian.”
Sekar mengerutkan kening.
“Menjalani hidup?”
“Jangan biarkan kekuatan membuat kalian lupa menjadi manusia. Selama kalian tetap mengenal kasih sayang, kejujuran, dan pilihan yang benar, pintu ini akan tetap tertutup.”
Mahendra tertawa kecil.
“Jadi, menjaga dunia ternyata tidak selalu harus bertarung.”
“Pertarungan terbesar,” jawab Ki Kusumo, “adalah melawan keinginan dalam diri sendiri.”
Angin berembus dari arah hutan.
Daun-daun bergerak perlahan.
Untuk sesaat, Sekar mendengar suara Kinasih.
“Jangan takut pada darahmu, Sekar.”
Sekar menoleh.
Kinasih berdiri di antara pepohonan.
Wajahnya terlihat lebih terang daripada sebelumnya. Tidak ada kabut hitam yang menyelimuti tubuhnya. Pakaian putihnya bersih, dan rambutnya terurai lembut.
Sekar melangkah maju.
“Kinasih…”
Kinasih tersenyum.
“Sudah waktunya aku pergi.”
“Ke mana?”
“Ke tempat semua sukma menemukan kedamaian.”
“Apakah kau tidak akan kembali?”
“Jika dunia membutuhkan peringatan, mungkin.”
Sekar menahan air mata.
“Aku masih memiliki banyak pertanyaan.”
“Tidak semua pertanyaan harus dijawab hari ini.”
“Bagaimana dengan Wening?”
Kinasih menatap ke arah hutan.
Di antara pepohonan, terlihat seorang anak laki-laki berdiri.
Wening.
Ia tersenyum kepada Sekar.
“Wening juga akan pergi?”
Kinasih mengangguk.
“Wening bukan lagi anak yang tersesat.”
Wening melambaikan tangan.
Sekar membalas lambaian itu.
“Terima kasih,” ucap Sekar.
Kinasih menatapnya.
“Jangan berterima kasih kepadaku. Jagalah pilihanmu.”
Tubuh Kinasih mulai berubah menjadi cahaya putih.
Sebelum lenyap, ia berkata,
“Rogo Sukma bukan kekuatan untuk menguasai kematian.”
>
“Ia adalah pengingat bahwa setiap sukma memiliki hak untuk pulang.”
Cahaya itu menghilang.
Wening juga lenyap bersama kabut pagi.
Sekar menundukkan kepala.
Raka berdiri di sampingnya.
“Kau akan merindukan mereka?”
“Ya.”
“Bagus.”
Sekar menoleh.
“Kenapa?”
“Karena itu berarti mereka pernah benar-benar ada.”
Sekar tersenyum kecil.
Di depan mereka, Watu Wening tetap diam.
Tidak lagi mengancam.
Tidak lagi memanggil.
Hanya menjadi batas antara dua dunia.
# BAB 26 — JALAN PULANG
Beberapa bulan berlalu.
Desa Weningjati perlahan pulih.
Rumah Sekar telah diperbaiki. Ruang bawah tanah yang dahulu menyimpan rahasia kini ditutup dengan batu putih. Tidak ada lagi lorong gelap, peti batu, atau suara ketukan dari bawah lantai.
Ibu Sekar kembali menjalani kehidupan sehari-hari.
Ia masih sering terlihat lemah, tetapi senyumnya telah kembali. Setiap pagi, ia menanam bunga di halaman rumah. Di antara bunga-bunga itu, tumbuh satu tanaman putih yang tidak pernah ia tanam.
Kembang Wijaya Kusuma.
Bunga itu mekar hanya ketika malam tiba.
Sekar tidak pernah memetiknya.
Ia hanya merawatnya.
Mahendra memilih tinggal sementara di Desa Weningjati. Ia membantu memperbaiki pesantren dan melatih para pemuda agar mampu melindungi diri ketika bahaya datang.
Api merah di dalam dirinya tidak lagi meledak ketika amarah muncul.
Ia mulai belajar mengendalikan emosinya.
Laras kembali ke tempat keluarganya untuk mencari catatan lama tentang empat darah. Ia berjanji akan kembali jika menemukan jejak baru tentang Wira Angkara.
Raka tetap berada di Weningjati.
Tanda hitam di dadanya semakin samar. Bayangan kerbau masih terkadang muncul ketika ia bermimpi, tetapi tidak lagi mampu menguasai tubuhnya.
Setiap malam, Raka datang ke Watu Wening.
Ia duduk di depan pintu batu dan berbicara dalam diam.
Bukan kepada Wira Angkara.
Bukan kepada bayangan kerbau.
Melainkan kepada dirinya sendiri.
Suatu sore, Sekar menemukannya duduk di bawah pohon tua.
“Kau datang lagi.”
Raka menoleh.
“Sudah menjadi kebiasaan.”
“Apakah kau mendengar suara dari balik pintu?”
“Tidak.”
“Apakah kau takut?”
Raka memandang Watu Wening.
“Kadang-kadang.”
Sekar duduk di sampingnya.
“Dulu, aku pikir orang pemberani tidak pernah takut.”
“Orang yang tidak pernah takut mungkin hanya belum memahami apa yang dihadapinya.”
Sekar tersenyum.
“Sekarang, kau semakin pandai bicara.”
“Aku belajar dari seseorang.”
“Siapa?”
“Perempuan yang selalu memaksakan diri menyelamatkan semua orang.”
Sekar memukul lengannya pelan.
“Jangan mengejek.”
“Aku tidak mengejek.”
Mereka terdiam.
Matahari perlahan tenggelam di balik bukit.
Sekar memandang tangannya.
Keempat lambang darah sudah tidak terlihat. Hanya tersisa bekas garis putih yang sangat tipis.
“Raka.”
“Ya?”
“Apakah menurutmu semua ini benar-benar sudah berakhir?”
Raka tidak langsung menjawab.
“Wira Angkara masih ada.”
“Ki Kusumo bilang kekuatannya sudah terikat.”
“Terikat bukan berarti hilang.”
Sekar mengangguk.
“Jadi, belum selesai?”
“Bagian ini sudah selesai.”
“Bagian ini?”
Raka menatap hutan.
“Setiap rahasia yang terbuka akan melahirkan rahasia baru.”
Sekar menarik napas.
“Aku tidak ingin hidupku terus dipenuhi hal-hal gaib.”
“Lalu, apa yang kau inginkan?”
Sekar memandang langit.
“Aku ingin menulis.”
Raka menoleh.
“Menulis?”
“Semua yang terjadi. Bukan nama asli. Bukan lokasi sebenarnya. Hanya cerita.”
“Siapa yang akan percaya?”
“Tidak penting.”
“Lalu, untuk apa?”
“Supaya jika suatu hari aku lupa, aku bisa membaca kembali dan mengingat bahwa aku pernah melewati semuanya.”
Raka tersenyum.
“Kalau begitu, tulislah dengan jujur.”
“Walaupun orang menganggapnya hanya khayalan?”
“Cerita tidak harus dipercaya untuk menyimpan kebenaran.”
Sekar menatapnya.
“Raka…”
“Ya?”
“Kalau suatu hari aku pergi dari Weningjati, apakah kau akan ikut?”
Raka terdiam.
“Ke mana?”
“Ke mana saja. Mungkin ke kota. Mungkin ke tempat yang tidak memiliki hutan angker, makam tua, atau pintu gaib.”
Raka tertawa.
“Apakah tempat seperti itu ada?”
“Mungkin.”
“Kalau tidak ada?”
“Kita bisa membuatnya.”
Raka menatap Sekar cukup lama.
Kemudian, ia mengangguk.
“Aku akan ikut.”
Angin berembus.
Dari kejauhan, terdengar suara burung malam.
Sekar berdiri.
“Ayo pulang.”
Raka ikut berdiri.
Namun, sebelum mereka meninggalkan Watu Wening, terdengar suara kecil dari balik pintu batu.
Tok.
Sekar berhenti.
Raka menoleh.
Tok.
Suara itu terdengar lagi.
Sekar menggenggam tangan Raka.
“Apakah kau mendengarnya?”
Raka mengangguk.
Dari balik pintu, terdengar bisikan.
“Sekar…”
Keempat lambang darah di permukaan batu menyala sebentar.
Kemudian, padam.
Raka berdiri di depan Sekar.
“Jangan menjawab.”
Sekar menatap pintu.
Suara itu kembali terdengar.
“Sekar… aku tahu kau masih mendengarku.”
Sekar menarik napas.
“Wira Angkara?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian, suara tersebut berubah.
Bukan suara Wira Angkara.
Bukan suara ibunya.
Bukan suara ayahnya.
Suara itu terdengar seperti suara anak kecil yang menangis.
“Tolong aku…”
Sekar menatap Raka.
Raka menggeleng.
“Jangan.”
Sekar menatap pintu untuk terakhir kalinya.
“Aku tidak akan membuka pintu.”
Bisikan itu berubah menjadi tawa.
Namun, Sekar tidak menjawab.
Ia menggenggam tangan Raka dan berjalan meninggalkan Watu Wening.
Setiap langkah menjauhkan mereka dari pintu.
Setiap langkah membuat suara dari balik batu semakin lemah.
Sampai akhirnya, suara itu menghilang.
Di belakang mereka, Watu Wening kembali sunyi.
Namun, di balik pintu batu, jauh di antara ruang yang tidak mengenal waktu, sebuah mata merah terbuka.
Wira Angkara masih terkurung.
Bayangan kepala kerbau masih menunggu.
Namun, di hadapan mereka berdiri empat cahaya yang tidak padam.
Putih.
Merah.
Emas.
Hitam.
Empat darah.
Empat pilihan.
Empat penjaga.
Dan selama mereka tetap bersatu, pintu itu tidak akan pernah terbuka.
# EPILOG — SEKAR KINASIH PRATIWI
Setahun kemudian, Sekar duduk di depan meja kayu di kamarnya.
Di hadapannya terdapat sebuah buku kosong.
Pada halaman pertama, ia menulis sebuah judul:
JAGAD ASMOROLOYO: SEKAR KINASIH PRATIWI
Di bawah judul itu, ia menulis kalimat pertama:
“Ada tempat-tempat yang tidak boleh dicari, ada nama-nama yang tidak boleh dipanggil, dan ada pintu yang seharusnya tetap tertutup. Namun, terkadang takdir membawa seseorang tepat ke hadapan semuanya.”
Sekar berhenti menulis.
Dari halaman rumah, ibunya memanggil.
“Sekar, makan dulu!”
“Iya, Bu!”
Sekar menutup buku.
Di luar jendela, Raka berdiri di bawah pohon tua. Mahendra sedang membantu memperbaiki pagar. Laras baru saja kembali membawa beberapa buku lama dari keluarganya.
Kehidupan mereka tidak sepenuhnya normal.
Kadang-kadang, Sekar masih melihat bayangan di sudut kamar.
Kadang-kadang, Raka terbangun karena mendengar suara tanduk menggesek batu.
Kadang-kadang, Mahendra merasa api di tangannya bergerak sendiri.
Kadang-kadang, Laras menemukan tulisan asing di antara halaman catatan keluarganya.
Namun, mereka tidak lagi berjalan sendiri.
Mereka tahu bahwa kegelapan tidak selalu dapat dihancurkan.
Kadang-kadang, kegelapan hanya bisa dijaga agar tidak menyebar.
Sekar memandang langit sore.
Di kejauhan, di balik hutan Weningjati, terlihat kilatan cahaya putih.
Tidak ada suara.
Tidak ada ancaman.
Hanya tanda bahwa Watu Wening masih tertutup.
Sekar tersenyum.
Kemudian, ia kembali membuka bukunya.
Ia menulis kalimat terakhir:
“Namaku Sekar Kinasih Pratiwi. Aku bukan pintu. Aku bukan korban. Aku bukan milik kegelapan. Aku adalah seseorang yang memilih untuk tetap menjadi manusia, meskipun pernah melihat dunia yang tidak seharusnya dilihat.”
Angin malam masuk melalui jendela.
Bunga Wijaya Kusuma di halaman rumah mekar perlahan.
Dan jauh di balik batas antara dunia manusia dan dunia sukma, empat cahaya tetap menyala.
Menjaga.
Menunggu.
Mengawasi.
Namun, untuk pertama kalinya, mereka tidak menunggu kedatangan seorang korban.
Mereka menunggu seseorang yang berani memilih.
SEKAR KINASIH PRATIWI
# TAMAT
#














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!