RUANG DI BAWAH RUMAH
Tangan pucat itu mencengkeram pergelangan kaki Sekar.
Dingin.
Bukan dingin seperti air hujan atau angin malam, melainkan dingin seperti sesuatu yang telah lama dikubur tanpa pernah mengenal cahaya matahari.
Sekar menjerit dan berusaha menarik kakinya.
“Sekar!” teriak Raka.
Raka langsung menerjang ke depan. Bayangan kerbau di belakang tubuhnya ikut bergerak, mengangkat tangan hitam yang jauh lebih besar daripada tubuh manusia.
Bayangan itu menghantam tangan pucat yang mencengkeram kaki Sekar.
Terdengar jeritan dari bawah lantai.
Cengkeraman tersebut terlepas.
Sekar jatuh terduduk, sementara tangan pucat itu menghilang ke dalam kegelapan.
Namun, lubang di lantai semakin melebar.
Papan-papan kayu patah dan jatuh satu per satu. Dari bawah rumah, muncul udara panas bercampur bau tanah, kemenyan, dan bunga yang telah membusuk.
Ki Kusumo segera mengangkat tongkatnya.
“Jangan ada yang mendekati lubang itu!”
Namun, suara dari bawah rumah terdengar lebih dahulu.
“Terlambat…”
Lantai di tengah ruangan ambruk.
Sekar, Raka, Mahendra, dan Laras terpaksa mundur. Debu beterbangan. Dari dasar lubang, terlihat tangga batu yang menurun ke dalam tanah.
Tangga itu tidak pernah ada sebelumnya.
Pada setiap anak tangganya terdapat ukiran wajah manusia. Ada wajah laki-laki, perempuan, anak-anak, bahkan wajah yang tampak seperti wajah Sekar sendiri.
Gus Rahman, yang berdiri di belakang Ki Kusumo, membaca doa dengan suara bergetar.
“Ki… tempat apa itu?”
Ki Kusumo memandangi tangga tersebut.
“Ruang penyimpanan raga.”
Sekar berdiri dengan lutut gemetar.
“Ibu ada di bawah sana.”
Ki Kusumo menatapnya.
“Dan sesuatu yang lain juga.”
Sekar tidak menunggu lebih lama.
Ia turun ke anak tangga pertama.
“Sekar!” bentak Ki Kusumo.
Sekar berhenti.
“Ki sudah terlalu lama melarangku. Sekarang, aku tidak akan mundur.”
“Kalau kau turun, mungkin kau tidak akan kembali sebagai dirimu sendiri.”
Sekar menatap taling sukmo di lehernya.
“Kalau aku tidak turun, ibu mungkin tidak akan pernah kembali.”
Mahendra melangkah maju.
“Aku ikut.”
Laras mengangguk.
“Aku juga.”
Raka berdiri paling belakang. Wajahnya masih pucat. Bayangan kerbau di belakang tubuhnya terlihat samar, tetapi sepasang mata merah masih mengawasi dari kegelapan.
“Aku harus ikut,” ucap Raka.
Ki Kusumo menghela napas.
“Tidak ada yang boleh berjalan sendirian. Jika salah satu dari kalian mendengar suara yang memanggil nama kalian, jangan menoleh.”
Sekar mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena di tempat itu, suara tidak selalu berasal dari pemiliknya.”
Mereka mulai menuruni tangga.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Semakin dalam mereka turun, suara hujan semakin menghilang. Udara menjadi lembap dan berat. Dinding di kanan-kiri mereka dipenuhi tulisan kuno yang sebagian telah terhapus.
Namun, ada satu kalimat yang masih terbaca jelas.
RAGA DAPAT DIKUNCI. SUKMA DAPAT DIPINDAHKAN. NAMA DAPAT DICURI.
Sekar menyentuh tulisan itu.
Tiba-tiba, telinganya dipenuhi suara bisikan.
“Sekar…”
>
“Sekar…”
>
“Sekar…”
Ia hampir menoleh.
Namun, Raka segera menggenggam tangannya.
“Jangan.”
Sekar menahan napas.
“Suara itu…”
“Bukan ibumu.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Karena suara itu memanggilmu dari belakang.”
Sekar menatap lurus ke depan.
Dari belakang mereka terdengar suara langkah kaki.
Padahal, tidak ada seorang pun yang berjalan di belakang Ki Kusumo.
Langkah itu semakin dekat.
Satu.
Dua.
Tiga.
Kemudian, terdengar suara ibu Sekar.
“Nak… ibu di sini.”
Sekar memejamkan mata.
Air matanya jatuh.
“Ibu…”
Raka menggenggam tangannya lebih erat.
“Jangan menoleh.”
Suara itu kembali terdengar.
“Sekar… ibu takut…”
Sekar menggigit bibirnya.
“Aku tahu itu bukan ibu.”
Langkah kaki berhenti.
Kemudian, suara tersebut berubah menjadi suara laki-laki.
“Sekar… jangan percaya kepada Raka.”
Raka terdiam.
Mahendra menoleh sedikit, tetapi Ki Kusumo segera memperingatkan.
“Jangan!”
Suara itu tertawa.
“Kalian semua akan mati di bawah rumah ini.”
Laras menatap lurus ke depan.
“Suara itu mengikuti kita.”
“Bukan mengikuti,” jawab Ki Kusumo. “Ia sedang mencari nama yang bisa dipakai.”
“Nama?” tanya Mahendra.
Ki Kusumo mengangguk.
“Di tempat seperti ini, nama adalah pintu. Jika sesuatu berhasil membuat kita menjawab panggilannya, ia bisa meniru suara dan mengambil sebagian jejak sukma kita.”
Sekar semakin erat menggenggam taling sukmo.
Mereka akhirnya tiba di dasar tangga.
Di hadapan mereka terbentang sebuah ruangan luas berbentuk lingkaran.
Dindingnya terbuat dari batu hitam. Langit-langitnya rendah, tetapi di atasnya terdapat akar-akar pohon yang bergerak seperti ular.
Di tengah ruangan berdiri sebuah peti batu.
Peti itu dikelilingi empat tiang.
Tiang pertama berwarna putih.
Tiang kedua merah.
Tiang ketiga keemasan.
Tiang keempat hitam.
Di atas peti batu tersebut terbaring seorang perempuan.
Sekar langsung mengenalinya.
“Ibu…”
Perempuan itu tampak seperti sedang tidur.
Rambutnya terurai di atas kain putih. Wajahnya pucat, tetapi tidak membusuk. Kedua tangannya terlipat di atas dada. Pada bagian tengah dahinya terdapat tanda berbentuk bunga putih.
Tubuh itu terlihat seperti ibu Sekar.
Namun, ada sesuatu yang berbeda.
Napasnya tidak terlihat.
Dadanya tidak naik turun.
Sekar melangkah maju.
Ki Kusumo menahan lengannya.
“Jangan sentuh.”
“Itu ibu saya.”
“Tubuhnya memang tubuh ibumu.”
“Memang?”
Ki Kusumo memandangi peti batu.
“Tetapi raga itu sudah terlalu lama menjadi tempat persinggahan.”
Sekar menatap tubuh tersebut.
“Persinggahan siapa?”
Sebuah suara menjawab dari sudut ruangan.
“Milik siapa pun yang mampu membayar.”
Semua orang menoleh.
Di antara dua tiang batu, berdiri seorang laki-laki tua.
Tubuhnya kurus. Rambutnya memutih. Ia mengenakan pakaian hitam dengan kain merah melilit pinggang. Di tangannya terdapat pisau kecil yang terbuat dari tulang.
Wajahnya tidak asing.
Sekar pernah melihatnya dalam foto lama.
Laki-laki yang berdiri di belakang dirinya ketika berusia tujuh tahun.
Laki-laki yang memegang taling sukmo.
“Ayah…” bisik Sekar.
Laki-laki itu tersenyum.
“Sudah lama aku menunggumu.”
Sekar membeku.
Mahendra langsung berdiri di depannya.
“Siapa kau?”
Laki-laki itu menatap Mahendra.
“Orang yang pernah menjaga rumah ini.”
“Bukan,” jawab Sekar. “Kau bukan ayahku.”
Laki-laki itu tertawa kecil.
“Benar. Aku bukan ayahmu.”
Ia mengangkat tangannya.
“Namun, ayahmu pernah menyerahkan namaku kepada mereka.”
Sekar menatapnya tajam.
“Siapa namamu?”
Laki-laki itu tidak menjawab.
Ki Kusumo melangkah ke depan.
“Jangan menyebut namanya, Sekar.”
Laki-laki itu tersenyum lebih lebar.
“Masih saja kau takut, Ki Kusumo?”
Ki Kusumo menggenggam tongkatnya.
“Semua ini harus berakhir.”
“Berakhir?” Laki-laki itu menatap tubuh ibu Sekar. “Kau mengatakan hal yang sama bertahun-tahun lalu.”
“Dulu aku gagal.”
“Dan sekarang, kau akan gagal lagi.”
Laki-laki itu mengangkat pisau tulang.
Keempat tiang di sekitar peti batu menyala.
Cahaya putih, merah, emas, dan hitam membentuk lingkaran di atas tubuh ibu Sekar.
Tubuh perempuan itu tiba-tiba menarik napas.
Sekar tersentak.
“Ibu!”
Mata perempuan itu terbuka.
Namun, matanya berwarna hitam seluruhnya.
Bibirnya bergerak.
“Sekar…”
Sekar melangkah maju.
“Ibu!”
Raka langsung menahan tubuhnya.
“Jangan mendekat!”
Perempuan di atas peti batu tersenyum.
“Kenapa kau tidak mau memeluk ibu?”
Sekar memandangi wajah itu.
Kali ini, ia tidak hanya melihat wajah ibunya.
Di balik wajah tersebut muncul bayangan lain.
Wajah Kinasih.
Wajah Wening.
Wajah seorang anak kecil.
Dan wajah laki-laki tua yang tidak pernah ia kenal.
Sukma-sukma itu bergerak di dalam satu tubuh.
Laras berbisik,
“Raga itu dipenuhi banyak jiwa.”
Laki-laki tua tersebut mengangguk.
“Raga yang kuat dapat menampung lebih dari satu sukma.”
Ki Kusumo mengarahkan tongkatnya.
“Cukup, Sagara.”
Sekar menoleh.
“Sagara?”
Laki-laki tua itu tersenyum.
“Akhirnya, kau menyebut namaku.”
Ki Kusumo langsung menatap Sekar.
“Jangan dengarkan apa pun yang dikatakannya.”
Sagara mengusap pisau tulangnya.
“Namaku Sagara. Dahulu, aku adalah penjaga ruang ini. Aku menjaga tubuh ibumu ketika sukmanya dipisahkan.”
Sekar mengepalkan tangan.
“Kenapa?”
“Karena ibumu bersedia menukar sukmanya demi menyelamatkanmu.”
“Bohong!”
“Tidak.”
Sagara menunjuk tubuh ibu Sekar.
“Ketika kau berusia tujuh tahun, empat darah mulai terbangun. Mereka membutuhkan wadah. Ibumu menawarkan dirinya agar darahmu tidak diambil.”
Sekar menatap tubuh ibunya.
“Kalau begitu, kenapa sukmanya dikurung?”
“Karena pengorbanan tidak pernah gratis.”
“Apa yang mereka minta?”
Sagara tersenyum.
“Nama.”
Sekar mengerutkan kening.
“Nama?”
“Untuk menyegel sukma, mereka membutuhkan nama asli. Ibumu menyerahkan namanya. Sejak saat itu, tubuhnya tetap hidup, tetapi sukmanya tidak lagi memiliki tempat untuk pulang.”
Ki Kusumo menggeleng.
“Jangan percaya semuanya.”
Sagara menoleh.
“Kau tahu aku mengatakan kebenaran.”
“Sebagian.”
“Sebagian kebenaran tetap lebih baik daripada kebohonganmu.”
Sekar menatap Ki Kusumo.
“Ki, apakah ibu benar-benar menyerahkan namanya?”
Ki Kusumo diam.
Sekar mulai memahami sesuatu.
“Ki…”
“Ya,” jawab Ki Kusumo akhirnya. “Ibumu menyerahkan nama dan sukmanya.”
Sekar menunduk.
“Untuk menyelamatkanku?”
“Untuk menunda kebangkitan empat darah.”
“Lalu, kenapa tidak pernah ada yang memberitahuku?”
“Karena jika kau mengetahui semuanya, kekuatan Rogo Sukma dalam dirimu akan bangun terlalu cepat.”
Sagara tertawa.
“Dan sekarang, sudah terlambat.”
Ia menusukkan pisau tulang ke lantai.
Keempat tiang menyala lebih terang.
Tubuh ibu Sekar bangkit perlahan dari atas peti batu.
Rambutnya melayang.
Tanda bunga putih di dahinya berubah menjadi hitam.
Dari belakang tubuhnya muncul bayangan kepala kerbau.
Sekar berteriak,
“Lepaskan ibu!”
Sagara mengangkat tangan.
“Jika kau ingin sukmanya kembali, panggil namanya.”
Sekar menatap ibunya.
“Apa nama ibu?”
Ki Kusumo langsung berkata,
“Sekar, jangan!”
Sagara tersenyum.
“Lihat? Bahkan penjaga tua itu takut pada nama yang sebenarnya.”
Tubuh ibu Sekar mengangkat wajah.
Air mata hitam mengalir dari kedua matanya.
“Nak… panggil ibu…”
Sekar memejamkan mata.
Ia mencoba mengingat masa kecilnya.
Suara ibunya ketika menyisir rambutnya.
Tangan ibunya ketika menggenggam tangannya.
Aroma pakaian ibunya.
Nyanyian kecil yang selalu terdengar sebelum tidur.
Namun, nama asli ibunya tidak pernah disebut.
Sejak kecil, semua orang hanya memanggilnya Ibu.
Sekar membuka mata.
“Ki… siapa nama asli ibu?”
Ki Kusumo menatapnya dengan wajah penuh beban.
“Namanya…”
Sebelum Ki Kusumo selesai berbicara, suara lain terdengar dari belakang.
“Jangan katakan.”
Semua orang menoleh.
Di tangga batu berdiri sosok perempuan yang sebelumnya menyerupai ibu Sekar.
Namun, kini wajahnya telah berubah. Kulitnya retak, dan dari celah-celahnya keluar asap hitam.
Ia berjalan turun perlahan.
Sagara mundur.
“Kau…”
Sosok itu menatap tubuh ibu Sekar.
“Raga itu bukan milikmu.”
Sagara menggenggam pisau tulangnya.
“Dia sudah menjadi tempat kami selama bertahun-tahun.”
“Bukan berarti kau berhak memilikinya.”
Ki Kusumo menatap sosok itu.
“Kinasih…”
Sekar terkejut.
“Kinasih?”
Perempuan itu menoleh kepada Sekar.
Wajahnya mulai berubah menjadi wajah perempuan muda yang pernah muncul dalam penglihatannya.
“Aku datang untuk mengambil kembali apa yang dulu kami tinggalkan.”
Sagara mengangkat pisau.
“Kinasih, kau sudah mati.”
“Yang mati adalah ragaku.”
Kinasih melangkah ke ruangan.
“Sukmaku tidak pernah berhenti mencari jalan pulang.”
Sagara menyerang.
Pisau tulang melesat ke arah Kinasih, tetapi Kinasih mengangkat tangan. Pisau itu berhenti beberapa sentimeter dari dadanya.
Kinasih berbisik,
“Rogo Sukma…”
Pisau tersebut retak.
Kemudian, hancur menjadi debu.
Sagara terlempar ke belakang.
Ki Kusumo menatap Kinasih dengan penuh keterkejutan.
“Kau sudah menguasainya.”
“Tidak,” jawab Kinasih. “Aku hanya mengingat apa yang pernah kau ajarkan.”
Sekar menoleh kepada Ki Kusumo.
“Ki mengajarkan Rogo Sukma kepada Kinasih?”
Ki Kusumo tidak menjawab.
Kinasih menatapnya.
“Dia mengajarkan kami cara memisahkan sukma. Tetapi, dia tidak pernah mengajarkan bagaimana mengembalikannya.”
Ki Kusumo menunduk.
“Karena aku sendiri tidak tahu.”
Sagara bangkit dengan susah payah.
“Tidak ada yang bisa mengembalikan sukma yang telah kehilangan nama.”
Kinasih menatap Sekar.
“Itu sebabnya, kau harus menggunakan namamu sendiri.”
Sekar terdiam.
“Namaku?”
“Darah pertama tidak hanya membuka pintu. Ia juga dapat memberikan tempat pulang.”
Sagara tertawa.
“Kau ingin dia menggunakan Rogo Sukma di sini? Di ruang yang dipenuhi sukma liar?”
“Bukan untuk mengambil mereka,” jawab Kinasih. “Untuk memisahkan mereka.”
Sekar memandang tubuh ibunya.
“Bagaimana caranya?”
Kinasih mendekat.
“Pertama, kau harus membedakan sukma ibumu dari sukma yang menempel padanya.”
“Bagaimana aku tahu yang mana sukma ibu?”
“Dengarkan bukan suaranya.”
“Lalu, apa?”
“Rasa yang muncul ketika ia memanggilmu.”
Sekar menatap ibunya.
Perempuan itu menangis.
“Sekar… ibu takut…”
Sekar merasakan dadanya sesak.
Ada rasa sedih.
Ada rasa rindu.
Namun, di balik semuanya, ada sesuatu yang lain.
Rasa dingin.
Rasa lapar.
Rasa ingin memiliki.
Sekar memejamkan mata.
Ia membuka mata batinnya.
Sekejap, ruangan berubah.
Tubuh ibunya tidak lagi terlihat seperti satu sosok. Di dalamnya terdapat puluhan benang sukma yang saling melilit.
Benang putih tipis berada di bagian dada.
Benang merah mengikat tangan.
Benang emas melilit kepala.
Benang hitam menjalar dari perut hingga tengkuk.
Dan di tengah semua benang itu, terdapat cahaya kecil yang bergetar.
Cahaya itu lemah.
Namun, terasa hangat.
Sekar langsung tahu.
“Itu ibu.”
Kinasih mengangguk.
“Benar.”
Sagara berteriak,
“Jangan biarkan dia memisahkannya!”
Mahendra segera berdiri di depan Sekar.
Api merah menyala di seluruh tubuhnya.
“Tidak akan kubiarkan!”
Bayangan hitam menghantam Mahendra.
Mahendra terlempar, tetapi ia berhasil menahan serangan tersebut dengan kedua tangannya.
Laras mengangkat cahaya keemasan untuk membantu.
Raka maju perlahan.
Bayangan kerbau di belakangnya semakin besar.
Sagara menatap Raka dengan wajah penuh kemenangan.
“Darah keempat…”
Raka menatapnya.
“Jangan panggil aku begitu.”
“Tubuhmu adalah kunci terakhir.”
“Aku bukan kunci.”
“Semua orang yang memiliki darah itu hanyalah kunci.”
Raka memejamkan mata.
Kemudian, ia menancapkan kedua tangannya ke lantai.
Bayangan kerbau di belakangnya mengaum.
Namun, kali ini, Raka tidak melawan bayangan itu.
Ia menariknya ke dalam tubuhnya.
Mahendra berteriak,
“Raka, jangan!”
Raka membuka mata.
Mata kirinya berwarna merah.
Mata kanannya tetap normal.
“Aku harus menahannya.”
Bayangan kerbau mengamuk di dalam tubuh Raka. Urat hitam menjalar ke seluruh wajahnya. Namun, Raka tetap berdiri.
“Sekar!” teriaknya. “Sekarang!”
Sekar mengangkat kedua tangan.
Cahaya putih muncul dari tubuhnya.
Taling sukmo di lehernya terlepas dan melayang di udara.
Di atas lantai, terbentuk lingkaran putih dengan empat lambang darah.
Sagara berusaha menghentikannya.
Namun, Kinasih berdiri di depan Sagara.
“Jangan ganggu dia.”
“Kau akan menghancurkan seluruh ruang ini!”
“Tidak,” jawab Kinasih. “Aku akan mengakhiri apa yang seharusnya berakhir sejak dulu.”
Sekar menarik napas.
Ia memandang tubuh ibunya.
“Aku tidak akan mengambil sukma siapa pun.”
Cahaya putih semakin besar.
“Aku tidak akan merampas raga siapa pun.”
Keempat tiang mulai retak.
“Aku hanya akan mengembalikan setiap sukma kepada tempatnya.”
Sekar menutup mata.
“Dengan darahku…”
Cahaya putih menyelimuti tubuhnya.
“Dengan namaku…”
Dinding ruangan bergetar.
“Dengan kehendakku…”
Sukma-sukma di dalam tubuh ibu Sekar mulai bergerak.
Sekar melihat bayangan Kinasih.
Bayangan Wening.
Bayangan anak kecil.
Bayangan laki-laki tua.
Semuanya terlepas satu demi satu.
Sagara menjerit.
“Tidak!”
Sekar membuka mata.
“Rogo Sukma…”
Suara itu menggema ke seluruh ruangan.
“PISAHKAN YANG BUKAN MILIKNYA!”
Ledakan cahaya putih memenuhi ruang bawah tanah.
Sukma-sukma hitam terlempar dari tubuh ibu Sekar. Mereka menjerit, menangis, dan memanggil nama-nama yang telah lama hilang.
Sukma pertama kembali ke dalam tanah.
Sukma kedua menghilang ke dalam dinding.
Sukma ketiga naik melalui celah akar.
Sukma keempat berubah menjadi cahaya kecil, lalu terbang menuju hutan Weningjati.
Tubuh ibu Sekar terjatuh.
Sekar berlari dan menangkapnya.
“Ibu!”
Untuk pertama kalinya, dada perempuan itu bergerak.
Ia menarik napas.
Perlahan, matanya terbuka.
Mata itu tidak lagi hitam.
Mata itu kembali menjadi mata yang Sekar kenal.
“Sekar…”
Sekar menangis.
“Ibu…”
Perempuan itu mengangkat tangan dengan susah payah, lalu menyentuh pipi Sekar.
“Anakku…”
Sekar memeluknya erat.
“Ibu masih hidup…”
“Ibu tidak pernah meninggalkanmu.”
“Kenapa ibu tidak pulang?”
Perempuan itu menutup mata.
“Karena ibu tidak tahu jalan pulang.”
Di belakang mereka, Sagara menjerit.
Tubuhnya mulai retak. Bayangan-bayangan hitam keluar dari mulut, mata, dan telinganya.
Kinasih menatapnya.
“Raga yang kau gunakan telah kosong.”
Sagara berusaha meraih peti batu.
“Aku membutuhkan tubuh!”
“Tidak lagi.”
Kinasih mengangkat tangan.
“Rogo Sukma…”
Sagara menjerit.
“Jangan!”
“Bali marang asalmu.”
Tubuh Sagara berubah menjadi debu hitam. Namun, sebelum lenyap sepenuhnya, ia menatap Sekar.
“Wira Angkara belum selesai…”
Sekar menatapnya.
“Di mana dia?”
Sagara tersenyum dengan mulut yang hampir hancur.
“Di tempat… ayahmu menyimpan namanya.”
Kemudian, tubuhnya lenyap.
Ruangan mulai berguncang.
Keempat tiang runtuh.
Ki Kusumo segera berteriak,
“Kita harus keluar!”
Mahendra membantu Laras berdiri. Raka masih berlutut di tengah lingkaran. Bayangan kerbau di dalam tubuhnya bergerak liar.
Sekar mengangkat tubuh ibunya.
“Raka!”
Raka menatapnya.
“Bawa ibumu keluar!”
“Aku tidak akan meninggalkanmu!”
“Sekar, pergi!”
Bayangan hitam mulai keluar dari punggung Raka.
Raka menggertakkan gigi.
“Aku tidak bisa menahannya lebih lama!”
Sekar menyerahkan tubuh ibunya kepada Mahendra.
“Bawa ibu ke atas!”
Mahendra mengangguk.
Sekar berlari menuju Raka.
Ki Kusumo berusaha menghentikannya.
“Sekar, jangan gunakan Rogo Sukma lagi!”
“Aku harus menyelamatkan Raka!”
“Jika kau memisahkan sukma kerbau dari tubuhnya sekarang, Raka bisa mati!”
Sekar berhenti.
Raka mengangkat wajah.
“Ki benar.”
“Lalu, apa yang harus kulakukan?”
Raka menatap Sekar.
“Jangan pisahkan dia.”
Sekar mengerutkan kening.
“Bukankah itu yang harus kita lakukan?”
“Tidak.”
Raka menarik napas berat.
“Bayangan itu bukan hanya menempel padaku. Ia sudah menjadi bagian dari sukma yang tumbuh di dalam tubuhku.”
“Kalau begitu?”
“Bukan dipisahkan…”
Raka menatap bayangan kerbau di belakangnya.
“…tetapi harus ditundukkan.”
Bayangan kerbau mengaum.
Lantai di bawah Raka pecah.
Dari celah tanah, muncul akar-akar hitam yang melilit tubuhnya.
Sekar berlutut di hadapannya.
“Raka, lihat aku.”
Raka berusaha mengangkat wajah.
“Sekar… kalau aku kehilangan kendali…”
“Aku akan mengingatkanmu.”
“Kalau aku menyerangmu…”
“Aku akan menghentikanmu.”
“Kalau aku tidak kembali…”
Sekar menggenggam tangannya.
“Kau akan kembali.”
Raka menatap mata Sekar.
“Bagaimana kau bisa yakin?”
“Karena kau pernah menyelamatkanku ketika aku masih kecil.”
Bayangan kerbau meraung lebih keras.
Sekar mendekatkan taling sukmo ke dada Raka.
“Sekarang, giliranku menyelamatkanmu.”
Cahaya putih dan merah bertemu.
Raka menjerit.
Bayangan kerbau di belakang tubuhnya mencoba melarikan diri, tetapi lingkaran cahaya menahannya.
Sekar tidak menggunakan Rogo Sukma untuk memisahkan.
Ia menggunakan kekuatannya untuk memanggil nama.
“Raka Wening!”
Bayangan itu mengamuk.
“Raka Wening!”
Urat hitam di wajah Raka mulai memudar.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!